\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives.
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives.
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kalah telak dalam persaingan dagang dengan produk rokok kretek, industri global tak tinggal diam. Salah satu usaha mereka adalah menekan pemerintah agar terus-menerus menaikkan cukai rokok nasional. Usaha lain yang mereka lakukan, lewat bantuan WHO, mereka menyusun apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC, merupakan konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau. FCTC ini terdiri dari 11 bab yang terbagi dalam 38 pasal yang isinya untuk mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok  dan pengendalian pasokan rokok.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives.
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sayangnya bagi mereka pelaku industri rokok dan farmasi dunia, pasar konsumen rokok di Indonesia merupakan konsumen yang sangat loyal kepada produk rokok kretek, produk rokok khas nasional yang sejauh ini produsennya merupakan produsen rokok nasional, atau, jika pun itu produsen rokok global, mereka tetap memproduksi dan mengambil bahan baku untuk produksi rokok kretek mereka dari Indonesia. Sejauh ini, lebih dari 95 persen konsumsi rokok di Indonesia adalah produk rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kalah telak dalam persaingan dagang dengan produk rokok kretek, industri global tak tinggal diam. Salah satu usaha mereka adalah menekan pemerintah agar terus-menerus menaikkan cukai rokok nasional. Usaha lain yang mereka lakukan, lewat bantuan WHO, mereka menyusun apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC, merupakan konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau. FCTC ini terdiri dari 11 bab yang terbagi dalam 38 pasal yang isinya untuk mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok  dan pengendalian pasokan rokok.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives.
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Data-data di atas, tentu saja angka yang menggiurkan. Pasar industri rokok di Indonesia sangat signifikan dan sudah barang tentu menjadi wilayah yang disasar pelaku industri rokok dunia. Sudah pasti, kue keuntungan dari konsumen rokok di Indonesia juga diincar pelaku industri rokok sekaligus industri farmasi di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya bagi mereka pelaku industri rokok dan farmasi dunia, pasar konsumen rokok di Indonesia merupakan konsumen yang sangat loyal kepada produk rokok kretek, produk rokok khas nasional yang sejauh ini produsennya merupakan produsen rokok nasional, atau, jika pun itu produsen rokok global, mereka tetap memproduksi dan mengambil bahan baku untuk produksi rokok kretek mereka dari Indonesia. Sejauh ini, lebih dari 95 persen konsumsi rokok di Indonesia adalah produk rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kalah telak dalam persaingan dagang dengan produk rokok kretek, industri global tak tinggal diam. Salah satu usaha mereka adalah menekan pemerintah agar terus-menerus menaikkan cukai rokok nasional. Usaha lain yang mereka lakukan, lewat bantuan WHO, mereka menyusun apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC, merupakan konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau. FCTC ini terdiri dari 11 bab yang terbagi dalam 38 pasal yang isinya untuk mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok  dan pengendalian pasokan rokok.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives.
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam 10 tahun terakhir, setiap tahunnya, penjualan rokok di Indonesia berkisar antara 300 dan 350 miliar batang. Empat produsen rokok terbesar di Indonesia yang menguasai pasar saat ini adalah PT. HM Sampoerna, PT. Gudang Garam Tbk, PT. Djarum, dan PT. Bentoel Internasional Investama.<\/p>\n\n\n\n

Data-data di atas, tentu saja angka yang menggiurkan. Pasar industri rokok di Indonesia sangat signifikan dan sudah barang tentu menjadi wilayah yang disasar pelaku industri rokok dunia. Sudah pasti, kue keuntungan dari konsumen rokok di Indonesia juga diincar pelaku industri rokok sekaligus industri farmasi di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya bagi mereka pelaku industri rokok dan farmasi dunia, pasar konsumen rokok di Indonesia merupakan konsumen yang sangat loyal kepada produk rokok kretek, produk rokok khas nasional yang sejauh ini produsennya merupakan produsen rokok nasional, atau, jika pun itu produsen rokok global, mereka tetap memproduksi dan mengambil bahan baku untuk produksi rokok kretek mereka dari Indonesia. Sejauh ini, lebih dari 95 persen konsumsi rokok di Indonesia adalah produk rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kalah telak dalam persaingan dagang dengan produk rokok kretek, industri global tak tinggal diam. Salah satu usaha mereka adalah menekan pemerintah agar terus-menerus menaikkan cukai rokok nasional. Usaha lain yang mereka lakukan, lewat bantuan WHO, mereka menyusun apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC, merupakan konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau. FCTC ini terdiri dari 11 bab yang terbagi dalam 38 pasal yang isinya untuk mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok  dan pengendalian pasokan rokok.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives.
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance<\/em> (SEATCA) berjudul The Tobacco Control Atlas<\/em>, wilayah Asean menunjukkan Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, yakni 65,19 juta orang. Angka tersebut setara 36% dari total penduduk Indonesia. Di dunia, jumlah perokok asal Indonesia hanya kalah dari China. Indonesia menempati peringkat kedua jumlah perokok terbesar di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dalam 10 tahun terakhir, setiap tahunnya, penjualan rokok di Indonesia berkisar antara 300 dan 350 miliar batang. Empat produsen rokok terbesar di Indonesia yang menguasai pasar saat ini adalah PT. HM Sampoerna, PT. Gudang Garam Tbk, PT. Djarum, dan PT. Bentoel Internasional Investama.<\/p>\n\n\n\n

