Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n
Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n
Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n
Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n
Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n
Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n
Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n
Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok. Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok. Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok. Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok. Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok. Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Sudah sepekan masyarakat Indonesia telah kehilangan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tepatnya hari Minggu, 07 Juli 2019. Sosok yang selalu sigap memberikan informasi tentang bencana kepada masyarakat luas kapanpun tidak mengenal waktu, tidak mengenal lelah. Ia adalah Sutopo Purwo. Berita yang beredar, disaat ia berjuang melawan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya, ia tetap bekerja dan tetap berusaha memberikan informasi kebencanaan pada masyarakat. Semoga amal ibadah beliau diterima Tuhan Yang Maha Esa Amin. <\/p>\n\n\n\n Bahkan bisa jadi sakit panu pun akan dihubungkan dengan dampak dari asap rokok. Penjelasannya,mayoritas penyakit akibat rokok dan paparan asap rokok. Hasil riset ini manafikan adanya penyebab lain yang justru lebih signifikan. Seperti, penyakit yang sifatnya genetik dan masih banyak penyebab yang betul-betul berdampak terhadap penyakit. <\/p>\n\n\n\n Tengah tahun seperti ini, petani-petani cengkeh hampir di seluruh Indonesia sedang bergembira menyambut musim panen cengkeh tahunan. Setahu saya, kecuali di Aceh dan di Kepulauan Anambas, cengkeh dipanen pada tengah tahun, mulai dari akhir bulan Juni hingga September. Aceh dan Kepulauan Anambas menjadi anomali, pohon-pohon cengkeh di sana berbunga dan dipanen di awal tahun setiap tahunnya, Januari hingga Maret.<\/p>\n\n\n\n Di saat hampir seluruh petani cengkeh berbahagia bersiap menyambut musim panen, datang kabar sedih dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Pohon Cengkeh Afo 2, yang kini menjadi pohon cengkeh tertua di dunia, roboh pada 6 Juli 2019. Ketika roboh, Afo 2 diperkirakan berusia 250 hingga 300 tahun. Pohon ini merupakan satu dari tiga pohon cengkeh tertua di dunia yang tercatat hingga kini. Afo 2 memegang predikat pohon cengkeh tertua kedua di dunia kurang dari 20 tahun. Sebelumnya, predikat cengkeh tertua di dunia dipegang oleh Pohon Cengkeh Afo 1 yang terletak satu kawasan dengan lokasi Afo 2. Afo 1 berusia lebih dari 400 tahun sebelum akhirnya roboh dan mati pada awal tahun 2000-an.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh dalam Produk Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Setelah tumbangnya Afo 1 dan Afo 2. Kini tersisa Afo 3 yang masih hidup dan usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Sama seperti Afo 1 dan Afo 2, Afo 3 juga terletak di kawasan kaki gunung Gamalama di Pulau Ternate. Jarak di antara ketiga pohon itu berdekatan saja, masuk dalam satu wilayah kawasan perkebunan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa setempat, \u2018Afo\u2019 berarti tua. Penamaan ini tentu saja merujuk kepada usia pohon cengkeh yang memang sudah sangat tua. Versi lain mengatakan, nama \u2018Afo\u2019 diambil dari nama keluarga Alfalat, keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh itu dari monopoli penjajah Belanda terhadap komoditas cengkeh yang salah satu dampak monopoli itu, banyak pohon cengkeh yang dimusnahkan untuk mengontrol produksi cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat Maluku pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, keberadaan cengkeh tertua di dunia itu bukan sekadar untuk kebanggaan dan membuktikan pada mulanya cengkeh adalah endemik di beberapa pulau di Maluku, keberadaan cengkeh tertua di dunia juga merupakan artefak sejarah yang mengingatkan sejarah bangsa ini berpilin-berkelindan dengan komoditas beraroma wangi dengan rasa agak pedas ini.