\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5377,"post_author":"878","post_date":"2019-01-31 08:59:05","post_date_gmt":"2019-01-31 01:59:05","post_content":"Sejarah mencatat aktivitas manusia mengisap rokok<\/a> yang mereka produksi dari daun tembakau sudah berlangsung setidaknya sejak 4000 tahun yang lalu. Atau pada 2000 Sebelum Masehi. Adalah ratusan suku-suku yang menghuni Benua Amerika lebih tepatnya Amerika Selatan yang memulai itu. Suku-suku yang oleh bangsa barat dengan mudahnya digolongkan dalam satu suku saja yaitu Suku Indian, padahal penamaan ini terjadi karena kesalahan semata, Kesalahan yang dilakukan oleh Christoper Colombus ketika melakukan petualangannya.<\/span>\r\n\r\nSuku-suku itu memanfaatkan tembakau yang diolah menjadi rokok untuk dikonsumsi dalam keseharian mereka. Selain itu tembakau digunakan sebagai media penyambutan, penerimaan dan perdamaian antar suku, juga digunakan untuk mengobati beberapa penyakit. Dukun-dukun menggunakan daun tembakau untuk mengobati pasiennya, baik dengan cara dibalurkan, atau lewat asap rokok yang mereka buat dari daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPada abad ke-15 hingga ke-16, para penjelajah Eropa mengenalkan tanaman tembakau dan aktivitas merokok ke tempat-tempat yang mereka datangi di dunia. Termasuk Indonesia. Memang ada yang bilang kebiasaan merokok di negeri ini sudah ada jauh sebelum aktivitas merokok diperkenalkan penjelajah dan penjajah Eropa, meskipun bukan dengan daun tembakau. Yang jelas, kebiasaan merokok tembakau di negeri ini begitu masif usai penjelajah dan penjajah mengenalkan kebiasaan merokok menggunakan daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPersebaran tembakau dan aktivitas merokok ke berbagai lokasi di penjuru bumi, memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan varian-varian cara dalam menikmati rokok tembakau. Pun begitu dengan di Nusantara. Aktivitas merokok tembakau memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan khas di banyak tempat, juga improvisasi-improvisasi cara dan bahan tambahan ketika menikmati rokok tembakau.<\/span>\r\n

Tak sekadar tembakau, masyarakat Nusantara menambahkan beberapa bahan lain selain tembakau dalam rokok yang mereka isap.Yang paling fenomenal adalah temuan rokok kretek yang pada akhirnya hingga saat ini berhasil menguasai lebih dari 90 persen pasar rokok Indonesia.<\/span><\/blockquote>\r\nBerawal dari ketidaksengajaan Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke rokok tembakaunya, campuran tembakau dan cengkeh yang menjadikan produk baru bernama rokok kretek, yang namanya diambil dari suaranya ketika campuran tembakau kering dan cengkeh kering dibakar, keretek-keretek, kemretek, berkembang pesat pada abad 20. Djamhari ketika itu sakit sesak napas. Sudah beberapa hari sakitnya tak kunjung sembuh. Setelah mengoleskan minyak cengkeh ke rokok yang ia isap, karena merasakan ada perubahan dari sakit yang ia rasa, kemudian Djamhari tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh, namun mencampurkan cengkeh kering dengan tembakau pada rokok yang ia isap. Penyakitnya berangsur menghilang dan ia sembuh.<\/span>\r\n\r\nVarian, improviasi dan kreativitas baru di seputar aktivitas merokok terus berkembang seiring perjalanan waktu dan perkembangan kemajuan teknologi. Persilangan antara kegemaran merokok dan perkembangan teknologi menghasilkan ragam rupa kreativitas dalam merokok dan mengonsumsi produk-produk tembakau. Kini ada rokok non-asap, nikotin tempel seperti koyo, tembakau kunyah, nikotin permen, dan ragam rupa kreasi lainnya. Inovasi ini kian menjadi saat kampanye bahaya rokok konvensional dan terutama bahaya rokok kretek terus-menerus didengungkan di penjuru bumi.<\/span>\r\n\r\nYang terbaru, setidaknya dalam empat tahun belakangan cukup berkembang di Indonesia, terutama di beberapa tempat di kota besar, adalah rokok elektrik atau yang lazim disebut <\/span>vape\/vaping<\/span><\/i>. Masuknya rokok elektrik ini bersamaan dengan serangan besar-besaran terhadap rokok kretek lewat kampanye yang menyebutkan rokok kretek sama sekali tidak baik untuk kesehatan. Rokok elektrik masuk dan digembar-gemborkan sebagai produk alternatif.<\/span>\r\n\r\nHingga sempat ada masanya, rokok elektrik ini dikampanyekan dan digunakan sebagai alat antara untuk meninggalkan produk rokok konvensional. Terapi berhenti merokok dengan berpindah dari rokok konvensional ke rokok kretek. Kampanye ini selalu menyebutkan bahwasanya rokok elektrik lebih baik dari rokok konvensional. Lebih sehat. Tetapi apakah memang benar seperti itu?<\/span>\r\n\r\nMungkin penjabaran data bahan baku rokok kretek dan rokok elektrik di bawah ini bisa membantu anda menemukan jawabannya sendiri.<\/span>\r\n

Rokok Kretek<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: Eko Susanto\/Rokok Indonesia[\/caption]\r\n\r\nDua bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh. Selain keduanya, setiap pabrikan memiliki bahan baku tambahannya sendiri yang membikin rokok kretek produksi mereka memiliki citarasa khasnya masing-masing. Para perokok yang biasa melinting sendiri rokok kreteknya lazim menyebutnya wur untuk tambahan bahan baku di luar tembakau dan cengkeh. Wur ini terdiri dari beberapa rempah-rempah sesuai dengan selera. Pabrikan-pabrikan rokok kretek meracik sendiri wur sebagai campuran tembakau dan cengkeh pada rokok kretek mereka. Wur ini kadang disebut perisa atau saus oleh pabrikan. Bahan bakunya mirip, campuran beberapa rempah-rempah.<\/span>\r\n\r\nBeberapa bahan baku lain selain cengkeh dan tembakau pada rokok kretek adalah: Kapulaga, kemenyan, daun sirih, kayu manis, kemukus, dan kelembak.<\/span>\r\n\r\nSelain bahan baku utama yang merupakan campuran tembakau, cengkeh, dan beberapa rempah lainnya yang lazim disebut saus, bahan penyusun rokok kretek lainnya adalah kertas atau yang lazim disebut sigaret. Bahan baku kertas sigaret adalah\u00a0<\/span>selulosa astetat.<\/span><\/i> Selulosa<\/span><\/i>\u00a0ini berasal dari serat tanama. Sebelum menjadi lembaran diolah menjadi\u00a0<\/span>pulp\u00a0<\/span><\/i>terlebih dulu. Unsur pelekat pada kertas dinamakan sideseam. Pelekat kertas tersebut merupakan pelekat\u00a0khusus\u00a0yang digunakan dalam jumlah yang sangat kecil.<\/span> Pada dasarnya kertas rokok atau kertas sigaret juga dilengkapi\u00a0<\/span>porforasi<\/span><\/i>\u00a0(kertas berlubang), di mana lubang ukurang mikro tersebut dapat menyedot udara luar sehingga kadar tar dan nikotin di dalam rokok turun.<\/span>\r\n\r\nSatu lagi bahan yang ada pada sebatang rokok kretek adalah busa filter, jika rokok kreteknya adalah rokok kretek filter. Bahan busa filter pada rokok kretek berasal dari aseto, tumbuhan jenis padi-padian yang banyak tumbuh di wilayah Eropa pasca musim dingin. Filter pada rokok kretek terbagi dari empat bagian,\u00a0<\/span>tow<\/span><\/i>\u00a0(rangkaian\u00a0<\/span>selulose asetat<\/span><\/i>\u00a0sebagai badan filter),\u00a0<\/span>plasticizer<\/span><\/i>\u00a0(zat pelunak untuk mengikat filter),\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>\u00a0(kertas pembungkus fiber filter) dan pelekat (sebagai pelekat\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>).<\/span>\r\n\r\nDari uraian ini, bisa dikatakan jika bahan baku utama dan bahan-bahan tambahan untuk rokok kretek semuanya merupakan bahan-bahan alami yang berasal dari alam. Produk herbal.<\/span>\r\n

Rokok Elektrik<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: testic.net[\/caption]\r\n\r\nBerbeda dengan rokok konvensional yang menggunakan prinsip pembakaran pada proses konsumsinya, rokok elektrik menggunakan prinsip penguapan. Oleh sebab itu produk ini lazim disebut vape karena prinsip reaksi yang bekerja berupa vaporizer.<\/span>\r\n\r\nAda empat elemen utama dalam sebuah produk rokok elektrik yang dikonsumsi. Cairan utama (liquid), wadah cairan (<\/span>cartridge<\/span><\/i>), atomizer atau pemanas, dan baterai.<\/span>\r\n\r\nCairan pada rokok elektrik terdiri dari campuran propilen glikol, gliserol, air, nikotin sintetis, dan perasa sintetis. Gliserol adalah bahan baku e-liquid, perannya adalah membantu proses vaporasi dari cairan (liquid) menjadi gas (asap). Gliserol adalah bahan kimia tanpa warna, tanpa bau, yang banyak digunakan di bidang farmasi. Bahan ini berbentuk cairan agak kental dan sedikit berasa manis. Propilen Glikol adalah bahan penguat rasa berbentuk cair\/ liquid. Pada umumnya dipakai pada essence makanan dan minuman ringan sebagai penguat. Sifatnya tidak berbau dan berasa manis. Liquid premium lokal atau import juga menggunakan ini.<\/span>\r\n\r\nAda dua kunci yang bisa menjadi acuan analisis terkait rokok kretek dan rokok elektrik dalam hubungannya dengan klaim rokok elektrik yang jauh lebih sehat dari rokok kretek dan rokok konvensional, bahkan rokok elektrik dianggap sebagai produk yang baik dipilih untuk meninggalkan kebiasaan merokok. Dua kunci itu adalah, bahan alami vs bahan sintetis, dan proses pembakaran rokok konvensional vs proses penguapan rokok elektrik. Dari dua kunci utama ini saja kita bisa tahu mana yang lebih baik sebenarnya.<\/span>","post_title":"Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbandingan-bahan-baku-kretek-dan-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-31 08:59:27","post_modified_gmt":"2019-01-31 01:59:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5377","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5371,"post_author":"877","post_date":"2019-01-30 10:12:38","post_date_gmt":"2019-01-30 03:12:38","post_content":"Pada abad 20 salah satu obat yang paling populer menjadi favorit orang adalah nikotin, berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mencoba dihisap, disentuh, dikunyah, atau dioleskan (diadaptasi dari sumber berita <\/span>www.vebma.com<\/span><\/a>).<\/span><\/em>\r\n\r\nRokok elektrik terpopuler dan menjadi trend saat ini adalah \u00a0jenis vape<\/a>, atau bisa disebut E-ciggarette. Sekitar tahun 2010, rokok jenis vape masuk ke Indonesia dengan membawa label sebagai rokok alternatif menggantikan rokok konvensional (rokok sigaret). Promosinya ditonjolkan sebagai rokok yang lebih aman dari pada rokok konvensional. <\/span>\r\n\r\nMemaknai pilihan diksi lebih aman, kira- kira urutannya begini, awalnya rokok konvensional aman, kemudian keberadaan rokok elektrik jenis vape lebih aman. Rokok elektrik adalah inovasi rokok konvensioanal. <\/strong>\r\n\r\nPerlu diketahui, sistem pembakaran pada rokok elektrik memakai listrik berupa battre dengan memakai elemen pemanas <\/span>atomizer atau cartomizer<\/span><\/i>, bahan utamanya berbasis proses kimia. Rokok konvensional memakai pembakaran berupa api, bahan utamanya memakai tumbuhan asli berupa tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan keduanya. Saya beri contoh sebagai pembanding, air minum dari hasil proses memakai alat heater pemanas listrik, dengan air minum dari hasil pemanas konvensional (pakai api), kira-kira lebih aman, lebih sehat mana? Kira-kira anda pilih yang elektrik atau konvensiobal, silahkan anda memilih dan menilai sesuai pengalaman masing-masing.<\/span>\r\n\r\nKembali kepersoalan promosi rokok vape di Indonesia, saat vape mulai naik daun banyak lembaga riset melakukan studi kelayakan. Hasilnya pun terjadi perdebatan, ada lembaga yang dipimpin Profesor David Thickett dari Universitas Birmingham mengatakan, mengisap rokok elektrik atau yang lebih dikenal dengan istilah\u00a0<\/span>vaping<\/span><\/i>\u00a0bisa merusak sel-sel sistem kekebalan tubuh dan amat mungkin lebih berbahaya dari yang semula diperkirakan. Ada pula yang mengatakan merokok vape menghindarkan dari risiko penyakit jantung dan kanker. <\/span>\r\n\r\nAnehnya, Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia, juga ikut melakukan uji dengan hasilnya bahwa vape dinilai memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok yang dikonsumi dengan dibakar. Disini tidak akan membahas berlarut larut tentang perbedaan hasil uji rokok vape (elektrik), bahkan tidak akan membahas pertanyaan ada apa lembaga penguji tersebut. \u00a0.<\/span>\r\n\r\nLogika sederhana, memakan dan minum dari bahan natural proses konvensional, dibanding bahan kimia dengan proses pemanas listrik, baik mana? Air proses natural (air mineral) dengan air kemasan lain beraroma (proses kimia) sehat yang mana?. Dua pertanyaan ini sebagai pembanding dalam mengambil keputusan dan penilaian antara rokok elektrik (vape) dengan rokok konvensioanl.<\/span>\r\n
Usaha promosi rokok vape, dengan membangun cerita opini, bahwa penemu rokok elektrik\/vape (e-ciggarette) bernama Hon Lik seorang pecandu rokok konvensional berat yang menderita penyakit infeksi pernafasan, sering batuk batuk dan\u00a0bersin sehingga kesulitan untuk tidur. Kemudian pada tahun 2003 menciptakan rokok elektrik sebagai pengganti rokok konvensional. <\/span><\/blockquote>\r\nOpini yang dibangun seakan-akan akibat rokok konvensioanl, Hon Lik menderita penyakit, yang kemudian dengan hasil ciptaannya (rokok elektrik), Hon Lik tidak sakit lagi. Pertanyaan pertama, jenis rokok konvensional apa yang dikonsumsi Hon Lik? dugaan terkuat bukan rokok kretek yang saat itu dikonsumsi. Jika rokok kretek yang dikonsumsi keadaan Hon Lik jadi lain, karena rokok kretek awal mulanya diciptakan sebagai obat batuk, sesak nafas dan lain-lain. Masih ingat dahulu ada rokok kretek yang bungkusnya tertulis \u201cdapat meredekan batuk\u201d. Tidak lain adalah rokok kretek Dji Sam Soe. Tulisan tersebut, masih diyakini banyak orang, saat batuk mereka akan merokok Dji Sam Soe, saat batuk reda, mereka merokok selera semula.<\/span>\r\n\r\nPertanyaan kedua, apakah benar hanya gara-gara merokok konvensioanl Hon Lik menderita sakit? jangan-jangan ada faktor lain menjadi penyebab. Bisa jadi penyakit turunan\/genetik, akibat <\/span>kerusakan pada gen dalam tubuh. Buktinya diceritakan bahwa ayah Hon Lik <\/span>mengidap penyakit kanker paru paru. Dan mungkin bapak dari bapaknya Hon Lik dan seterusnya, juga demikian mengidap penyakit yang sama.<\/span>\r\n\r\n\"\"\r\n\r\nFakta sejarah berkata lain, teknik vaping sudah dikenal sejak Mesir kuno, kemudian tahun 1927 <\/span>Joseph Robinson menggagas \u201cmerokok tanpa rokok\u201d, hingga populer. Baru pada tahun 2003, Hon Lik membuat perusahan e-cig modern di Tionghoa (Cina). Jadi Hon Lik bukanlah orang yang pertama atau pencipta teknik vaping untuk rokok, hanya saja Hon Lik bisa membaca peluang tersebut, apa lagi ia adalah seorang apoteker. Ia pasti mengetahui mafaat nikotin untuk tubuh manusia, sehingga ia memproduksi massal rokok bernikotin yang inovatif dengan kombinasi teknik vaping.<\/span>\r\n\r\nDilansir dari www. Vebma.com, bahwa salah satu obat yang paling populer dan favorit bagi orang adalah nikotin. Dengan demikian, orang telah mencoba berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mereka mencoba mengisapnya, menyentuhnya, mengunyahnya, atau mengoleskannya di kulit mereka. Anda bisa menemukan nikotin di tembakau. Banyak perangkat telah diciptakan untuk memuaskan obsesi orang terhadap nikotin. Kita hidup dalam masyarakat teknologi, Itu sebabnya baru-baru ini, vaporizers menjadi tren keren dengan berbagai selera dan bentuknya.<\/span>\r\n
Penguapan memiliki sejarah panjang. Herodotus menjelaskan, di Mesir (abad ke 5 SM) orang memanaskan ramuan dan minyak pada batu panas untuk vape. Oleh karena itu, kita harus mempercayai tentang asal mula vaping kuno. Kemudian, lebih dari 1500 tahun yang lalu, Irfan Shiekh menemukan shisha pertama. <\/span><\/blockquote>\r\nCerita opini saat ini tentang rokok elektrik (<\/span>vape) hanya bagian dari promosi semata. Dengan menjatuhkan rokok konvensional (rokok kretek), berharap penikmat rokok beralih ke elektrik (vape). Dengan dalil yang diwacanakan, lebih aman (menyehatkan). Cerita opini yang dibangun menafikan sejarah yang sesungguhnya, bahwa nikotin adalah salah satu obat, zat nikotin ada di daun tembakau. Hanya pada rokok konvensional (rokok kretek), bahan baku daun tembakau dan cengkeh dan proses pembakaran natural, lebih aman dan menyehatkan.<\/span>","post_title":"Meluruskan Sejarah Awal Mula Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"meluruskan-sejarah-awal-mula-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-30 10:13:19","post_modified_gmt":"2019-01-30 03:13:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5371","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5254,"post_author":"883","post_date":"2018-12-28 07:16:54","post_date_gmt":"2018-12-28 00:16:54","post_content":"Produk alternatif tembakau seperti vape<\/a> menjadi tren terbaru yang digandrungi masyarakat. Vape atau rokok elektrik naik pamor setelah dihembuskan isu bahwa mengkonsumsi vape dianggap lebih aman ketimbang mengonsumsi rokok konvensional, sebutlah kretek.<\/span>\r\n\r\nIsu lebih sehat tersebut terus-menerus dihembuskan kepada masyarakat, sehingga banyak penikmat rokok konvensional yang pindah menjadi \u2018vapers\u2019 (sebutan bagi penikmat vape). Bahkan bukan hanya perokok, banyak juga dari kalangan non-perokok yang memutuskan memilih menjadi vapers ketimbang perokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKemunculan vape sebenarnya sangat lumrah di era yang penuh inovasi ini. Kami pun para penikmat kretek biasa-biasa saja dengan fenomena produk alternatif tembakau. Jauh sebelum tren vape muncul di tengah masyarakat, di Eropa dan Amerika bahkan sudah lebih dulu muncul tren produk alternatif tembakau macam koyok nikotin atau permen karet nikotin.<\/span>\r\n\r\nNamun ketika isu produk alternatif, dalam hal ini vape diisukan lebih sehat ketimbang rokok konvensional, tentu ceritanya menjadi lain. Kami kretekus merespon dan tidak tinggal diam. Sebab hal tersebut sudah sampai pada konteks menyentuh eksistensi kami.<\/span>\r\n

Maka, mari kita bedah apakah benar produk alternatif macam vape ini lebih sehat?<\/span><\/h4>\r\nSebelum masuk kepada hasil-hasil riset kesehatan termutakhir, kami ingin menyinggung bahwa fenomena kemunculan produk alternatif tembakau, baik itu koyok nikotin, permen nikotin, hingga vape, dalam konteks global kita sebut sebagai Nicotine War atau Perang Nikotin.<\/span>\r\n
Perang Nikotin adalah peperangan memperebutkan nikotin antara \u201czat nikotin alami dalam tembakau\u201d yang diwakili oleh industri rokok versus \u201csenyawa mirip nikotin\u201d dan \u201csarana pengantar nikotin\u201d yang diwakili oleh industri farmasi.<\/span><\/blockquote>\r\nKretek dan rokok konvensional lainnya merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan secara alami melalui tembakau tanpa perantara apapun. <\/span>\r\n\r\nSementara vape, koyok nikotin atau permen nikotin merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan melalui perantara, seperti dipanaskan dulu seperti uap atau mengekstraksi tembakau dan zat-zat lainnya dengan sedemikian rupa.<\/span>\r\n

Lalu bagaimana dengan riset termutakhir mengenai produk alternatif tembakau?<\/span><\/h4>\r\nPara peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai 'popcorn lung'. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/span>\r\n\r\nAda juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/span>\r\n\r\nPenelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/span>\r\n
\"Bahkan, dalam salah satu merek rokok elektronik ditemukan 10 kali tingkat karsinogen dibandingkan satu batang rokok biasa,\" tutur seorang peneliti dari National Institute of Public Health, Jepang dr. Naoki Kunugita seperti dilansir laman Daily Mail<\/span><\/blockquote>\r\nItu baru dari hasil riset kesehatan, belum jika melihat faktor risiko berbahaya lainnya, seperti meledaknya alat vapor atau kandungan logam berbahaya yang ada di alat vapor.<\/span>\r\n\r\nAlat vapor dapat meledak. Ledakan dapat terjadi karena pemanasan berlebih dari baterai lithium ion yang digunakan untuk menggerakkan vape. Ledakan ini berbahaya dan dapat membunuh. <\/span>\r\n\r\nKejadian meledaknya vape ini pernah terjadi menimpa vapers bernama Kenneth Barbero dari Albany. Kenneth menjadi korban ledakan vape dan mengalami luka parah. Dalam sebuah wawancara, Kenneth menjelaskan bahwa ledakan itu merobek lidahnya, tangannya yang mengalami luka bakar dan beberapa giginya hilang.<\/span>\r\n\r\nLedakan seperti itu tidak akan pernah terjadi dan tidak akan pernah menghantui kretekus. Sebab mengonsumsi kretek tidak memerlukan daya listrik apapun. Mengonsumsi kretek sama dengan mengonsumsi tembakau secara alami, dan jangan lupakan komponen cengkeh dan rempah lainnya yang juga terkandung di dalam kretek.<\/span>\r\n\r\nMaka jika melihat fenomena bahayanya mengonsumsi produk alternatif tembakau macam vape dari kacamata riset kesehatan dan pengalaman korban, sungguh miris rasanya jika kampanye \u2018lebih sehat\u2019 masih dihembus-hembuskan kepada masyarakat.<\/span>\r\n\r\nWalaupun terdapat riset kesehatan yang menunjang kampanye \u2018lebih sehat\u2019 tersebut, tentu riset tersebut belum kredibel, sebab sebuah produk bisa dikatakan berbahaya atau berisiko tidak hanya dilihat dari riset pendek saja.<\/strong> Dampak kesehatan akan terlihat bukan dalam kurun waktu 1-2 tahun. Dalam kurun waktu puluhan tahun barulah dampak kesehatan bisa terlihat.<\/span>\r\n\r\nKretek sebagai produk konsumsi yang telah ada sejak berabad-abad lamanya, memiliki pembuktian bahwa produk ini terus bertahan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat. Artinya dari sisi kesehatan, masyarakat sudah mengetahui apa risiko dalam mengonsumsinya dan memberikan dampak apa saja kepada tubuh manusia.<\/span>\r\n\r\nSementara vape yang kelahirannya baru seumur jagung, belum pantas untuk meneriakkan slogan \u201cproduk alternatif tembakau lebih sehat ketimbang kretek atau rokok konvensional\u201d. Karena slogan mereka masih mitos dan belum bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.<\/span>","post_title":"Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"benarkah-produk-alternatif-tembakau-lebih-sehat-daripada-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:50:31","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:50:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5377,"post_author":"878","post_date":"2019-01-31 08:59:05","post_date_gmt":"2019-01-31 01:59:05","post_content":"Sejarah mencatat aktivitas manusia mengisap rokok<\/a> yang mereka produksi dari daun tembakau sudah berlangsung setidaknya sejak 4000 tahun yang lalu. Atau pada 2000 Sebelum Masehi. Adalah ratusan suku-suku yang menghuni Benua Amerika lebih tepatnya Amerika Selatan yang memulai itu. Suku-suku yang oleh bangsa barat dengan mudahnya digolongkan dalam satu suku saja yaitu Suku Indian, padahal penamaan ini terjadi karena kesalahan semata, Kesalahan yang dilakukan oleh Christoper Colombus ketika melakukan petualangannya.<\/span>\r\n\r\nSuku-suku itu memanfaatkan tembakau yang diolah menjadi rokok untuk dikonsumsi dalam keseharian mereka. Selain itu tembakau digunakan sebagai media penyambutan, penerimaan dan perdamaian antar suku, juga digunakan untuk mengobati beberapa penyakit. Dukun-dukun menggunakan daun tembakau untuk mengobati pasiennya, baik dengan cara dibalurkan, atau lewat asap rokok yang mereka buat dari daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPada abad ke-15 hingga ke-16, para penjelajah Eropa mengenalkan tanaman tembakau dan aktivitas merokok ke tempat-tempat yang mereka datangi di dunia. Termasuk Indonesia. Memang ada yang bilang kebiasaan merokok di negeri ini sudah ada jauh sebelum aktivitas merokok diperkenalkan penjelajah dan penjajah Eropa, meskipun bukan dengan daun tembakau. Yang jelas, kebiasaan merokok tembakau di negeri ini begitu masif usai penjelajah dan penjajah mengenalkan kebiasaan merokok menggunakan daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPersebaran tembakau dan aktivitas merokok ke berbagai lokasi di penjuru bumi, memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan varian-varian cara dalam menikmati rokok tembakau. Pun begitu dengan di Nusantara. Aktivitas merokok tembakau memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan khas di banyak tempat, juga improvisasi-improvisasi cara dan bahan tambahan ketika menikmati rokok tembakau.<\/span>\r\n

Tak sekadar tembakau, masyarakat Nusantara menambahkan beberapa bahan lain selain tembakau dalam rokok yang mereka isap.Yang paling fenomenal adalah temuan rokok kretek yang pada akhirnya hingga saat ini berhasil menguasai lebih dari 90 persen pasar rokok Indonesia.<\/span><\/blockquote>\r\nBerawal dari ketidaksengajaan Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke rokok tembakaunya, campuran tembakau dan cengkeh yang menjadikan produk baru bernama rokok kretek, yang namanya diambil dari suaranya ketika campuran tembakau kering dan cengkeh kering dibakar, keretek-keretek, kemretek, berkembang pesat pada abad 20. Djamhari ketika itu sakit sesak napas. Sudah beberapa hari sakitnya tak kunjung sembuh. Setelah mengoleskan minyak cengkeh ke rokok yang ia isap, karena merasakan ada perubahan dari sakit yang ia rasa, kemudian Djamhari tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh, namun mencampurkan cengkeh kering dengan tembakau pada rokok yang ia isap. Penyakitnya berangsur menghilang dan ia sembuh.<\/span>\r\n\r\nVarian, improviasi dan kreativitas baru di seputar aktivitas merokok terus berkembang seiring perjalanan waktu dan perkembangan kemajuan teknologi. Persilangan antara kegemaran merokok dan perkembangan teknologi menghasilkan ragam rupa kreativitas dalam merokok dan mengonsumsi produk-produk tembakau. Kini ada rokok non-asap, nikotin tempel seperti koyo, tembakau kunyah, nikotin permen, dan ragam rupa kreasi lainnya. Inovasi ini kian menjadi saat kampanye bahaya rokok konvensional dan terutama bahaya rokok kretek terus-menerus didengungkan di penjuru bumi.<\/span>\r\n\r\nYang terbaru, setidaknya dalam empat tahun belakangan cukup berkembang di Indonesia, terutama di beberapa tempat di kota besar, adalah rokok elektrik atau yang lazim disebut <\/span>vape\/vaping<\/span><\/i>. Masuknya rokok elektrik ini bersamaan dengan serangan besar-besaran terhadap rokok kretek lewat kampanye yang menyebutkan rokok kretek sama sekali tidak baik untuk kesehatan. Rokok elektrik masuk dan digembar-gemborkan sebagai produk alternatif.<\/span>\r\n\r\nHingga sempat ada masanya, rokok elektrik ini dikampanyekan dan digunakan sebagai alat antara untuk meninggalkan produk rokok konvensional. Terapi berhenti merokok dengan berpindah dari rokok konvensional ke rokok kretek. Kampanye ini selalu menyebutkan bahwasanya rokok elektrik lebih baik dari rokok konvensional. Lebih sehat. Tetapi apakah memang benar seperti itu?<\/span>\r\n\r\nMungkin penjabaran data bahan baku rokok kretek dan rokok elektrik di bawah ini bisa membantu anda menemukan jawabannya sendiri.<\/span>\r\n