Data-data di atas, tentu saja angka yang menggiurkan. Pasar industri rokok di Indonesia sangat signifikan dan sudah barang tentu menjadi wilayah yang disasar pelaku industri rokok dunia. Sudah pasti, kue keuntungan dari konsumen rokok di Indonesia juga diincar pelaku industri rokok sekaligus industri farmasi di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya bagi mereka pelaku industri rokok dan farmasi dunia, pasar konsumen rokok di Indonesia merupakan konsumen yang sangat loyal kepada produk rokok kretek, produk rokok khas nasional yang sejauh ini produsennya merupakan produsen rokok nasional, atau, jika pun itu produsen rokok global, mereka tetap memproduksi dan mengambil bahan baku untuk produksi rokok kretek mereka dari Indonesia. Sejauh ini, lebih dari 95 persen konsumsi rokok di Indonesia adalah produk rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kalah telak dalam persaingan dagang dengan produk rokok kretek, industri global tak tinggal diam. Salah satu usaha mereka adalah menekan pemerintah agar terus-menerus menaikkan cukai rokok nasional. Usaha lain yang mereka lakukan, lewat bantuan WHO, mereka menyusun apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC, merupakan konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau. FCTC ini terdiri dari 11 bab yang terbagi dalam 38 pasal yang isinya untuk mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok  dan pengendalian pasokan rokok.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives.
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mengapa bisa seperti itu? Mengapa kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti kehancuran akibat ulah BPPC bentukan Orde Baru pada periode 90an bisa terulang kembali? Karena memang ke arah sana tujuan dari dinaikkannya cukai rokok di negeri ini. Ada kekuatan global yang menghendaki itu semata-mata karena alasan persaingan bisnis yang menggiurkan. Bukan alasan kesehatan atau alasan lain-lain yang mereka bikin-bikin itu.<\/p>\n\n\n\n

Laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance<\/em> (SEATCA) berjudul The Tobacco Control Atlas<\/em>, wilayah Asean menunjukkan Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, yakni 65,19 juta orang. Angka tersebut setara 36% dari total penduduk Indonesia. Di dunia, jumlah perokok asal Indonesia hanya kalah dari China. Indonesia menempati peringkat kedua jumlah perokok terbesar di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dalam 10 tahun terakhir, setiap tahunnya, penjualan rokok di Indonesia berkisar antara 300 dan 350 miliar batang. Empat produsen rokok terbesar di Indonesia yang menguasai pasar saat ini adalah PT. HM Sampoerna, PT. Gudang Garam Tbk, PT. Djarum, dan PT. Bentoel Internasional Investama.<\/p>\n\n\n\n

Data-data di atas, tentu saja angka yang menggiurkan. Pasar industri rokok di Indonesia sangat signifikan dan sudah barang tentu menjadi wilayah yang disasar pelaku industri rokok dunia. Sudah pasti, kue keuntungan dari konsumen rokok di Indonesia juga diincar pelaku industri rokok sekaligus industri farmasi di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya bagi mereka pelaku industri rokok dan farmasi dunia, pasar konsumen rokok di Indonesia merupakan konsumen yang sangat loyal kepada produk rokok kretek, produk rokok khas nasional yang sejauh ini produsennya merupakan produsen rokok nasional, atau, jika pun itu produsen rokok global, mereka tetap memproduksi dan mengambil bahan baku untuk produksi rokok kretek mereka dari Indonesia. Sejauh ini, lebih dari 95 persen konsumsi rokok di Indonesia adalah produk rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kalah telak dalam persaingan dagang dengan produk rokok kretek, industri global tak tinggal diam. Salah satu usaha mereka adalah menekan pemerintah agar terus-menerus menaikkan cukai rokok nasional. Usaha lain yang mereka lakukan, lewat bantuan WHO, mereka menyusun apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC, merupakan konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau. FCTC ini terdiri dari 11 bab yang terbagi dalam 38 pasal yang isinya untuk mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok  dan pengendalian pasokan rokok.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives.
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak berbeda jauh dengan tembakau, sektor pertanian cengkeh yang juga menjadi sektor penting dalam industri rokok kretek nasional terkena imbas akibat pengumuman kenaikan cukai. Pada musim panen cengeh terakhir, harga beli cengeh dari petani mengalami penurunan yang cukup signifikan. Ini terjadi secara merata mulai dari Aceh hingga Maluku, daerah-daerah yang merupakan wilayah penghasil cengkeh nasional. Harga beli cengkeh menurun drastis meskipun kualitas panenan cengkeh petani tahun ini cukup bagus. Harga beli di petani turun antara Rp10.000 hingga Rp35.000, angka yang sangat signifikan dan cukup mengkhawatirkan. Jika ini terus-menerus dibiarkan, bukan tak mungkin kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti yang terjadi pada periode 90an di negeri ini bisa terulang kembali.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bisa seperti itu? Mengapa kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti kehancuran akibat ulah BPPC bentukan Orde Baru pada periode 90an bisa terulang kembali? Karena memang ke arah sana tujuan dari dinaikkannya cukai rokok di negeri ini. Ada kekuatan global yang menghendaki itu semata-mata karena alasan persaingan bisnis yang menggiurkan. Bukan alasan kesehatan atau alasan lain-lain yang mereka bikin-bikin itu.<\/p>\n\n\n\n

Laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance<\/em> (SEATCA) berjudul The Tobacco Control Atlas<\/em>, wilayah Asean menunjukkan Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, yakni 65,19 juta orang. Angka tersebut setara 36% dari total penduduk Indonesia. Di dunia, jumlah perokok asal Indonesia hanya kalah dari China. Indonesia menempati peringkat kedua jumlah perokok terbesar di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dalam 10 tahun terakhir, setiap tahunnya, penjualan rokok di Indonesia berkisar antara 300 dan 350 miliar batang. Empat produsen rokok terbesar di Indonesia yang menguasai pasar saat ini adalah PT. HM Sampoerna, PT. Gudang Garam Tbk, PT. Djarum, dan PT. Bentoel Internasional Investama.<\/p>\n\n\n\n