<\/p>\n\n\n\n Baik Afo 1, Afo 2, maupun Afo 3, menjadi bukti sejarah bahwasanya dahulu penjajah-penjajah dari negeri jauh di utara berbondong-bondong datang ke negeri ini untuk bisa menguasai cengkeh dan rempah-rempah lainnya di Kepulauan Maluku. Empat bangsa dari negeri utara saling berperang untuk memperebutkan wilayah kepulauan yang ditumbuhi cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Peperangan itu pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda dan sejak saat itu pula Belanda memonopoli cengkeh dan rempah-rempah di Kepulauan Maluku untuk keuntungan mereka sekaligus merugikan penduduk asli Kepulauan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Baca: Cengkeh dan Kelapa di Kepulauan Anambas<\/a><\/p>\n\n\n\n Lebih dari 200 tahun Belanda sendirian memonopoli cengkeh sehingga berhasil menimbun ratusan juta gulden untuk dibawa ke negeri kincir angin dan membangun negeri mereka menjadi begitu indah. Ada aroma cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang begitu menyengat dari gedung-gedung tua di Belanda kini. Monopoli itu pada akhirnya runtuh setelah ditemukannya mesin pendingin dan harga cengkeh jatuh.<\/p>\n\n\n\n Selain sejarah penjajahan Belanda, lewat cengkeh kita juga bisa membaca sejarah kebangkitan industri kretek nasional. Pada awal abad 20, lewat Nitisemito dan beberapa pengusaha kretek lainnya, mengalir dana bantuan untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pertemuan cengkeh dan tembakau menjadi kretek pelan-pelan menjadi promadona di Indonesia mengalahkan rokok putih produksi luar negeri.<\/p>\n\n\n\n Puncaknya selepas kemerdekaan, pada penghujung 60an, konsumsi kretek pada akhirnya berhasil melampaui konsumsi rokok putih nasional hingga akhirnya kini kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar nasional. Maraknya minat konsumen terhadap rokok kretek membikin pembukaan kebun-kebun cengkeh baru di banyak wilayah di Indonesia terjadi. Mulai dari Aceh hingga Maluku dengan kawasan terluas di wilayah Sulawesi. Harga cengkeh yang kembali mahal membikin petani dan buruh tani cengkeh kembali sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Hingga akhirnya, orde baru lewat tangan anak penguasanya, Tomy Soeharto, kembali memonopoli cengkeh mirip dengan apa yang dilakukan penjajah Belanda dulu. Harga cengkeh kembali anjlok. Petani mengalami kerugian hingga pada akhirnya enggan mengurus kebunnya, menebangi batang-batang pohon cengkeh, dan pada titik ekstrem membakari pohon-pohon cengkeh mereka karena kecewa. Selepas tumbangnya orde baru, harga cengkeh kembali terdongkrak dan para petani cengkeh kembali menuju sejahtera.<\/p>\n\n\n\n Afo 2 boleh roboh, namun berkaca dari jalan panjang sejarah komoditas cengkeh di Nusantara, pertanian cengkeh di negeri ini tidak boleh roboh. Lewat petani cengkehlah, dan juga petani tembakau, kemandirian dan kedaulatan negeri ini masih bisa terus terjaga dari serbuan industri dan komoditas asing yang membanjiri negeri ini. Dari tahun 2007 hingga pertengahan 2015, terdeteksi banyak organisasi jumlahlnya kurang lebih 20an organisasi, lembaga penelitian pemerintah maupun kemasyaratan hingga keagaman yang ada di Indonesia, justru membawa agenda titipan asing, dengan program pengendalian tembakau. Melalui Bloomberg Initiative, kucuran dana itu sampai mengalir. Sebab, Indonesia dijadikan salah satu target utama karena tembakau yang ada 100% sebagai bahan dasar rokok kretek. Sedangkan asing dalam hal ini Bloomberg Initiative punya keinginan berbeda, yaitu mengusai bahan nikotin yang ada di daun tembakau. <\/p>\n\n\n\n Adanya kucuran dana yang menyuburkan dari Bloomberg Initiative, menjadikan organisasi atau lembaga di Indonesia yang tidak memiliki jiwa potriotisme akan berlomba-lomba untuk mendapatkan dana tersebut. Bahkan ada juga organisasi yang menamakan diri sebagai pusat kajian sosial di bawah Universitas terkemuka di Indonesia, rela bekerjasama dengan Bloomberg Initiative. Seperti halnya Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia disingkat PKJS UI, yang dipromotori oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrani, MPH dan kawan-kawan. <\/p>\n\n\n\n PKJS UI berdiri pada tanggal 14 September 2015, tujuannya