\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6178,"post_author":"877","post_date":"2019-10-26 08:46:29","post_date_gmt":"2019-10-26 01:46:29","post_content":"\n

Seperti dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa  ketika masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia yang saat itu sulit mendapatkan rokok kretek klobot, <\/em>mencari alternatif lain dengan menggunakan daun-daunan untuk bisa terus mengkretek. Bahkan masih kata Pramoedya, saat rakyat Indonesia kesulitan pangan akibat penjajahan, kretek bisa menjadi sarana untuk menghilangkan rasa lapar yang melilit. Bukan hanya itu, merokok kretek kata Pramoedya kemudian bisa membuat dirinya menjadi tenang (calm down<\/em>).
<\/p>\n\n\n\n

Karena itulah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa rokok kretek selalu menjadi bagian terpenting dalam penguatan ekonomi lokal. Pemerintah Indonesia menarik pajak yang besar terhadap industri dan penjualan rokok kretek. Karenanya, lanjut Pramoedya, rokok kretek merupakan sebuah komoditas yang sangat signifikan bagi kedualatan ekonomi nasional. Selain itu, industri kretek juga sangat efektif untuk menyerap tenaga kerja Indonesia. Sekarang puluhan juta masyarakat Indonesia yang bekerja dalam dunia kretek, mulai dari buruh pabrikan hingga marketing. Belum lagi kalau industri kretek ini dihubungkan dengan dunia pertanian, maka kretek bisa memperkuat ekonomi petani tembakau. 
<\/p>\n\n\n\n

Mark Hanusz mengatakan pengaruh lahirnya kretek bukan hanya  terhadap ranah ekonomi, melainkan juga terhadap ranah sosial dan budaya.  Ketika kretek muncul maka konsekuensinya, tradisi meng-kretek di kalangan masyarakat pun mulai terbangun. Masyarakat Indonesia banyak yang mulai menikmati kretek di berbagai bentuk aktivitas mereka. Dengan tradisi meng-kretek ini, maka kretek menjadi bagian hidup  masyarakat Indonesia. Kretek telah diterima sebagai bagian hidup dari berjuta-juta masyarakat Indonesia. Dengan terintegrasinya tradisi kretek ke dalam kehidupan masyarakat itu, maka, kretek kemudian turut membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Ciri khas bangsa Indonesia adalah menyukai kretek.  Kretek kemudian tidak bisa dipungkiri sebagai ikon budaya Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kretek telah memainkan peran penting di berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia sehingga fakta ini bisa menjadi justifikasi tentang adanya budaya kretek di kalangan masyarakat Indonesia. Jika table manners <\/em>merupakan ranah yang legitimate untuk penelitian antropologis, maka begitu juga halnya dengan budaya merokok kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Di antara nilai sosio-kultural kretek adalah fungsi kretek dalam konteks hubungan sosial di antara masyarakat. Kretek kata Hanusz bisa menjadi pemecah kebekuan sosial (social ice-breaker)<\/em> untuk membangun keakraban dalam persahabatan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Biasanya untuk menjalin persahabatan dan menciptakan kehangatan di antara sesama anggota masyarakat, utamanya bagi mereka yang belum saling kenal, maka langkah pertamanya adalah meyodorkan rokok kretek. Kretek dalam hal ini kemudian berfungsi sebagai sarana menjalin keakraban. Di sinilah kemudian, rokok kretek mempunyai peran di dalam ranah sosial.
<\/p>\n\n\n\n

Selain itu, dampak sosial munculnya kretek juga terjadi di dalam ranah ekonomi. Kretek merupakan basis perekonomian nasional yang paling menjanjikan. Sebab, pertama, bahan bakunya sebagian besar didapatkan dari bumi Indonesia sendiri. Tembakau dan cengkeh bisa dijumpai di bumi Indonesia. Kemudian yang kedua, para konsumen kretek terbesar jugamasyarakat Indonesia. Hal ini sekaligus membukakan pasar tersendiri bagi kretek. Karena itu, kretek merupakan cermin dari kedaulatan ekonomi warga pribumi. <\/p>\n\n\n\n