Rokok Kretek<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: Eko Susanto\/Rokok Indonesia[\/caption]\r\n\r\nDua bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh. Selain keduanya, setiap pabrikan memiliki bahan baku tambahannya sendiri yang membikin rokok kretek produksi mereka memiliki citarasa khasnya masing-masing. Para perokok yang biasa melinting sendiri rokok kreteknya lazim menyebutnya wur untuk tambahan bahan baku di luar tembakau dan cengkeh. Wur ini terdiri dari beberapa rempah-rempah sesuai dengan selera. Pabrikan-pabrikan rokok kretek meracik sendiri wur sebagai campuran tembakau dan cengkeh pada rokok kretek mereka. Wur ini kadang disebut perisa atau saus oleh pabrikan. Bahan bakunya mirip, campuran beberapa rempah-rempah.<\/span>\r\n\r\nBeberapa bahan baku lain selain cengkeh dan tembakau pada rokok kretek adalah: Kapulaga, kemenyan, daun sirih, kayu manis, kemukus, dan kelembak.<\/span>\r\n\r\nSelain bahan baku utama yang merupakan campuran tembakau, cengkeh, dan beberapa rempah lainnya yang lazim disebut saus, bahan penyusun rokok kretek lainnya adalah kertas atau yang lazim disebut sigaret. Bahan baku kertas sigaret adalah\u00a0<\/span>selulosa astetat.<\/span><\/i> Selulosa<\/span><\/i>\u00a0ini berasal dari serat tanama. Sebelum menjadi lembaran diolah menjadi\u00a0<\/span>pulp\u00a0<\/span><\/i>terlebih dulu. Unsur pelekat pada kertas dinamakan sideseam. Pelekat kertas tersebut merupakan pelekat\u00a0khusus\u00a0yang digunakan dalam jumlah yang sangat kecil.<\/span> Pada dasarnya kertas rokok atau kertas sigaret juga dilengkapi\u00a0<\/span>porforasi<\/span><\/i>\u00a0(kertas berlubang), di mana lubang ukurang mikro tersebut dapat menyedot udara luar sehingga kadar tar dan nikotin di dalam rokok turun.<\/span>\r\n\r\nSatu lagi bahan yang ada pada sebatang rokok kretek adalah busa filter, jika rokok kreteknya adalah rokok kretek filter. Bahan busa filter pada rokok kretek berasal dari aseto, tumbuhan jenis padi-padian yang banyak tumbuh di wilayah Eropa pasca musim dingin. Filter pada rokok kretek terbagi dari empat bagian,\u00a0<\/span>tow<\/span><\/i>\u00a0(rangkaian\u00a0<\/span>selulose asetat<\/span><\/i>\u00a0sebagai badan filter),\u00a0<\/span>plasticizer<\/span><\/i>\u00a0(zat pelunak untuk mengikat filter),\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>\u00a0(kertas pembungkus fiber filter) dan pelekat (sebagai pelekat\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>).<\/span>\r\n\r\nDari uraian ini, bisa dikatakan jika bahan baku utama dan bahan-bahan tambahan untuk rokok kretek semuanya merupakan bahan-bahan alami yang berasal dari alam. Produk herbal.<\/span>\r\n

Rokok Elektrik<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: testic.net[\/caption]\r\n\r\nBerbeda dengan rokok konvensional yang menggunakan prinsip pembakaran pada proses konsumsinya, rokok elektrik menggunakan prinsip penguapan. Oleh sebab itu produk ini lazim disebut vape karena prinsip reaksi yang bekerja berupa vaporizer.<\/span>\r\n\r\nAda empat elemen utama dalam sebuah produk rokok elektrik yang dikonsumsi. Cairan utama (liquid), wadah cairan (<\/span>cartridge<\/span><\/i>), atomizer atau pemanas, dan baterai.<\/span>\r\n\r\nCairan pada rokok elektrik terdiri dari campuran propilen glikol, gliserol, air, nikotin sintetis, dan perasa sintetis. Gliserol adalah bahan baku e-liquid, perannya adalah membantu proses vaporasi dari cairan (liquid) menjadi gas (asap). Gliserol adalah bahan kimia tanpa warna, tanpa bau, yang banyak digunakan di bidang farmasi. Bahan ini berbentuk cairan agak kental dan sedikit berasa manis. Propilen Glikol adalah bahan penguat rasa berbentuk cair\/ liquid. Pada umumnya dipakai pada essence makanan dan minuman ringan sebagai penguat. Sifatnya tidak berbau dan berasa manis. Liquid premium lokal atau import juga menggunakan ini.<\/span>\r\n\r\nAda dua kunci yang bisa menjadi acuan analisis terkait rokok kretek dan rokok elektrik dalam hubungannya dengan klaim rokok elektrik yang jauh lebih sehat dari rokok kretek dan rokok konvensional, bahkan rokok elektrik dianggap sebagai produk yang baik dipilih untuk meninggalkan kebiasaan merokok. Dua kunci itu adalah, bahan alami vs bahan sintetis, dan proses pembakaran rokok konvensional vs proses penguapan rokok elektrik. Dari dua kunci utama ini saja kita bisa tahu mana yang lebih baik sebenarnya.<\/span>","post_title":"Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbandingan-bahan-baku-kretek-dan-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-31 08:59:27","post_modified_gmt":"2019-01-31 01:59:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5377","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5371,"post_author":"877","post_date":"2019-01-30 10:12:38","post_date_gmt":"2019-01-30 03:12:38","post_content":"Pada abad 20 salah satu obat yang paling populer menjadi favorit orang adalah nikotin, berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mencoba dihisap, disentuh, dikunyah, atau dioleskan (diadaptasi dari sumber berita <\/span>www.vebma.com<\/span><\/a>).<\/span><\/em>\r\n\r\nRokok elektrik terpopuler dan menjadi trend saat ini adalah \u00a0jenis vape<\/a>, atau bisa disebut E-ciggarette. Sekitar tahun 2010, rokok jenis vape masuk ke Indonesia dengan membawa label sebagai rokok alternatif menggantikan rokok konvensional (rokok sigaret). Promosinya ditonjolkan sebagai rokok yang lebih aman dari pada rokok konvensional. <\/span>\r\n\r\nMemaknai pilihan diksi lebih aman, kira- kira urutannya begini, awalnya rokok konvensional aman, kemudian keberadaan rokok elektrik jenis vape lebih aman. Rokok elektrik adalah inovasi rokok konvensioanal. <\/strong>\r\n\r\nPerlu diketahui, sistem pembakaran pada rokok elektrik memakai listrik berupa battre dengan memakai elemen pemanas <\/span>atomizer atau cartomizer<\/span><\/i>, bahan utamanya berbasis proses kimia. Rokok konvensional memakai pembakaran berupa api, bahan utamanya memakai tumbuhan asli berupa tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan keduanya. Saya beri contoh sebagai pembanding, air minum dari hasil proses memakai alat heater pemanas listrik, dengan air minum dari hasil pemanas konvensional (pakai api), kira-kira lebih aman, lebih sehat mana? Kira-kira anda pilih yang elektrik atau konvensiobal, silahkan anda memilih dan menilai sesuai pengalaman masing-masing.<\/span>\r\n\r\nKembali kepersoalan promosi rokok vape di Indonesia, saat vape mulai naik daun banyak lembaga riset melakukan studi kelayakan. Hasilnya pun terjadi perdebatan, ada lembaga yang dipimpin Profesor David Thickett dari Universitas Birmingham mengatakan, mengisap rokok elektrik atau yang lebih dikenal dengan istilah\u00a0<\/span>vaping<\/span><\/i>\u00a0bisa merusak sel-sel sistem kekebalan tubuh dan amat mungkin lebih berbahaya dari yang semula diperkirakan. Ada pula yang mengatakan merokok vape menghindarkan dari risiko penyakit jantung dan kanker. <\/span>\r\n\r\nAnehnya, Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia, juga ikut melakukan uji dengan hasilnya bahwa vape dinilai memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok yang dikonsumi dengan dibakar. Disini tidak akan membahas berlarut larut tentang perbedaan hasil uji rokok vape (elektrik), bahkan tidak akan membahas pertanyaan ada apa lembaga penguji tersebut. \u00a0.<\/span>\r\n\r\nLogika sederhana, memakan dan minum dari bahan natural proses konvensional, dibanding bahan kimia dengan proses pemanas listrik, baik mana? Air proses natural (air mineral) dengan air kemasan lain beraroma (proses kimia) sehat yang mana?. Dua pertanyaan ini sebagai pembanding dalam mengambil keputusan dan penilaian antara rokok elektrik (vape) dengan rokok konvensioanl.<\/span>\r\n
Usaha promosi rokok vape, dengan membangun cerita opini, bahwa penemu rokok elektrik\/vape (e-ciggarette) bernama Hon Lik seorang pecandu rokok konvensional berat yang menderita penyakit infeksi pernafasan, sering batuk batuk dan\u00a0bersin sehingga kesulitan untuk tidur. Kemudian pada tahun 2003 menciptakan rokok elektrik sebagai pengganti rokok konvensional. <\/span><\/blockquote>\r\nOpini yang dibangun seakan-akan akibat rokok konvensioanl, Hon Lik menderita penyakit, yang kemudian dengan hasil ciptaannya (rokok elektrik), Hon Lik tidak sakit lagi. Pertanyaan pertama, jenis rokok konvensional apa yang dikonsumsi Hon Lik? dugaan terkuat bukan rokok kretek yang saat itu dikonsumsi. Jika rokok kretek yang dikonsumsi keadaan Hon Lik jadi lain, karena rokok kretek awal mulanya diciptakan sebagai obat batuk, sesak nafas dan lain-lain. Masih ingat dahulu ada rokok kretek yang bungkusnya tertulis \u201cdapat meredekan batuk\u201d. Tidak lain adalah rokok kretek Dji Sam Soe. Tulisan tersebut, masih diyakini banyak orang, saat batuk mereka akan merokok Dji Sam Soe, saat batuk reda, mereka merokok selera semula.<\/span>\r\n\r\nPertanyaan kedua, apakah benar hanya gara-gara merokok konvensioanl Hon Lik menderita sakit? jangan-jangan ada faktor lain menjadi penyebab. Bisa jadi penyakit turunan\/genetik, akibat <\/span>kerusakan pada gen dalam tubuh. Buktinya diceritakan bahwa ayah Hon Lik <\/span>mengidap penyakit kanker paru paru. Dan mungkin bapak dari bapaknya Hon Lik dan seterusnya, juga demikian mengidap penyakit yang sama.<\/span>\r\n\r\n\"\"\r\n\r\nFakta sejarah berkata lain, teknik vaping sudah dikenal sejak Mesir kuno, kemudian tahun 1927 <\/span>Joseph Robinson menggagas \u201cmerokok tanpa rokok\u201d, hingga populer. Baru pada tahun 2003, Hon Lik membuat perusahan e-cig modern di Tionghoa (Cina). Jadi Hon Lik bukanlah orang yang pertama atau pencipta teknik vaping untuk rokok, hanya saja Hon Lik bisa membaca peluang tersebut, apa lagi ia adalah seorang apoteker. Ia pasti mengetahui mafaat nikotin untuk tubuh manusia, sehingga ia memproduksi massal rokok bernikotin yang inovatif dengan kombinasi teknik vaping.<\/span>\r\n\r\nDilansir dari www. Vebma.com, bahwa salah satu obat yang paling populer dan favorit bagi orang adalah nikotin. Dengan demikian, orang telah mencoba berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mereka mencoba mengisapnya, menyentuhnya, mengunyahnya, atau mengoleskannya di kulit mereka. Anda bisa menemukan nikotin di tembakau. Banyak perangkat telah diciptakan untuk memuaskan obsesi orang terhadap nikotin. Kita hidup dalam masyarakat teknologi, Itu sebabnya baru-baru ini, vaporizers menjadi tren keren dengan berbagai selera dan bentuknya.<\/span>\r\n
Penguapan memiliki sejarah panjang. Herodotus menjelaskan, di Mesir (abad ke 5 SM) orang memanaskan ramuan dan minyak pada batu panas untuk vape. Oleh karena itu, kita harus mempercayai tentang asal mula vaping kuno. Kemudian, lebih dari 1500 tahun yang lalu, Irfan Shiekh menemukan shisha pertama. <\/span><\/blockquote>\r\nCerita opini saat ini tentang rokok elektrik (<\/span>vape) hanya bagian dari promosi semata. Dengan menjatuhkan rokok konvensional (rokok kretek), berharap penikmat rokok beralih ke elektrik (vape). Dengan dalil yang diwacanakan, lebih aman (menyehatkan). Cerita opini yang dibangun menafikan sejarah yang sesungguhnya, bahwa nikotin adalah salah satu obat, zat nikotin ada di daun tembakau. Hanya pada rokok konvensional (rokok kretek), bahan baku daun tembakau dan cengkeh dan proses pembakaran natural, lebih aman dan menyehatkan.<\/span>","post_title":"Meluruskan Sejarah Awal Mula Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"meluruskan-sejarah-awal-mula-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-30 10:13:19","post_modified_gmt":"2019-01-30 03:13:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5371","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5254,"post_author":"883","post_date":"2018-12-28 07:16:54","post_date_gmt":"2018-12-28 00:16:54","post_content":"Produk alternatif tembakau seperti vape<\/a> menjadi tren terbaru yang digandrungi masyarakat. Vape atau rokok elektrik naik pamor setelah dihembuskan isu bahwa mengkonsumsi vape dianggap lebih aman ketimbang mengonsumsi rokok konvensional, sebutlah kretek.<\/span>\r\n\r\nIsu lebih sehat tersebut terus-menerus dihembuskan kepada masyarakat, sehingga banyak penikmat rokok konvensional yang pindah menjadi \u2018vapers\u2019 (sebutan bagi penikmat vape). Bahkan bukan hanya perokok, banyak juga dari kalangan non-perokok yang memutuskan memilih menjadi vapers ketimbang perokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKemunculan vape sebenarnya sangat lumrah di era yang penuh inovasi ini. Kami pun para penikmat kretek biasa-biasa saja dengan fenomena produk alternatif tembakau. Jauh sebelum tren vape muncul di tengah masyarakat, di Eropa dan Amerika bahkan sudah lebih dulu muncul tren produk alternatif tembakau macam koyok nikotin atau permen karet nikotin.<\/span>\r\n\r\nNamun ketika isu produk alternatif, dalam hal ini vape diisukan lebih sehat ketimbang rokok konvensional, tentu ceritanya menjadi lain. Kami kretekus merespon dan tidak tinggal diam. Sebab hal tersebut sudah sampai pada konteks menyentuh eksistensi kami.<\/span>\r\n

Maka, mari kita bedah apakah benar produk alternatif macam vape ini lebih sehat?<\/span><\/h4>\r\nSebelum masuk kepada hasil-hasil riset kesehatan termutakhir, kami ingin menyinggung bahwa fenomena kemunculan produk alternatif tembakau, baik itu koyok nikotin, permen nikotin, hingga vape, dalam konteks global kita sebut sebagai Nicotine War atau Perang Nikotin.<\/span>\r\n
Perang Nikotin adalah peperangan memperebutkan nikotin antara \u201czat nikotin alami dalam tembakau\u201d yang diwakili oleh industri rokok versus \u201csenyawa mirip nikotin\u201d dan \u201csarana pengantar nikotin\u201d yang diwakili oleh industri farmasi.<\/span><\/blockquote>\r\nKretek dan rokok konvensional lainnya merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan secara alami melalui tembakau tanpa perantara apapun. <\/span>\r\n\r\nSementara vape, koyok nikotin atau permen nikotin merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan melalui perantara, seperti dipanaskan dulu seperti uap atau mengekstraksi tembakau dan zat-zat lainnya dengan sedemikian rupa.<\/span>\r\n

Lalu bagaimana dengan riset termutakhir mengenai produk alternatif tembakau?<\/span><\/h4>\r\nPara peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai 'popcorn lung'. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/span>\r\n\r\nAda juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/span>\r\n\r\nPenelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/span>\r\n
\"Bahkan, dalam salah satu merek rokok elektronik ditemukan 10 kali tingkat karsinogen dibandingkan satu batang rokok biasa,\" tutur seorang peneliti dari National Institute of Public Health, Jepang dr. Naoki Kunugita seperti dilansir laman Daily Mail<\/span><\/blockquote>\r\nItu baru dari hasil riset kesehatan, belum jika melihat faktor risiko berbahaya lainnya, seperti meledaknya alat vapor atau kandungan logam berbahaya yang ada di alat vapor.<\/span>\r\n\r\nAlat vapor dapat meledak. Ledakan dapat terjadi karena pemanasan berlebih dari baterai lithium ion yang digunakan untuk menggerakkan vape. Ledakan ini berbahaya dan dapat membunuh. <\/span>\r\n\r\nKejadian meledaknya vape ini pernah terjadi menimpa vapers bernama Kenneth Barbero dari Albany. Kenneth menjadi korban ledakan vape dan mengalami luka parah. Dalam sebuah wawancara, Kenneth menjelaskan bahwa ledakan itu merobek lidahnya, tangannya yang mengalami luka bakar dan beberapa giginya hilang.<\/span>\r\n\r\nLedakan seperti itu tidak akan pernah terjadi dan tidak akan pernah menghantui kretekus. Sebab mengonsumsi kretek tidak memerlukan daya listrik apapun. Mengonsumsi kretek sama dengan mengonsumsi tembakau secara alami, dan jangan lupakan komponen cengkeh dan rempah lainnya yang juga terkandung di dalam kretek.<\/span>\r\n\r\nMaka jika melihat fenomena bahayanya mengonsumsi produk alternatif tembakau macam vape dari kacamata riset kesehatan dan pengalaman korban, sungguh miris rasanya jika kampanye \u2018lebih sehat\u2019 masih dihembus-hembuskan kepada masyarakat.<\/span>\r\n\r\nWalaupun terdapat riset kesehatan yang menunjang kampanye \u2018lebih sehat\u2019 tersebut, tentu riset tersebut belum kredibel, sebab sebuah produk bisa dikatakan berbahaya atau berisiko tidak hanya dilihat dari riset pendek saja.<\/strong> Dampak kesehatan akan terlihat bukan dalam kurun waktu 1-2 tahun. Dalam kurun waktu puluhan tahun barulah dampak kesehatan bisa terlihat.<\/span>\r\n\r\nKretek sebagai produk konsumsi yang telah ada sejak berabad-abad lamanya, memiliki pembuktian bahwa produk ini terus bertahan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat. Artinya dari sisi kesehatan, masyarakat sudah mengetahui apa risiko dalam mengonsumsinya dan memberikan dampak apa saja kepada tubuh manusia.<\/span>\r\n\r\nSementara vape yang kelahirannya baru seumur jagung, belum pantas untuk meneriakkan slogan \u201cproduk alternatif tembakau lebih sehat ketimbang kretek atau rokok konvensional\u201d. Karena slogan mereka masih mitos dan belum bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.<\/span>","post_title":"Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"benarkah-produk-alternatif-tembakau-lebih-sehat-daripada-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:50:31","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:50:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5377,"post_author":"878","post_date":"2019-01-31 08:59:05","post_date_gmt":"2019-01-31 01:59:05","post_content":"Sejarah mencatat aktivitas manusia mengisap rokok<\/a> yang mereka produksi dari daun tembakau sudah berlangsung setidaknya sejak 4000 tahun yang lalu. Atau pada 2000 Sebelum Masehi. Adalah ratusan suku-suku yang menghuni Benua Amerika lebih tepatnya Amerika Selatan yang memulai itu. Suku-suku yang oleh bangsa barat dengan mudahnya digolongkan dalam satu suku saja yaitu Suku Indian, padahal penamaan ini terjadi karena kesalahan semata, Kesalahan yang dilakukan oleh Christoper Colombus ketika melakukan petualangannya.<\/span>\r\n\r\nSuku-suku itu memanfaatkan tembakau yang diolah menjadi rokok untuk dikonsumsi dalam keseharian mereka. Selain itu tembakau digunakan sebagai media penyambutan, penerimaan dan perdamaian antar suku, juga digunakan untuk mengobati beberapa penyakit. Dukun-dukun menggunakan daun tembakau untuk mengobati pasiennya, baik dengan cara dibalurkan, atau lewat asap rokok yang mereka buat dari daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPada abad ke-15 hingga ke-16, para penjelajah Eropa mengenalkan tanaman tembakau dan aktivitas merokok ke tempat-tempat yang mereka datangi di dunia. Termasuk Indonesia. Memang ada yang bilang kebiasaan merokok di negeri ini sudah ada jauh sebelum aktivitas merokok diperkenalkan penjelajah dan penjajah Eropa, meskipun bukan dengan daun tembakau. Yang jelas, kebiasaan merokok tembakau di negeri ini begitu masif usai penjelajah dan penjajah mengenalkan kebiasaan merokok menggunakan daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPersebaran tembakau dan aktivitas merokok ke berbagai lokasi di penjuru bumi, memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan varian-varian cara dalam menikmati rokok tembakau. Pun begitu dengan di Nusantara. Aktivitas merokok tembakau memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan khas di banyak tempat, juga improvisasi-improvisasi cara dan bahan tambahan ketika menikmati rokok tembakau.<\/span>\r\n

Tak sekadar tembakau, masyarakat Nusantara menambahkan beberapa bahan lain selain tembakau dalam rokok yang mereka isap.Yang paling fenomenal adalah temuan rokok kretek yang pada akhirnya hingga saat ini berhasil menguasai lebih dari 90 persen pasar rokok Indonesia.<\/span><\/blockquote>\r\nBerawal dari ketidaksengajaan Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke rokok tembakaunya, campuran tembakau dan cengkeh yang menjadikan produk baru bernama rokok kretek, yang namanya diambil dari suaranya ketika campuran tembakau kering dan cengkeh kering dibakar, keretek-keretek, kemretek, berkembang pesat pada abad 20. Djamhari ketika itu sakit sesak napas. Sudah beberapa hari sakitnya tak kunjung sembuh. Setelah mengoleskan minyak cengkeh ke rokok yang ia isap, karena merasakan ada perubahan dari sakit yang ia rasa, kemudian Djamhari tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh, namun mencampurkan cengkeh kering dengan tembakau pada rokok yang ia isap. Penyakitnya berangsur menghilang dan ia sembuh.<\/span>\r\n\r\nVarian, improviasi dan kreativitas baru di seputar aktivitas merokok terus berkembang seiring perjalanan waktu dan perkembangan kemajuan teknologi. Persilangan antara kegemaran merokok dan perkembangan teknologi menghasilkan ragam rupa kreativitas dalam merokok dan mengonsumsi produk-produk tembakau. Kini ada rokok non-asap, nikotin tempel seperti koyo, tembakau kunyah, nikotin permen, dan ragam rupa kreasi lainnya. Inovasi ini kian menjadi saat kampanye bahaya rokok konvensional dan terutama bahaya rokok kretek terus-menerus didengungkan di penjuru bumi.<\/span>\r\n\r\nYang terbaru, setidaknya dalam empat tahun belakangan cukup berkembang di Indonesia, terutama di beberapa tempat di kota besar, adalah rokok elektrik atau yang lazim disebut <\/span>vape\/vaping<\/span><\/i>. Masuknya rokok elektrik ini bersamaan dengan serangan besar-besaran terhadap rokok kretek lewat kampanye yang menyebutkan rokok kretek sama sekali tidak baik untuk kesehatan. Rokok elektrik masuk dan digembar-gemborkan sebagai produk alternatif.<\/span>\r\n\r\nHingga sempat ada masanya, rokok elektrik ini dikampanyekan dan digunakan sebagai alat antara untuk meninggalkan produk rokok konvensional. Terapi berhenti merokok dengan berpindah dari rokok konvensional ke rokok kretek. Kampanye ini selalu menyebutkan bahwasanya rokok elektrik lebih baik dari rokok konvensional. Lebih sehat. Tetapi apakah memang benar seperti itu?<\/span>\r\n\r\nMungkin penjabaran data bahan baku rokok kretek dan rokok elektrik di bawah ini bisa membantu anda menemukan jawabannya sendiri.<\/span>\r\n

Rokok Kretek<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: Eko Susanto\/Rokok Indonesia[\/caption]\r\n\r\nDua bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh. Selain keduanya, setiap pabrikan memiliki bahan baku tambahannya sendiri yang membikin rokok kretek produksi mereka memiliki citarasa khasnya masing-masing. Para perokok yang biasa melinting sendiri rokok kreteknya lazim menyebutnya wur untuk tambahan bahan baku di luar tembakau dan cengkeh. Wur ini terdiri dari beberapa rempah-rempah sesuai dengan selera. Pabrikan-pabrikan rokok kretek meracik sendiri wur sebagai campuran tembakau dan cengkeh pada rokok kretek mereka. Wur ini kadang disebut perisa atau saus oleh pabrikan. Bahan bakunya mirip, campuran beberapa rempah-rempah.<\/span>\r\n\r\nBeberapa bahan baku lain selain cengkeh dan tembakau pada rokok kretek adalah: Kapulaga, kemenyan, daun sirih, kayu manis, kemukus, dan kelembak.<\/span>\r\n\r\nSelain bahan baku utama yang merupakan campuran tembakau, cengkeh, dan beberapa rempah lainnya yang lazim disebut saus, bahan penyusun rokok kretek lainnya adalah kertas atau yang lazim disebut sigaret. Bahan baku kertas sigaret adalah\u00a0<\/span>selulosa astetat.<\/span><\/i> Selulosa<\/span><\/i>\u00a0ini berasal dari serat tanama. Sebelum menjadi lembaran diolah menjadi\u00a0<\/span>pulp\u00a0<\/span><\/i>terlebih dulu. Unsur pelekat pada kertas dinamakan sideseam. Pelekat kertas tersebut merupakan pelekat\u00a0khusus\u00a0yang digunakan dalam jumlah yang sangat kecil.<\/span> Pada dasarnya kertas rokok atau kertas sigaret juga dilengkapi\u00a0<\/span>porforasi<\/span><\/i>\u00a0(kertas berlubang), di mana lubang ukurang mikro tersebut dapat menyedot udara luar sehingga kadar tar dan nikotin di dalam rokok turun.<\/span>\r\n\r\nSatu lagi bahan yang ada pada sebatang rokok kretek adalah busa filter, jika rokok kreteknya adalah rokok kretek filter. Bahan busa filter pada rokok kretek berasal dari aseto, tumbuhan jenis padi-padian yang banyak tumbuh di wilayah Eropa pasca musim dingin. Filter pada rokok kretek terbagi dari empat bagian,\u00a0<\/span>tow<\/span><\/i>\u00a0(rangkaian\u00a0<\/span>selulose asetat<\/span><\/i>\u00a0sebagai badan filter),\u00a0<\/span>plasticizer<\/span><\/i>\u00a0(zat pelunak untuk mengikat filter),\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>\u00a0(kertas pembungkus fiber filter) dan pelekat (sebagai pelekat\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>).<\/span>\r\n\r\nDari uraian ini, bisa dikatakan jika bahan baku utama dan bahan-bahan tambahan untuk rokok kretek semuanya merupakan bahan-bahan alami yang berasal dari alam. Produk herbal.<\/span>\r\n