sangat mulia, yaitu untuk menjembatani kebutuhan pusat penelitian jaminan sosial berbasis akademik, dan fokus pada program jaminan sosial di Indonesia. PKJS UI ini, sebagai langkah awal untuk persiapan membuat program Magister Jaminan Sosial di Indonesia. Semestinya PKJS UI, sebagai organisasi atau pusat kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, wajib memberikan perlindungan sosial terhadap seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertembakaun. <\/p>\n\n\n\n Dari hulu hingga hilir, ada sekitar 6,1juta jiwa serapan tenaga kerja pertembakauan, baik sebagai petani tembakau, petani cengkeh dan buruh\/karyawan rokok kretek. Perkebunan tembakau tersebar di 15 provinsi dan perkebunan cengkeh ada di 30 provinsi. Sektor pertembakauan mampu memberikan sumbangan APBN 8.92%, prosentasi yang fantastis dibanding pemasukan minyak dan gas (migas) yang hanya mampu 3.03%. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, sektor pertembakauan di Indonesia punya sejarah panjang memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Satu-satunya sektor perdagangan yang mampu bertahan dimasa penjajahan disaat perekonomian bangsa Indonesia hancur. Pertembakauan sektor yang paling mandiri dari hulu hingga hilir, tidak pernah sekalipun mendapatkan subsidi dari Negara. Yang ada sebaliknya, Negara selalu meminta keuntungan lebih, dan tanpa modal. Sektor pertembakauan tahan krisis dan memiliki multiplier effect<\/em>, artinya usaha lain maju dan berkembang sangat dipengaruhi keberadaan pertembakauan. Dampak langsung, semisal di Temanggung banyak pengrajin keranjang yang bisa menikmati hasilnya saat panen tembakau. Di Kudus, dari percetakan hingga pasar tradisional menjadi ramai ketika permintaan rokok kretek meningkat. <\/p>\n\n\n\n Sekali lagi, keberadaan PKJS UI, seharusnya melakukan kajian untuk perlindungan pertembakauan di Indonesia, dan tidak sebaliknya. Sangat tidak etis, tidak patriotis dan nasionalis, ketika PKJS UI, melakukan pelemahan pada sektor pertembakaun dan mengedepankan kepentingan asing, gara-gara mendapatkan akses dari Bloomberg Initiative. Dalam laporan mitra kerja, PKJS UI bekerjasama dengan 20 lembaga, termasuk bekerjasama dengan Bloomberg Initiative (sumber: https:\/\/sksg.ui.ac.id\/pkjs<\/a>). Hal itu terlihat jelas kajian yang dilakukan PKJS UI sinergi dengan program Bloomberg Initiative untuk pengendalian tembakau. PKJS UI telah melakukan kajian sejak 2016 hingga 2018, setidaknya ada 5 kajian dari 9 kajian yang menyudutkan posisi pertembakauan dalam hal ini rokok kretek di Indonesia, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Bloomberg Initiative, adalah program filantropis yang dilakukan oleh pengusaha media dan layanan data keuangan berbasis di Amerika Serikat bernama Michael Bloomberg. Pada tahun 2006, ia mendonasikan uangnya sebesar 125 juta dolar AS dan pada tahun 2008 berjumlah 250 juta dolar AS untuk pendanaan kegiatan pengendalian tembakau, termasuk di Indonesia. Tiap tahunnya besaran donasi selalu meningkat.<\/p>\n\n\n\n Donasi tersebut tidak murni sumbangan, ada muatan dan hubungannya dengan farmasi, melalui sahabat karibnya sekaligus penasihatnya bernama William R. Brody menjabat sebagai direktur Novartis. Berawal dari hasil penelitian lembaga kesehatan modern di Amerika, Surgeon General, bahwa nikotin pada tembakau dapat membuat ketergantuangan. Oleh ahli farmakologi, nikotin pada tembakau banyak manfaat untuk obat terapi dan pengobatan. Lain itu, nikotin pada tembakau sangat bermanfaat sebagai obat nyeri, gelisah, depresi dan juga dapat meningkatkan konsentrasi. <\/p>\n\n\n\n Melihat dari manfaat nikotin dalam tembakau inilah memunculkan niat pengambilalihan bisnis nikotin pada tembakau. Namun sayangnya, niatan itu belum terwujud, karena penggunaan tembakau masih terkuasai oleh industri rokok. Selain kebutuhan tembakau untuk bahan dasar rokok masih relative besar, juga tidak bisa menyaingi pabrikan rokok perihal harga pembelian tembakau. <\/p>\n\n\n\n Untuk itu, isu yang digulirkan adalah memerangi atau mengendalikan tembakau, bahkan sampai bagaimana caranya agar tembakau tidak dibuat bahan baku rokok. Satu-satunya jalan bersekutu dengan industri farmasi. Dilanjutkan berhasil memasukkan agenda kerangka kebijakan international dalam organisasi kesehatan dunia (WHO). Upaya pengambilalihan bisnis nikotin tersebut sebetulnya terjadi di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Aliran dana digelontorkan besar-besaran mengalir ke lembaga-lembaga kesehatan, organisasi masyarakat bahkan sampai lembaga keagamaan, inilah yang dinamai politik dagang tingkat tinggi.