Karena memang sudah menjadi tradisi dan budaya, maka kretek kemudian telah mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia merasa ada yang hilang dalam diri dan kehidupannya ketika tidak meng-kretek.  Kretek juga menjadi \u201cteman\u201d yang hangat ketika seseorang dilanda kesepian. Maka kretek bagi rakyat Indonesia yang benar-benar Indonesia, harus ada dalam sakunya. Ketidakterpisahan antara kretek dengan masyarakat Indonesia ini sudah terbukti dalam sejarah, termasuk dulu di era penjajahan.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai bagian yang integral dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, kretek bukan hanya difungsikan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk basa-basi sosial, untuk mengisi kesepian, untuk beramah tamah dengan saudara atau teman dan sebagainya. Tetapi juga aktivitas-aktivitas ritual dan spiritual. Kretek kemudian turut menjadi bagian dari aktivitas religiusitas masyarakat Indonesia tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, kretek dipercayai sebagai salah satu unsur sesajen (persembahan) yang cocok untuk Yang Maha Kuasa. Jika kretek merupakan sarana sesembahan atau media sesajian yang pas untuk Yang Maha Kuasa, maka aktivitas merokok kretek mempunyai kualitas yang hampir sama dengan ritual.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara itu dalam konteks budaya politik, kretek juga dekat dengan revolusi Indonesia. Sebagaimana disinggung di atas tentang aksi diplomasi haji Agus Salim di Eropa. Pada saat Agus Salim menyulut rokok dalam diplomasinya itu, dia sebenarnya tengah menciptakan pernyataan kemerdekaan secara pribadi yang barangkali bisa diinterpretasikan dengan fakta bahwa Agus Salim tengah mengkritik praktik imperialisme Barat dalam aksi diplomasinya itu.
<\/p>\n\n\n\n

Kemudian dari itu, rokok kretek juga memicu lahirnya kreatifitas di dunia design. Hal ini terkait dengan logo dan bungkus rokok kretek yang terus berkembang.  seni desain grafis tidak sekedar seni dekorasi. Di dalam seni grafis dibutuhkan imajinasi untuk emnciptakan pola gambar yang menarik bagi publik. Hal ini juga terjadi di dalam dunia industri rokok kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain dari itu, aspek lain dari budaya kretek ini adalah tentang nilai dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapn dengan produk rokok asing?. Ketika kretek ditemukan pada abad 19 di Kudus, rokok itu telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotek. 
<\/p>\n\n\n\n

Rokok keretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. Hal ini barangkali dari imbas diimpornya rokok putih dari Eropa yang diproduksi pada 1850-an. Di era 1960-an seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat. 
<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 1870-an rokok kretek mengalami kebangkitan. Hal ini ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya startegi baru untuk revolusi kretek Indonesia. Peristiwa pertama terjadi untuk mersespon oil boom <\/em>yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. Sementara peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya  lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka muncullah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head<\/em> dengan rokok-rokok asing. 
<\/p>\n\n\n\n

Perkembangan ketiga yang mendorong perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan trasmigrasi. Akibat transmgrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia (Sumatra), hingga ke ujung timur, (Papua). Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produsksi aja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa  kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pramoedya-ananta-toer-dan-mark-hanusz-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-26 08:46:39","post_modified_gmt":"2019-10-26 01:46:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6178","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6151,"post_author":"883","post_date":"2019-10-15 08:49:43","post_date_gmt":"2019-10-15 01:49:43","post_content":"\n

Bila ada yang bertanya mengapa kita mesti berterimakasih kepada kretek, sebab kretek adalah benda budaya, yang memiliki kekhususan kultural dan historis, bertumpu pada kemandirian dan kreatifitas, hingga menjadi produk unggulan anak bangsa, sampai menjadi produk unggulan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n

Titik temunya pada praktik dan kebiasaan orang Asia Tenggara dan Malenesia yang mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Sehingga, lewat cara yang unik dan dalam tempo yang cukup singkat, kretek bisa diterima oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Temuan kretek menjelaskan sejumlah proses adaptif membawa semangat perlawanan dalam semangat berdikari terhadap tatanan kolonial dan rezim kepengaturan yang telah mapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Dalam Sejarah Evolusi Budaya Khas Nusantara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tembakau, satu komoditas yang sampai sekarang menjadi tali kekang rezim pengendalian, datang ke Nusantara bersama gelombang penjajahan, dan dikenalkan dalam logika budidaya industri pada era Tanam Paksa yang paling eksploratif di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Adapun cengkeh, tanaman endemik yang semula hanya dijumpai di jazirah Maluku, merupakan titik tikai bangsa-bangsa Eropa sejak abad 16, yang memudar nilai ekonomisnya seiring inovasi penting dan hasraat penguasaan lain dalam era industri.<\/p>\n\n\n\n