Rokok Elektrik<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: testic.net[\/caption]\r\n\r\nBerbeda dengan rokok konvensional yang menggunakan prinsip pembakaran pada proses konsumsinya, rokok elektrik menggunakan prinsip penguapan. Oleh sebab itu produk ini lazim disebut vape karena prinsip reaksi yang bekerja berupa vaporizer.<\/span>\r\n\r\nAda empat elemen utama dalam sebuah produk rokok elektrik yang dikonsumsi. Cairan utama (liquid), wadah cairan (<\/span>cartridge<\/span><\/i>), atomizer atau pemanas, dan baterai.<\/span>\r\n\r\nCairan pada rokok elektrik terdiri dari campuran propilen glikol, gliserol, air, nikotin sintetis, dan perasa sintetis. Gliserol adalah bahan baku e-liquid, perannya adalah membantu proses vaporasi dari cairan (liquid) menjadi gas (asap). Gliserol adalah bahan kimia tanpa warna, tanpa bau, yang banyak digunakan di bidang farmasi. Bahan ini berbentuk cairan agak kental dan sedikit berasa manis. Propilen Glikol adalah bahan penguat rasa berbentuk cair\/ liquid. Pada umumnya dipakai pada essence makanan dan minuman ringan sebagai penguat. Sifatnya tidak berbau dan berasa manis. Liquid premium lokal atau import juga menggunakan ini.<\/span>\r\n\r\nAda dua kunci yang bisa menjadi acuan analisis terkait rokok kretek dan rokok elektrik dalam hubungannya dengan klaim rokok elektrik yang jauh lebih sehat dari rokok kretek dan rokok konvensional, bahkan rokok elektrik dianggap sebagai produk yang baik dipilih untuk meninggalkan kebiasaan merokok. Dua kunci itu adalah, bahan alami vs bahan sintetis, dan proses pembakaran rokok konvensional vs proses penguapan rokok elektrik. Dari dua kunci utama ini saja kita bisa tahu mana yang lebih baik sebenarnya.<\/span>","post_title":"Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbandingan-bahan-baku-kretek-dan-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-31 08:59:27","post_modified_gmt":"2019-01-31 01:59:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5377","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5371,"post_author":"877","post_date":"2019-01-30 10:12:38","post_date_gmt":"2019-01-30 03:12:38","post_content":"Pada abad 20 salah satu obat yang paling populer menjadi favorit orang adalah nikotin, berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mencoba dihisap, disentuh, dikunyah, atau dioleskan (diadaptasi dari sumber berita <\/span>www.vebma.com<\/span><\/a>).<\/span><\/em>\r\n\r\nRokok elektrik terpopuler dan menjadi trend saat ini adalah \u00a0jenis vape<\/a>, atau bisa disebut E-ciggarette. Sekitar tahun 2010, rokok jenis vape masuk ke Indonesia dengan membawa label sebagai rokok alternatif menggantikan rokok konvensional (rokok sigaret). Promosinya ditonjolkan sebagai rokok yang lebih aman dari pada rokok konvensional. <\/span>\r\n\r\nMemaknai pilihan diksi lebih aman, kira- kira urutannya begini, awalnya rokok konvensional aman, kemudian keberadaan rokok elektrik jenis vape lebih aman. Rokok elektrik adalah inovasi rokok konvensioanal. <\/strong>\r\n\r\nPerlu diketahui, sistem pembakaran pada rokok elektrik memakai listrik berupa battre dengan memakai elemen pemanas <\/span>atomizer atau cartomizer<\/span><\/i>, bahan utamanya berbasis proses kimia. Rokok konvensional memakai pembakaran berupa api, bahan utamanya memakai tumbuhan asli berupa tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan keduanya. Saya beri contoh sebagai pembanding, air minum dari hasil proses memakai alat heater pemanas listrik, dengan air minum dari hasil pemanas konvensional (pakai api), kira-kira lebih aman, lebih sehat mana? Kira-kira anda pilih yang elektrik atau konvensiobal, silahkan anda memilih dan menilai sesuai pengalaman masing-masing.<\/span>\r\n\r\nKembali kepersoalan promosi rokok vape di Indonesia, saat vape mulai naik daun banyak lembaga riset melakukan studi kelayakan. Hasilnya pun terjadi perdebatan, ada lembaga yang dipimpin Profesor David Thickett dari Universitas Birmingham mengatakan, mengisap rokok elektrik atau yang lebih dikenal dengan istilah\u00a0<\/span>vaping<\/span><\/i>\u00a0bisa merusak sel-sel sistem kekebalan tubuh dan amat mungkin lebih berbahaya dari yang semula diperkirakan. Ada pula yang mengatakan merokok vape menghindarkan dari risiko penyakit jantung dan kanker. <\/span>\r\n\r\nAnehnya, Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia, juga ikut melakukan uji dengan hasilnya bahwa vape dinilai memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok yang dikonsumi dengan dibakar. Disini tidak akan membahas berlarut larut tentang perbedaan hasil uji rokok vape (elektrik), bahkan tidak akan membahas pertanyaan ada apa lembaga penguji tersebut. \u00a0.<\/span>\r\n\r\nLogika sederhana, memakan dan minum dari bahan natural proses konvensional, dibanding bahan kimia dengan proses pemanas listrik, baik mana? Air proses natural (air mineral) dengan air kemasan lain beraroma (proses kimia) sehat yang mana?. Dua pertanyaan ini sebagai pembanding dalam mengambil keputusan dan penilaian antara rokok elektrik (vape) dengan rokok konvensioanl.<\/span>\r\n
Usaha promosi rokok vape, dengan membangun cerita opini, bahwa penemu rokok elektrik\/vape (e-ciggarette) bernama Hon Lik seorang pecandu rokok konvensional berat yang menderita penyakit infeksi pernafasan, sering batuk batuk dan\u00a0bersin sehingga kesulitan untuk tidur. Kemudian pada tahun 2003 menciptakan rokok elektrik sebagai pengganti rokok konvensional. <\/span><\/blockquote>\r\nOpini yang dibangun seakan-akan akibat rokok konvensioanl, Hon Lik menderita penyakit, yang kemudian dengan hasil ciptaannya (rokok elektrik), Hon Lik tidak sakit lagi. Pertanyaan pertama, jenis rokok konvensional apa yang dikonsumsi Hon Lik? dugaan terkuat bukan rokok kretek yang saat itu dikonsumsi. Jika rokok kretek yang dikonsumsi keadaan Hon Lik jadi lain, karena rokok kretek awal mulanya diciptakan sebagai obat batuk, sesak nafas dan lain-lain. Masih ingat dahulu ada rokok kretek yang bungkusnya tertulis \u201cdapat meredekan batuk\u201d. Tidak lain adalah rokok kretek Dji Sam Soe. Tulisan tersebut, masih diyakini banyak orang, saat batuk mereka akan merokok Dji Sam Soe, saat batuk reda, mereka merokok selera semula.<\/span>\r\n\r\nPertanyaan kedua, apakah benar hanya gara-gara merokok konvensioanl Hon Lik menderita sakit? jangan-jangan ada faktor lain menjadi penyebab. Bisa jadi penyakit turunan\/genetik, akibat <\/span>kerusakan pada gen dalam tubuh. Buktinya diceritakan bahwa ayah Hon Lik <\/span>mengidap penyakit kanker paru paru. Dan mungkin bapak dari bapaknya Hon Lik dan seterusnya, juga demikian mengidap penyakit yang sama.<\/span>\r\n\r\n\"\"\r\n\r\nFakta sejarah berkata lain, teknik vaping sudah dikenal sejak Mesir kuno, kemudian tahun 1927 <\/span>Joseph Robinson menggagas \u201cmerokok tanpa rokok\u201d, hingga populer. Baru pada tahun 2003, Hon Lik membuat perusahan e-cig modern di Tionghoa (Cina). Jadi Hon Lik bukanlah orang yang pertama atau pencipta teknik vaping untuk rokok, hanya saja Hon Lik bisa membaca peluang tersebut, apa lagi ia adalah seorang apoteker. Ia pasti mengetahui mafaat nikotin untuk tubuh manusia, sehingga ia memproduksi massal rokok bernikotin yang inovatif dengan kombinasi teknik vaping.<\/span>\r\n\r\nDilansir dari www. Vebma.com, bahwa salah satu obat yang paling populer dan favorit bagi orang adalah nikotin. Dengan demikian, orang telah mencoba berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mereka mencoba mengisapnya, menyentuhnya, mengunyahnya, atau mengoleskannya di kulit mereka. Anda bisa menemukan nikotin di tembakau. Banyak perangkat telah diciptakan untuk memuaskan obsesi orang terhadap nikotin. Kita hidup dalam masyarakat teknologi, Itu sebabnya baru-baru ini, vaporizers menjadi tren keren dengan berbagai selera dan bentuknya.<\/span>\r\n
Penguapan memiliki sejarah panjang. Herodotus menjelaskan, di Mesir (abad ke 5 SM) orang memanaskan ramuan dan minyak pada batu panas untuk vape. Oleh karena itu, kita harus mempercayai tentang asal mula vaping kuno. Kemudian, lebih dari 1500 tahun yang lalu, Irfan Shiekh menemukan shisha pertama. <\/span><\/blockquote>\r\nCerita opini saat ini tentang rokok elektrik (<\/span>vape) hanya bagian dari promosi semata. Dengan menjatuhkan rokok konvensional (rokok kretek), berharap penikmat rokok beralih ke elektrik (vape). Dengan dalil yang diwacanakan, lebih aman (menyehatkan). Cerita opini yang dibangun menafikan sejarah yang sesungguhnya, bahwa nikotin adalah salah satu obat, zat nikotin ada di daun tembakau. Hanya pada rokok konvensional (rokok kretek), bahan baku daun tembakau dan cengkeh dan proses pembakaran natural, lebih aman dan menyehatkan.<\/span>","post_title":"Meluruskan Sejarah Awal Mula Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"meluruskan-sejarah-awal-mula-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-30 10:13:19","post_modified_gmt":"2019-01-30 03:13:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5371","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5254,"post_author":"883","post_date":"2018-12-28 07:16:54","post_date_gmt":"2018-12-28 00:16:54","post_content":"Produk alternatif tembakau seperti vape<\/a> menjadi tren terbaru yang digandrungi masyarakat. Vape atau rokok elektrik naik pamor setelah dihembuskan isu bahwa mengkonsumsi vape dianggap lebih aman ketimbang mengonsumsi rokok konvensional, sebutlah kretek.<\/span>\r\n\r\nIsu lebih sehat tersebut terus-menerus dihembuskan kepada masyarakat, sehingga banyak penikmat rokok konvensional yang pindah menjadi \u2018vapers\u2019 (sebutan bagi penikmat vape). Bahkan bukan hanya perokok, banyak juga dari kalangan non-perokok yang memutuskan memilih menjadi vapers ketimbang perokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKemunculan vape sebenarnya sangat lumrah di era yang penuh inovasi ini. Kami pun para penikmat kretek biasa-biasa saja dengan fenomena produk alternatif tembakau. Jauh sebelum tren vape muncul di tengah masyarakat, di Eropa dan Amerika bahkan sudah lebih dulu muncul tren produk alternatif tembakau macam koyok nikotin atau permen karet nikotin.<\/span>\r\n\r\nNamun ketika isu produk alternatif, dalam hal ini vape diisukan lebih sehat ketimbang rokok konvensional, tentu ceritanya menjadi lain. Kami kretekus merespon dan tidak tinggal diam. Sebab hal tersebut sudah sampai pada konteks menyentuh eksistensi kami.<\/span>\r\n

Maka, mari kita bedah apakah benar produk alternatif macam vape ini lebih sehat?<\/span><\/h4>\r\nSebelum masuk kepada hasil-hasil riset kesehatan termutakhir, kami ingin menyinggung bahwa fenomena kemunculan produk alternatif tembakau, baik itu koyok nikotin, permen nikotin, hingga vape, dalam konteks global kita sebut sebagai Nicotine War atau Perang Nikotin.<\/span>\r\n
Perang Nikotin adalah peperangan memperebutkan nikotin antara \u201czat nikotin alami dalam tembakau\u201d yang diwakili oleh industri rokok versus \u201csenyawa mirip nikotin\u201d dan \u201csarana pengantar nikotin\u201d yang diwakili oleh industri farmasi.<\/span><\/blockquote>\r\nKretek dan rokok konvensional lainnya merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan secara alami melalui tembakau tanpa perantara apapun. <\/span>\r\n\r\nSementara vape, koyok nikotin atau permen nikotin merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan melalui perantara, seperti dipanaskan dulu seperti uap atau mengekstraksi tembakau dan zat-zat lainnya dengan sedemikian rupa.<\/span>\r\n

Lalu bagaimana dengan riset termutakhir mengenai produk alternatif tembakau?<\/span><\/h4>\r\nPara peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai 'popcorn lung'. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/span>\r\n\r\nAda juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/span>\r\n\r\nPenelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/span>\r\n
\"Bahkan, dalam salah satu merek rokok elektronik ditemukan 10 kali tingkat karsinogen dibandingkan satu batang rokok biasa,\" tutur seorang peneliti dari National Institute of Public Health, Jepang dr. Naoki Kunugita seperti dilansir laman Daily Mail<\/span><\/blockquote>\r\nItu baru dari hasil riset kesehatan, belum jika melihat faktor risiko berbahaya lainnya, seperti meledaknya alat vapor atau kandungan logam berbahaya yang ada di alat vapor.<\/span>\r\n\r\nAlat vapor dapat meledak. Ledakan dapat terjadi karena pemanasan berlebih dari baterai lithium ion yang digunakan untuk menggerakkan vape. Ledakan ini berbahaya dan dapat membunuh. <\/span>\r\n\r\nKejadian meledaknya vape ini pernah terjadi menimpa vapers bernama Kenneth Barbero dari Albany. Kenneth menjadi korban ledakan vape dan mengalami luka parah. Dalam sebuah wawancara, Kenneth menjelaskan bahwa ledakan itu merobek lidahnya, tangannya yang mengalami luka bakar dan beberapa giginya hilang.<\/span>\r\n\r\nLedakan seperti itu tidak akan pernah terjadi dan tidak akan pernah menghantui kretekus. Sebab mengonsumsi kretek tidak memerlukan daya listrik apapun. Mengonsumsi kretek sama dengan mengonsumsi tembakau secara alami, dan jangan lupakan komponen cengkeh dan rempah lainnya yang juga terkandung di dalam kretek.<\/span>\r\n\r\nMaka jika melihat fenomena bahayanya mengonsumsi produk alternatif tembakau macam vape dari kacamata riset kesehatan dan pengalaman korban, sungguh miris rasanya jika kampanye \u2018lebih sehat\u2019 masih dihembus-hembuskan kepada masyarakat.<\/span>\r\n\r\nWalaupun terdapat riset kesehatan yang menunjang kampanye \u2018lebih sehat\u2019 tersebut, tentu riset tersebut belum kredibel, sebab sebuah produk bisa dikatakan berbahaya atau berisiko tidak hanya dilihat dari riset pendek saja.<\/strong> Dampak kesehatan akan terlihat bukan dalam kurun waktu 1-2 tahun. Dalam kurun waktu puluhan tahun barulah dampak kesehatan bisa terlihat.<\/span>\r\n\r\nKretek sebagai produk konsumsi yang telah ada sejak berabad-abad lamanya, memiliki pembuktian bahwa produk ini terus bertahan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat. Artinya dari sisi kesehatan, masyarakat sudah mengetahui apa risiko dalam mengonsumsinya dan memberikan dampak apa saja kepada tubuh manusia.<\/span>\r\n\r\nSementara vape yang kelahirannya baru seumur jagung, belum pantas untuk meneriakkan slogan \u201cproduk alternatif tembakau lebih sehat ketimbang kretek atau rokok konvensional\u201d. Karena slogan mereka masih mitos dan belum bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.<\/span>","post_title":"Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"benarkah-produk-alternatif-tembakau-lebih-sehat-daripada-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:50:31","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:50:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5377,"post_author":"878","post_date":"2019-01-31 08:59:05","post_date_gmt":"2019-01-31 01:59:05","post_content":"Sejarah mencatat aktivitas manusia mengisap rokok<\/a> yang mereka produksi dari daun tembakau sudah berlangsung setidaknya sejak 4000 tahun yang lalu. Atau pada 2000 Sebelum Masehi. Adalah ratusan suku-suku yang menghuni Benua Amerika lebih tepatnya Amerika Selatan yang memulai itu. Suku-suku yang oleh bangsa barat dengan mudahnya digolongkan dalam satu suku saja yaitu Suku Indian, padahal penamaan ini terjadi karena kesalahan semata, Kesalahan yang dilakukan oleh Christoper Colombus ketika melakukan petualangannya.<\/span>\r\n\r\nSuku-suku itu memanfaatkan tembakau yang diolah menjadi rokok untuk dikonsumsi dalam keseharian mereka. Selain itu tembakau digunakan sebagai media penyambutan, penerimaan dan perdamaian antar suku, juga digunakan untuk mengobati beberapa penyakit. Dukun-dukun menggunakan daun tembakau untuk mengobati pasiennya, baik dengan cara dibalurkan, atau lewat asap rokok yang mereka buat dari daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPada abad ke-15 hingga ke-16, para penjelajah Eropa mengenalkan tanaman tembakau dan aktivitas merokok ke tempat-tempat yang mereka datangi di dunia. Termasuk Indonesia. Memang ada yang bilang kebiasaan merokok di negeri ini sudah ada jauh sebelum aktivitas merokok diperkenalkan penjelajah dan penjajah Eropa, meskipun bukan dengan daun tembakau. Yang jelas, kebiasaan merokok tembakau di negeri ini begitu masif usai penjelajah dan penjajah mengenalkan kebiasaan merokok menggunakan daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPersebaran tembakau dan aktivitas merokok ke berbagai lokasi di penjuru bumi, memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan varian-varian cara dalam menikmati rokok tembakau. Pun begitu dengan di Nusantara. Aktivitas merokok tembakau memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan khas di banyak tempat, juga improvisasi-improvisasi cara dan bahan tambahan ketika menikmati rokok tembakau.<\/span>\r\n

Tak sekadar tembakau, masyarakat Nusantara menambahkan beberapa bahan lain selain tembakau dalam rokok yang mereka isap.Yang paling fenomenal adalah temuan rokok kretek yang pada akhirnya hingga saat ini berhasil menguasai lebih dari 90 persen pasar rokok Indonesia.<\/span><\/blockquote>\r\nBerawal dari ketidaksengajaan Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke rokok tembakaunya, campuran tembakau dan cengkeh yang menjadikan produk baru bernama rokok kretek, yang namanya diambil dari suaranya ketika campuran tembakau kering dan cengkeh kering dibakar, keretek-keretek, kemretek, berkembang pesat pada abad 20. Djamhari ketika itu sakit sesak napas. Sudah beberapa hari sakitnya tak kunjung sembuh. Setelah mengoleskan minyak cengkeh ke rokok yang ia isap, karena merasakan ada perubahan dari sakit yang ia rasa, kemudian Djamhari tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh, namun mencampurkan cengkeh kering dengan tembakau pada rokok yang ia isap. Penyakitnya berangsur menghilang dan ia sembuh.<\/span>\r\n\r\nVarian, improviasi dan kreativitas baru di seputar aktivitas merokok terus berkembang seiring perjalanan waktu dan perkembangan kemajuan teknologi. Persilangan antara kegemaran merokok dan perkembangan teknologi menghasilkan ragam rupa kreativitas dalam merokok dan mengonsumsi produk-produk tembakau. Kini ada rokok non-asap, nikotin tempel seperti koyo, tembakau kunyah, nikotin permen, dan ragam rupa kreasi lainnya. Inovasi ini kian menjadi saat kampanye bahaya rokok konvensional dan terutama bahaya rokok kretek terus-menerus didengungkan di penjuru bumi.<\/span>\r\n\r\nYang terbaru, setidaknya dalam empat tahun belakangan cukup berkembang di Indonesia, terutama di beberapa tempat di kota besar, adalah rokok elektrik atau yang lazim disebut <\/span>vape\/vaping<\/span><\/i>. Masuknya rokok elektrik ini bersamaan dengan serangan besar-besaran terhadap rokok kretek lewat kampanye yang menyebutkan rokok kretek sama sekali tidak baik untuk kesehatan. Rokok elektrik masuk dan digembar-gemborkan sebagai produk alternatif.<\/span>\r\n\r\nHingga sempat ada masanya, rokok elektrik ini dikampanyekan dan digunakan sebagai alat antara untuk meninggalkan produk rokok konvensional. Terapi berhenti merokok dengan berpindah dari rokok konvensional ke rokok kretek. Kampanye ini selalu menyebutkan bahwasanya rokok elektrik lebih baik dari rokok konvensional. Lebih sehat. Tetapi apakah memang benar seperti itu?<\/span>\r\n\r\nMungkin penjabaran data bahan baku rokok kretek dan rokok elektrik di bawah ini bisa membantu anda menemukan jawabannya sendiri.<\/span>\r\n

Rokok Kretek<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: Eko Susanto\/Rokok Indonesia[\/caption]\r\n\r\nDua bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh. Selain keduanya, setiap pabrikan memiliki bahan baku tambahannya sendiri yang membikin rokok kretek produksi mereka memiliki citarasa khasnya masing-masing. Para perokok yang biasa melinting sendiri rokok kreteknya lazim menyebutnya wur untuk tambahan bahan baku di luar tembakau dan cengkeh. Wur ini terdiri dari beberapa rempah-rempah sesuai dengan selera. Pabrikan-pabrikan rokok kretek meracik sendiri wur sebagai campuran tembakau dan cengkeh pada rokok kretek mereka. Wur ini kadang disebut perisa atau saus oleh pabrikan. Bahan bakunya mirip, campuran beberapa rempah-rempah.<\/span>\r\n\r\nBeberapa bahan baku lain selain cengkeh dan tembakau pada rokok kretek adalah: Kapulaga, kemenyan, daun sirih, kayu manis, kemukus, dan kelembak.<\/span>\r\n\r\nSelain bahan baku utama yang merupakan campuran tembakau, cengkeh, dan beberapa rempah lainnya yang lazim disebut saus, bahan penyusun rokok kretek lainnya adalah kertas atau yang lazim disebut sigaret. Bahan baku kertas sigaret adalah\u00a0<\/span>selulosa astetat.<\/span><\/i> Selulosa<\/span><\/i>\u00a0ini berasal dari serat tanama. Sebelum menjadi lembaran diolah menjadi\u00a0<\/span>pulp\u00a0<\/span><\/i>terlebih dulu. Unsur pelekat pada kertas dinamakan sideseam. Pelekat kertas tersebut merupakan pelekat\u00a0khusus\u00a0yang digunakan dalam jumlah yang sangat kecil.<\/span> Pada dasarnya kertas rokok atau kertas sigaret juga dilengkapi\u00a0<\/span>porforasi<\/span><\/i>\u00a0(kertas berlubang), di mana lubang ukurang mikro tersebut dapat menyedot udara luar sehingga kadar tar dan nikotin di dalam rokok turun.<\/span>\r\n\r\nSatu lagi bahan yang ada pada sebatang rokok kretek adalah busa filter, jika rokok kreteknya adalah rokok kretek filter. Bahan busa filter pada rokok kretek berasal dari aseto, tumbuhan jenis padi-padian yang banyak tumbuh di wilayah Eropa pasca musim dingin. Filter pada rokok kretek terbagi dari empat bagian,\u00a0<\/span>tow<\/span><\/i>\u00a0(rangkaian\u00a0<\/span>selulose asetat<\/span><\/i>\u00a0sebagai badan filter),\u00a0<\/span>plasticizer<\/span><\/i>\u00a0(zat pelunak untuk mengikat filter),\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>\u00a0(kertas pembungkus fiber filter) dan pelekat (sebagai pelekat\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>).<\/span>\r\n\r\nDari uraian ini, bisa dikatakan jika bahan baku utama dan bahan-bahan tambahan untuk rokok kretek semuanya merupakan bahan-bahan alami yang berasal dari alam. Produk herbal.<\/span>\r\n