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, marilah lembaga-lembaga, atau kajian-kajian yang lahir dan berkembang di Indonesia, agar lebih sensitif dan peka, mendahulukan kepentingan nasional dari pada kepentingan asing. Melindungi kepentingan masyarakat pribumi lebih penting dari pada melindungi kepentingan dagang asing. Jiwa nasionalisme dan patriotik sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n
Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n
Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n
Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n
Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n
Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n
Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n
Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n
Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n
Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n
Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n
Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n
Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n
Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n
Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n
Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n
Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n
Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n
Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n
Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sebetulnya tidaklah pantas, sebab musabab meninggalnya di tarik-tarik dalam pemberitaan yang diolah untuk kepentingan kelompok tertentu, dan menyudutkan kelompok lain. Yang terjadi demikian, setelah meninggalnya Sutopo Purwo gara-gara kena kanker paru-paru, ada pihak anti rokok memberitakan secara masif bahwa terkenanya kanker paru-paru akibat paparan asap rokok sebagai perokok pasif. Dan berita tersebut kemarin terus menerus diulas dibanyak media dengan gaya bahasa berbeda namun intinya sama. Inilah berita yang didramatisir anti rokok, seolah-olah berita tersebut memang benar adanya. <\/p>\n\n\n\n
Drama tersebut sama sekali tidak benar, dan hanya cerita tanpa dasar. Masih ingat pakar hematologi dan unkologi medik dari rumah sakit Dharmais, yaitu Dr. Ronald A Hukom, MH.Sc,Sp, PD., mengatakan yang intinya bahwa pemicu kanker paru atau resiko karsinogen adalah polusi udara yang berpartikel. Sasaran utamanya adalah udara di perkotaan, terjadi polusi asap gas buang baik dari kendaraan ataupun dari pabrik, polusi serat asbes, dan polusi bahan kimia yang tidak bisa dihindari keberadaannya. <\/p>\n\n\n\n
Dimana-mana setiap sudut tiap perkotaan terjadi demikian, karena saking padatnya pengguna kendaraan baik umum atau pribadi yang mengeluarkan asap gas, saking banyaknya industri juga mengeluarkan asap, belum lagi pencemaran akibat pembuangan limbah rumah tangga ataupun industri. Inlah yang biasa terjadi di perkotaan yang dilihat oleh Dr. Ronald A Hukom , apalagi tanaman penghijauan sudah mulai jarang, akibat banyak bangunan gedung berdiri. Inilah penyebab kanker yang utama. Kalaupun ada asap rokok, itu hanya sebagian kecil, dibanding asap-asap lain. Jumlah perokok di Indonesia lebih kecil dari pada jumlah yang tidak merokok. Tapi beritanya, selalu yang terkena kanker baik yang merokok dan yang tidak merokok dihubungkan dengan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n
Tidak hanya kanker paru yang dihubungkan dengan paparan asap rokok, sampai-sampai semua penyakit dihubungkan dengan rokok. Jika ada kaum adam pergi berobat ke dokter, yang pertama kali ditanyakan dokter bisa dipastikan adalah anda merokok? andaikan jawabannya ya, dokter pasti menyuruh berhenti merokok. <\/p>\n\n\n\n