Data-data di atas, tentu saja angka yang menggiurkan. Pasar industri rokok di Indonesia sangat signifikan dan sudah barang tentu menjadi wilayah yang disasar pelaku industri rokok dunia. Sudah pasti, kue keuntungan dari konsumen rokok di Indonesia juga diincar pelaku industri rokok sekaligus industri farmasi di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya bagi mereka pelaku industri rokok dan farmasi dunia, pasar konsumen rokok di Indonesia merupakan konsumen yang sangat loyal kepada produk rokok kretek, produk rokok khas nasional yang sejauh ini produsennya merupakan produsen rokok nasional, atau, jika pun itu produsen rokok global, mereka tetap memproduksi dan mengambil bahan baku untuk produksi rokok kretek mereka dari Indonesia. Sejauh ini, lebih dari 95 persen konsumsi rokok di Indonesia adalah produk rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kalah telak dalam persaingan dagang dengan produk rokok kretek, industri global tak tinggal diam. Salah satu usaha mereka adalah menekan pemerintah agar terus-menerus menaikkan cukai rokok nasional. Usaha lain yang mereka lakukan, lewat bantuan WHO, mereka menyusun apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC, merupakan konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau. FCTC ini terdiri dari 11 bab yang terbagi dalam 38 pasal yang isinya untuk mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok  dan pengendalian pasokan rokok.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives.
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak hanya itu, efek domino terhadap kenaikan cukai ini juga berimbas pada sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Sektor yang menopang bahan baku utama industri kretek nasional. Pada musim panen tembakau tahun lalu saja, sebelum cukai betul-betul naik akan tetapi pengumuman resmi perihal kenaikan cukai telah dikeluarkan, sektor pertembakauan terlihat lesu. Pembelian tembakau hasil panen petani oleh pabrikan-pabrikan rokok tidak sebergeliat tahun-tahun sebelumnya. Pabrikan mengurangi pembelian bahan baku sekaligus mengajukan penawaran harga yang tidak terlalu tinggi guna mengantisipasi menurunnya pembelian rokok kretek akibat naiknya harga rokok setelah cukai naik.<\/p>\n\n\n\n

Tak berbeda jauh dengan tembakau, sektor pertanian cengkeh yang juga menjadi sektor penting dalam industri rokok kretek nasional terkena imbas akibat pengumuman kenaikan cukai. Pada musim panen cengeh terakhir, harga beli cengeh dari petani mengalami penurunan yang cukup signifikan. Ini terjadi secara merata mulai dari Aceh hingga Maluku, daerah-daerah yang merupakan wilayah penghasil cengkeh nasional. Harga beli cengkeh menurun drastis meskipun kualitas panenan cengkeh petani tahun ini cukup bagus. Harga beli di petani turun antara Rp10.000 hingga Rp35.000, angka yang sangat signifikan dan cukup mengkhawatirkan. Jika ini terus-menerus dibiarkan, bukan tak mungkin kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti yang terjadi pada periode 90an di negeri ini bisa terulang kembali.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bisa seperti itu? Mengapa kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti kehancuran akibat ulah BPPC bentukan Orde Baru pada periode 90an bisa terulang kembali? Karena memang ke arah sana tujuan dari dinaikkannya cukai rokok di negeri ini. Ada kekuatan global yang menghendaki itu semata-mata karena alasan persaingan bisnis yang menggiurkan. Bukan alasan kesehatan atau alasan lain-lain yang mereka bikin-bikin itu.<\/p>\n\n\n\n

Laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance<\/em> (SEATCA) berjudul The Tobacco Control Atlas<\/em>, wilayah Asean menunjukkan Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, yakni 65,19 juta orang. Angka tersebut setara 36% dari total penduduk Indonesia. Di dunia, jumlah perokok asal Indonesia hanya kalah dari China. Indonesia menempati peringkat kedua jumlah perokok terbesar di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dalam 10 tahun terakhir, setiap tahunnya, penjualan rokok di Indonesia berkisar antara 300 dan 350 miliar batang. Empat produsen rokok terbesar di Indonesia yang menguasai pasar saat ini adalah PT. HM Sampoerna, PT. Gudang Garam Tbk, PT. Djarum, dan PT. Bentoel Internasional Investama.<\/p>\n\n\n\n

Data-data di atas, tentu saja angka yang menggiurkan. Pasar industri rokok di Indonesia sangat signifikan dan sudah barang tentu menjadi wilayah yang disasar pelaku industri rokok dunia. Sudah pasti, kue keuntungan dari konsumen rokok di Indonesia juga diincar pelaku industri rokok sekaligus industri farmasi di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya bagi mereka pelaku industri rokok dan farmasi dunia, pasar konsumen rokok di Indonesia merupakan konsumen yang sangat loyal kepada produk rokok kretek, produk rokok khas nasional yang sejauh ini produsennya merupakan produsen rokok nasional, atau, jika pun itu produsen rokok global, mereka tetap memproduksi dan mengambil bahan baku untuk produksi rokok kretek mereka dari Indonesia. Sejauh ini, lebih dari 95 persen konsumsi rokok di Indonesia adalah produk rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kalah telak dalam persaingan dagang dengan produk rokok kretek, industri global tak tinggal diam. Salah satu usaha mereka adalah menekan pemerintah agar terus-menerus menaikkan cukai rokok nasional. Usaha lain yang mereka lakukan, lewat bantuan WHO, mereka menyusun apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC, merupakan konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau. FCTC ini terdiri dari 11 bab yang terbagi dalam 38 pasal yang isinya untuk mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok  dan pengendalian pasokan rokok.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives.
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kenaikan cukai sangat besar, mula-mula berdampak pada naiknya harga jual rokok secara besar-besaran. Rata-rata, harga jual rokok di pasaran naik sebesar 35 persen. Kenaikan harga jual rokok sebesar itu menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap konsumen. Penjualan rokok diperkirakan menurun jauh tahun ini, imbas langsungnya, pemasukan negara lewat cukai juga akan menurun.<\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, efek domino terhadap kenaikan cukai ini juga berimbas pada sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Sektor yang menopang bahan baku utama industri kretek nasional. Pada musim panen tembakau tahun lalu saja, sebelum cukai betul-betul naik akan tetapi pengumuman resmi perihal kenaikan cukai telah dikeluarkan, sektor pertembakauan terlihat lesu. Pembelian tembakau hasil panen petani oleh pabrikan-pabrikan rokok tidak sebergeliat tahun-tahun sebelumnya. Pabrikan mengurangi pembelian bahan baku sekaligus mengajukan penawaran harga yang tidak terlalu tinggi guna mengantisipasi menurunnya pembelian rokok kretek akibat naiknya harga rokok setelah cukai naik.<\/p>\n\n\n\n