Rokok Elektrik<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: testic.net[\/caption]\r\n\r\nBerbeda dengan rokok konvensional yang menggunakan prinsip pembakaran pada proses konsumsinya, rokok elektrik menggunakan prinsip penguapan. Oleh sebab itu produk ini lazim disebut vape karena prinsip reaksi yang bekerja berupa vaporizer.<\/span>\r\n\r\nAda empat elemen utama dalam sebuah produk rokok elektrik yang dikonsumsi. Cairan utama (liquid), wadah cairan (<\/span>cartridge<\/span><\/i>), atomizer atau pemanas, dan baterai.<\/span>\r\n\r\nCairan pada rokok elektrik terdiri dari campuran propilen glikol, gliserol, air, nikotin sintetis, dan perasa sintetis. Gliserol adalah bahan baku e-liquid, perannya adalah membantu proses vaporasi dari cairan (liquid) menjadi gas (asap). Gliserol adalah bahan kimia tanpa warna, tanpa bau, yang banyak digunakan di bidang farmasi. Bahan ini berbentuk cairan agak kental dan sedikit berasa manis. Propilen Glikol adalah bahan penguat rasa berbentuk cair\/ liquid. Pada umumnya dipakai pada essence makanan dan minuman ringan sebagai penguat. Sifatnya tidak berbau dan berasa manis. Liquid premium lokal atau import juga menggunakan ini.<\/span>\r\n\r\nAda dua kunci yang bisa menjadi acuan analisis terkait rokok kretek dan rokok elektrik dalam hubungannya dengan klaim rokok elektrik yang jauh lebih sehat dari rokok kretek dan rokok konvensional, bahkan rokok elektrik dianggap sebagai produk yang baik dipilih untuk meninggalkan kebiasaan merokok. Dua kunci itu adalah, bahan alami vs bahan sintetis, dan proses pembakaran rokok konvensional vs proses penguapan rokok elektrik. Dari dua kunci utama ini saja kita bisa tahu mana yang lebih baik sebenarnya.<\/span>","post_title":"Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbandingan-bahan-baku-kretek-dan-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-31 08:59:27","post_modified_gmt":"2019-01-31 01:59:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5377","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5371,"post_author":"877","post_date":"2019-01-30 10:12:38","post_date_gmt":"2019-01-30 03:12:38","post_content":"Pada abad 20 salah satu obat yang paling populer menjadi favorit orang adalah nikotin, berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mencoba dihisap, disentuh, dikunyah, atau dioleskan (diadaptasi dari sumber berita <\/span>www.vebma.com<\/span><\/a>).<\/span><\/em>\r\n\r\nRokok elektrik terpopuler dan menjadi trend saat ini adalah \u00a0jenis vape<\/a>, atau bisa disebut E-ciggarette. Sekitar tahun 2010, rokok jenis vape masuk ke Indonesia dengan membawa label sebagai rokok alternatif menggantikan rokok konvensional (rokok sigaret). Promosinya ditonjolkan sebagai rokok yang lebih aman dari pada rokok konvensional. <\/span>\r\n\r\nMemaknai pilihan diksi lebih aman, kira- kira urutannya begini, awalnya rokok konvensional aman, kemudian keberadaan rokok elektrik jenis vape lebih aman. Rokok elektrik adalah inovasi rokok konvensioanal. <\/strong>\r\n\r\nPerlu diketahui, sistem pembakaran pada rokok elektrik memakai listrik berupa battre dengan memakai elemen pemanas <\/span>atomizer atau cartomizer<\/span><\/i>, bahan utamanya berbasis proses kimia. Rokok konvensional memakai pembakaran berupa api, bahan utamanya memakai tumbuhan asli berupa tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan keduanya. Saya beri contoh sebagai pembanding, air minum dari hasil proses memakai alat heater pemanas listrik, dengan air minum dari hasil pemanas konvensional (pakai api), kira-kira lebih aman, lebih sehat mana? Kira-kira anda pilih yang elektrik atau konvensiobal, silahkan anda memilih dan menilai sesuai pengalaman masing-masing.<\/span>\r\n\r\nKembali kepersoalan promosi rokok vape di Indonesia, saat vape mulai naik daun banyak lembaga riset melakukan studi kelayakan. Hasilnya pun terjadi perdebatan, ada lembaga yang dipimpin Profesor David Thickett dari Universitas Birmingham mengatakan, mengisap rokok elektrik atau yang lebih dikenal dengan istilah\u00a0<\/span>vaping<\/span><\/i>\u00a0bisa merusak sel-sel sistem kekebalan tubuh dan amat mungkin lebih berbahaya dari yang semula diperkirakan. Ada pula yang mengatakan merokok vape menghindarkan dari risiko penyakit jantung dan kanker. <\/span>\r\n\r\nAnehnya, Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia, juga ikut melakukan uji dengan hasilnya bahwa vape dinilai memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok yang dikonsumi dengan dibakar. Disini tidak akan membahas berlarut larut tentang perbedaan hasil uji rokok vape (elektrik), bahkan tidak akan membahas pertanyaan ada apa lembaga penguji tersebut. \u00a0.<\/span>\r\n\r\nLogika sederhana, memakan dan minum dari bahan natural proses konvensional, dibanding bahan kimia dengan proses pemanas listrik, baik mana? Air proses natural (air mineral) dengan air kemasan lain beraroma (proses kimia) sehat yang mana?. Dua pertanyaan ini sebagai pembanding dalam mengambil keputusan dan penilaian antara rokok elektrik (vape) dengan rokok konvensioanl.<\/span>\r\n
Usaha promosi rokok vape, dengan membangun cerita opini, bahwa penemu rokok elektrik\/vape (e-ciggarette) bernama Hon Lik seorang pecandu rokok konvensional berat yang menderita penyakit infeksi pernafasan, sering batuk batuk dan\u00a0bersin sehingga kesulitan untuk tidur. Kemudian pada tahun 2003 menciptakan rokok elektrik sebagai pengganti rokok konvensional. <\/span><\/blockquote>\r\nOpini yang dibangun seakan-akan akibat rokok konvensioanl, Hon Lik menderita penyakit, yang kemudian dengan hasil ciptaannya (rokok elektrik), Hon Lik tidak sakit lagi. Pertanyaan pertama, jenis rokok konvensional apa yang dikonsumsi Hon Lik? dugaan terkuat bukan rokok kretek yang saat itu dikonsumsi. Jika rokok kretek yang dikonsumsi keadaan Hon Lik jadi lain, karena rokok kretek awal mulanya diciptakan sebagai obat batuk, sesak nafas dan lain-lain. Masih ingat dahulu ada rokok kretek yang bungkusnya tertulis \u201cdapat meredekan batuk\u201d. Tidak lain adalah rokok kretek Dji Sam Soe. Tulisan tersebut, masih diyakini banyak orang, saat batuk mereka akan merokok Dji Sam Soe, saat batuk reda, mereka merokok selera semula.<\/span>\r\n\r\nPertanyaan kedua, apakah benar hanya gara-gara merokok konvensioanl Hon Lik menderita sakit? jangan-jangan ada faktor lain menjadi penyebab. Bisa jadi penyakit turunan\/genetik, akibat <\/span>kerusakan pada gen dalam tubuh. Buktinya diceritakan bahwa ayah Hon Lik <\/span>mengidap penyakit kanker paru paru. Dan mungkin bapak dari bapaknya Hon Lik dan seterusnya, juga demikian mengidap penyakit yang sama.<\/span>\r\n\r\n\"\"\r\n\r\nFakta sejarah berkata lain, teknik vaping sudah dikenal sejak Mesir kuno, kemudian tahun 1927 <\/span>Joseph Robinson menggagas \u201cmerokok tanpa rokok\u201d, hingga populer. Baru pada tahun 2003, Hon Lik membuat perusahan e-cig modern di Tionghoa (Cina). Jadi Hon Lik bukanlah orang yang pertama atau pencipta teknik vaping untuk rokok, hanya saja Hon Lik bisa membaca peluang tersebut, apa lagi ia adalah seorang apoteker. Ia pasti mengetahui mafaat nikotin untuk tubuh manusia, sehingga ia memproduksi massal rokok bernikotin yang inovatif dengan kombinasi teknik vaping.<\/span>\r\n\r\nDilansir dari www. Vebma.com, bahwa salah satu obat yang paling populer dan favorit bagi orang adalah nikotin. Dengan demikian, orang telah mencoba berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mereka mencoba mengisapnya, menyentuhnya, mengunyahnya, atau mengoleskannya di kulit mereka. Anda bisa menemukan nikotin di tembakau. Banyak perangkat telah diciptakan untuk memuaskan obsesi orang terhadap nikotin. Kita hidup dalam masyarakat teknologi, Itu sebabnya baru-baru ini, vaporizers menjadi tren keren dengan berbagai selera dan bentuknya.<\/span>\r\n
Penguapan memiliki sejarah panjang. Herodotus menjelaskan, di Mesir (abad ke 5 SM) orang memanaskan ramuan dan minyak pada batu panas untuk vape. Oleh karena itu, kita harus mempercayai tentang asal mula vaping kuno. Kemudian, lebih dari 1500 tahun yang lalu, Irfan Shiekh menemukan shisha pertama. <\/span><\/blockquote>\r\nCerita opini saat ini tentang rokok elektrik (<\/span>vape) hanya bagian dari promosi semata. Dengan menjatuhkan rokok konvensional (rokok kretek), berharap penikmat rokok beralih ke elektrik (vape). Dengan dalil yang diwacanakan, lebih aman (menyehatkan). Cerita opini yang dibangun menafikan sejarah yang sesungguhnya, bahwa nikotin adalah salah satu obat, zat nikotin ada di daun tembakau. Hanya pada rokok konvensional (rokok kretek), bahan baku daun tembakau dan cengkeh dan proses pembakaran natural, lebih aman dan menyehatkan.<\/span>","post_title":"Meluruskan Sejarah Awal Mula Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"meluruskan-sejarah-awal-mula-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-30 10:13:19","post_modified_gmt":"2019-01-30 03:13:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5371","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5254,"post_author":"883","post_date":"2018-12-28 07:16:54","post_date_gmt":"2018-12-28 00:16:54","post_content":"Produk alternatif tembakau seperti vape<\/a> menjadi tren terbaru yang digandrungi masyarakat. Vape atau rokok elektrik naik pamor setelah dihembuskan isu bahwa mengkonsumsi vape dianggap lebih aman ketimbang mengonsumsi rokok konvensional, sebutlah kretek.<\/span>\r\n\r\nIsu lebih sehat tersebut terus-menerus dihembuskan kepada masyarakat, sehingga banyak penikmat rokok konvensional yang pindah menjadi \u2018vapers\u2019 (sebutan bagi penikmat vape). Bahkan bukan hanya perokok, banyak juga dari kalangan non-perokok yang memutuskan memilih menjadi vapers ketimbang perokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKemunculan vape sebenarnya sangat lumrah di era yang penuh inovasi ini. Kami pun para penikmat kretek biasa-biasa saja dengan fenomena produk alternatif tembakau. Jauh sebelum tren vape muncul di tengah masyarakat, di Eropa dan Amerika bahkan sudah lebih dulu muncul tren produk alternatif tembakau macam koyok nikotin atau permen karet nikotin.<\/span>\r\n\r\nNamun ketika isu produk alternatif, dalam hal ini vape diisukan lebih sehat ketimbang rokok konvensional, tentu ceritanya menjadi lain. Kami kretekus merespon dan tidak tinggal diam. Sebab hal tersebut sudah sampai pada konteks menyentuh eksistensi kami.<\/span>\r\n

Maka, mari kita bedah apakah benar produk alternatif macam vape ini lebih sehat?<\/span><\/h4>\r\nSebelum masuk kepada hasil-hasil riset kesehatan termutakhir, kami ingin menyinggung bahwa fenomena kemunculan produk alternatif tembakau, baik itu koyok nikotin, permen nikotin, hingga vape, dalam konteks global kita sebut sebagai Nicotine War atau Perang Nikotin.<\/span>\r\n
Perang Nikotin adalah peperangan memperebutkan nikotin antara \u201czat nikotin alami dalam tembakau\u201d yang diwakili oleh industri rokok versus \u201csenyawa mirip nikotin\u201d dan \u201csarana pengantar nikotin\u201d yang diwakili oleh industri farmasi.<\/span><\/blockquote>\r\nKretek dan rokok konvensional lainnya merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan secara alami melalui tembakau tanpa perantara apapun. <\/span>\r\n\r\nSementara vape, koyok nikotin atau permen nikotin merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan melalui perantara, seperti dipanaskan dulu seperti uap atau mengekstraksi tembakau dan zat-zat lainnya dengan sedemikian rupa.<\/span>\r\n

Lalu bagaimana dengan riset termutakhir mengenai produk alternatif tembakau?<\/span><\/h4>\r\nPara peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai 'popcorn lung'. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/span>\r\n\r\nAda juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/span>\r\n\r\nPenelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/span>\r\n
\"Bahkan, dalam salah satu merek rokok elektronik ditemukan 10 kali tingkat karsinogen dibandingkan satu batang rokok biasa,\" tutur seorang peneliti dari National Institute of Public Health, Jepang dr. Naoki Kunugita seperti dilansir laman Daily Mail<\/span><\/blockquote>\r\nItu baru dari hasil riset kesehatan, belum jika melihat faktor risiko berbahaya lainnya, seperti meledaknya alat vapor atau kandungan logam berbahaya yang ada di alat vapor.<\/span>\r\n\r\nAlat vapor dapat meledak. Ledakan dapat terjadi karena pemanasan berlebih dari baterai lithium ion yang digunakan untuk menggerakkan vape. Ledakan ini berbahaya dan dapat membunuh. <\/span>\r\n\r\nKejadian meledaknya vape ini pernah terjadi menimpa vapers bernama Kenneth Barbero dari Albany. Kenneth menjadi korban ledakan vape dan mengalami luka parah. Dalam sebuah wawancara, Kenneth menjelaskan bahwa ledakan itu merobek lidahnya, tangannya yang mengalami luka bakar dan beberapa giginya hilang.<\/span>\r\n\r\nLedakan seperti itu tidak akan pernah terjadi dan tidak akan pernah menghantui kretekus. Sebab mengonsumsi kretek tidak memerlukan daya listrik apapun. Mengonsumsi kretek sama dengan mengonsumsi tembakau secara alami, dan jangan lupakan komponen cengkeh dan rempah lainnya yang juga terkandung di dalam kretek.<\/span>\r\n\r\nMaka jika melihat fenomena bahayanya mengonsumsi produk alternatif tembakau macam vape dari kacamata riset kesehatan dan pengalaman korban, sungguh miris rasanya jika kampanye \u2018lebih sehat\u2019 masih dihembus-hembuskan kepada masyarakat.<\/span>\r\n\r\nWalaupun terdapat riset kesehatan yang menunjang kampanye \u2018lebih sehat\u2019 tersebut, tentu riset tersebut belum kredibel, sebab sebuah produk bisa dikatakan berbahaya atau berisiko tidak hanya dilihat dari riset pendek saja.<\/strong> Dampak kesehatan akan terlihat bukan dalam kurun waktu 1-2 tahun. Dalam kurun waktu puluhan tahun barulah dampak kesehatan bisa terlihat.<\/span>\r\n\r\nKretek sebagai produk konsumsi yang telah ada sejak berabad-abad lamanya, memiliki pembuktian bahwa produk ini terus bertahan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat. Artinya dari sisi kesehatan, masyarakat sudah mengetahui apa risiko dalam mengonsumsinya dan memberikan dampak apa saja kepada tubuh manusia.<\/span>\r\n\r\nSementara vape yang kelahirannya baru seumur jagung, belum pantas untuk meneriakkan slogan \u201cproduk alternatif tembakau lebih sehat ketimbang kretek atau rokok konvensional\u201d. Karena slogan mereka masih mitos dan belum bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.<\/span>","post_title":"Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"benarkah-produk-alternatif-tembakau-lebih-sehat-daripada-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:50:31","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:50:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5377,"post_author":"878","post_date":"2019-01-31 08:59:05","post_date_gmt":"2019-01-31 01:59:05","post_content":"Sejarah mencatat aktivitas manusia mengisap rokok<\/a> yang mereka produksi dari daun tembakau sudah berlangsung setidaknya sejak 4000 tahun yang lalu. Atau pada 2000 Sebelum Masehi. Adalah ratusan suku-suku yang menghuni Benua Amerika lebih tepatnya Amerika Selatan yang memulai itu. Suku-suku yang oleh bangsa barat dengan mudahnya digolongkan dalam satu suku saja yaitu Suku Indian, padahal penamaan ini terjadi karena kesalahan semata, Kesalahan yang dilakukan oleh Christoper Colombus ketika melakukan petualangannya.<\/span>\r\n\r\nSuku-suku itu memanfaatkan tembakau yang diolah menjadi rokok untuk dikonsumsi dalam keseharian mereka. Selain itu tembakau digunakan sebagai media penyambutan, penerimaan dan perdamaian antar suku, juga digunakan untuk mengobati beberapa penyakit. Dukun-dukun menggunakan daun tembakau untuk mengobati pasiennya, baik dengan cara dibalurkan, atau lewat asap rokok yang mereka buat dari daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPada abad ke-15 hingga ke-16, para penjelajah Eropa mengenalkan tanaman tembakau dan aktivitas merokok ke tempat-tempat yang mereka datangi di dunia. Termasuk Indonesia. Memang ada yang bilang kebiasaan merokok di negeri ini sudah ada jauh sebelum aktivitas merokok diperkenalkan penjelajah dan penjajah Eropa, meskipun bukan dengan daun tembakau. Yang jelas, kebiasaan merokok tembakau di negeri ini begitu masif usai penjelajah dan penjajah mengenalkan kebiasaan merokok menggunakan daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPersebaran tembakau dan aktivitas merokok ke berbagai lokasi di penjuru bumi, memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan varian-varian cara dalam menikmati rokok tembakau. Pun begitu dengan di Nusantara. Aktivitas merokok tembakau memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan khas di banyak tempat, juga improvisasi-improvisasi cara dan bahan tambahan ketika menikmati rokok tembakau.<\/span>\r\n

Tak sekadar tembakau, masyarakat Nusantara menambahkan beberapa bahan lain selain tembakau dalam rokok yang mereka isap.Yang paling fenomenal adalah temuan rokok kretek yang pada akhirnya hingga saat ini berhasil menguasai lebih dari 90 persen pasar rokok Indonesia.<\/span><\/blockquote>\r\nBerawal dari ketidaksengajaan Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke rokok tembakaunya, campuran tembakau dan cengkeh yang menjadikan produk baru bernama rokok kretek, yang namanya diambil dari suaranya ketika campuran tembakau kering dan cengkeh kering dibakar, keretek-keretek, kemretek, berkembang pesat pada abad 20. Djamhari ketika itu sakit sesak napas. Sudah beberapa hari sakitnya tak kunjung sembuh. Setelah mengoleskan minyak cengkeh ke rokok yang ia isap, karena merasakan ada perubahan dari sakit yang ia rasa, kemudian Djamhari tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh, namun mencampurkan cengkeh kering dengan tembakau pada rokok yang ia isap. Penyakitnya berangsur menghilang dan ia sembuh.<\/span>\r\n\r\nVarian, improviasi dan kreativitas baru di seputar aktivitas merokok terus berkembang seiring perjalanan waktu dan perkembangan kemajuan teknologi. Persilangan antara kegemaran merokok dan perkembangan teknologi menghasilkan ragam rupa kreativitas dalam merokok dan mengonsumsi produk-produk tembakau. Kini ada rokok non-asap, nikotin tempel seperti koyo, tembakau kunyah, nikotin permen, dan ragam rupa kreasi lainnya. Inovasi ini kian menjadi saat kampanye bahaya rokok konvensional dan terutama bahaya rokok kretek terus-menerus didengungkan di penjuru bumi.<\/span>\r\n\r\nYang terbaru, setidaknya dalam empat tahun belakangan cukup berkembang di Indonesia, terutama di beberapa tempat di kota besar, adalah rokok elektrik atau yang lazim disebut <\/span>vape\/vaping<\/span><\/i>. Masuknya rokok elektrik ini bersamaan dengan serangan besar-besaran terhadap rokok kretek lewat kampanye yang menyebutkan rokok kretek sama sekali tidak baik untuk kesehatan. Rokok elektrik masuk dan digembar-gemborkan sebagai produk alternatif.<\/span>\r\n\r\nHingga sempat ada masanya, rokok elektrik ini dikampanyekan dan digunakan sebagai alat antara untuk meninggalkan produk rokok konvensional. Terapi berhenti merokok dengan berpindah dari rokok konvensional ke rokok kretek. Kampanye ini selalu menyebutkan bahwasanya rokok elektrik lebih baik dari rokok konvensional. Lebih sehat. Tetapi apakah memang benar seperti itu?<\/span>\r\n\r\nMungkin penjabaran data bahan baku rokok kretek dan rokok elektrik di bawah ini bisa membantu anda menemukan jawabannya sendiri.<\/span>\r\n

Rokok Kretek<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: Eko Susanto\/Rokok Indonesia[\/caption]\r\n\r\nDua bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh. Selain keduanya, setiap pabrikan memiliki bahan baku tambahannya sendiri yang membikin rokok kretek produksi mereka memiliki citarasa khasnya masing-masing. Para perokok yang biasa melinting sendiri rokok kreteknya lazim menyebutnya wur untuk tambahan bahan baku di luar tembakau dan cengkeh. Wur ini terdiri dari beberapa rempah-rempah sesuai dengan selera. Pabrikan-pabrikan rokok kretek meracik sendiri wur sebagai campuran tembakau dan cengkeh pada rokok kretek mereka. Wur ini kadang disebut perisa atau saus oleh pabrikan. Bahan bakunya mirip, campuran beberapa rempah-rempah.<\/span>\r\n\r\nBeberapa bahan baku lain selain cengkeh dan tembakau pada rokok kretek adalah: Kapulaga, kemenyan, daun sirih, kayu manis, kemukus, dan kelembak.<\/span>\r\n\r\nSelain bahan baku utama yang merupakan campuran tembakau, cengkeh, dan beberapa rempah lainnya yang lazim disebut saus, bahan penyusun rokok kretek lainnya adalah kertas atau yang lazim disebut sigaret. Bahan baku kertas sigaret adalah\u00a0<\/span>selulosa astetat.<\/span><\/i> Selulosa<\/span><\/i>\u00a0ini berasal dari serat tanama. Sebelum menjadi lembaran diolah menjadi\u00a0<\/span>pulp\u00a0<\/span><\/i>terlebih dulu. Unsur pelekat pada kertas dinamakan sideseam. Pelekat kertas tersebut merupakan pelekat\u00a0khusus\u00a0yang digunakan dalam jumlah yang sangat kecil.<\/span> Pada dasarnya kertas rokok atau kertas sigaret juga dilengkapi\u00a0<\/span>porforasi<\/span><\/i>\u00a0(kertas berlubang), di mana lubang ukurang mikro tersebut dapat menyedot udara luar sehingga kadar tar dan nikotin di dalam rokok turun.<\/span>\r\n\r\nSatu lagi bahan yang ada pada sebatang rokok kretek adalah busa filter, jika rokok kreteknya adalah rokok kretek filter. Bahan busa filter pada rokok kretek berasal dari aseto, tumbuhan jenis padi-padian yang banyak tumbuh di wilayah Eropa pasca musim dingin. Filter pada rokok kretek terbagi dari empat bagian,\u00a0<\/span>tow<\/span><\/i>\u00a0(rangkaian\u00a0<\/span>selulose asetat<\/span><\/i>\u00a0sebagai badan filter),\u00a0<\/span>plasticizer<\/span><\/i>\u00a0(zat pelunak untuk mengikat filter),\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>\u00a0(kertas pembungkus fiber filter) dan pelekat (sebagai pelekat\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>).<\/span>\r\n\r\nDari uraian ini, bisa dikatakan jika bahan baku utama dan bahan-bahan tambahan untuk rokok kretek semuanya merupakan bahan-bahan alami yang berasal dari alam. Produk herbal.<\/span>\r\n

Rokok Elektrik<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: testic.net[\/caption]\r\n\r\nBerbeda dengan rokok konvensional yang menggunakan prinsip pembakaran pada proses konsumsinya, rokok elektrik menggunakan prinsip penguapan. Oleh sebab itu produk ini lazim disebut vape karena prinsip reaksi yang bekerja berupa vaporizer.<\/span>\r\n\r\nAda empat elemen utama dalam sebuah produk rokok elektrik yang dikonsumsi. Cairan utama (liquid), wadah cairan (<\/span>cartridge<\/span><\/i>), atomizer atau pemanas, dan baterai.<\/span>\r\n\r\nCairan pada rokok elektrik terdiri dari campuran propilen glikol, gliserol, air, nikotin sintetis, dan perasa sintetis. Gliserol adalah bahan baku e-liquid, perannya adalah membantu proses vaporasi dari cairan (liquid) menjadi gas (asap). Gliserol adalah bahan kimia tanpa warna, tanpa bau, yang banyak digunakan di bidang farmasi. Bahan ini berbentuk cairan agak kental dan sedikit berasa manis. Propilen Glikol adalah bahan penguat rasa berbentuk cair\/ liquid. Pada umumnya dipakai pada essence makanan dan minuman ringan sebagai penguat. Sifatnya tidak berbau dan berasa manis. Liquid premium lokal atau import juga menggunakan ini.<\/span>\r\n\r\nAda dua kunci yang bisa menjadi acuan analisis terkait rokok kretek dan rokok elektrik dalam hubungannya dengan klaim rokok elektrik yang jauh lebih sehat dari rokok kretek dan rokok konvensional, bahkan rokok elektrik dianggap sebagai produk yang baik dipilih untuk meninggalkan kebiasaan merokok. Dua kunci itu adalah, bahan alami vs bahan sintetis, dan proses pembakaran rokok konvensional vs proses penguapan rokok elektrik. Dari dua kunci utama ini saja kita bisa tahu mana yang lebih baik sebenarnya.<\/span>","post_title":"Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbandingan-bahan-baku-kretek-dan-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-31 08:59:27","post_modified_gmt":"2019-01-31 01:59:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5377","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5371,"post_author":"877","post_date":"2019-01-30 10:12:38","post_date_gmt":"2019-01-30 03:12:38","post_content":"Pada abad 20 salah satu obat yang paling populer menjadi favorit orang adalah nikotin, berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mencoba dihisap, disentuh, dikunyah, atau dioleskan (diadaptasi dari sumber berita <\/span>www.vebma.com<\/span><\/a>).<\/span><\/em>\r\n\r\nRokok elektrik terpopuler dan menjadi trend saat ini adalah \u00a0jenis vape<\/a>, atau bisa disebut E-ciggarette. Sekitar tahun 2010, rokok jenis vape masuk ke Indonesia dengan membawa label sebagai rokok alternatif menggantikan rokok konvensional (rokok sigaret). Promosinya ditonjolkan sebagai rokok yang lebih aman dari pada rokok konvensional. <\/span>\r\n\r\nMemaknai pilihan diksi lebih aman, kira- kira urutannya begini, awalnya rokok konvensional aman, kemudian keberadaan rokok elektrik jenis vape lebih aman. Rokok elektrik adalah inovasi rokok konvensioanal. <\/strong>\r\n\r\nPerlu diketahui, sistem pembakaran pada rokok elektrik memakai listrik berupa battre dengan memakai elemen pemanas <\/span>atomizer atau cartomizer<\/span><\/i>, bahan utamanya berbasis proses kimia. Rokok konvensional memakai pembakaran berupa api, bahan utamanya memakai tumbuhan asli berupa tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan keduanya. Saya beri contoh sebagai pembanding, air minum dari hasil proses memakai alat heater pemanas listrik, dengan air minum dari hasil pemanas konvensional (pakai api), kira-kira lebih aman, lebih sehat mana? Kira-kira anda pilih yang elektrik atau konvensiobal, silahkan anda memilih dan menilai sesuai pengalaman masing-masing.<\/span>\r\n\r\nKembali kepersoalan promosi rokok vape di Indonesia, saat vape mulai naik daun banyak lembaga riset melakukan studi kelayakan. Hasilnya pun terjadi perdebatan, ada lembaga yang dipimpin Profesor David Thickett dari Universitas Birmingham mengatakan, mengisap rokok elektrik atau yang lebih dikenal dengan istilah\u00a0<\/span>vaping<\/span><\/i>\u00a0bisa merusak sel-sel sistem kekebalan tubuh dan amat mungkin lebih berbahaya dari yang semula diperkirakan. Ada pula yang mengatakan merokok vape menghindarkan dari risiko penyakit jantung dan kanker. <\/span>\r\n\r\nAnehnya, Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia, juga ikut melakukan uji dengan hasilnya bahwa vape dinilai memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok yang dikonsumi dengan dibakar. Disini tidak akan membahas berlarut larut tentang perbedaan hasil uji rokok vape (elektrik), bahkan tidak akan membahas pertanyaan ada apa lembaga penguji tersebut. \u00a0.<\/span>\r\n\r\nLogika sederhana, memakan dan minum dari bahan natural proses konvensional, dibanding bahan kimia dengan proses pemanas listrik, baik mana? Air proses natural (air mineral) dengan air kemasan lain beraroma (proses kimia) sehat yang mana?. Dua pertanyaan ini sebagai pembanding dalam mengambil keputusan dan penilaian antara rokok elektrik (vape) dengan rokok konvensioanl.<\/span>\r\n
Usaha promosi rokok vape, dengan membangun cerita opini, bahwa penemu rokok elektrik\/vape (e-ciggarette) bernama Hon Lik seorang pecandu rokok konvensional berat yang menderita penyakit infeksi pernafasan, sering batuk batuk dan\u00a0bersin sehingga kesulitan untuk tidur. Kemudian pada tahun 2003 menciptakan rokok elektrik sebagai pengganti rokok konvensional. <\/span><\/blockquote>\r\nOpini yang dibangun seakan-akan akibat rokok konvensioanl, Hon Lik menderita penyakit, yang kemudian dengan hasil ciptaannya (rokok elektrik), Hon Lik tidak sakit lagi. Pertanyaan pertama, jenis rokok konvensional apa yang dikonsumsi Hon Lik? dugaan terkuat bukan rokok kretek yang saat itu dikonsumsi. Jika rokok kretek yang dikonsumsi keadaan Hon Lik jadi lain, karena rokok kretek awal mulanya diciptakan sebagai obat batuk, sesak nafas dan lain-lain. Masih ingat dahulu ada rokok kretek yang bungkusnya tertulis \u201cdapat meredekan batuk\u201d. Tidak lain adalah rokok kretek Dji Sam Soe. Tulisan tersebut, masih diyakini banyak orang, saat batuk mereka akan merokok Dji Sam Soe, saat batuk reda, mereka merokok selera semula.<\/span>\r\n\r\nPertanyaan kedua, apakah benar hanya gara-gara merokok konvensioanl Hon Lik menderita sakit? jangan-jangan ada faktor lain menjadi penyebab. Bisa jadi penyakit turunan\/genetik, akibat <\/span>kerusakan pada gen dalam tubuh. Buktinya diceritakan bahwa ayah Hon Lik <\/span>mengidap penyakit kanker paru paru. Dan mungkin bapak dari bapaknya Hon Lik dan seterusnya, juga demikian mengidap penyakit yang sama.<\/span>\r\n\r\n\"\"\r\n\r\nFakta sejarah berkata lain, teknik vaping sudah dikenal sejak Mesir kuno, kemudian tahun 1927 <\/span>Joseph Robinson menggagas \u201cmerokok tanpa rokok\u201d, hingga populer. Baru pada tahun 2003, Hon Lik membuat perusahan e-cig modern di Tionghoa (Cina). Jadi Hon Lik bukanlah orang yang pertama atau pencipta teknik vaping untuk rokok, hanya saja Hon Lik bisa membaca peluang tersebut, apa lagi ia adalah seorang apoteker. Ia pasti mengetahui mafaat nikotin untuk tubuh manusia, sehingga ia memproduksi massal rokok bernikotin yang inovatif dengan kombinasi teknik vaping.<\/span>\r\n\r\nDilansir dari www. Vebma.com, bahwa salah satu obat yang paling populer dan favorit bagi orang adalah nikotin. Dengan demikian, orang telah mencoba berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mereka mencoba mengisapnya, menyentuhnya, mengunyahnya, atau mengoleskannya di kulit mereka. Anda bisa menemukan nikotin di tembakau. Banyak perangkat telah diciptakan untuk memuaskan obsesi orang terhadap nikotin. Kita hidup dalam masyarakat teknologi, Itu sebabnya baru-baru ini, vaporizers menjadi tren keren dengan berbagai selera dan bentuknya.<\/span>\r\n
Penguapan memiliki sejarah panjang. Herodotus menjelaskan, di Mesir (abad ke 5 SM) orang memanaskan ramuan dan minyak pada batu panas untuk vape. Oleh karena itu, kita harus mempercayai tentang asal mula vaping kuno. Kemudian, lebih dari 1500 tahun yang lalu, Irfan Shiekh menemukan shisha pertama. <\/span><\/blockquote>\r\nCerita opini saat ini tentang rokok elektrik (<\/span>vape) hanya bagian dari promosi semata. Dengan menjatuhkan rokok konvensional (rokok kretek), berharap penikmat rokok beralih ke elektrik (vape). Dengan dalil yang diwacanakan, lebih aman (menyehatkan). Cerita opini yang dibangun menafikan sejarah yang sesungguhnya, bahwa nikotin adalah salah satu obat, zat nikotin ada di daun tembakau. Hanya pada rokok konvensional (rokok kretek), bahan baku daun tembakau dan cengkeh dan proses pembakaran natural, lebih aman dan menyehatkan.<\/span>","post_title":"Meluruskan Sejarah Awal Mula Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"meluruskan-sejarah-awal-mula-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-30 10:13:19","post_modified_gmt":"2019-01-30 03:13:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5371","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5254,"post_author":"883","post_date":"2018-12-28 07:16:54","post_date_gmt":"2018-12-28 00:16:54","post_content":"Produk alternatif tembakau seperti vape<\/a> menjadi tren terbaru yang digandrungi masyarakat. Vape atau rokok elektrik naik pamor setelah dihembuskan isu bahwa mengkonsumsi vape dianggap lebih aman ketimbang mengonsumsi rokok konvensional, sebutlah kretek.<\/span>\r\n\r\nIsu lebih sehat tersebut terus-menerus dihembuskan kepada masyarakat, sehingga banyak penikmat rokok konvensional yang pindah menjadi \u2018vapers\u2019 (sebutan bagi penikmat vape). Bahkan bukan hanya perokok, banyak juga dari kalangan non-perokok yang memutuskan memilih menjadi vapers ketimbang perokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKemunculan vape sebenarnya sangat lumrah di era yang penuh inovasi ini. Kami pun para penikmat kretek biasa-biasa saja dengan fenomena produk alternatif tembakau. Jauh sebelum tren vape muncul di tengah masyarakat, di Eropa dan Amerika bahkan sudah lebih dulu muncul tren produk alternatif tembakau macam koyok nikotin atau permen karet nikotin.<\/span>\r\n\r\nNamun ketika isu produk alternatif, dalam hal ini vape diisukan lebih sehat ketimbang rokok konvensional, tentu ceritanya menjadi lain. Kami kretekus merespon dan tidak tinggal diam. Sebab hal tersebut sudah sampai pada konteks menyentuh eksistensi kami.<\/span>\r\n