Namun berkat temuan kretek pada pengujung abad ke 19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, cengkeh kembali melambung sebagai tanaman primadona. Begitupula dengan tembakau, awalnya hanya dikuasai dan dimiliki perkebunan swasta, berkembang meluas dan menjadi perkebunan rakyat. <\/p>\n\n\n\n

Dalam sudut pandang ekonomi-politik, dari bentangan peristiwa penting dalam sejarah itu, melewati krisis dan perang maupun perubahan struktural, industri kretek telah mampu menyerap jutaan pekerja sekaligus menyumbang triliunan rupiah bagi pendapatan negara.<\/p>\n\n\n\n

Bahwa benda yang takkan terpikirkan sebelumnya, semulai sebagai obat, lalu berkembang dari kerajinan tangan ke industri rumahan dan pabrikan, akan menyimpan sejarah panjang. Sejarah itu bernama penaklukan yang tersublimasi di dalamnya benih sentimen kolonial, kreatifitas dan usaha-usaha mengakses kapital, simbol industri nasional yang bersumber pada kekayaan Nusantara, dan nilai-nilai yang tertanam pada tradisi dan prilaku keseharian.<\/p>\n\n\n\n

Kretek sampai hari ini masih menjadi bagian dari komoditas besar yang menghidupkan sumbu-sumbu ekonomi di Indonesia. Barangkali sudah banyak yang menulis lewat riset dan penelitian bagaimana industri ini lahir, tumbuh dan berkembang dan bertahan sampai sekarang. Namun coba tengok novel \"Sang Raja\" karya Iksaka Banu. Lewat buku ini Iksaka Banu bercerita tentang sejarah kretek awal sampai menjadi industri yang cukup besar di masa kolonial dengan pendekatan sastra.
<\/p>\n\n\n\n

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Nitisemito yang dihadiri ribuan masyarakat, para pejabat serta koleganya di usaha kretek. Kemudian cerita dikemas dengan flashback dua tokoh utamanya yang bekerja di Pabrik Bal Tiga di Kudus. Dua tokoh utama ini merepukan pegawai berbeda kebangsaan di Perusahaaan. Wirosoeseno yang asli Jawa dan Filipus Rechterhand adalah seorang Belanda totok yang lahir di Hindia Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Yang manjadi hal luar biasa di masa itu, ketika warga pribumi dianggap warga kelas tiga dan bekerja pada orang-orang Belanda, Nitisemito justru mempekerjakan orang Belanda. Betapa sebuah anomali di era kolonial seorang keturunan koloni justru malah bekerja di perusahaan milik pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Lewat buku ini Iksaka Banu becerita Industri rokok kretek di Indonesia telah mengalami sejarah yang panjang. Sejarah mencatat industi rokok khas Indonesia ini lahir lewat tangan dingin Nitisemito yang didirikan pada tahun 1914. Nitisemito merintis bisnis rokok kretek yang saat itu hanya industri rumah tangga menjadi industri berskala besar yang mempekerjakan ribuan karyawan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di paruh pertama abad ke 20 rokok Tjap Bal Tiga produksi NV. Nitisemo begitu terkenal sehingga Ratu Belanda Wilhemina menjuluki Nitisemito sebagai De Kretek Konning (Raja Kretek). Tidak berlebihan karena di tahun 1938 Kretek Tjap Bal Tiga telah mempekerjakan 10.000 buruh linting dengan produksi 10 juta batang rokok per hari dengan pangsa pasar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, hingga ke negeri Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Nitisemito bersama pabrik kreteknya Tjap Bal Tiga adalah orang pertama yang memasarkan rokok dalam kemasan bermerk. Bisa dikatakan bahwa pabrik rokok NV. Nitisemito adalah pelopor industri rokok kretek pertama di Kudus yang dikelola dan dipasarkan secara modern.<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas advertasi dan promosi industri kretek juga ternyata menyimpan sejarah panjang sampai sekarang. Dalam hal pemasaran, NV. Nitisemito juga melakukan strategi yang kreatif dan fenomenal. Industri kretek ini menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk menyebarkan pamflet iklan rokok Tjap Bal Tiga di langit Bandung dan Jakarta dan menggunakan mobil promosi khusus. Selain itu pemasarannnya juga dilakukan melalui\u00a0 siaran radio, mendirikan gedung bioskop di Kudus dan\u00a0 menjadi salah satu sponsor bagi film\u00a0Panggilan Darah\u00a0yang sukses di pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Selain kisah tentang Wiroesoeseno dan Filipus, Iksaka Banu juga menarasikan sejarah rokok kretek, proses produksi rokok kretek, dan lintasan perisitiwa sejarah Indonesia. Kisah dalam novel ini dibalut dengan berbagai peristiwa sejarah dan persoalan-persoalan kolonialisme, identitas, hingga gerakan organisasi kemerdekaan seperti Serikat Islam dan Muhamadiyah yang konon memiliki keterkaitan dengan Sang Raja Kretek.
<\/p>\n","post_title":"Sang Raja Kretek di Era Kolonial","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sang-raja-kretek-di-era-kolonial","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-15 08:49:45","post_modified_gmt":"2019-10-15 01:49:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6151","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6123,"post_author":"877","post_date":"2019-10-07 11:08:07","post_date_gmt":"2019-10-07 04:08:07","post_content":"\n