Tak berbeda jauh dengan tembakau, sektor pertanian cengkeh yang juga menjadi sektor penting dalam industri rokok kretek nasional terkena imbas akibat pengumuman kenaikan cukai. Pada musim panen cengeh terakhir, harga beli cengeh dari petani mengalami penurunan yang cukup signifikan. Ini terjadi secara merata mulai dari Aceh hingga Maluku, daerah-daerah yang merupakan wilayah penghasil cengkeh nasional. Harga beli cengkeh menurun drastis meskipun kualitas panenan cengkeh petani tahun ini cukup bagus. Harga beli di petani turun antara Rp10.000 hingga Rp35.000, angka yang sangat signifikan dan cukup mengkhawatirkan. Jika ini terus-menerus dibiarkan, bukan tak mungkin kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti yang terjadi pada periode 90an di negeri ini bisa terulang kembali.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bisa seperti itu? Mengapa kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti kehancuran akibat ulah BPPC bentukan Orde Baru pada periode 90an bisa terulang kembali? Karena memang ke arah sana tujuan dari dinaikkannya cukai rokok di negeri ini. Ada kekuatan global yang menghendaki itu semata-mata karena alasan persaingan bisnis yang menggiurkan. Bukan alasan kesehatan atau alasan lain-lain yang mereka bikin-bikin itu.<\/p>\n\n\n\n

Laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance<\/em> (SEATCA) berjudul The Tobacco Control Atlas<\/em>, wilayah Asean menunjukkan Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, yakni 65,19 juta orang. Angka tersebut setara 36% dari total penduduk Indonesia. Di dunia, jumlah perokok asal Indonesia hanya kalah dari China. Indonesia menempati peringkat kedua jumlah perokok terbesar di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dalam 10 tahun terakhir, setiap tahunnya, penjualan rokok di Indonesia berkisar antara 300 dan 350 miliar batang. Empat produsen rokok terbesar di Indonesia yang menguasai pasar saat ini adalah PT. HM Sampoerna, PT. Gudang Garam Tbk, PT. Djarum, dan PT. Bentoel Internasional Investama.<\/p>\n\n\n\n

Data-data di atas, tentu saja angka yang menggiurkan. Pasar industri rokok di Indonesia sangat signifikan dan sudah barang tentu menjadi wilayah yang disasar pelaku industri rokok dunia. Sudah pasti, kue keuntungan dari konsumen rokok di Indonesia juga diincar pelaku industri rokok sekaligus industri farmasi di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya bagi mereka pelaku industri rokok dan farmasi dunia, pasar konsumen rokok di Indonesia merupakan konsumen yang sangat loyal kepada produk rokok kretek, produk rokok khas nasional yang sejauh ini produsennya merupakan produsen rokok nasional, atau, jika pun itu produsen rokok global, mereka tetap memproduksi dan mengambil bahan baku untuk produksi rokok kretek mereka dari Indonesia. Sejauh ini, lebih dari 95 persen konsumsi rokok di Indonesia adalah produk rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kalah telak dalam persaingan dagang dengan produk rokok kretek, industri global tak tinggal diam. Salah satu usaha mereka adalah menekan pemerintah agar terus-menerus menaikkan cukai rokok nasional. Usaha lain yang mereka lakukan, lewat bantuan WHO, mereka menyusun apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC, merupakan konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau. FCTC ini terdiri dari 11 bab yang terbagi dalam 38 pasal yang isinya untuk mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok  dan pengendalian pasokan rokok.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives.
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setiap tahun, cukai rokok memang mengalami kenaikan, tetapi biasanya angka kenaikan selalu di bawah 10 persen guna menjamin sehatnya industri kretek dalam negeri. Kenaikan cukai pada angka yang di luar batas kewajaran ini memberi dampak yang sangat besar bagi industri kretek. <\/p>\n\n\n\n

Kenaikan cukai sangat besar, mula-mula berdampak pada naiknya harga jual rokok secara besar-besaran. Rata-rata, harga jual rokok di pasaran naik sebesar 35 persen. Kenaikan harga jual rokok sebesar itu menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap konsumen. Penjualan rokok diperkirakan menurun jauh tahun ini, imbas langsungnya, pemasukan negara lewat cukai juga akan menurun.<\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, efek domino terhadap kenaikan cukai ini juga berimbas pada sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Sektor yang menopang bahan baku utama industri kretek nasional. Pada musim panen tembakau tahun lalu saja, sebelum cukai betul-betul naik akan tetapi pengumuman resmi perihal kenaikan cukai telah dikeluarkan, sektor pertembakauan terlihat lesu. Pembelian tembakau hasil panen petani oleh pabrikan-pabrikan rokok tidak sebergeliat tahun-tahun sebelumnya. Pabrikan mengurangi pembelian bahan baku sekaligus mengajukan penawaran harga yang tidak terlalu tinggi guna mengantisipasi menurunnya pembelian rokok kretek akibat naiknya harga rokok setelah cukai naik.<\/p>\n\n\n\n

Tak berbeda jauh dengan tembakau, sektor pertanian cengkeh yang juga menjadi sektor penting dalam industri rokok kretek nasional terkena imbas akibat pengumuman kenaikan cukai. Pada musim panen cengeh terakhir, harga beli cengeh dari petani mengalami penurunan yang cukup signifikan. Ini terjadi secara merata mulai dari Aceh hingga Maluku, daerah-daerah yang merupakan wilayah penghasil cengkeh nasional. Harga beli cengkeh menurun drastis meskipun kualitas panenan cengkeh petani tahun ini cukup bagus. Harga beli di petani turun antara Rp10.000 hingga Rp35.000, angka yang sangat signifikan dan cukup mengkhawatirkan. Jika ini terus-menerus dibiarkan, bukan tak mungkin kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti yang terjadi pada periode 90an di negeri ini bisa terulang kembali.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bisa seperti itu? Mengapa kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti kehancuran akibat ulah BPPC bentukan Orde Baru pada periode 90an bisa terulang kembali? Karena memang ke arah sana tujuan dari dinaikkannya cukai rokok di negeri ini. Ada kekuatan global yang menghendaki itu semata-mata karena alasan persaingan bisnis yang menggiurkan. Bukan alasan kesehatan atau alasan lain-lain yang mereka bikin-bikin itu.<\/p>\n\n\n\n

Laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance<\/em> (SEATCA) berjudul The Tobacco Control Atlas<\/em>, wilayah Asean menunjukkan Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, yakni 65,19 juta orang. Angka tersebut setara 36% dari total penduduk Indonesia. Di dunia, jumlah perokok asal Indonesia hanya kalah dari China. Indonesia menempati peringkat kedua jumlah perokok terbesar di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dalam 10 tahun terakhir, setiap tahunnya, penjualan rokok di Indonesia berkisar antara 300 dan 350 miliar batang. Empat produsen rokok terbesar di Indonesia yang menguasai pasar saat ini adalah PT. HM Sampoerna, PT. Gudang Garam Tbk, PT. Djarum, dan PT. Bentoel Internasional Investama.<\/p>\n\n\n\n

Data-data di atas, tentu saja angka yang menggiurkan. Pasar industri rokok di Indonesia sangat signifikan dan sudah barang tentu menjadi wilayah yang disasar pelaku industri rokok dunia. Sudah pasti, kue keuntungan dari konsumen rokok di Indonesia juga diincar pelaku industri rokok sekaligus industri farmasi di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya bagi mereka pelaku industri rokok dan farmasi dunia, pasar konsumen rokok di Indonesia merupakan konsumen yang sangat loyal kepada produk rokok kretek, produk rokok khas nasional yang sejauh ini produsennya merupakan produsen rokok nasional, atau, jika pun itu produsen rokok global, mereka tetap memproduksi dan mengambil bahan baku untuk produksi rokok kretek mereka dari Indonesia. Sejauh ini, lebih dari 95 persen konsumsi rokok di Indonesia adalah produk rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kalah telak dalam persaingan dagang dengan produk rokok kretek, industri global tak tinggal diam. Salah satu usaha mereka adalah menekan pemerintah agar terus-menerus menaikkan cukai rokok nasional. Usaha lain yang mereka lakukan, lewat bantuan WHO, mereka menyusun apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC, merupakan konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau. FCTC ini terdiri dari 11 bab yang terbagi dalam 38 pasal yang isinya untuk mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok  dan pengendalian pasokan rokok.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives.
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tahun ini, 2020, adalah tahun yang cukup berat\u2014jika bukan yang terberat\u2014bagi industri kretek yang menjadi salah satu industri kebanggaan nasional. Bagaimana tidak, sepanjang sejarah industri ini hadir di negeri ini, tahun ini cukai rokok naik dengan angka kenaikan yang di luar kewajaran, 23 persen. <\/p>\n\n\n\n

Setiap tahun, cukai rokok memang mengalami kenaikan, tetapi biasanya angka kenaikan selalu di bawah 10 persen guna menjamin sehatnya industri kretek dalam negeri. Kenaikan cukai pada angka yang di luar batas kewajaran ini memberi dampak yang sangat besar bagi industri kretek. <\/p>\n\n\n\n

Kenaikan cukai sangat besar, mula-mula berdampak pada naiknya harga jual rokok secara besar-besaran. Rata-rata, harga jual rokok di pasaran naik sebesar 35 persen. Kenaikan harga jual rokok sebesar itu menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap konsumen. Penjualan rokok diperkirakan menurun jauh tahun ini, imbas langsungnya, pemasukan negara lewat cukai juga akan menurun.<\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, efek domino terhadap kenaikan cukai ini juga berimbas pada sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Sektor yang menopang bahan baku utama industri kretek nasional. Pada musim panen tembakau tahun lalu saja, sebelum cukai betul-betul naik akan tetapi pengumuman resmi perihal kenaikan cukai telah dikeluarkan, sektor pertembakauan terlihat lesu. Pembelian tembakau hasil panen petani oleh pabrikan-pabrikan rokok tidak sebergeliat tahun-tahun sebelumnya. Pabrikan mengurangi pembelian bahan baku sekaligus mengajukan penawaran harga yang tidak terlalu tinggi guna mengantisipasi menurunnya pembelian rokok kretek akibat naiknya harga rokok setelah cukai naik.<\/p>\n\n\n\n

Tak berbeda jauh dengan tembakau, sektor pertanian cengkeh yang juga menjadi sektor penting dalam industri rokok kretek nasional terkena imbas akibat pengumuman kenaikan cukai. Pada musim panen cengeh terakhir, harga beli cengeh dari petani mengalami penurunan yang cukup signifikan. Ini terjadi secara merata mulai dari Aceh hingga Maluku, daerah-daerah yang merupakan wilayah penghasil cengkeh nasional. Harga beli cengkeh menurun drastis meskipun kualitas panenan cengkeh petani tahun ini cukup bagus. Harga beli di petani turun antara Rp10.000 hingga Rp35.000, angka yang sangat signifikan dan cukup mengkhawatirkan. Jika ini terus-menerus dibiarkan, bukan tak mungkin kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti yang terjadi pada periode 90an di negeri ini bisa terulang kembali.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bisa seperti itu? Mengapa kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti kehancuran akibat ulah BPPC bentukan Orde Baru pada periode 90an bisa terulang kembali? Karena memang ke arah sana tujuan dari dinaikkannya cukai rokok di negeri ini. Ada kekuatan global yang menghendaki itu semata-mata karena alasan persaingan bisnis yang menggiurkan. Bukan alasan kesehatan atau alasan lain-lain yang mereka bikin-bikin itu.<\/p>\n\n\n\n

Laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance<\/em> (SEATCA) berjudul The Tobacco Control Atlas<\/em>, wilayah Asean menunjukkan Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, yakni 65,19 juta orang. Angka tersebut setara 36% dari total penduduk Indonesia. Di dunia, jumlah perokok asal Indonesia hanya kalah dari China. Indonesia menempati peringkat kedua jumlah perokok terbesar di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dalam 10 tahun terakhir, setiap tahunnya, penjualan rokok di Indonesia berkisar antara 300 dan 350 miliar batang. Empat produsen rokok terbesar di Indonesia yang menguasai pasar saat ini adalah PT. HM Sampoerna, PT. Gudang Garam Tbk, PT. Djarum, dan PT. Bentoel Internasional Investama.<\/p>\n\n\n\n

Data-data di atas, tentu saja angka yang menggiurkan. Pasar industri rokok di Indonesia sangat signifikan dan sudah barang tentu menjadi wilayah yang disasar pelaku industri rokok dunia. Sudah pasti, kue keuntungan dari konsumen rokok di Indonesia juga diincar pelaku industri rokok sekaligus industri farmasi di dunia.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya bagi mereka pelaku industri rokok dan farmasi dunia, pasar konsumen rokok di Indonesia merupakan konsumen yang sangat loyal kepada produk rokok kretek, produk rokok khas nasional yang sejauh ini produsennya merupakan produsen rokok nasional, atau, jika pun itu produsen rokok global, mereka tetap memproduksi dan mengambil bahan baku untuk produksi rokok kretek mereka dari Indonesia. Sejauh ini, lebih dari 95 persen konsumsi rokok di Indonesia adalah produk rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Kalah telak dalam persaingan dagang dengan produk rokok kretek, industri global tak tinggal diam. Salah satu usaha mereka adalah menekan pemerintah agar terus-menerus menaikkan cukai rokok nasional. Usaha lain yang mereka lakukan, lewat bantuan WHO, mereka menyusun apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC, merupakan konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau. FCTC ini terdiri dari 11 bab yang terbagi dalam 38 pasal yang isinya untuk mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok  dan pengendalian pasokan rokok.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives.
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6458,"post_author":"877","post_date":"2020-02-19 10:17:36","post_date_gmt":"2020-02-19 03:17:36","post_content":"\n

PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) itu salah satu badan usaha milik negara (BUMN) melalui Kementerian Keuangan, baru-baru ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Bloomberg Philanthropies di Amerika Serikat (AS).\u00a0 Kerjasama keduanya dibungkus dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan di Indonesia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Penandatangan kesepakatan SMI dan Bloomberg Philanthropies ini ancaman bagi Indonesia. Memang saat ini belum terlihat dampaknya, lambat laun akan menggerogoti kepentingan nasional. Arah utamanya menyerang sektor pertembakauan di Indonesia melalui pihak ketiga yaitu SMI dan Sri Mulyani. Kerjasama ini salah satu bentuk proxy war asing bertujuan menerapkan regulasi yang sangat merugikan bangsa, terlebih pada sektor pertembakauan. <\/p>\n\n\n\n

Proxy war dalam MoU ini sebagai bentuk ancaman serius bagi bangsa Indonesia dengan melemahkan kekuatan politik, ekonomi dan sosial budaya. Melalui SMI dan Sri Mulyani, Bloomberg Philanthropies dapat dengan leluasa mengendalikan program pembangunan berkelanjutan bangsa Indonesia. Salah besar jika Sri Mulyani bilang bahwa MoU ini akan membuat perubahan dan meraih kemajuan Bangsa. Justru melalui MoU ini, Indonesia akan terbelenggu dengan kepentingan asing, selanjutnya tidak mandiri. Sudah jelas, Bloomberg Philanthropies akan menyasar dan mempengaruhi kebijakan kepala-kepala daerah di Indonesia melalui SMI.<\/h4>\n\n\n\n

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Bloomberg Philanthropies menggelontorkan uang besar-besaran dalam rangka mendanai perang terhadap tembakau. Dan Indonesia salah satu sasaran utamanya. Dana Bloomberg Philanthropies bukan murni sumbangan yang bertujuan mulia. Dibaliknya ada kepentingan yang lebih besar salah satunya agenda merebut pasar nikotin dunia. Sehingga yang dilakukan sangat sistematis, kali petama menggandeng organisasi kesehatan dunia (WHO) yang kemudian melahirkan kebijakan liberalisasi kesehatan. <\/p>\n\n\n\n

Salah satu bentuk kebijakan liberalisasi kesehatan tersebut terdapat oknum dokter tidak lagi berfungsi seratus persen menyehatkan masyarakat, namun lebih pada kepanjangan tangan dari industri farmasi,  bahasa sederhananya agen farmasi. Lebih lanjut, Bloomberg Philanthropies memposisikan WHO sebagai ujung tombak industri farmasi untuk serangkaian aktivitas memerangi sektor pertembakauan dengan cap jahat terhadap industri tembakau. Hingga membiayai riset untuk menggali beberapa penyakit dampak dari tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Upaya Bloomberg Philanthropies ini antitesis hasil penelitian yang dilakukan Monica Study diumumkan dan dipublikasikan dalam The Europen Cangress of Cardiology in Vienna<\/em> pada bulan Agustus 1998 yang mengungkapkan tidak ada kaitannya antara penyakit serangan jantung dengan resiko klasik seperti merokok dan tingkat kolestrol tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Kedua, Bloomberg Philanthropies mendorong pemberlakukan kebijkan kontrol tembakau di berbagai Negara termasuk Indonesia. Dengan mendorong setiap negara untuk menaikkan komponen pajak tembakau melalui pungutan cukai rokok. Dengan naikkanya cukai pasti diiringi kenaikan harga rokok di pasaran, memberikan ruang dan tempat bagi industri farmasi bersaing kometitif merebut pasar nikotin. Ketiga, mendorong pemberlakukan larangan merokok ditempat tertentu, berfungsi memberikan tekanan psikologis terhadap perokok atau konsumen. Dengan mengkampanyekan rokok dapat membunuh si perokok dan orang-orang yang terpapar asap rokok. <\/p>\n\n\n\n