Maka, mari kita bedah apakah benar produk alternatif macam vape ini lebih sehat?<\/span><\/h4>\r\nSebelum masuk kepada hasil-hasil riset kesehatan termutakhir, kami ingin menyinggung bahwa fenomena kemunculan produk alternatif tembakau, baik itu koyok nikotin, permen nikotin, hingga vape, dalam konteks global kita sebut sebagai Nicotine War atau Perang Nikotin.<\/span>\r\n
Perang Nikotin adalah peperangan memperebutkan nikotin antara \u201czat nikotin alami dalam tembakau\u201d yang diwakili oleh industri rokok versus \u201csenyawa mirip nikotin\u201d dan \u201csarana pengantar nikotin\u201d yang diwakili oleh industri farmasi.<\/span><\/blockquote>\r\nKretek dan rokok konvensional lainnya merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan secara alami melalui tembakau tanpa perantara apapun. <\/span>\r\n\r\nSementara vape, koyok nikotin atau permen nikotin merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan melalui perantara, seperti dipanaskan dulu seperti uap atau mengekstraksi tembakau dan zat-zat lainnya dengan sedemikian rupa.<\/span>\r\n

Lalu bagaimana dengan riset termutakhir mengenai produk alternatif tembakau?<\/span><\/h4>\r\nPara peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai 'popcorn lung'. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/span>\r\n\r\nAda juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/span>\r\n\r\nPenelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/span>\r\n
\"Bahkan, dalam salah satu merek rokok elektronik ditemukan 10 kali tingkat karsinogen dibandingkan satu batang rokok biasa,\" tutur seorang peneliti dari National Institute of Public Health, Jepang dr. Naoki Kunugita seperti dilansir laman Daily Mail<\/span><\/blockquote>\r\nItu baru dari hasil riset kesehatan, belum jika melihat faktor risiko berbahaya lainnya, seperti meledaknya alat vapor atau kandungan logam berbahaya yang ada di alat vapor.<\/span>\r\n\r\nAlat vapor dapat meledak. Ledakan dapat terjadi karena pemanasan berlebih dari baterai lithium ion yang digunakan untuk menggerakkan vape. Ledakan ini berbahaya dan dapat membunuh. <\/span>\r\n\r\nKejadian meledaknya vape ini pernah terjadi menimpa vapers bernama Kenneth Barbero dari Albany. Kenneth menjadi korban ledakan vape dan mengalami luka parah. Dalam sebuah wawancara, Kenneth menjelaskan bahwa ledakan itu merobek lidahnya, tangannya yang mengalami luka bakar dan beberapa giginya hilang.<\/span>\r\n\r\nLedakan seperti itu tidak akan pernah terjadi dan tidak akan pernah menghantui kretekus. Sebab mengonsumsi kretek tidak memerlukan daya listrik apapun. Mengonsumsi kretek sama dengan mengonsumsi tembakau secara alami, dan jangan lupakan komponen cengkeh dan rempah lainnya yang juga terkandung di dalam kretek.<\/span>\r\n\r\nMaka jika melihat fenomena bahayanya mengonsumsi produk alternatif tembakau macam vape dari kacamata riset kesehatan dan pengalaman korban, sungguh miris rasanya jika kampanye \u2018lebih sehat\u2019 masih dihembus-hembuskan kepada masyarakat.<\/span>\r\n\r\nWalaupun terdapat riset kesehatan yang menunjang kampanye \u2018lebih sehat\u2019 tersebut, tentu riset tersebut belum kredibel, sebab sebuah produk bisa dikatakan berbahaya atau berisiko tidak hanya dilihat dari riset pendek saja.<\/strong> Dampak kesehatan akan terlihat bukan dalam kurun waktu 1-2 tahun. Dalam kurun waktu puluhan tahun barulah dampak kesehatan bisa terlihat.<\/span>\r\n\r\nKretek sebagai produk konsumsi yang telah ada sejak berabad-abad lamanya, memiliki pembuktian bahwa produk ini terus bertahan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat. Artinya dari sisi kesehatan, masyarakat sudah mengetahui apa risiko dalam mengonsumsinya dan memberikan dampak apa saja kepada tubuh manusia.<\/span>\r\n\r\nSementara vape yang kelahirannya baru seumur jagung, belum pantas untuk meneriakkan slogan \u201cproduk alternatif tembakau lebih sehat ketimbang kretek atau rokok konvensional\u201d. Karena slogan mereka masih mitos dan belum bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.<\/span>","post_title":"Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"benarkah-produk-alternatif-tembakau-lebih-sehat-daripada-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:50:31","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:50:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5377,"post_author":"878","post_date":"2019-01-31 08:59:05","post_date_gmt":"2019-01-31 01:59:05","post_content":"Sejarah mencatat aktivitas manusia mengisap rokok<\/a> yang mereka produksi dari daun tembakau sudah berlangsung setidaknya sejak 4000 tahun yang lalu. Atau pada 2000 Sebelum Masehi. Adalah ratusan suku-suku yang menghuni Benua Amerika lebih tepatnya Amerika Selatan yang memulai itu. Suku-suku yang oleh bangsa barat dengan mudahnya digolongkan dalam satu suku saja yaitu Suku Indian, padahal penamaan ini terjadi karena kesalahan semata, Kesalahan yang dilakukan oleh Christoper Colombus ketika melakukan petualangannya.<\/span>\r\n\r\nSuku-suku itu memanfaatkan tembakau yang diolah menjadi rokok untuk dikonsumsi dalam keseharian mereka. Selain itu tembakau digunakan sebagai media penyambutan, penerimaan dan perdamaian antar suku, juga digunakan untuk mengobati beberapa penyakit. Dukun-dukun menggunakan daun tembakau untuk mengobati pasiennya, baik dengan cara dibalurkan, atau lewat asap rokok yang mereka buat dari daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPada abad ke-15 hingga ke-16, para penjelajah Eropa mengenalkan tanaman tembakau dan aktivitas merokok ke tempat-tempat yang mereka datangi di dunia. Termasuk Indonesia. Memang ada yang bilang kebiasaan merokok di negeri ini sudah ada jauh sebelum aktivitas merokok diperkenalkan penjelajah dan penjajah Eropa, meskipun bukan dengan daun tembakau. Yang jelas, kebiasaan merokok tembakau di negeri ini begitu masif usai penjelajah dan penjajah mengenalkan kebiasaan merokok menggunakan daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPersebaran tembakau dan aktivitas merokok ke berbagai lokasi di penjuru bumi, memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan varian-varian cara dalam menikmati rokok tembakau. Pun begitu dengan di Nusantara. Aktivitas merokok tembakau memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan khas di banyak tempat, juga improvisasi-improvisasi cara dan bahan tambahan ketika menikmati rokok tembakau.<\/span>\r\n

Tak sekadar tembakau, masyarakat Nusantara menambahkan beberapa bahan lain selain tembakau dalam rokok yang mereka isap.Yang paling fenomenal adalah temuan rokok kretek yang pada akhirnya hingga saat ini berhasil menguasai lebih dari 90 persen pasar rokok Indonesia.<\/span><\/blockquote>\r\nBerawal dari ketidaksengajaan Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke rokok tembakaunya, campuran tembakau dan cengkeh yang menjadikan produk baru bernama rokok kretek, yang namanya diambil dari suaranya ketika campuran tembakau kering dan cengkeh kering dibakar, keretek-keretek, kemretek, berkembang pesat pada abad 20. Djamhari ketika itu sakit sesak napas. Sudah beberapa hari sakitnya tak kunjung sembuh. Setelah mengoleskan minyak cengkeh ke rokok yang ia isap, karena merasakan ada perubahan dari sakit yang ia rasa, kemudian Djamhari tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh, namun mencampurkan cengkeh kering dengan tembakau pada rokok yang ia isap. Penyakitnya berangsur menghilang dan ia sembuh.<\/span>\r\n\r\nVarian, improviasi dan kreativitas baru di seputar aktivitas merokok terus berkembang seiring perjalanan waktu dan perkembangan kemajuan teknologi. Persilangan antara kegemaran merokok dan perkembangan teknologi menghasilkan ragam rupa kreativitas dalam merokok dan mengonsumsi produk-produk tembakau. Kini ada rokok non-asap, nikotin tempel seperti koyo, tembakau kunyah, nikotin permen, dan ragam rupa kreasi lainnya. Inovasi ini kian menjadi saat kampanye bahaya rokok konvensional dan terutama bahaya rokok kretek terus-menerus didengungkan di penjuru bumi.<\/span>\r\n\r\nYang terbaru, setidaknya dalam empat tahun belakangan cukup berkembang di Indonesia, terutama di beberapa tempat di kota besar, adalah rokok elektrik atau yang lazim disebut <\/span>vape\/vaping<\/span><\/i>. Masuknya rokok elektrik ini bersamaan dengan serangan besar-besaran terhadap rokok kretek lewat kampanye yang menyebutkan rokok kretek sama sekali tidak baik untuk kesehatan. Rokok elektrik masuk dan digembar-gemborkan sebagai produk alternatif.<\/span>\r\n\r\nHingga sempat ada masanya, rokok elektrik ini dikampanyekan dan digunakan sebagai alat antara untuk meninggalkan produk rokok konvensional. Terapi berhenti merokok dengan berpindah dari rokok konvensional ke rokok kretek. Kampanye ini selalu menyebutkan bahwasanya rokok elektrik lebih baik dari rokok konvensional. Lebih sehat. Tetapi apakah memang benar seperti itu?<\/span>\r\n\r\nMungkin penjabaran data bahan baku rokok kretek dan rokok elektrik di bawah ini bisa membantu anda menemukan jawabannya sendiri.<\/span>\r\n

Rokok Kretek<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: Eko Susanto\/Rokok Indonesia[\/caption]\r\n\r\nDua bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh. Selain keduanya, setiap pabrikan memiliki bahan baku tambahannya sendiri yang membikin rokok kretek produksi mereka memiliki citarasa khasnya masing-masing. Para perokok yang biasa melinting sendiri rokok kreteknya lazim menyebutnya wur untuk tambahan bahan baku di luar tembakau dan cengkeh. Wur ini terdiri dari beberapa rempah-rempah sesuai dengan selera. Pabrikan-pabrikan rokok kretek meracik sendiri wur sebagai campuran tembakau dan cengkeh pada rokok kretek mereka. Wur ini kadang disebut perisa atau saus oleh pabrikan. Bahan bakunya mirip, campuran beberapa rempah-rempah.<\/span>\r\n\r\nBeberapa bahan baku lain selain cengkeh dan tembakau pada rokok kretek adalah: Kapulaga, kemenyan, daun sirih, kayu manis, kemukus, dan kelembak.<\/span>\r\n\r\nSelain bahan baku utama yang merupakan campuran tembakau, cengkeh, dan beberapa rempah lainnya yang lazim disebut saus, bahan penyusun rokok kretek lainnya adalah kertas atau yang lazim disebut sigaret. Bahan baku kertas sigaret adalah\u00a0<\/span>selulosa astetat.<\/span><\/i> Selulosa<\/span><\/i>\u00a0ini berasal dari serat tanama. Sebelum menjadi lembaran diolah menjadi\u00a0<\/span>pulp\u00a0<\/span><\/i>terlebih dulu. Unsur pelekat pada kertas dinamakan sideseam. Pelekat kertas tersebut merupakan pelekat\u00a0khusus\u00a0yang digunakan dalam jumlah yang sangat kecil.<\/span> Pada dasarnya kertas rokok atau kertas sigaret juga dilengkapi\u00a0<\/span>porforasi<\/span><\/i>\u00a0(kertas berlubang), di mana lubang ukurang mikro tersebut dapat menyedot udara luar sehingga kadar tar dan nikotin di dalam rokok turun.<\/span>\r\n\r\nSatu lagi bahan yang ada pada sebatang rokok kretek adalah busa filter, jika rokok kreteknya adalah rokok kretek filter. Bahan busa filter pada rokok kretek berasal dari aseto, tumbuhan jenis padi-padian yang banyak tumbuh di wilayah Eropa pasca musim dingin. Filter pada rokok kretek terbagi dari empat bagian,\u00a0<\/span>tow<\/span><\/i>\u00a0(rangkaian\u00a0<\/span>selulose asetat<\/span><\/i>\u00a0sebagai badan filter),\u00a0<\/span>plasticizer<\/span><\/i>\u00a0(zat pelunak untuk mengikat filter),\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>\u00a0(kertas pembungkus fiber filter) dan pelekat (sebagai pelekat\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>).<\/span>\r\n\r\nDari uraian ini, bisa dikatakan jika bahan baku utama dan bahan-bahan tambahan untuk rokok kretek semuanya merupakan bahan-bahan alami yang berasal dari alam. Produk herbal.<\/span>\r\n

Rokok Elektrik<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: testic.net[\/caption]\r\n\r\nBerbeda dengan rokok konvensional yang menggunakan prinsip pembakaran pada proses konsumsinya, rokok elektrik menggunakan prinsip penguapan. Oleh sebab itu produk ini lazim disebut vape karena prinsip reaksi yang bekerja berupa vaporizer.<\/span>\r\n\r\nAda empat elemen utama dalam sebuah produk rokok elektrik yang dikonsumsi. Cairan utama (liquid), wadah cairan (<\/span>cartridge<\/span><\/i>), atomizer atau pemanas, dan baterai.<\/span>\r\n\r\nCairan pada rokok elektrik terdiri dari campuran propilen glikol, gliserol, air, nikotin sintetis, dan perasa sintetis. Gliserol adalah bahan baku e-liquid, perannya adalah membantu proses vaporasi dari cairan (liquid) menjadi gas (asap). Gliserol adalah bahan kimia tanpa warna, tanpa bau, yang banyak digunakan di bidang farmasi. Bahan ini berbentuk cairan agak kental dan sedikit berasa manis. Propilen Glikol adalah bahan penguat rasa berbentuk cair\/ liquid. Pada umumnya dipakai pada essence makanan dan minuman ringan sebagai penguat. Sifatnya tidak berbau dan berasa manis. Liquid premium lokal atau import juga menggunakan ini.<\/span>\r\n\r\nAda dua kunci yang bisa menjadi acuan analisis terkait rokok kretek dan rokok elektrik dalam hubungannya dengan klaim rokok elektrik yang jauh lebih sehat dari rokok kretek dan rokok konvensional, bahkan rokok elektrik dianggap sebagai produk yang baik dipilih untuk meninggalkan kebiasaan merokok. Dua kunci itu adalah, bahan alami vs bahan sintetis, dan proses pembakaran rokok konvensional vs proses penguapan rokok elektrik. Dari dua kunci utama ini saja kita bisa tahu mana yang lebih baik sebenarnya.<\/span>","post_title":"Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbandingan-bahan-baku-kretek-dan-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-31 08:59:27","post_modified_gmt":"2019-01-31 01:59:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5377","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5371,"post_author":"877","post_date":"2019-01-30 10:12:38","post_date_gmt":"2019-01-30 03:12:38","post_content":"Pada abad 20 salah satu obat yang paling populer menjadi favorit orang adalah nikotin, berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mencoba dihisap, disentuh, dikunyah, atau dioleskan (diadaptasi dari sumber berita <\/span>www.vebma.com<\/span><\/a>).<\/span><\/em>\r\n\r\nRokok elektrik terpopuler dan menjadi trend saat ini adalah \u00a0jenis vape<\/a>, atau bisa disebut E-ciggarette. Sekitar tahun 2010, rokok jenis vape masuk ke Indonesia dengan membawa label sebagai rokok alternatif menggantikan rokok konvensional (rokok sigaret). Promosinya ditonjolkan sebagai rokok yang lebih aman dari pada rokok konvensional. <\/span>\r\n\r\nMemaknai pilihan diksi lebih aman, kira- kira urutannya begini, awalnya rokok konvensional aman, kemudian keberadaan rokok elektrik jenis vape lebih aman. Rokok elektrik adalah inovasi rokok konvensioanal. <\/strong>\r\n\r\nPerlu diketahui, sistem pembakaran pada rokok elektrik memakai listrik berupa battre dengan memakai elemen pemanas <\/span>atomizer atau cartomizer<\/span><\/i>, bahan utamanya berbasis proses kimia. Rokok konvensional memakai pembakaran berupa api, bahan utamanya memakai tumbuhan asli berupa tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan keduanya. Saya beri contoh sebagai pembanding, air minum dari hasil proses memakai alat heater pemanas listrik, dengan air minum dari hasil pemanas konvensional (pakai api), kira-kira lebih aman, lebih sehat mana? Kira-kira anda pilih yang elektrik atau konvensiobal, silahkan anda memilih dan menilai sesuai pengalaman masing-masing.<\/span>\r\n\r\nKembali kepersoalan promosi rokok vape di Indonesia, saat vape mulai naik daun banyak lembaga riset melakukan studi kelayakan. Hasilnya pun terjadi perdebatan, ada lembaga yang dipimpin Profesor David Thickett dari Universitas Birmingham mengatakan, mengisap rokok elektrik atau yang lebih dikenal dengan istilah\u00a0<\/span>vaping<\/span><\/i>\u00a0bisa merusak sel-sel sistem kekebalan tubuh dan amat mungkin lebih berbahaya dari yang semula diperkirakan. Ada pula yang mengatakan merokok vape menghindarkan dari risiko penyakit jantung dan kanker. <\/span>\r\n\r\nAnehnya, Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia, juga ikut melakukan uji dengan hasilnya bahwa vape dinilai memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok yang dikonsumi dengan dibakar. Disini tidak akan membahas berlarut larut tentang perbedaan hasil uji rokok vape (elektrik), bahkan tidak akan membahas pertanyaan ada apa lembaga penguji tersebut. \u00a0.<\/span>\r\n\r\nLogika sederhana, memakan dan minum dari bahan natural proses konvensional, dibanding bahan kimia dengan proses pemanas listrik, baik mana? Air proses natural (air mineral) dengan air kemasan lain beraroma (proses kimia) sehat yang mana?. Dua pertanyaan ini sebagai pembanding dalam mengambil keputusan dan penilaian antara rokok elektrik (vape) dengan rokok konvensioanl.<\/span>\r\n
Usaha promosi rokok vape, dengan membangun cerita opini, bahwa penemu rokok elektrik\/vape (e-ciggarette) bernama Hon Lik seorang pecandu rokok konvensional berat yang menderita penyakit infeksi pernafasan, sering batuk batuk dan\u00a0bersin sehingga kesulitan untuk tidur. Kemudian pada tahun 2003 menciptakan rokok elektrik sebagai pengganti rokok konvensional. <\/span><\/blockquote>\r\nOpini yang dibangun seakan-akan akibat rokok konvensioanl, Hon Lik menderita penyakit, yang kemudian dengan hasil ciptaannya (rokok elektrik), Hon Lik tidak sakit lagi. Pertanyaan pertama, jenis rokok konvensional apa yang dikonsumsi Hon Lik? dugaan terkuat bukan rokok kretek yang saat itu dikonsumsi. Jika rokok kretek yang dikonsumsi keadaan Hon Lik jadi lain, karena rokok kretek awal mulanya diciptakan sebagai obat batuk, sesak nafas dan lain-lain. Masih ingat dahulu ada rokok kretek yang bungkusnya tertulis \u201cdapat meredekan batuk\u201d. Tidak lain adalah rokok kretek Dji Sam Soe. Tulisan tersebut, masih diyakini banyak orang, saat batuk mereka akan merokok Dji Sam Soe, saat batuk reda, mereka merokok selera semula.<\/span>\r\n\r\nPertanyaan kedua, apakah benar hanya gara-gara merokok konvensioanl Hon Lik menderita sakit? jangan-jangan ada faktor lain menjadi penyebab. Bisa jadi penyakit turunan\/genetik, akibat <\/span>kerusakan pada gen dalam tubuh. Buktinya diceritakan bahwa ayah Hon Lik <\/span>mengidap penyakit kanker paru paru. Dan mungkin bapak dari bapaknya Hon Lik dan seterusnya, juga demikian mengidap penyakit yang sama.<\/span>\r\n\r\n\"\"\r\n\r\nFakta sejarah berkata lain, teknik vaping sudah dikenal sejak Mesir kuno, kemudian tahun 1927 <\/span>Joseph Robinson menggagas \u201cmerokok tanpa rokok\u201d, hingga populer. Baru pada tahun 2003, Hon Lik membuat perusahan e-cig modern di Tionghoa (Cina). Jadi Hon Lik bukanlah orang yang pertama atau pencipta teknik vaping untuk rokok, hanya saja Hon Lik bisa membaca peluang tersebut, apa lagi ia adalah seorang apoteker. Ia pasti mengetahui mafaat nikotin untuk tubuh manusia, sehingga ia memproduksi massal rokok bernikotin yang inovatif dengan kombinasi teknik vaping.<\/span>\r\n\r\nDilansir dari www. Vebma.com, bahwa salah satu obat yang paling populer dan favorit bagi orang adalah nikotin. Dengan demikian, orang telah mencoba berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mereka mencoba mengisapnya, menyentuhnya, mengunyahnya, atau mengoleskannya di kulit mereka. Anda bisa menemukan nikotin di tembakau. Banyak perangkat telah diciptakan untuk memuaskan obsesi orang terhadap nikotin. Kita hidup dalam masyarakat teknologi, Itu sebabnya baru-baru ini, vaporizers menjadi tren keren dengan berbagai selera dan bentuknya.<\/span>\r\n
Penguapan memiliki sejarah panjang. Herodotus menjelaskan, di Mesir (abad ke 5 SM) orang memanaskan ramuan dan minyak pada batu panas untuk vape. Oleh karena itu, kita harus mempercayai tentang asal mula vaping kuno. Kemudian, lebih dari 1500 tahun yang lalu, Irfan Shiekh menemukan shisha pertama. <\/span><\/blockquote>\r\nCerita opini saat ini tentang rokok elektrik (<\/span>vape) hanya bagian dari promosi semata. Dengan menjatuhkan rokok konvensional (rokok kretek), berharap penikmat rokok beralih ke elektrik (vape). Dengan dalil yang diwacanakan, lebih aman (menyehatkan). Cerita opini yang dibangun menafikan sejarah yang sesungguhnya, bahwa nikotin adalah salah satu obat, zat nikotin ada di daun tembakau. Hanya pada rokok konvensional (rokok kretek), bahan baku daun tembakau dan cengkeh dan proses pembakaran natural, lebih aman dan menyehatkan.<\/span>","post_title":"Meluruskan Sejarah Awal Mula Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"meluruskan-sejarah-awal-mula-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-30 10:13:19","post_modified_gmt":"2019-01-30 03:13:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5371","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5254,"post_author":"883","post_date":"2018-12-28 07:16:54","post_date_gmt":"2018-12-28 00:16:54","post_content":"Produk alternatif tembakau seperti vape<\/a> menjadi tren terbaru yang digandrungi masyarakat. Vape atau rokok elektrik naik pamor setelah dihembuskan isu bahwa mengkonsumsi vape dianggap lebih aman ketimbang mengonsumsi rokok konvensional, sebutlah kretek.<\/span>\r\n\r\nIsu lebih sehat tersebut terus-menerus dihembuskan kepada masyarakat, sehingga banyak penikmat rokok konvensional yang pindah menjadi \u2018vapers\u2019 (sebutan bagi penikmat vape). Bahkan bukan hanya perokok, banyak juga dari kalangan non-perokok yang memutuskan memilih menjadi vapers ketimbang perokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKemunculan vape sebenarnya sangat lumrah di era yang penuh inovasi ini. Kami pun para penikmat kretek biasa-biasa saja dengan fenomena produk alternatif tembakau. Jauh sebelum tren vape muncul di tengah masyarakat, di Eropa dan Amerika bahkan sudah lebih dulu muncul tren produk alternatif tembakau macam koyok nikotin atau permen karet nikotin.<\/span>\r\n\r\nNamun ketika isu produk alternatif, dalam hal ini vape diisukan lebih sehat ketimbang rokok konvensional, tentu ceritanya menjadi lain. Kami kretekus merespon dan tidak tinggal diam. Sebab hal tersebut sudah sampai pada konteks menyentuh eksistensi kami.<\/span>\r\n