Hampir tiap tahun tarif cukai rokok selalu naik, sampai-sampai industri rokok hafal. Artinya, industri rokok sebenarnya sudah mengetahui kalau tiap tahun cukai pasti mengalami kenaikan. Dengan sadar, industri rokok menerima kenaikan cukai tersebut sebagai wujud dari industri yang taat aturan pemerintah. <\/p>\n\n\n\n

Rata-rata naiknya cukai tiap tahun masih bisa dimaklumi dengan kenaikan sangat wajar. Berbeda dengan rencana kenaikan cukai pada tahun 2020 hingga 23%. Kenaikan yang begitu fantastis di saat pasaran rokok baru lesu. Lesu dan tidak pasaran rokok ternyata bukan menjadi perhitungan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok. Yang ada hanya pokoknya tiap tahun naik, pokoknya target pendapatan pemerintah dari cukai rokok tiap tahun meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan selanjutnya, lalu apa alasan atau dasar yang melatari naiknya tarif cukai rokok?<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya, hanya pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan dan bea cukai yang bisa menjawab. Namun beberapa kali dalam kenaikan tarif cukai, kementerian keuangan Sri Mulyani tidak menjelaskan detailnya kenapa harus naik dengan kenaikan segitu. Begitu juga bea cukai tak menguraikan alasan naiknya prosentase tarif cukai. Artinya tidak ada hitungan-hitungan rigit atau minimal menginformasikan apa yang menjadi landasan dasar mereka menaikkan tarif cukai dengan batasan prosentase tertentu. Yang selalu terdengar target cukai tahun lalu terlampui, yang akan datang targetnya dinaikkan lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Aturan kenaikan tarif cukai ini jika dicermati persis seperti pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT). Tanpa kejelasan, tanpa rumusan tau-tau muncul angka prosentase kenaikan cukai dan muncul angka pembagian DBH-CHT. Kesannya \u201cterserah gue, mau-mau gue, suka-suka gue, gue yang punya aturan lo kudu ngikut\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Buktinya memang demikian, tanpa mengajak bicara industri, petani, buruh dan konsumen rokok, pemerintah menaikkan tarif cukai hingga 23%, begitu juga saat pemerintah memutuskan angka 2% untuk DBH-CHT tanpa melibatkan stakeholder pertembakauan. Pertanyaan yang muncul lalu di mana dan untuk apa yang 98%?, sampai saat ini belum ada penjelasan yang transparan dari pemerintah, hanya saja kemarin ada sedikit informasi diperuntukkan menutup sebagian defisit BPJS, itupun penjelasannya tidak detail. Apakah yang dipakai dari akumulasi hasil pungutan cukai dari tahun-tahuan yang lalu atau hanya dari hasil pungutan dalam setahun.  <\/p>\n\n\n\n

Boro-boro melihat kondisi peredaran rokok di lapangan, keberadaan stakeholder pertembakauan aja tidak diperhitungkan. Kesan yang muncul pemerintah mau duitnya saja, gak mau melihat kondisi stakeholder pertembakauan. Bagaimana nasib industri, nasib petani tembakau, nasib petani cengkeh, nasib buruh tani, nasib buruh industri, nasib orang-orang yang hidupnya menggantungkan sektor pertembakauan, nasib sirkulasi perekonomian kota tembakau atau kota industri hasil tembakau, yang selama ini mereka berkontribusi bertambahnya pendapatan keuangan Negara, jika tarif cukai dinaikkan. Mereka ini satu-satunya masyarakat paling taat membayar pungutan pajak pemerintah, dibanding sektor lain. <\/p>\n\n\n\n