 Keempat, mempromosikan berhenti merokok dan penanganan kecanduan rokok (nikotin). Frase yang dibangun tidak hanya kesehatan individu (perokok) melebar ke permasalahan publik dengan mengusung kegiatan Global health<\/em> (kesehatan global). Hal ini sangat menguntungkan industri farmasi menggantikan nikotin dengan produk terapi. <\/p>\n\n\n\n

Dari keempat agenda  Bloomberg Philanthropies di atas, kemudian lahir agenda besar lainnya, seperti hari tanpa tembakau sedunia, proyek bebas tembakau (tobacco free initiative<\/em>) dan Framework Convention on Tobacco Control<\/em> (FCTC). Program FCTC ini didorong kuat Bloomberg Philanthropies. <\/p>\n\n\n\n

Sasaran utama FCTC membentuk agenda global untuk regulasi pertembakauan, dengan tujuan mengurangi penggunaan tembakau dan mendorong penghentian konsumsi, yang selanjutnya memfasilitasi akses jangkauan pengobatan ketergantungan dengan produk farmasi dengan agenda utamanya merebut pasar nikotin untuk keperluan farmasi. <\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi atau pengesahan FCTC ini lah ujung dari sasaran MoU antara SMI, Sri Mulyani dengan Bloomberg Philanthropies dan  Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS berkedok agenda SDGs (program pembangunan berkelanjutan) di Indonesia. Dalam MoU tersebut, Bloomberg Philanthropies akan memberikan bantuan teknis dan saran pada SMI, serta akan mendorong agar kepala daerah mengambil dan membuat kebijakan sesui agenda FCTC, yaitu pengendalian konsumsi tembakau. Tak hanya itu, dengan dalih SDGs, Bloomberg Philanthropies akan mendesak terhadap pemerintah dalam hal ini Presiden untuk menandatangani pengesahan FCTC melalui SMI dan Sri Mulyani sebagai motor penggerak garda depan.<\/p>\n\n\n\n

Ini agenda terjahat dan akan membunuh mata rantai pencaharian jutaan jiwa masyarakat  Indonesia dalam mata rantai sektor pertembakaun. Ada petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri, karyawan industri, dan banyak lagi sektor ekonomi lainnya pengaruh dari sektor pertembakauan (multi player effect). Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani dengan MoU tersebut sifatnya hanyalah kepentingan sesaat dan ambisi satu kelompok dan individu. Menafikan kepentingan jangka panjang, kepentingan nasional bahkan sudah keluar dari agenda pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Buktinya, sektor pertembakauan untuk keberlanjutannya dari dulu selalu mandiri, mulai dari penai, buruh hingga industriya. Dengan kemandiriannya, justru dapat membantu dan menolong hajat orang banyak, sumbangan kas Negara, untuk pembangunan bahkan bermanfaat untuk pembiayaan kesehatan masyarakat, semuanya melalui pungutan pajak berbentuk cukai. <\/p>\n\n\n\n

Lalu apa yang salah dengan petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, industri, buruh industri dan yang lainnya hingga Sri Mulyani tega akan membunuhnya)?. Apa yang telah dilakukan SMI dan Sri Mulyani  akan berdampak demikian. SMI dan Sri Mulyani tega menjadi antek kepentingan asing dalam hal ini Bloomberg Philanthropies dan Michael Bloomberg orang terkaya ke-9 di AS.
<\/p>\n","post_title":"Kedok SDGs PT. SMI dan Sri Mulyani untuk Menghamba kepada Bloomberg Philanthropies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kedok-sdgs-pt-smi-dan-sri-mulyani-untuk-menghamba-kepada-bloomberg-philanthropies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-19 10:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-19 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6458","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n

Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!

\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)

\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:

\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.

\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.

\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.

\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.

\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.

\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.

\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.

\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.

\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.

\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.

\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.

\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.

\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6445,"post_author":"878","post_date":"2020-02-11 10:52:34","post_date_gmt":"2020-02-11 03:52:34","post_content":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengambil-peran-dalam-wujudkan-kretek-sebagai-warisan-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:58:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:58:55","post_content_filtered":"\r\n

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.\u201d
\u2013Mark Hanusz<\/p>\r\n

Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa ia isap. Itu ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.<\/p>\r\n

Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama \u2018kretek\u2019. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.<\/p>\r\n

Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaannya mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n

Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar. Bahkan, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.<\/p>\r\n

Tradisi Kretek<\/h3>\r\n

Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari. Sejak tembakau<\/a> dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.<\/p>\r\n

Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an<\/a>.<\/p>\r\n

Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.<\/p>\r\n

Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.<\/p>\r\n

Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
\u201cPraktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan\u2014serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya\u2014yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.\u201d<\/p>\r\n

Peran dari Perokok untuk Meneruskan Budaya Indonesia<\/h3>\r\n

Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.<\/p>\r\n

Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.<\/p>\r\n

Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambil tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok<\/a> lain sebagai konsumsi sehari-hari.<\/p>\r\n

Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6445","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6439,"post_author":"883","post_date":"2020-02-08 10:04:41","post_date_gmt":"2020-02-08 03:04:41","post_content":"\n

Industri kretek telah membuktikan kebertahanannya selama kurang lebih 130 tahun bertumbuh kembang di Indonesia. Pasang-surut menghadapi tantangan zaman sejak masa kolonial sampai masa kekinian\u2013menjadikannya industri yang peka zaman. Industri kretek masih terus memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia, baik itu bagi pertanian, penyediaan lapangan kerja, jaminan sosial, pendapatan negara dan pengembangan kebudayaan bangsa. Kontribusi besar ini meringankan pelaksanaan roda pemerintahan. Sejumlah kementerian diuntungkan dengan keberadaan industri kretek.