Maka, mari kita bedah apakah benar produk alternatif macam vape ini lebih sehat?<\/span><\/h4>\r\nSebelum masuk kepada hasil-hasil riset kesehatan termutakhir, kami ingin menyinggung bahwa fenomena kemunculan produk alternatif tembakau, baik itu koyok nikotin, permen nikotin, hingga vape, dalam konteks global kita sebut sebagai Nicotine War atau Perang Nikotin.<\/span>\r\n
Perang Nikotin adalah peperangan memperebutkan nikotin antara \u201czat nikotin alami dalam tembakau\u201d yang diwakili oleh industri rokok versus \u201csenyawa mirip nikotin\u201d dan \u201csarana pengantar nikotin\u201d yang diwakili oleh industri farmasi.<\/span><\/blockquote>\r\nKretek dan rokok konvensional lainnya merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan secara alami melalui tembakau tanpa perantara apapun. <\/span>\r\n\r\nSementara vape, koyok nikotin atau permen nikotin merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan melalui perantara, seperti dipanaskan dulu seperti uap atau mengekstraksi tembakau dan zat-zat lainnya dengan sedemikian rupa.<\/span>\r\n

Lalu bagaimana dengan riset termutakhir mengenai produk alternatif tembakau?<\/span><\/h4>\r\nPara peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai 'popcorn lung'. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/span>\r\n\r\nAda juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/span>\r\n\r\nPenelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/span>\r\n
\"Bahkan, dalam salah satu merek rokok elektronik ditemukan 10 kali tingkat karsinogen dibandingkan satu batang rokok biasa,\" tutur seorang peneliti dari National Institute of Public Health, Jepang dr. Naoki Kunugita seperti dilansir laman Daily Mail<\/span><\/blockquote>\r\nItu baru dari hasil riset kesehatan, belum jika melihat faktor risiko berbahaya lainnya, seperti meledaknya alat vapor atau kandungan logam berbahaya yang ada di alat vapor.<\/span>\r\n\r\nAlat vapor dapat meledak. Ledakan dapat terjadi karena pemanasan berlebih dari baterai lithium ion yang digunakan untuk menggerakkan vape. Ledakan ini berbahaya dan dapat membunuh. <\/span>\r\n\r\nKejadian meledaknya vape ini pernah terjadi menimpa vapers bernama Kenneth Barbero dari Albany. Kenneth menjadi korban ledakan vape dan mengalami luka parah. Dalam sebuah wawancara, Kenneth menjelaskan bahwa ledakan itu merobek lidahnya, tangannya yang mengalami luka bakar dan beberapa giginya hilang.<\/span>\r\n\r\nLedakan seperti itu tidak akan pernah terjadi dan tidak akan pernah menghantui kretekus. Sebab mengonsumsi kretek tidak memerlukan daya listrik apapun. Mengonsumsi kretek sama dengan mengonsumsi tembakau secara alami, dan jangan lupakan komponen cengkeh dan rempah lainnya yang juga terkandung di dalam kretek.<\/span>\r\n\r\nMaka jika melihat fenomena bahayanya mengonsumsi produk alternatif tembakau macam vape dari kacamata riset kesehatan dan pengalaman korban, sungguh miris rasanya jika kampanye \u2018lebih sehat\u2019 masih dihembus-hembuskan kepada masyarakat.<\/span>\r\n\r\nWalaupun terdapat riset kesehatan yang menunjang kampanye \u2018lebih sehat\u2019 tersebut, tentu riset tersebut belum kredibel, sebab sebuah produk bisa dikatakan berbahaya atau berisiko tidak hanya dilihat dari riset pendek saja.<\/strong> Dampak kesehatan akan terlihat bukan dalam kurun waktu 1-2 tahun. Dalam kurun waktu puluhan tahun barulah dampak kesehatan bisa terlihat.<\/span>\r\n\r\nKretek sebagai produk konsumsi yang telah ada sejak berabad-abad lamanya, memiliki pembuktian bahwa produk ini terus bertahan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat. Artinya dari sisi kesehatan, masyarakat sudah mengetahui apa risiko dalam mengonsumsinya dan memberikan dampak apa saja kepada tubuh manusia.<\/span>\r\n\r\nSementara vape yang kelahirannya baru seumur jagung, belum pantas untuk meneriakkan slogan \u201cproduk alternatif tembakau lebih sehat ketimbang kretek atau rokok konvensional\u201d. Karena slogan mereka masih mitos dan belum bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.<\/span>","post_title":"Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"benarkah-produk-alternatif-tembakau-lebih-sehat-daripada-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:50:31","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:50:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5377,"post_author":"878","post_date":"2019-01-31 08:59:05","post_date_gmt":"2019-01-31 01:59:05","post_content":"Sejarah mencatat aktivitas manusia mengisap rokok<\/a> yang mereka produksi dari daun tembakau sudah berlangsung setidaknya sejak 4000 tahun yang lalu. Atau pada 2000 Sebelum Masehi. Adalah ratusan suku-suku yang menghuni Benua Amerika lebih tepatnya Amerika Selatan yang memulai itu. Suku-suku yang oleh bangsa barat dengan mudahnya digolongkan dalam satu suku saja yaitu Suku Indian, padahal penamaan ini terjadi karena kesalahan semata, Kesalahan yang dilakukan oleh Christoper Colombus ketika melakukan petualangannya.<\/span>\r\n\r\nSuku-suku itu memanfaatkan tembakau yang diolah menjadi rokok untuk dikonsumsi dalam keseharian mereka. Selain itu tembakau digunakan sebagai media penyambutan, penerimaan dan perdamaian antar suku, juga digunakan untuk mengobati beberapa penyakit. Dukun-dukun menggunakan daun tembakau untuk mengobati pasiennya, baik dengan cara dibalurkan, atau lewat asap rokok yang mereka buat dari daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPada abad ke-15 hingga ke-16, para penjelajah Eropa mengenalkan tanaman tembakau dan aktivitas merokok ke tempat-tempat yang mereka datangi di dunia. Termasuk Indonesia. Memang ada yang bilang kebiasaan merokok di negeri ini sudah ada jauh sebelum aktivitas merokok diperkenalkan penjelajah dan penjajah Eropa, meskipun bukan dengan daun tembakau. Yang jelas, kebiasaan merokok tembakau di negeri ini begitu masif usai penjelajah dan penjajah mengenalkan kebiasaan merokok menggunakan daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPersebaran tembakau dan aktivitas merokok ke berbagai lokasi di penjuru bumi, memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan varian-varian cara dalam menikmati rokok tembakau. Pun begitu dengan di Nusantara. Aktivitas merokok tembakau memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan khas di banyak tempat, juga improvisasi-improvisasi cara dan bahan tambahan ketika menikmati rokok tembakau.<\/span>\r\n

Tak sekadar tembakau, masyarakat Nusantara menambahkan beberapa bahan lain selain tembakau dalam rokok yang mereka isap.Yang paling fenomenal adalah temuan rokok kretek yang pada akhirnya hingga saat ini berhasil menguasai lebih dari 90 persen pasar rokok Indonesia.<\/span><\/blockquote>\r\nBerawal dari ketidaksengajaan Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke rokok tembakaunya, campuran tembakau dan cengkeh yang menjadikan produk baru bernama rokok kretek, yang namanya diambil dari suaranya ketika campuran tembakau kering dan cengkeh kering dibakar, keretek-keretek, kemretek, berkembang pesat pada abad 20. Djamhari ketika itu sakit sesak napas. Sudah beberapa hari sakitnya tak kunjung sembuh. Setelah mengoleskan minyak cengkeh ke rokok yang ia isap, karena merasakan ada perubahan dari sakit yang ia rasa, kemudian Djamhari tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh, namun mencampurkan cengkeh kering dengan tembakau pada rokok yang ia isap. Penyakitnya berangsur menghilang dan ia sembuh.<\/span>\r\n\r\nVarian, improviasi dan kreativitas baru di seputar aktivitas merokok terus berkembang seiring perjalanan waktu dan perkembangan kemajuan teknologi. Persilangan antara kegemaran merokok dan perkembangan teknologi menghasilkan ragam rupa kreativitas dalam merokok dan mengonsumsi produk-produk tembakau. Kini ada rokok non-asap, nikotin tempel seperti koyo, tembakau kunyah, nikotin permen, dan ragam rupa kreasi lainnya. Inovasi ini kian menjadi saat kampanye bahaya rokok konvensional dan terutama bahaya rokok kretek terus-menerus didengungkan di penjuru bumi.<\/span>\r\n\r\nYang terbaru, setidaknya dalam empat tahun belakangan cukup berkembang di Indonesia, terutama di beberapa tempat di kota besar, adalah rokok elektrik atau yang lazim disebut <\/span>vape\/vaping<\/span><\/i>. Masuknya rokok elektrik ini bersamaan dengan serangan besar-besaran terhadap rokok kretek lewat kampanye yang menyebutkan rokok kretek sama sekali tidak baik untuk kesehatan. Rokok elektrik masuk dan digembar-gemborkan sebagai produk alternatif.<\/span>\r\n\r\nHingga sempat ada masanya, rokok elektrik ini dikampanyekan dan digunakan sebagai alat antara untuk meninggalkan produk rokok konvensional. Terapi berhenti merokok dengan berpindah dari rokok konvensional ke rokok kretek. Kampanye ini selalu menyebutkan bahwasanya rokok elektrik lebih baik dari rokok konvensional. Lebih sehat. Tetapi apakah memang benar seperti itu?<\/span>\r\n\r\nMungkin penjabaran data bahan baku rokok kretek dan rokok elektrik di bawah ini bisa membantu anda menemukan jawabannya sendiri.<\/span>\r\n

Rokok Kretek<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: Eko Susanto\/Rokok Indonesia[\/caption]\r\n\r\nDua bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh. Selain keduanya, setiap pabrikan memiliki bahan baku tambahannya sendiri yang membikin rokok kretek produksi mereka memiliki citarasa khasnya masing-masing. Para perokok yang biasa melinting sendiri rokok kreteknya lazim menyebutnya wur untuk tambahan bahan baku di luar tembakau dan cengkeh. Wur ini terdiri dari beberapa rempah-rempah sesuai dengan selera. Pabrikan-pabrikan rokok kretek meracik sendiri wur sebagai campuran tembakau dan cengkeh pada rokok kretek mereka. Wur ini kadang disebut perisa atau saus oleh pabrikan. Bahan bakunya mirip, campuran beberapa rempah-rempah.<\/span>\r\n\r\nBeberapa bahan baku lain selain cengkeh dan tembakau pada rokok kretek adalah: Kapulaga, kemenyan, daun sirih, kayu manis, kemukus, dan kelembak.<\/span>\r\n\r\nSelain bahan baku utama yang merupakan campuran tembakau, cengkeh, dan beberapa rempah lainnya yang lazim disebut saus, bahan penyusun rokok kretek lainnya adalah kertas atau yang lazim disebut sigaret. Bahan baku kertas sigaret adalah\u00a0<\/span>selulosa astetat.<\/span><\/i> Selulosa<\/span><\/i>\u00a0ini berasal dari serat tanama. Sebelum menjadi lembaran diolah menjadi\u00a0<\/span>pulp\u00a0<\/span><\/i>terlebih dulu. Unsur pelekat pada kertas dinamakan sideseam. Pelekat kertas tersebut merupakan pelekat\u00a0khusus\u00a0yang digunakan dalam jumlah yang sangat kecil.<\/span> Pada dasarnya kertas rokok atau kertas sigaret juga dilengkapi\u00a0<\/span>porforasi<\/span><\/i>\u00a0(kertas berlubang), di mana lubang ukurang mikro tersebut dapat menyedot udara luar sehingga kadar tar dan nikotin di dalam rokok turun.<\/span>\r\n\r\nSatu lagi bahan yang ada pada sebatang rokok kretek adalah busa filter, jika rokok kreteknya adalah rokok kretek filter. Bahan busa filter pada rokok kretek berasal dari aseto, tumbuhan jenis padi-padian yang banyak tumbuh di wilayah Eropa pasca musim dingin. Filter pada rokok kretek terbagi dari empat bagian,\u00a0<\/span>tow<\/span><\/i>\u00a0(rangkaian\u00a0<\/span>selulose asetat<\/span><\/i>\u00a0sebagai badan filter),\u00a0<\/span>plasticizer<\/span><\/i>\u00a0(zat pelunak untuk mengikat filter),\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>\u00a0(kertas pembungkus fiber filter) dan pelekat (sebagai pelekat\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>).<\/span>\r\n\r\nDari uraian ini, bisa dikatakan jika bahan baku utama dan bahan-bahan tambahan untuk rokok kretek semuanya merupakan bahan-bahan alami yang berasal dari alam. Produk herbal.<\/span>\r\n

Rokok Elektrik<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: testic.net[\/caption]\r\n\r\nBerbeda dengan rokok konvensional yang menggunakan prinsip pembakaran pada proses konsumsinya, rokok elektrik menggunakan prinsip penguapan. Oleh sebab itu produk ini lazim disebut vape karena prinsip reaksi yang bekerja berupa vaporizer.<\/span>\r\n\r\nAda empat elemen utama dalam sebuah produk rokok elektrik yang dikonsumsi. Cairan utama (liquid), wadah cairan (<\/span>cartridge<\/span><\/i>), atomizer atau pemanas, dan baterai.<\/span>\r\n\r\nCairan pada rokok elektrik terdiri dari campuran propilen glikol, gliserol, air, nikotin sintetis, dan perasa sintetis. Gliserol adalah bahan baku e-liquid, perannya adalah membantu proses vaporasi dari cairan (liquid) menjadi gas (asap). Gliserol adalah bahan kimia tanpa warna, tanpa bau, yang banyak digunakan di bidang farmasi. Bahan ini berbentuk cairan agak kental dan sedikit berasa manis. Propilen Glikol adalah bahan penguat rasa berbentuk cair\/ liquid. Pada umumnya dipakai pada essence makanan dan minuman ringan sebagai penguat. Sifatnya tidak berbau dan berasa manis. Liquid premium lokal atau import juga menggunakan ini.<\/span>\r\n\r\nAda dua kunci yang bisa menjadi acuan analisis terkait rokok kretek dan rokok elektrik dalam hubungannya dengan klaim rokok elektrik yang jauh lebih sehat dari rokok kretek dan rokok konvensional, bahkan rokok elektrik dianggap sebagai produk yang baik dipilih untuk meninggalkan kebiasaan merokok. Dua kunci itu adalah, bahan alami vs bahan sintetis, dan proses pembakaran rokok konvensional vs proses penguapan rokok elektrik. Dari dua kunci utama ini saja kita bisa tahu mana yang lebih baik sebenarnya.<\/span>","post_title":"Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbandingan-bahan-baku-kretek-dan-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-31 08:59:27","post_modified_gmt":"2019-01-31 01:59:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5377","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5371,"post_author":"877","post_date":"2019-01-30 10:12:38","post_date_gmt":"2019-01-30 03:12:38","post_content":"Pada abad 20 salah satu obat yang paling populer menjadi favorit orang adalah nikotin, berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mencoba dihisap, disentuh, dikunyah, atau dioleskan (diadaptasi dari sumber berita <\/span>www.vebma.com<\/span><\/a>).<\/span><\/em>\r\n\r\nRokok elektrik terpopuler dan menjadi trend saat ini adalah \u00a0jenis vape<\/a>, atau bisa disebut E-ciggarette. Sekitar tahun 2010, rokok jenis vape masuk ke Indonesia dengan membawa label sebagai rokok alternatif menggantikan rokok konvensional (rokok sigaret). Promosinya ditonjolkan sebagai rokok yang lebih aman dari pada rokok konvensional. <\/span>\r\n\r\nMemaknai pilihan diksi lebih aman, kira- kira urutannya begini, awalnya rokok konvensional aman, kemudian keberadaan rokok elektrik jenis vape lebih aman. Rokok elektrik adalah inovasi rokok konvensioanal. <\/strong>\r\n\r\nPerlu diketahui, sistem pembakaran pada rokok elektrik memakai listrik berupa battre dengan memakai elemen pemanas <\/span>atomizer atau cartomizer<\/span><\/i>, bahan utamanya berbasis proses kimia. Rokok konvensional memakai pembakaran berupa api, bahan utamanya memakai tumbuhan asli berupa tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan keduanya. Saya beri contoh sebagai pembanding, air minum dari hasil proses memakai alat heater pemanas listrik, dengan air minum dari hasil pemanas konvensional (pakai api), kira-kira lebih aman, lebih sehat mana? Kira-kira anda pilih yang elektrik atau konvensiobal, silahkan anda memilih dan menilai sesuai pengalaman masing-masing.<\/span>\r\n\r\nKembali kepersoalan promosi rokok vape di Indonesia, saat vape mulai naik daun banyak lembaga riset melakukan studi kelayakan. Hasilnya pun terjadi perdebatan, ada lembaga yang dipimpin Profesor David Thickett dari Universitas Birmingham mengatakan, mengisap rokok elektrik atau yang lebih dikenal dengan istilah\u00a0<\/span>vaping<\/span><\/i>\u00a0bisa merusak sel-sel sistem kekebalan tubuh dan amat mungkin lebih berbahaya dari yang semula diperkirakan. Ada pula yang mengatakan merokok vape menghindarkan dari risiko penyakit jantung dan kanker. <\/span>\r\n\r\nAnehnya, Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia, juga ikut melakukan uji dengan hasilnya bahwa vape dinilai memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok yang dikonsumi dengan dibakar. Disini tidak akan membahas berlarut larut tentang perbedaan hasil uji rokok vape (elektrik), bahkan tidak akan membahas pertanyaan ada apa lembaga penguji tersebut. \u00a0.<\/span>\r\n\r\nLogika sederhana, memakan dan minum dari bahan natural proses konvensional, dibanding bahan kimia dengan proses pemanas listrik, baik mana? Air proses natural (air mineral) dengan air kemasan lain beraroma (proses kimia) sehat yang mana?. Dua pertanyaan ini sebagai pembanding dalam mengambil keputusan dan penilaian antara rokok elektrik (vape) dengan rokok konvensioanl.<\/span>\r\n
Usaha promosi rokok vape, dengan membangun cerita opini, bahwa penemu rokok elektrik\/vape (e-ciggarette) bernama Hon Lik seorang pecandu rokok konvensional berat yang menderita penyakit infeksi pernafasan, sering batuk batuk dan\u00a0bersin sehingga kesulitan untuk tidur. Kemudian pada tahun 2003 menciptakan rokok elektrik sebagai pengganti rokok konvensional. <\/span><\/blockquote>\r\nOpini yang dibangun seakan-akan akibat rokok konvensioanl, Hon Lik menderita penyakit, yang kemudian dengan hasil ciptaannya (rokok elektrik), Hon Lik tidak sakit lagi. Pertanyaan pertama, jenis rokok konvensional apa yang dikonsumsi Hon Lik? dugaan terkuat bukan rokok kretek yang saat itu dikonsumsi. Jika rokok kretek yang dikonsumsi keadaan Hon Lik jadi lain, karena rokok kretek awal mulanya diciptakan sebagai obat batuk, sesak nafas dan lain-lain. Masih ingat dahulu ada rokok kretek yang bungkusnya tertulis \u201cdapat meredekan batuk\u201d. Tidak lain adalah rokok kretek Dji Sam Soe. Tulisan tersebut, masih diyakini banyak orang, saat batuk mereka akan merokok Dji Sam Soe, saat batuk reda, mereka merokok selera semula.<\/span>\r\n\r\nPertanyaan kedua, apakah benar hanya gara-gara merokok konvensioanl Hon Lik menderita sakit? jangan-jangan ada faktor lain menjadi penyebab. Bisa jadi penyakit turunan\/genetik, akibat <\/span>kerusakan pada gen dalam tubuh. Buktinya diceritakan bahwa ayah Hon Lik <\/span>mengidap penyakit kanker paru paru. Dan mungkin bapak dari bapaknya Hon Lik dan seterusnya, juga demikian mengidap penyakit yang sama.<\/span>\r\n\r\n\"\"\r\n\r\nFakta sejarah berkata lain, teknik vaping sudah dikenal sejak Mesir kuno, kemudian tahun 1927 <\/span>Joseph Robinson menggagas \u201cmerokok tanpa rokok\u201d, hingga populer. Baru pada tahun 2003, Hon Lik membuat perusahan e-cig modern di Tionghoa (Cina). Jadi Hon Lik bukanlah orang yang pertama atau pencipta teknik vaping untuk rokok, hanya saja Hon Lik bisa membaca peluang tersebut, apa lagi ia adalah seorang apoteker. Ia pasti mengetahui mafaat nikotin untuk tubuh manusia, sehingga ia memproduksi massal rokok bernikotin yang inovatif dengan kombinasi teknik vaping.<\/span>\r\n\r\nDilansir dari www. Vebma.com, bahwa salah satu obat yang paling populer dan favorit bagi orang adalah nikotin. Dengan demikian, orang telah mencoba berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mereka mencoba mengisapnya, menyentuhnya, mengunyahnya, atau mengoleskannya di kulit mereka. Anda bisa menemukan nikotin di tembakau. Banyak perangkat telah diciptakan untuk memuaskan obsesi orang terhadap nikotin. Kita hidup dalam masyarakat teknologi, Itu sebabnya baru-baru ini, vaporizers menjadi tren keren dengan berbagai selera dan bentuknya.<\/span>\r\n
Penguapan memiliki sejarah panjang. Herodotus menjelaskan, di Mesir (abad ke 5 SM) orang memanaskan ramuan dan minyak pada batu panas untuk vape. Oleh karena itu, kita harus mempercayai tentang asal mula vaping kuno. Kemudian, lebih dari 1500 tahun yang lalu, Irfan Shiekh menemukan shisha pertama. <\/span><\/blockquote>\r\nCerita opini saat ini tentang rokok elektrik (<\/span>vape) hanya bagian dari promosi semata. Dengan menjatuhkan rokok konvensional (rokok kretek), berharap penikmat rokok beralih ke elektrik (vape). Dengan dalil yang diwacanakan, lebih aman (menyehatkan). Cerita opini yang dibangun menafikan sejarah yang sesungguhnya, bahwa nikotin adalah salah satu obat, zat nikotin ada di daun tembakau. Hanya pada rokok konvensional (rokok kretek), bahan baku daun tembakau dan cengkeh dan proses pembakaran natural, lebih aman dan menyehatkan.<\/span>","post_title":"Meluruskan Sejarah Awal Mula Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"meluruskan-sejarah-awal-mula-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-30 10:13:19","post_modified_gmt":"2019-01-30 03:13:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5371","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5254,"post_author":"883","post_date":"2018-12-28 07:16:54","post_date_gmt":"2018-12-28 00:16:54","post_content":"Produk alternatif tembakau seperti vape<\/a> menjadi tren terbaru yang digandrungi masyarakat. Vape atau rokok elektrik naik pamor setelah dihembuskan isu bahwa mengkonsumsi vape dianggap lebih aman ketimbang mengonsumsi rokok konvensional, sebutlah kretek.<\/span>\r\n\r\nIsu lebih sehat tersebut terus-menerus dihembuskan kepada masyarakat, sehingga banyak penikmat rokok konvensional yang pindah menjadi \u2018vapers\u2019 (sebutan bagi penikmat vape). Bahkan bukan hanya perokok, banyak juga dari kalangan non-perokok yang memutuskan memilih menjadi vapers ketimbang perokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKemunculan vape sebenarnya sangat lumrah di era yang penuh inovasi ini. Kami pun para penikmat kretek biasa-biasa saja dengan fenomena produk alternatif tembakau. Jauh sebelum tren vape muncul di tengah masyarakat, di Eropa dan Amerika bahkan sudah lebih dulu muncul tren produk alternatif tembakau macam koyok nikotin atau permen karet nikotin.<\/span>\r\n\r\nNamun ketika isu produk alternatif, dalam hal ini vape diisukan lebih sehat ketimbang rokok konvensional, tentu ceritanya menjadi lain. Kami kretekus merespon dan tidak tinggal diam. Sebab hal tersebut sudah sampai pada konteks menyentuh eksistensi kami.<\/span>\r\n

Maka, mari kita bedah apakah benar produk alternatif macam vape ini lebih sehat?<\/span><\/h4>\r\nSebelum masuk kepada hasil-hasil riset kesehatan termutakhir, kami ingin menyinggung bahwa fenomena kemunculan produk alternatif tembakau, baik itu koyok nikotin, permen nikotin, hingga vape, dalam konteks global kita sebut sebagai Nicotine War atau Perang Nikotin.<\/span>\r\n
Perang Nikotin adalah peperangan memperebutkan nikotin antara \u201czat nikotin alami dalam tembakau\u201d yang diwakili oleh industri rokok versus \u201csenyawa mirip nikotin\u201d dan \u201csarana pengantar nikotin\u201d yang diwakili oleh industri farmasi.<\/span><\/blockquote>\r\nKretek dan rokok konvensional lainnya merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan secara alami melalui tembakau tanpa perantara apapun. <\/span>\r\n\r\nSementara vape, koyok nikotin atau permen nikotin merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan melalui perantara, seperti dipanaskan dulu seperti uap atau mengekstraksi tembakau dan zat-zat lainnya dengan sedemikian rupa.<\/span>\r\n