Sungguh ironi, sampai begitunya rezim kesehatan melancarkan pengendalian sektor pertembakauan. Apapun dilakukan, sampai pada hal yang irasional. Buktinya, Litbang dari Kemenkes, melakukan riset kalau kerugian pemerintah mencapai 4.180 triliun. <\/p>\n\n\n\n
Selain dalil kesehatan, masih banyak rekayasa-rekayasa rezim kesehatan untuk memerangi pertembakauan dan rokok. Tidak berhenti disitu, rezim kesehatan bahkan berhasil merebut hasi dari pungutan pajak pertembakauan berupa dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk keperluan kampanye anti rokok. Sampai-sampai kementrian kesehatan membuat buku saku kecil sebagai petunjuk teknis untuk penggunaan dana DBHCHT tersebut. Bahkan ada dibeberapa tempat, dana tersebut untuk membangun sekolah kesehatan, membeli motor dan mobil operasional untuk kesehatan, membeli alat-alat dan fasilitas-fasilitas kesehatan. <\/p>\n\n\n\n
Kalau alat dan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan masyarakat luas, tentunya dimaklumi, seperti halnya dana DBHCT untuk menutup defisit BPJS. Tetapi, jika dana tersebut untuk memerangi dan kampanye anti rokok, sunggung tidaklah beretika. <\/p>\n\n\n\n
Terlihat, anti rokok dan rezim kesehatan di Indonesia memainkan drama untuk pengendalian sektor pertembakauan dan rokok kretek dengan cerita yang didramatisir sedemikian rupa, seakan-akan apa yang mereka ceritakan benar adanya. Bahkan untuk pembenaran cerita tersebut, rezim kesehatan dan anti rokok melakukan pemberitan berulang-ulang dari tahun ketahun hampir sama beritanya. Hal tersebut, sepertinya halnya pemberitaan penyebab meninggalnya Sutopo Purwo dihubungkan dengan perokok pasif atau akibat paparan asap rokok yang dikarenakan banyak pegawai merokok. hal tersebut telah dibantah kepala BNPB, bahwa para perokok telah merokok di tempat yang telah disediakan berupa ruang khusus merokok. Jadi salah besar jika Sutopo Purwo meninggal gara-gara sebagai perokok pasif. Kalau pun, seumpama hanya berupa dugaan atau asumsi seharusnya didasari dengan argumen yang kuat, bukan hanya membuat opini-opini liar dan didramatisir yang kemudian disebar dan dikonsumsi umum. Inilah drama yang diperankan anti rokok dan rezim kesehatan, dengan menggunakan media Sutopo Purwo yang telah meninggal. Sungguh tidak etis apa yang telah dilakukan anti rokok dan rezim kesehatan tersebut, Seharusnya meninggalnya orang yang telah berjasa bagi Negara dan bermanfaat bagi masyarakat, dido\u2019akan dan layak diberikan tanda jasa, bukan malah dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok yang menyudutkan kelompok lain.<\/p>\n\n\n\n
Selamat jalan bapak Sutopo Purwo, mari kita do\u2019akan agar arwah beliau berkumpul dengan orang-orang yang menjadi kekasih Tuhan, amin amin amin\u2026<\/p>\n","post_title":"Drama Informasi Penyebab Meninggalnya Sutopo Purwo Nugroho","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"drama-informasi-penyebab-meninggalnya-sutopo-purwo-nugroho","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-15 10:48:44","post_modified_gmt":"2019-07-15 03:48:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5865","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5852,"post_author":"878","post_date":"2019-07-11 12:05:43","post_date_gmt":"2019-07-11 05:05:43","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Robohnya Pohon Cengkeh Tertua di Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"robohnya-pohon-cengkeh-tertua-di-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-11 12:05:50","post_modified_gmt":"2019-07-11 05:05:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5852","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5849,"post_author":"877","post_date":"2019-07-08 11:42:15","post_date_gmt":"2019-07-08 04:42:15","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Selingkuh PKJS UI dengan Kepentingan Asing","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"selingkuh-pkjs-ui-dengan-kepentingan-asing","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-08 11:42:23","post_modified_gmt":"2019-07-08 04:42:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5849","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":37},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};