Masyarakat yang taat dan baik ini, harus dibayar pemerintah dengan perlakuan yang tidak adil sama sekali. Keberadaannya hampir tidak terlindungi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang ingin mematikan keberadaan mereka. Sebenarnya apa salah mereka?, semua pajak sudah dibayar bahkan dibayar di muka. Industri rokok kretek memakai bahan baku petani sendiri, petani menanam tanaman cirri khas nusantara, buruh bekerja di industri nasional, konsumen membeli rokok kretek milik industri nasional. Hal ini menunjukkan sejatinya sektor pertembakauan satu-satunya sektor yang berdaulat dalam sistem ekonomi dan budaya.<\/p>\n\n\n\n

Kalaupun selama ini ada yang mempermasalahkan hanya orang-orang yang iri dan pro asing. Asing menginginkan kedaulatan ekonomi dan budaya Nusantara jangan sampai terjadi. Mereka yang mempermasalahkan keberadaan rokok kretek selalau mendapatkan donasi asing. Siapa mereka, orang-orang yang giat anti rokok kretek dengan alasan kesehatan, mendapatkan donasi dari Bloomberg Initiative. Selain menggagalkan kedaulatan ekonomi dan budaya, juga sebagai politik dagang, maunya memonopoli perdagangan. Jangan sampai rokok kretek berjaya kembali seperti dahulu saat penjajahan. <\/p>\n\n\n\n

Berjayanya kretek, Indonesia makin kuat, makin berkibar. Salah satu contoh kecil, olahraga bulutangkis (badminton), selama perusahaan rokok kretek andil dalam pembinaan, makin hari olahraga tersebut berkiprah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Dahulu ada banyak olahraga yang demikian, namun karena ada aturan larangan pemerintah, pada akhirnya industri rokok kretek memilih tidak berpartisipasi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kembali ke aturan naiknya tarif cukai 23% akan sangat berdampak terhadap melemahnya kedaulatan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia. Naiknya tarif cukai akan diiringi dengan naiknya harga produk rokok kretek, selanjutnya rokok kretek dipasaran melemah, permintaan pasar berkurang, berdampak pada industri yang akhirnya terjadi minimal perampingan buruh bahkan bisa terjadi merumahkan buruh besar-besaran, selanjutnya pendapatan buruh berkurang bahkan hilang. Begitupun pendapatan petani akan berkurang, jika permintaan bahan baku berkurang karena permintaan pasar melemah.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan tarif cukai tanpa mempertimbangkan efek dan kondisi di atas, tanpa mendengarkan suara stakeholder pertembakauan sangat mengingkari budaya demokrasi di Indonesia. Mungkin suatu ketika, disaat dirasa keadilan bagi mereka tidak terpenuhi, bisa jadi mereka akan sowan dengan jumlah besar-besaran menuntut keadilan. Pemerintah ada, fungsinya untuk mengayomi dan melindungi masyarakatnya, bukan untuk kongkalikong membuat kesepakatan yang justru menguatkan kepentingan asing. <\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok kretek salah satu bentuk kedaulatan bangsa, kenapa selalu direcoki dan diatur sedemikian rupa, bahkan pungutannya selalu dinaikkan. Sedangkan rokok elekrik (vape) produk asing seakan-akan dibebaskan tidak ada aturan yang rigit dan baku. Selain itu, kenaikan tarif cukai terkesan asal-asalan seenaknya pemerintah, seperti halnya ketentuan bagi hasil cukai yang hanya diberikan 2% tanpa rumusan tersendiri seperti dana bagi hasil pajak bangun, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil lainnya yang dihitung dalam rumusan tertentu. Kemudian, kenaikan cukai terkesan ingin membunuh peredaran rokok kretek, membunuh industri rokok kretek terutama industri kecil, membunuh petani, bahkan membunuh perekonomian buruh tani dan buruh industri kretek.   
<\/p>\n","post_title":"Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kenaikan-tarif-cukai-23-tanpa-dasar-relevan-dan-terkesan-asal-asalan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-07 11:08:10","post_modified_gmt":"2019-10-07 04:08:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6123","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":34},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};