Lalu bagaimana dengan riset termutakhir mengenai produk alternatif tembakau?<\/span><\/h4>\r\nPara peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai 'popcorn lung'. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/span>\r\n\r\nAda juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/span>\r\n\r\nPenelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/span>\r\n
\"Bahkan, dalam salah satu merek rokok elektronik ditemukan 10 kali tingkat karsinogen dibandingkan satu batang rokok biasa,\" tutur seorang peneliti dari National Institute of Public Health, Jepang dr. Naoki Kunugita seperti dilansir laman Daily Mail<\/span><\/blockquote>\r\nItu baru dari hasil riset kesehatan, belum jika melihat faktor risiko berbahaya lainnya, seperti meledaknya alat vapor atau kandungan logam berbahaya yang ada di alat vapor.<\/span>\r\n\r\nAlat vapor dapat meledak. Ledakan dapat terjadi karena pemanasan berlebih dari baterai lithium ion yang digunakan untuk menggerakkan vape. Ledakan ini berbahaya dan dapat membunuh. <\/span>\r\n\r\nKejadian meledaknya vape ini pernah terjadi menimpa vapers bernama Kenneth Barbero dari Albany. Kenneth menjadi korban ledakan vape dan mengalami luka parah. Dalam sebuah wawancara, Kenneth menjelaskan bahwa ledakan itu merobek lidahnya, tangannya yang mengalami luka bakar dan beberapa giginya hilang.<\/span>\r\n\r\nLedakan seperti itu tidak akan pernah terjadi dan tidak akan pernah menghantui kretekus. Sebab mengonsumsi kretek tidak memerlukan daya listrik apapun. Mengonsumsi kretek sama dengan mengonsumsi tembakau secara alami, dan jangan lupakan komponen cengkeh dan rempah lainnya yang juga terkandung di dalam kretek.<\/span>\r\n\r\nMaka jika melihat fenomena bahayanya mengonsumsi produk alternatif tembakau macam vape dari kacamata riset kesehatan dan pengalaman korban, sungguh miris rasanya jika kampanye \u2018lebih sehat\u2019 masih dihembus-hembuskan kepada masyarakat.<\/span>\r\n\r\nWalaupun terdapat riset kesehatan yang menunjang kampanye \u2018lebih sehat\u2019 tersebut, tentu riset tersebut belum kredibel, sebab sebuah produk bisa dikatakan berbahaya atau berisiko tidak hanya dilihat dari riset pendek saja.<\/strong> Dampak kesehatan akan terlihat bukan dalam kurun waktu 1-2 tahun. Dalam kurun waktu puluhan tahun barulah dampak kesehatan bisa terlihat.<\/span>\r\n\r\nKretek sebagai produk konsumsi yang telah ada sejak berabad-abad lamanya, memiliki pembuktian bahwa produk ini terus bertahan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat. Artinya dari sisi kesehatan, masyarakat sudah mengetahui apa risiko dalam mengonsumsinya dan memberikan dampak apa saja kepada tubuh manusia.<\/span>\r\n\r\nSementara vape yang kelahirannya baru seumur jagung, belum pantas untuk meneriakkan slogan \u201cproduk alternatif tembakau lebih sehat ketimbang kretek atau rokok konvensional\u201d. Karena slogan mereka masih mitos dan belum bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.<\/span>","post_title":"Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"benarkah-produk-alternatif-tembakau-lebih-sehat-daripada-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:50:31","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:50:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5377,"post_author":"878","post_date":"2019-01-31 08:59:05","post_date_gmt":"2019-01-31 01:59:05","post_content":"Sejarah mencatat aktivitas manusia mengisap rokok<\/a> yang mereka produksi dari daun tembakau sudah berlangsung setidaknya sejak 4000 tahun yang lalu. Atau pada 2000 Sebelum Masehi. Adalah ratusan suku-suku yang menghuni Benua Amerika lebih tepatnya Amerika Selatan yang memulai itu. Suku-suku yang oleh bangsa barat dengan mudahnya digolongkan dalam satu suku saja yaitu Suku Indian, padahal penamaan ini terjadi karena kesalahan semata, Kesalahan yang dilakukan oleh Christoper Colombus ketika melakukan petualangannya.<\/span>\r\n\r\nSuku-suku itu memanfaatkan tembakau yang diolah menjadi rokok untuk dikonsumsi dalam keseharian mereka. Selain itu tembakau digunakan sebagai media penyambutan, penerimaan dan perdamaian antar suku, juga digunakan untuk mengobati beberapa penyakit. Dukun-dukun menggunakan daun tembakau untuk mengobati pasiennya, baik dengan cara dibalurkan, atau lewat asap rokok yang mereka buat dari daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPada abad ke-15 hingga ke-16, para penjelajah Eropa mengenalkan tanaman tembakau dan aktivitas merokok ke tempat-tempat yang mereka datangi di dunia. Termasuk Indonesia. Memang ada yang bilang kebiasaan merokok di negeri ini sudah ada jauh sebelum aktivitas merokok diperkenalkan penjelajah dan penjajah Eropa, meskipun bukan dengan daun tembakau. Yang jelas, kebiasaan merokok tembakau di negeri ini begitu masif usai penjelajah dan penjajah mengenalkan kebiasaan merokok menggunakan daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPersebaran tembakau dan aktivitas merokok ke berbagai lokasi di penjuru bumi, memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan varian-varian cara dalam menikmati rokok tembakau. Pun begitu dengan di Nusantara. Aktivitas merokok tembakau memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan khas di banyak tempat, juga improvisasi-improvisasi cara dan bahan tambahan ketika menikmati rokok tembakau.<\/span>\r\n

Tak sekadar tembakau, masyarakat Nusantara menambahkan beberapa bahan lain selain tembakau dalam rokok yang mereka isap.Yang paling fenomenal adalah temuan rokok kretek yang pada akhirnya hingga saat ini berhasil menguasai lebih dari 90 persen pasar rokok Indonesia.<\/span><\/blockquote>\r\nBerawal dari ketidaksengajaan Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke rokok tembakaunya, campuran tembakau dan cengkeh yang menjadikan produk baru bernama rokok kretek, yang namanya diambil dari suaranya ketika campuran tembakau kering dan cengkeh kering dibakar, keretek-keretek, kemretek, berkembang pesat pada abad 20. Djamhari ketika itu sakit sesak napas. Sudah beberapa hari sakitnya tak kunjung sembuh. Setelah mengoleskan minyak cengkeh ke rokok yang ia isap, karena merasakan ada perubahan dari sakit yang ia rasa, kemudian Djamhari tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh, namun mencampurkan cengkeh kering dengan tembakau pada rokok yang ia isap. Penyakitnya berangsur menghilang dan ia sembuh.<\/span>\r\n\r\nVarian, improviasi dan kreativitas baru di seputar aktivitas merokok terus berkembang seiring perjalanan waktu dan perkembangan kemajuan teknologi. Persilangan antara kegemaran merokok dan perkembangan teknologi menghasilkan ragam rupa kreativitas dalam merokok dan mengonsumsi produk-produk tembakau. Kini ada rokok non-asap, nikotin tempel seperti koyo, tembakau kunyah, nikotin permen, dan ragam rupa kreasi lainnya. Inovasi ini kian menjadi saat kampanye bahaya rokok konvensional dan terutama bahaya rokok kretek terus-menerus didengungkan di penjuru bumi.<\/span>\r\n\r\nYang terbaru, setidaknya dalam empat tahun belakangan cukup berkembang di Indonesia, terutama di beberapa tempat di kota besar, adalah rokok elektrik atau yang lazim disebut <\/span>vape\/vaping<\/span><\/i>. Masuknya rokok elektrik ini bersamaan dengan serangan besar-besaran terhadap rokok kretek lewat kampanye yang menyebutkan rokok kretek sama sekali tidak baik untuk kesehatan. Rokok elektrik masuk dan digembar-gemborkan sebagai produk alternatif.<\/span>\r\n\r\nHingga sempat ada masanya, rokok elektrik ini dikampanyekan dan digunakan sebagai alat antara untuk meninggalkan produk rokok konvensional. Terapi berhenti merokok dengan berpindah dari rokok konvensional ke rokok kretek. Kampanye ini selalu menyebutkan bahwasanya rokok elektrik lebih baik dari rokok konvensional. Lebih sehat. Tetapi apakah memang benar seperti itu?<\/span>\r\n\r\nMungkin penjabaran data bahan baku rokok kretek dan rokok elektrik di bawah ini bisa membantu anda menemukan jawabannya sendiri.<\/span>\r\n

Rokok Kretek<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: Eko Susanto\/Rokok Indonesia[\/caption]\r\n\r\nDua bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh. Selain keduanya, setiap pabrikan memiliki bahan baku tambahannya sendiri yang membikin rokok kretek produksi mereka memiliki citarasa khasnya masing-masing. Para perokok yang biasa melinting sendiri rokok kreteknya lazim menyebutnya wur untuk tambahan bahan baku di luar tembakau dan cengkeh. Wur ini terdiri dari beberapa rempah-rempah sesuai dengan selera. Pabrikan-pabrikan rokok kretek meracik sendiri wur sebagai campuran tembakau dan cengkeh pada rokok kretek mereka. Wur ini kadang disebut perisa atau saus oleh pabrikan. Bahan bakunya mirip, campuran beberapa rempah-rempah.<\/span>\r\n\r\nBeberapa bahan baku lain selain cengkeh dan tembakau pada rokok kretek adalah: Kapulaga, kemenyan, daun sirih, kayu manis, kemukus, dan kelembak.<\/span>\r\n\r\nSelain bahan baku utama yang merupakan campuran tembakau, cengkeh, dan beberapa rempah lainnya yang lazim disebut saus, bahan penyusun rokok kretek lainnya adalah kertas atau yang lazim disebut sigaret. Bahan baku kertas sigaret adalah\u00a0<\/span>selulosa astetat.<\/span><\/i> Selulosa<\/span><\/i>\u00a0ini berasal dari serat tanama. Sebelum menjadi lembaran diolah menjadi\u00a0<\/span>pulp\u00a0<\/span><\/i>terlebih dulu. Unsur pelekat pada kertas dinamakan sideseam. Pelekat kertas tersebut merupakan pelekat\u00a0khusus\u00a0yang digunakan dalam jumlah yang sangat kecil.<\/span> Pada dasarnya kertas rokok atau kertas sigaret juga dilengkapi\u00a0<\/span>porforasi<\/span><\/i>\u00a0(kertas berlubang), di mana lubang ukurang mikro tersebut dapat menyedot udara luar sehingga kadar tar dan nikotin di dalam rokok turun.<\/span>\r\n\r\nSatu lagi bahan yang ada pada sebatang rokok kretek adalah busa filter, jika rokok kreteknya adalah rokok kretek filter. Bahan busa filter pada rokok kretek berasal dari aseto, tumbuhan jenis padi-padian yang banyak tumbuh di wilayah Eropa pasca musim dingin. Filter pada rokok kretek terbagi dari empat bagian,\u00a0<\/span>tow<\/span><\/i>\u00a0(rangkaian\u00a0<\/span>selulose asetat<\/span><\/i>\u00a0sebagai badan filter),\u00a0<\/span>plasticizer<\/span><\/i>\u00a0(zat pelunak untuk mengikat filter),\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>\u00a0(kertas pembungkus fiber filter) dan pelekat (sebagai pelekat\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>).<\/span>\r\n\r\nDari uraian ini, bisa dikatakan jika bahan baku utama dan bahan-bahan tambahan untuk rokok kretek semuanya merupakan bahan-bahan alami yang berasal dari alam. Produk herbal.<\/span>\r\n

Rokok Elektrik<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: testic.net[\/caption]\r\n\r\nBerbeda dengan rokok konvensional yang menggunakan prinsip pembakaran pada proses konsumsinya, rokok elektrik menggunakan prinsip penguapan. Oleh sebab itu produk ini lazim disebut vape karena prinsip reaksi yang bekerja berupa vaporizer.<\/span>\r\n\r\nAda empat elemen utama dalam sebuah produk rokok elektrik yang dikonsumsi. Cairan utama (liquid), wadah cairan (<\/span>cartridge<\/span><\/i>), atomizer atau pemanas, dan baterai.<\/span>\r\n\r\nCairan pada rokok elektrik terdiri dari campuran propilen glikol, gliserol, air, nikotin sintetis, dan perasa sintetis. Gliserol adalah bahan baku e-liquid, perannya adalah membantu proses vaporasi dari cairan (liquid) menjadi gas (asap). Gliserol adalah bahan kimia tanpa warna, tanpa bau, yang banyak digunakan di bidang farmasi. Bahan ini berbentuk cairan agak kental dan sedikit berasa manis. Propilen Glikol adalah bahan penguat rasa berbentuk cair\/ liquid. Pada umumnya dipakai pada essence makanan dan minuman ringan sebagai penguat. Sifatnya tidak berbau dan berasa manis. Liquid premium lokal atau import juga menggunakan ini.<\/span>\r\n\r\nAda dua kunci yang bisa menjadi acuan analisis terkait rokok kretek dan rokok elektrik dalam hubungannya dengan klaim rokok elektrik yang jauh lebih sehat dari rokok kretek dan rokok konvensional, bahkan rokok elektrik dianggap sebagai produk yang baik dipilih untuk meninggalkan kebiasaan merokok. Dua kunci itu adalah, bahan alami vs bahan sintetis, dan proses pembakaran rokok konvensional vs proses penguapan rokok elektrik. Dari dua kunci utama ini saja kita bisa tahu mana yang lebih baik sebenarnya.<\/span>","post_title":"Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbandingan-bahan-baku-kretek-dan-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-31 08:59:27","post_modified_gmt":"2019-01-31 01:59:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5377","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5371,"post_author":"877","post_date":"2019-01-30 10:12:38","post_date_gmt":"2019-01-30 03:12:38","post_content":"Pada abad 20 salah satu obat yang paling populer menjadi favorit orang adalah nikotin, berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mencoba dihisap, disentuh, dikunyah, atau dioleskan (diadaptasi dari sumber berita <\/span>www.vebma.com<\/span><\/a>).<\/span><\/em>\r\n\r\nRokok elektrik terpopuler dan menjadi trend saat ini adalah \u00a0jenis vape<\/a>, atau bisa disebut E-ciggarette. Sekitar tahun 2010, rokok jenis vape masuk ke Indonesia dengan membawa label sebagai rokok alternatif menggantikan rokok konvensional (rokok sigaret). Promosinya ditonjolkan sebagai rokok yang lebih aman dari pada rokok konvensional. <\/span>\r\n\r\nMemaknai pilihan diksi lebih aman, kira- kira urutannya begini, awalnya rokok konvensional aman, kemudian keberadaan rokok elektrik jenis vape lebih aman. Rokok elektrik adalah inovasi rokok konvensioanal. <\/strong>\r\n\r\nPerlu diketahui, sistem pembakaran pada rokok elektrik memakai listrik berupa battre dengan memakai elemen pemanas <\/span>atomizer atau cartomizer<\/span><\/i>, bahan utamanya berbasis proses kimia. Rokok konvensional memakai pembakaran berupa api, bahan utamanya memakai tumbuhan asli berupa tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan keduanya. Saya beri contoh sebagai pembanding, air minum dari hasil proses memakai alat heater pemanas listrik, dengan air minum dari hasil pemanas konvensional (pakai api), kira-kira lebih aman, lebih sehat mana? Kira-kira anda pilih yang elektrik atau konvensiobal, silahkan anda memilih dan menilai sesuai pengalaman masing-masing.<\/span>\r\n\r\nKembali kepersoalan promosi rokok vape di Indonesia, saat vape mulai naik daun banyak lembaga riset melakukan studi kelayakan. Hasilnya pun terjadi perdebatan, ada lembaga yang dipimpin Profesor David Thickett dari Universitas Birmingham mengatakan, mengisap rokok elektrik atau yang lebih dikenal dengan istilah\u00a0<\/span>vaping<\/span><\/i>\u00a0bisa merusak sel-sel sistem kekebalan tubuh dan amat mungkin lebih berbahaya dari yang semula diperkirakan. Ada pula yang mengatakan merokok vape menghindarkan dari risiko penyakit jantung dan kanker. <\/span>\r\n\r\nAnehnya, Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia, juga ikut melakukan uji dengan hasilnya bahwa vape dinilai memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok yang dikonsumi dengan dibakar. Disini tidak akan membahas berlarut larut tentang perbedaan hasil uji rokok vape (elektrik), bahkan tidak akan membahas pertanyaan ada apa lembaga penguji tersebut. \u00a0.<\/span>\r\n\r\nLogika sederhana, memakan dan minum dari bahan natural proses konvensional, dibanding bahan kimia dengan proses pemanas listrik, baik mana? Air proses natural (air mineral) dengan air kemasan lain beraroma (proses kimia) sehat yang mana?. Dua pertanyaan ini sebagai pembanding dalam mengambil keputusan dan penilaian antara rokok elektrik (vape) dengan rokok konvensioanl.<\/span>\r\n
Usaha promosi rokok vape, dengan membangun cerita opini, bahwa penemu rokok elektrik\/vape (e-ciggarette) bernama Hon Lik seorang pecandu rokok konvensional berat yang menderita penyakit infeksi pernafasan, sering batuk batuk dan\u00a0bersin sehingga kesulitan untuk tidur. Kemudian pada tahun 2003 menciptakan rokok elektrik sebagai pengganti rokok konvensional. <\/span><\/blockquote>\r\nOpini yang dibangun seakan-akan akibat rokok konvensioanl, Hon Lik menderita penyakit, yang kemudian dengan hasil ciptaannya (rokok elektrik), Hon Lik tidak sakit lagi. Pertanyaan pertama, jenis rokok konvensional apa yang dikonsumsi Hon Lik? dugaan terkuat bukan rokok kretek yang saat itu dikonsumsi. Jika rokok kretek yang dikonsumsi keadaan Hon Lik jadi lain, karena rokok kretek awal mulanya diciptakan sebagai obat batuk, sesak nafas dan lain-lain. Masih ingat dahulu ada rokok kretek yang bungkusnya tertulis \u201cdapat meredekan batuk\u201d. Tidak lain adalah rokok kretek Dji Sam Soe. Tulisan tersebut, masih diyakini banyak orang, saat batuk mereka akan merokok Dji Sam Soe, saat batuk reda, mereka merokok selera semula.<\/span>\r\n\r\nPertanyaan kedua, apakah benar hanya gara-gara merokok konvensioanl Hon Lik menderita sakit? jangan-jangan ada faktor lain menjadi penyebab. Bisa jadi penyakit turunan\/genetik, akibat <\/span>kerusakan pada gen dalam tubuh. Buktinya diceritakan bahwa ayah Hon Lik <\/span>mengidap penyakit kanker paru paru. Dan mungkin bapak dari bapaknya Hon Lik dan seterusnya, juga demikian mengidap penyakit yang sama.<\/span>\r\n\r\n\"\"\r\n\r\nFakta sejarah berkata lain, teknik vaping sudah dikenal sejak Mesir kuno, kemudian tahun 1927 <\/span>Joseph Robinson menggagas \u201cmerokok tanpa rokok\u201d, hingga populer. Baru pada tahun 2003, Hon Lik membuat perusahan e-cig modern di Tionghoa (Cina). Jadi Hon Lik bukanlah orang yang pertama atau pencipta teknik vaping untuk rokok, hanya saja Hon Lik bisa membaca peluang tersebut, apa lagi ia adalah seorang apoteker. Ia pasti mengetahui mafaat nikotin untuk tubuh manusia, sehingga ia memproduksi massal rokok bernikotin yang inovatif dengan kombinasi teknik vaping.<\/span>\r\n\r\nDilansir dari www. Vebma.com, bahwa salah satu obat yang paling populer dan favorit bagi orang adalah nikotin. Dengan demikian, orang telah mencoba berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mereka mencoba mengisapnya, menyentuhnya, mengunyahnya, atau mengoleskannya di kulit mereka. Anda bisa menemukan nikotin di tembakau. Banyak perangkat telah diciptakan untuk memuaskan obsesi orang terhadap nikotin. Kita hidup dalam masyarakat teknologi, Itu sebabnya baru-baru ini, vaporizers menjadi tren keren dengan berbagai selera dan bentuknya.<\/span>\r\n
Penguapan memiliki sejarah panjang. Herodotus menjelaskan, di Mesir (abad ke 5 SM) orang memanaskan ramuan dan minyak pada batu panas untuk vape. Oleh karena itu, kita harus mempercayai tentang asal mula vaping kuno. Kemudian, lebih dari 1500 tahun yang lalu, Irfan Shiekh menemukan shisha pertama. <\/span><\/blockquote>\r\nCerita opini saat ini tentang rokok elektrik (<\/span>vape) hanya bagian dari promosi semata. Dengan menjatuhkan rokok konvensional (rokok kretek), berharap penikmat rokok beralih ke elektrik (vape). Dengan dalil yang diwacanakan, lebih aman (menyehatkan). Cerita opini yang dibangun menafikan sejarah yang sesungguhnya, bahwa nikotin adalah salah satu obat, zat nikotin ada di daun tembakau. Hanya pada rokok konvensional (rokok kretek), bahan baku daun tembakau dan cengkeh dan proses pembakaran natural, lebih aman dan menyehatkan.<\/span>","post_title":"Meluruskan Sejarah Awal Mula Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"meluruskan-sejarah-awal-mula-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-30 10:13:19","post_modified_gmt":"2019-01-30 03:13:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5371","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5254,"post_author":"883","post_date":"2018-12-28 07:16:54","post_date_gmt":"2018-12-28 00:16:54","post_content":"Produk alternatif tembakau seperti vape<\/a> menjadi tren terbaru yang digandrungi masyarakat. Vape atau rokok elektrik naik pamor setelah dihembuskan isu bahwa mengkonsumsi vape dianggap lebih aman ketimbang mengonsumsi rokok konvensional, sebutlah kretek.<\/span>\r\n\r\nIsu lebih sehat tersebut terus-menerus dihembuskan kepada masyarakat, sehingga banyak penikmat rokok konvensional yang pindah menjadi \u2018vapers\u2019 (sebutan bagi penikmat vape). Bahkan bukan hanya perokok, banyak juga dari kalangan non-perokok yang memutuskan memilih menjadi vapers ketimbang perokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKemunculan vape sebenarnya sangat lumrah di era yang penuh inovasi ini. Kami pun para penikmat kretek biasa-biasa saja dengan fenomena produk alternatif tembakau. Jauh sebelum tren vape muncul di tengah masyarakat, di Eropa dan Amerika bahkan sudah lebih dulu muncul tren produk alternatif tembakau macam koyok nikotin atau permen karet nikotin.<\/span>\r\n\r\nNamun ketika isu produk alternatif, dalam hal ini vape diisukan lebih sehat ketimbang rokok konvensional, tentu ceritanya menjadi lain. Kami kretekus merespon dan tidak tinggal diam. Sebab hal tersebut sudah sampai pada konteks menyentuh eksistensi kami.<\/span>\r\n

Maka, mari kita bedah apakah benar produk alternatif macam vape ini lebih sehat?<\/span><\/h4>\r\nSebelum masuk kepada hasil-hasil riset kesehatan termutakhir, kami ingin menyinggung bahwa fenomena kemunculan produk alternatif tembakau, baik itu koyok nikotin, permen nikotin, hingga vape, dalam konteks global kita sebut sebagai Nicotine War atau Perang Nikotin.<\/span>\r\n
Perang Nikotin adalah peperangan memperebutkan nikotin antara \u201czat nikotin alami dalam tembakau\u201d yang diwakili oleh industri rokok versus \u201csenyawa mirip nikotin\u201d dan \u201csarana pengantar nikotin\u201d yang diwakili oleh industri farmasi.<\/span><\/blockquote>\r\nKretek dan rokok konvensional lainnya merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan secara alami melalui tembakau tanpa perantara apapun. <\/span>\r\n\r\nSementara vape, koyok nikotin atau permen nikotin merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan melalui perantara, seperti dipanaskan dulu seperti uap atau mengekstraksi tembakau dan zat-zat lainnya dengan sedemikian rupa.<\/span>\r\n

Lalu bagaimana dengan riset termutakhir mengenai produk alternatif tembakau?<\/span><\/h4>\r\nPara peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai 'popcorn lung'. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/span>\r\n\r\nAda juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/span>\r\n\r\nPenelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/span>\r\n
\"Bahkan, dalam salah satu merek rokok elektronik ditemukan 10 kali tingkat karsinogen dibandingkan satu batang rokok biasa,\" tutur seorang peneliti dari National Institute of Public Health, Jepang dr. Naoki Kunugita seperti dilansir laman Daily Mail<\/span><\/blockquote>\r\nItu baru dari hasil riset kesehatan, belum jika melihat faktor risiko berbahaya lainnya, seperti meledaknya alat vapor atau kandungan logam berbahaya yang ada di alat vapor.<\/span>\r\n\r\nAlat vapor dapat meledak. Ledakan dapat terjadi karena pemanasan berlebih dari baterai lithium ion yang digunakan untuk menggerakkan vape. Ledakan ini berbahaya dan dapat membunuh. <\/span>\r\n\r\nKejadian meledaknya vape ini pernah terjadi menimpa vapers bernama Kenneth Barbero dari Albany. Kenneth menjadi korban ledakan vape dan mengalami luka parah. Dalam sebuah wawancara, Kenneth menjelaskan bahwa ledakan itu merobek lidahnya, tangannya yang mengalami luka bakar dan beberapa giginya hilang.<\/span>\r\n\r\nLedakan seperti itu tidak akan pernah terjadi dan tidak akan pernah menghantui kretekus. Sebab mengonsumsi kretek tidak memerlukan daya listrik apapun. Mengonsumsi kretek sama dengan mengonsumsi tembakau secara alami, dan jangan lupakan komponen cengkeh dan rempah lainnya yang juga terkandung di dalam kretek.<\/span>\r\n\r\nMaka jika melihat fenomena bahayanya mengonsumsi produk alternatif tembakau macam vape dari kacamata riset kesehatan dan pengalaman korban, sungguh miris rasanya jika kampanye \u2018lebih sehat\u2019 masih dihembus-hembuskan kepada masyarakat.<\/span>\r\n\r\nWalaupun terdapat riset kesehatan yang menunjang kampanye \u2018lebih sehat\u2019 tersebut, tentu riset tersebut belum kredibel, sebab sebuah produk bisa dikatakan berbahaya atau berisiko tidak hanya dilihat dari riset pendek saja.<\/strong> Dampak kesehatan akan terlihat bukan dalam kurun waktu 1-2 tahun. Dalam kurun waktu puluhan tahun barulah dampak kesehatan bisa terlihat.<\/span>\r\n\r\nKretek sebagai produk konsumsi yang telah ada sejak berabad-abad lamanya, memiliki pembuktian bahwa produk ini terus bertahan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat. Artinya dari sisi kesehatan, masyarakat sudah mengetahui apa risiko dalam mengonsumsinya dan memberikan dampak apa saja kepada tubuh manusia.<\/span>\r\n\r\nSementara vape yang kelahirannya baru seumur jagung, belum pantas untuk meneriakkan slogan \u201cproduk alternatif tembakau lebih sehat ketimbang kretek atau rokok konvensional\u201d. Karena slogan mereka masih mitos dan belum bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.<\/span>","post_title":"Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"benarkah-produk-alternatif-tembakau-lebih-sehat-daripada-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:50:31","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:50:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5377,"post_author":"878","post_date":"2019-01-31 08:59:05","post_date_gmt":"2019-01-31 01:59:05","post_content":"Sejarah mencatat aktivitas manusia mengisap
rokok<\/a> yang mereka produksi dari daun tembakau sudah berlangsung setidaknya sejak 4000 tahun yang lalu. Atau pada 2000 Sebelum Masehi. Adalah ratusan suku-suku yang menghuni Benua Amerika lebih tepatnya Amerika Selatan yang memulai itu. Suku-suku yang oleh bangsa barat dengan mudahnya digolongkan dalam satu suku saja yaitu Suku Indian, padahal penamaan ini terjadi karena kesalahan semata, Kesalahan yang dilakukan oleh Christoper Colombus ketika melakukan petualangannya.<\/span>\r\n\r\nSuku-suku itu memanfaatkan tembakau yang diolah menjadi rokok untuk dikonsumsi dalam keseharian mereka. Selain itu tembakau digunakan sebagai media penyambutan, penerimaan dan perdamaian antar suku, juga digunakan untuk mengobati beberapa penyakit. Dukun-dukun menggunakan daun tembakau untuk mengobati pasiennya, baik dengan cara dibalurkan, atau lewat asap rokok yang mereka buat dari daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPada abad ke-15 hingga ke-16, para penjelajah Eropa mengenalkan tanaman tembakau dan aktivitas merokok ke tempat-tempat yang mereka datangi di dunia. Termasuk Indonesia. Memang ada yang bilang kebiasaan merokok di negeri ini sudah ada jauh sebelum aktivitas merokok diperkenalkan penjelajah dan penjajah Eropa, meskipun bukan dengan daun tembakau. Yang jelas, kebiasaan merokok tembakau di negeri ini begitu masif usai penjelajah dan penjajah mengenalkan kebiasaan merokok menggunakan daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPersebaran tembakau dan aktivitas merokok ke berbagai lokasi di penjuru bumi, memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan varian-varian cara dalam menikmati rokok tembakau. Pun begitu dengan di Nusantara. Aktivitas merokok tembakau memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan khas di banyak tempat, juga improvisasi-improvisasi cara dan bahan tambahan ketika menikmati rokok tembakau.<\/span>\r\n