\nBerkaitan dengan kontribusi industri kretek terhadap pertanian melalui dua komoditas unggulan, tembakau dan cengkeh. Keduanya tak dapat terpisahkan dari keberadaan industri kretek sebagai satu-satunya industri yang menyerap hampir seluruh hasil panen dua komiditas tersebut.

\nOleh karenanya Kementerian Pertanian mempunyai kepentingan atas keberlanjutan industri kretek. Peningkatan luas lahan tembakau sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 22 ribu hektar, dengan peningkatan jumlah produksi nasional sekitar 42 ribu ton, dan produktivitasnya kini mencapai 47 kilogram per hektar.

\nBegitupun dengan pertanian cengkeh juga mengalami peningkatan lahan sejak tahun 2009 - 2013 sekitar 9 ribu hektar. Hal ini mengakibatkan total produksi nasional juga bertambah sekitar 4,3 ribu ton, dengan tingkat produktivitas rata-rata per hektar lahan bertambah 19 kilogram.

\nKontribusi Bagi Penyediaan Lapangan Kerja\n
\nKementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai kepentingan berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang diakibatkan oleh keberadaan industri kretek. Serapan tenaga kerja dalam produksi industri kretek diperkirakan sejumlah 30,5 juta jiwa baik langsung maupun yang tak langsung.

\nTenaga kerja yang berhubungan langsung, yaitu petani dan buruh tani tembakau sekitar 6 juta jiwa. Petani dan buruh tani cengkeh sekitar 5 juta jiwa. Buruh linting kretek sekitar 600.000 jiwa. Secara keseluruhannya adalah 11.6 juta jiwa. Sisanya, sebesar 18.9 juta jiwa tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan industri kretek. Sifat dari industri rokok kretek mempunyai multiplier effect bagi sektor-sektor lain. Temasuk di antaranya tenaga kerja untuk transportasi, distribusi dan periklanan.

\nKontribusi Hak Jaminan Sosial dan CSR

\nKementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mempunyai peran untuk menjamin hak mendapatkan pekerjaan dan hak jaminan sosial bagi orang-orang yang terlibat dalam matai rantai industri kretek. Setiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Hal ini diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial, dan UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

\nJaminan sosial untuk pekerja adalah jaminan untuk melindungi setiap pekerja dari ancaman keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan dalam rangka mencapai pembangunan nasional. Diutamakan pembangunan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, dan merata baik material maupun spiritual.

\nJaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi setiap buruh pabrik kretek merupakan tanggung jawab perusahaan. Keanggotaan buruh dalam Jamsostek difungsikan untuk\n
\njaminan kesehatan dan pengobatan, kecelakaan kerja, perawatan kehamilan dan persalinan, cacat atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan, dan lain sebagainya.\n
\nTanggung jawab lain yang berhak didapatkan masyarakat dari perusahaan kretek adalah pelaksanaan corporate social responsibility (CSR). Hal ini diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM).

\nKontribusi Bagi Pendapatan Negara

\nKementerian Keuangan mempunyai kepentingan berkaitan dengan\n
\nmenjaga sumber pendapatan negara melalui komponen cukai dan pajak yang diberikan industri kretek.

\nCukai rokok memang menjadi primadona dalam pendapatan negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tren positif pertumbuhan pendapatan negara dari cukai rokok sejak 2007 dengan total penerimaan dari cukai sebesar Rp44,68 triliun dan terus bertambah hingga Rp158 triliun di tahun 2018-2019. Dari sektor pajak rokok ini turut menyumbang sekitar 9-11 persen terhadap total keseluruhan penerimaan negara dalam APBN.

\nJika sektor migas seringkali digadang-gadang sebagai sektor yang memberikan keuntungan bagi Indonesia, justru hanya mampu menyumbang 6 hingga 7 persen bagi Penerimaan Negara secara keseluruhan. Jika kita bandingkan lagi dengan pendapatan pemerintah dari sektor BUMN, industri kretek memberikan 3 kali lipat pendapatan yang lebih besar.

\nKontribusi Bagi Kesehatan Publik\n
\nIndustri kretek yang digadang-gadang oleh rezim kesehatan sebagai penyebab penyakit malah memberi kontribusi besar bagi program kesehatan di Indonesia. Di beberapa daerah penghasil tembakau \u2013seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lombok\u2013 aliran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) lebih dari 50 persen dana ini dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana kesehatan di masing-masing daerah. Begitu pula dengan penerapan UU Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang mengamanatkan 50 persen didistribusikan untuk program kesehatan daerah.

\nIndustri kretek dari cukai rokok juga berkontribusi sebagai penambal defisit BPJS Kesehatan. Pada tahun 2017, BPJS Kesehatan memiliki kewajiban membayar klaim senilai Rp 84 triliun. Padahal pendapatan dari iuran hanya Rp 74,25 triliun. Dengan kata lain ada missmatch antara pembayaran klaim dengan iuran senilai Rp 9,75 triliun. Salah satu solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan defisit BPJS adalah pemanfaatan cukai rokok. Dana cukai rokok pada akhirmya berkontribusi menutup defisit anggaran BPJS Kesehatan hingga Rp 5 triliun.

\nKontribusi Bagi Kebudayaan\n
\nKretek adalah identitas yang lahir dari alam dan pengetahuan lokal masyarakat Indonesia. Kretek tidak ada di negeri lain. Kretek tumbuh dan berkembang di negeri sendiri dan menjadi komoditas ekspor yang terkenal di luar negeri.

\nKretek sebagai identitas budaya melingkupi semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, dari aspek perekonomian berkontribusi besar untuk peningkatan pendapatan negara dan penopang pembangunan nasional. Selain itu, industri ini pernah terlepas memberi sokongan pengembangan seni-budaya dan prestasi olahraga yang mengharumkan nama bangsa di luar negeri. Termasuk dukunganya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan beasiswa
\nuntuk generasi muda Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kretek Adalah Industri Strategis Nasional","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-industri-strategis-nasional","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-08 10:04:49","post_modified_gmt":"2020-02-08 03:04:49","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6439","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":21},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};