Tak sekadar tembakau, masyarakat Nusantara menambahkan beberapa bahan lain selain tembakau dalam rokok yang mereka isap.Yang paling fenomenal adalah temuan rokok kretek yang pada akhirnya hingga saat ini berhasil menguasai lebih dari 90 persen pasar rokok Indonesia.<\/span><\/blockquote>\r\nBerawal dari ketidaksengajaan Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke rokok tembakaunya, campuran tembakau dan cengkeh yang menjadikan produk baru bernama rokok kretek, yang namanya diambil dari suaranya ketika campuran tembakau kering dan cengkeh kering dibakar, keretek-keretek, kemretek, berkembang pesat pada abad 20. Djamhari ketika itu sakit sesak napas. Sudah beberapa hari sakitnya tak kunjung sembuh. Setelah mengoleskan minyak cengkeh ke rokok yang ia isap, karena merasakan ada perubahan dari sakit yang ia rasa, kemudian Djamhari tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh, namun mencampurkan cengkeh kering dengan tembakau pada rokok yang ia isap. Penyakitnya berangsur menghilang dan ia sembuh.<\/span>\r\n\r\nVarian, improviasi dan kreativitas baru di seputar aktivitas merokok terus berkembang seiring perjalanan waktu dan perkembangan kemajuan teknologi. Persilangan antara kegemaran merokok dan perkembangan teknologi menghasilkan ragam rupa kreativitas dalam merokok dan mengonsumsi produk-produk tembakau. Kini ada rokok non-asap, nikotin tempel seperti koyo, tembakau kunyah, nikotin permen, dan ragam rupa kreasi lainnya. Inovasi ini kian menjadi saat kampanye bahaya rokok konvensional dan terutama bahaya rokok kretek terus-menerus didengungkan di penjuru bumi.<\/span>\r\n\r\nYang terbaru, setidaknya dalam empat tahun belakangan cukup berkembang di Indonesia, terutama di beberapa tempat di kota besar, adalah rokok elektrik atau yang lazim disebut <\/span>vape\/vaping<\/span><\/i>. Masuknya rokok elektrik ini bersamaan dengan serangan besar-besaran terhadap rokok kretek lewat kampanye yang menyebutkan rokok kretek sama sekali tidak baik untuk kesehatan. Rokok elektrik masuk dan digembar-gemborkan sebagai produk alternatif.<\/span>\r\n\r\nHingga sempat ada masanya, rokok elektrik ini dikampanyekan dan digunakan sebagai alat antara untuk meninggalkan produk rokok konvensional. Terapi berhenti merokok dengan berpindah dari rokok konvensional ke rokok kretek. Kampanye ini selalu menyebutkan bahwasanya rokok elektrik lebih baik dari rokok konvensional. Lebih sehat. Tetapi apakah memang benar seperti itu?<\/span>\r\n\r\nMungkin penjabaran data bahan baku rokok kretek dan rokok elektrik di bawah ini bisa membantu anda menemukan jawabannya sendiri.<\/span>\r\n

Rokok Kretek<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: Eko Susanto\/Rokok Indonesia[\/caption]\r\n\r\nDua bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh. Selain keduanya, setiap pabrikan memiliki bahan baku tambahannya sendiri yang membikin rokok kretek produksi mereka memiliki citarasa khasnya masing-masing. Para perokok yang biasa melinting sendiri rokok kreteknya lazim menyebutnya wur untuk tambahan bahan baku di luar tembakau dan cengkeh. Wur ini terdiri dari beberapa rempah-rempah sesuai dengan selera. Pabrikan-pabrikan rokok kretek meracik sendiri wur sebagai campuran tembakau dan cengkeh pada rokok kretek mereka. Wur ini kadang disebut perisa atau saus oleh pabrikan. Bahan bakunya mirip, campuran beberapa rempah-rempah.<\/span>\r\n\r\nBeberapa bahan baku lain selain cengkeh dan tembakau pada rokok kretek adalah: Kapulaga, kemenyan, daun sirih, kayu manis, kemukus, dan kelembak.<\/span>\r\n\r\nSelain bahan baku utama yang merupakan campuran tembakau, cengkeh, dan beberapa rempah lainnya yang lazim disebut saus, bahan penyusun rokok kretek lainnya adalah kertas atau yang lazim disebut sigaret. Bahan baku kertas sigaret adalah\u00a0<\/span>selulosa astetat.<\/span><\/i> Selulosa<\/span><\/i>\u00a0ini berasal dari serat tanama. Sebelum menjadi lembaran diolah menjadi\u00a0<\/span>pulp\u00a0<\/span><\/i>terlebih dulu. Unsur pelekat pada kertas dinamakan sideseam. Pelekat kertas tersebut merupakan pelekat\u00a0khusus\u00a0yang digunakan dalam jumlah yang sangat kecil.<\/span> Pada dasarnya kertas rokok atau kertas sigaret juga dilengkapi\u00a0<\/span>porforasi<\/span><\/i>\u00a0(kertas berlubang), di mana lubang ukurang mikro tersebut dapat menyedot udara luar sehingga kadar tar dan nikotin di dalam rokok turun.<\/span>\r\n\r\nSatu lagi bahan yang ada pada sebatang rokok kretek adalah busa filter, jika rokok kreteknya adalah rokok kretek filter. Bahan busa filter pada rokok kretek berasal dari aseto, tumbuhan jenis padi-padian yang banyak tumbuh di wilayah Eropa pasca musim dingin. Filter pada rokok kretek terbagi dari empat bagian,\u00a0<\/span>tow<\/span><\/i>\u00a0(rangkaian\u00a0<\/span>selulose asetat<\/span><\/i>\u00a0sebagai badan filter),\u00a0<\/span>plasticizer<\/span><\/i>\u00a0(zat pelunak untuk mengikat filter),\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>\u00a0(kertas pembungkus fiber filter) dan pelekat (sebagai pelekat\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>).<\/span>\r\n\r\nDari uraian ini, bisa dikatakan jika bahan baku utama dan bahan-bahan tambahan untuk rokok kretek semuanya merupakan bahan-bahan alami yang berasal dari alam. Produk herbal.<\/span>\r\n

Rokok Elektrik<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: testic.net[\/caption]\r\n\r\nBerbeda dengan rokok konvensional yang menggunakan prinsip pembakaran pada proses konsumsinya, rokok elektrik menggunakan prinsip penguapan. Oleh sebab itu produk ini lazim disebut vape karena prinsip reaksi yang bekerja berupa vaporizer.<\/span>\r\n\r\nAda empat elemen utama dalam sebuah produk rokok elektrik yang dikonsumsi. Cairan utama (liquid), wadah cairan (<\/span>cartridge<\/span><\/i>), atomizer atau pemanas, dan baterai.<\/span>\r\n\r\nCairan pada rokok elektrik terdiri dari campuran propilen glikol, gliserol, air, nikotin sintetis, dan perasa sintetis. Gliserol adalah bahan baku e-liquid, perannya adalah membantu proses vaporasi dari cairan (liquid) menjadi gas (asap). Gliserol adalah bahan kimia tanpa warna, tanpa bau, yang banyak digunakan di bidang farmasi. Bahan ini berbentuk cairan agak kental dan sedikit berasa manis. Propilen Glikol adalah bahan penguat rasa berbentuk cair\/ liquid. Pada umumnya dipakai pada essence makanan dan minuman ringan sebagai penguat. Sifatnya tidak berbau dan berasa manis. Liquid premium lokal atau import juga menggunakan ini.<\/span>\r\n\r\nAda dua kunci yang bisa menjadi acuan analisis terkait rokok kretek dan rokok elektrik dalam hubungannya dengan klaim rokok elektrik yang jauh lebih sehat dari rokok kretek dan rokok konvensional, bahkan rokok elektrik dianggap sebagai produk yang baik dipilih untuk meninggalkan kebiasaan merokok. Dua kunci itu adalah, bahan alami vs bahan sintetis, dan proses pembakaran rokok konvensional vs proses penguapan rokok elektrik. Dari dua kunci utama ini saja kita bisa tahu mana yang lebih baik sebenarnya.<\/span>","post_title":"Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbandingan-bahan-baku-kretek-dan-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-31 08:59:27","post_modified_gmt":"2019-01-31 01:59:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5377","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5371,"post_author":"877","post_date":"2019-01-30 10:12:38","post_date_gmt":"2019-01-30 03:12:38","post_content":"Pada abad 20 salah satu obat yang paling populer menjadi favorit orang adalah nikotin, berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mencoba dihisap, disentuh, dikunyah, atau dioleskan (diadaptasi dari sumber berita <\/span>www.vebma.com<\/span><\/a>).<\/span><\/em>\r\n\r\nRokok elektrik terpopuler dan menjadi trend saat ini adalah \u00a0jenis vape<\/a>, atau bisa disebut E-ciggarette. Sekitar tahun 2010, rokok jenis vape masuk ke Indonesia dengan membawa label sebagai rokok alternatif menggantikan rokok konvensional (rokok sigaret). Promosinya ditonjolkan sebagai rokok yang lebih aman dari pada rokok konvensional. <\/span>\r\n\r\nMemaknai pilihan diksi lebih aman, kira- kira urutannya begini, awalnya rokok konvensional aman, kemudian keberadaan rokok elektrik jenis vape lebih aman. Rokok elektrik adalah inovasi rokok konvensioanal. <\/strong>\r\n\r\nPerlu diketahui, sistem pembakaran pada rokok elektrik memakai listrik berupa battre dengan memakai elemen pemanas <\/span>atomizer atau cartomizer<\/span><\/i>, bahan utamanya berbasis proses kimia. Rokok konvensional memakai pembakaran berupa api, bahan utamanya memakai tumbuhan asli berupa tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan keduanya. Saya beri contoh sebagai pembanding, air minum dari hasil proses memakai alat heater pemanas listrik, dengan air minum dari hasil pemanas konvensional (pakai api), kira-kira lebih aman, lebih sehat mana? Kira-kira anda pilih yang elektrik atau konvensiobal, silahkan anda memilih dan menilai sesuai pengalaman masing-masing.<\/span>\r\n\r\nKembali kepersoalan promosi rokok vape di Indonesia, saat vape mulai naik daun banyak lembaga riset melakukan studi kelayakan. Hasilnya pun terjadi perdebatan, ada lembaga yang dipimpin Profesor David Thickett dari Universitas Birmingham mengatakan, mengisap rokok elektrik atau yang lebih dikenal dengan istilah\u00a0<\/span>vaping<\/span><\/i>\u00a0bisa merusak sel-sel sistem kekebalan tubuh dan amat mungkin lebih berbahaya dari yang semula diperkirakan. Ada pula yang mengatakan merokok vape menghindarkan dari risiko penyakit jantung dan kanker. <\/span>\r\n\r\nAnehnya, Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia, juga ikut melakukan uji dengan hasilnya bahwa vape dinilai memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok yang dikonsumi dengan dibakar. Disini tidak akan membahas berlarut larut tentang perbedaan hasil uji rokok vape (elektrik), bahkan tidak akan membahas pertanyaan ada apa lembaga penguji tersebut. \u00a0.<\/span>\r\n\r\nLogika sederhana, memakan dan minum dari bahan natural proses konvensional, dibanding bahan kimia dengan proses pemanas listrik, baik mana? Air proses natural (air mineral) dengan air kemasan lain beraroma (proses kimia) sehat yang mana?. Dua pertanyaan ini sebagai pembanding dalam mengambil keputusan dan penilaian antara rokok elektrik (vape) dengan rokok konvensioanl.<\/span>\r\n
Usaha promosi rokok vape, dengan membangun cerita opini, bahwa penemu rokok elektrik\/vape (e-ciggarette) bernama Hon Lik seorang pecandu rokok konvensional berat yang menderita penyakit infeksi pernafasan, sering batuk batuk dan\u00a0bersin sehingga kesulitan untuk tidur. Kemudian pada tahun 2003 menciptakan rokok elektrik sebagai pengganti rokok konvensional. <\/span><\/blockquote>\r\nOpini yang dibangun seakan-akan akibat rokok konvensioanl, Hon Lik menderita penyakit, yang kemudian dengan hasil ciptaannya (rokok elektrik), Hon Lik tidak sakit lagi. Pertanyaan pertama, jenis rokok konvensional apa yang dikonsumsi Hon Lik? dugaan terkuat bukan rokok kretek yang saat itu dikonsumsi. Jika rokok kretek yang dikonsumsi keadaan Hon Lik jadi lain, karena rokok kretek awal mulanya diciptakan sebagai obat batuk, sesak nafas dan lain-lain. Masih ingat dahulu ada rokok kretek yang bungkusnya tertulis \u201cdapat meredekan batuk\u201d. Tidak lain adalah rokok kretek Dji Sam Soe. Tulisan tersebut, masih diyakini banyak orang, saat batuk mereka akan merokok Dji Sam Soe, saat batuk reda, mereka merokok selera semula.<\/span>\r\n\r\nPertanyaan kedua, apakah benar hanya gara-gara merokok konvensioanl Hon Lik menderita sakit? jangan-jangan ada faktor lain menjadi penyebab. Bisa jadi penyakit turunan\/genetik, akibat <\/span>kerusakan pada gen dalam tubuh. Buktinya diceritakan bahwa ayah Hon Lik <\/span>mengidap penyakit kanker paru paru. Dan mungkin bapak dari bapaknya Hon Lik dan seterusnya, juga demikian mengidap penyakit yang sama.<\/span>\r\n\r\n\"\"\r\n\r\nFakta sejarah berkata lain, teknik vaping sudah dikenal sejak Mesir kuno, kemudian tahun 1927 <\/span>Joseph Robinson menggagas \u201cmerokok tanpa rokok\u201d, hingga populer. Baru pada tahun 2003, Hon Lik membuat perusahan e-cig modern di Tionghoa (Cina). Jadi Hon Lik bukanlah orang yang pertama atau pencipta teknik vaping untuk rokok, hanya saja Hon Lik bisa membaca peluang tersebut, apa lagi ia adalah seorang apoteker. Ia pasti mengetahui mafaat nikotin untuk tubuh manusia, sehingga ia memproduksi massal rokok bernikotin yang inovatif dengan kombinasi teknik vaping.<\/span>\r\n\r\nDilansir dari www. Vebma.com, bahwa salah satu obat yang paling populer dan favorit bagi orang adalah nikotin. Dengan demikian, orang telah mencoba berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mereka mencoba mengisapnya, menyentuhnya, mengunyahnya, atau mengoleskannya di kulit mereka. Anda bisa menemukan nikotin di tembakau. Banyak perangkat telah diciptakan untuk memuaskan obsesi orang terhadap nikotin. Kita hidup dalam masyarakat teknologi, Itu sebabnya baru-baru ini, vaporizers menjadi tren keren dengan berbagai selera dan bentuknya.<\/span>\r\n
Penguapan memiliki sejarah panjang. Herodotus menjelaskan, di Mesir (abad ke 5 SM) orang memanaskan ramuan dan minyak pada batu panas untuk vape. Oleh karena itu, kita harus mempercayai tentang asal mula vaping kuno. Kemudian, lebih dari 1500 tahun yang lalu, Irfan Shiekh menemukan shisha pertama. <\/span><\/blockquote>\r\nCerita opini saat ini tentang rokok elektrik (<\/span>vape) hanya bagian dari promosi semata. Dengan menjatuhkan rokok konvensional (rokok kretek), berharap penikmat rokok beralih ke elektrik (vape). Dengan dalil yang diwacanakan, lebih aman (menyehatkan). Cerita opini yang dibangun menafikan sejarah yang sesungguhnya, bahwa nikotin adalah salah satu obat, zat nikotin ada di daun tembakau. Hanya pada rokok konvensional (rokok kretek), bahan baku daun tembakau dan cengkeh dan proses pembakaran natural, lebih aman dan menyehatkan.<\/span>","post_title":"Meluruskan Sejarah Awal Mula Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"meluruskan-sejarah-awal-mula-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-30 10:13:19","post_modified_gmt":"2019-01-30 03:13:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5371","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5254,"post_author":"883","post_date":"2018-12-28 07:16:54","post_date_gmt":"2018-12-28 00:16:54","post_content":"Produk alternatif tembakau seperti vape<\/a> menjadi tren terbaru yang digandrungi masyarakat. Vape atau rokok elektrik naik pamor setelah dihembuskan isu bahwa mengkonsumsi vape dianggap lebih aman ketimbang mengonsumsi rokok konvensional, sebutlah kretek.<\/span>\r\n\r\nIsu lebih sehat tersebut terus-menerus dihembuskan kepada masyarakat, sehingga banyak penikmat rokok konvensional yang pindah menjadi \u2018vapers\u2019 (sebutan bagi penikmat vape). Bahkan bukan hanya perokok, banyak juga dari kalangan non-perokok yang memutuskan memilih menjadi vapers ketimbang perokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKemunculan vape sebenarnya sangat lumrah di era yang penuh inovasi ini. Kami pun para penikmat kretek biasa-biasa saja dengan fenomena produk alternatif tembakau. Jauh sebelum tren vape muncul di tengah masyarakat, di Eropa dan Amerika bahkan sudah lebih dulu muncul tren produk alternatif tembakau macam koyok nikotin atau permen karet nikotin.<\/span>\r\n\r\nNamun ketika isu produk alternatif, dalam hal ini vape diisukan lebih sehat ketimbang rokok konvensional, tentu ceritanya menjadi lain. Kami kretekus merespon dan tidak tinggal diam. Sebab hal tersebut sudah sampai pada konteks menyentuh eksistensi kami.<\/span>\r\n

Maka, mari kita bedah apakah benar produk alternatif macam vape ini lebih sehat?<\/span><\/h4>\r\nSebelum masuk kepada hasil-hasil riset kesehatan termutakhir, kami ingin menyinggung bahwa fenomena kemunculan produk alternatif tembakau, baik itu koyok nikotin, permen nikotin, hingga vape, dalam konteks global kita sebut sebagai Nicotine War atau Perang Nikotin.<\/span>\r\n
Perang Nikotin adalah peperangan memperebutkan nikotin antara \u201czat nikotin alami dalam tembakau\u201d yang diwakili oleh industri rokok versus \u201csenyawa mirip nikotin\u201d dan \u201csarana pengantar nikotin\u201d yang diwakili oleh industri farmasi.<\/span><\/blockquote>\r\nKretek dan rokok konvensional lainnya merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan secara alami melalui tembakau tanpa perantara apapun. <\/span>\r\n\r\nSementara vape, koyok nikotin atau permen nikotin merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan melalui perantara, seperti dipanaskan dulu seperti uap atau mengekstraksi tembakau dan zat-zat lainnya dengan sedemikian rupa.<\/span>\r\n

Lalu bagaimana dengan riset termutakhir mengenai produk alternatif tembakau?<\/span><\/h4>\r\nPara peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai 'popcorn lung'. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/span>\r\n\r\nAda juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/span>\r\n\r\nPenelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/span>\r\n
\"Bahkan, dalam salah satu merek rokok elektronik ditemukan 10 kali tingkat karsinogen dibandingkan satu batang rokok biasa,\" tutur seorang peneliti dari National Institute of Public Health, Jepang dr. Naoki Kunugita seperti dilansir laman Daily Mail<\/span><\/blockquote>\r\nItu baru dari hasil riset kesehatan, belum jika melihat faktor risiko berbahaya lainnya, seperti meledaknya alat vapor atau kandungan logam berbahaya yang ada di alat vapor.<\/span>\r\n\r\nAlat vapor dapat meledak. Ledakan dapat terjadi karena pemanasan berlebih dari baterai lithium ion yang digunakan untuk menggerakkan vape. Ledakan ini berbahaya dan dapat membunuh. <\/span>\r\n\r\nKejadian meledaknya vape ini pernah terjadi menimpa vapers bernama Kenneth Barbero dari Albany. Kenneth menjadi korban ledakan vape dan mengalami luka parah. Dalam sebuah wawancara, Kenneth menjelaskan bahwa ledakan itu merobek lidahnya, tangannya yang mengalami luka bakar dan beberapa giginya hilang.<\/span>\r\n\r\nLedakan seperti itu tidak akan pernah terjadi dan tidak akan pernah menghantui kretekus. Sebab mengonsumsi kretek tidak memerlukan daya listrik apapun. Mengonsumsi kretek sama dengan mengonsumsi tembakau secara alami, dan jangan lupakan komponen cengkeh dan rempah lainnya yang juga terkandung di dalam kretek.<\/span>\r\n\r\nMaka jika melihat fenomena bahayanya mengonsumsi produk alternatif tembakau macam vape dari kacamata riset kesehatan dan pengalaman korban, sungguh miris rasanya jika kampanye \u2018lebih sehat\u2019 masih dihembus-hembuskan kepada masyarakat.<\/span>\r\n\r\nWalaupun terdapat riset kesehatan yang menunjang kampanye \u2018lebih sehat\u2019 tersebut, tentu riset tersebut belum kredibel, sebab sebuah produk bisa dikatakan berbahaya atau berisiko tidak hanya dilihat dari riset pendek saja.<\/strong> Dampak kesehatan akan terlihat bukan dalam kurun waktu 1-2 tahun. Dalam kurun waktu puluhan tahun barulah dampak kesehatan bisa terlihat.<\/span>\r\n\r\nKretek sebagai produk konsumsi yang telah ada sejak berabad-abad lamanya, memiliki pembuktian bahwa produk ini terus bertahan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat. Artinya dari sisi kesehatan, masyarakat sudah mengetahui apa risiko dalam mengonsumsinya dan memberikan dampak apa saja kepada tubuh manusia.<\/span>\r\n\r\nSementara vape yang kelahirannya baru seumur jagung, belum pantas untuk meneriakkan slogan \u201cproduk alternatif tembakau lebih sehat ketimbang kretek atau rokok konvensional\u201d. Karena slogan mereka masih mitos dan belum bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.<\/span>","post_title":"Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"benarkah-produk-alternatif-tembakau-lebih-sehat-daripada-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:50:31","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:50:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5377,"post_author":"878","post_date":"2019-01-31 08:59:05","post_date_gmt":"2019-01-31 01:59:05","post_content":"Sejarah mencatat aktivitas manusia mengisap
rokok<\/a> yang mereka produksi dari daun tembakau sudah berlangsung setidaknya sejak 4000 tahun yang lalu. Atau pada 2000 Sebelum Masehi. Adalah ratusan suku-suku yang menghuni Benua Amerika lebih tepatnya Amerika Selatan yang memulai itu. Suku-suku yang oleh bangsa barat dengan mudahnya digolongkan dalam satu suku saja yaitu Suku Indian, padahal penamaan ini terjadi karena kesalahan semata, Kesalahan yang dilakukan oleh Christoper Colombus ketika melakukan petualangannya.<\/span>\r\n\r\nSuku-suku itu memanfaatkan tembakau yang diolah menjadi rokok untuk dikonsumsi dalam keseharian mereka. Selain itu tembakau digunakan sebagai media penyambutan, penerimaan dan perdamaian antar suku, juga digunakan untuk mengobati beberapa penyakit. Dukun-dukun menggunakan daun tembakau untuk mengobati pasiennya, baik dengan cara dibalurkan, atau lewat asap rokok yang mereka buat dari daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPada abad ke-15 hingga ke-16, para penjelajah Eropa mengenalkan tanaman tembakau dan aktivitas merokok ke tempat-tempat yang mereka datangi di dunia. Termasuk Indonesia. Memang ada yang bilang kebiasaan merokok di negeri ini sudah ada jauh sebelum aktivitas merokok diperkenalkan penjelajah dan penjajah Eropa, meskipun bukan dengan daun tembakau. Yang jelas, kebiasaan merokok tembakau di negeri ini begitu masif usai penjelajah dan penjajah mengenalkan kebiasaan merokok menggunakan daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPersebaran tembakau dan aktivitas merokok ke berbagai lokasi di penjuru bumi, memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan varian-varian cara dalam menikmati rokok tembakau. Pun begitu dengan di Nusantara. Aktivitas merokok tembakau memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan khas di banyak tempat, juga improvisasi-improvisasi cara dan bahan tambahan ketika menikmati rokok tembakau.<\/span>\r\n

Tak sekadar tembakau, masyarakat Nusantara menambahkan beberapa bahan lain selain tembakau dalam rokok yang mereka isap.Yang paling fenomenal adalah temuan rokok kretek yang pada akhirnya hingga saat ini berhasil menguasai lebih dari 90 persen pasar rokok Indonesia.<\/span><\/blockquote>\r\nBerawal dari ketidaksengajaan Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke rokok tembakaunya, campuran tembakau dan cengkeh yang menjadikan produk baru bernama rokok kretek, yang namanya diambil dari suaranya ketika campuran tembakau kering dan cengkeh kering dibakar, keretek-keretek, kemretek, berkembang pesat pada abad 20. Djamhari ketika itu sakit sesak napas. Sudah beberapa hari sakitnya tak kunjung sembuh. Setelah mengoleskan minyak cengkeh ke rokok yang ia isap, karena merasakan ada perubahan dari sakit yang ia rasa, kemudian Djamhari tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh, namun mencampurkan cengkeh kering dengan tembakau pada rokok yang ia isap. Penyakitnya berangsur menghilang dan ia sembuh.<\/span>\r\n\r\nVarian, improviasi dan kreativitas baru di seputar aktivitas merokok terus berkembang seiring perjalanan waktu dan perkembangan kemajuan teknologi. Persilangan antara kegemaran merokok dan perkembangan teknologi menghasilkan ragam rupa kreativitas dalam merokok dan mengonsumsi produk-produk tembakau. Kini ada rokok non-asap, nikotin tempel seperti koyo, tembakau kunyah, nikotin permen, dan ragam rupa kreasi lainnya. Inovasi ini kian menjadi saat kampanye bahaya rokok konvensional dan terutama bahaya rokok kretek terus-menerus didengungkan di penjuru bumi.<\/span>\r\n\r\nYang terbaru, setidaknya dalam empat tahun belakangan cukup berkembang di Indonesia, terutama di beberapa tempat di kota besar, adalah rokok elektrik atau yang lazim disebut <\/span>vape\/vaping<\/span><\/i>. Masuknya rokok elektrik ini bersamaan dengan serangan besar-besaran terhadap rokok kretek lewat kampanye yang menyebutkan rokok kretek sama sekali tidak baik untuk kesehatan. Rokok elektrik masuk dan digembar-gemborkan sebagai produk alternatif.<\/span>\r\n\r\nHingga sempat ada masanya, rokok elektrik ini dikampanyekan dan digunakan sebagai alat antara untuk meninggalkan produk rokok konvensional. Terapi berhenti merokok dengan berpindah dari rokok konvensional ke rokok kretek. Kampanye ini selalu menyebutkan bahwasanya rokok elektrik lebih baik dari rokok konvensional. Lebih sehat. Tetapi apakah memang benar seperti itu?<\/span>\r\n\r\nMungkin penjabaran data bahan baku rokok kretek dan rokok elektrik di bawah ini bisa membantu anda menemukan jawabannya sendiri.<\/span>\r\n

Rokok Kretek<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: Eko Susanto\/Rokok Indonesia[\/caption]\r\n\r\nDua bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh. Selain keduanya, setiap pabrikan memiliki bahan baku tambahannya sendiri yang membikin rokok kretek produksi mereka memiliki citarasa khasnya masing-masing. Para perokok yang biasa melinting sendiri rokok kreteknya lazim menyebutnya wur untuk tambahan bahan baku di luar tembakau dan cengkeh. Wur ini terdiri dari beberapa rempah-rempah sesuai dengan selera. Pabrikan-pabrikan rokok kretek meracik sendiri wur sebagai campuran tembakau dan cengkeh pada rokok kretek mereka. Wur ini kadang disebut perisa atau saus oleh pabrikan. Bahan bakunya mirip, campuran beberapa rempah-rempah.<\/span>\r\n\r\nBeberapa bahan baku lain selain cengkeh dan tembakau pada rokok kretek adalah: Kapulaga, kemenyan, daun sirih, kayu manis, kemukus, dan kelembak.<\/span>\r\n\r\nSelain bahan baku utama yang merupakan campuran tembakau, cengkeh, dan beberapa rempah lainnya yang lazim disebut saus, bahan penyusun rokok kretek lainnya adalah kertas atau yang lazim disebut sigaret. Bahan baku kertas sigaret adalah\u00a0<\/span>selulosa astetat.<\/span><\/i> Selulosa<\/span><\/i>\u00a0ini berasal dari serat tanama. Sebelum menjadi lembaran diolah menjadi\u00a0<\/span>pulp\u00a0<\/span><\/i>terlebih dulu. Unsur pelekat pada kertas dinamakan sideseam. Pelekat kertas tersebut merupakan pelekat\u00a0khusus\u00a0yang digunakan dalam jumlah yang sangat kecil.<\/span> Pada dasarnya kertas rokok atau kertas sigaret juga dilengkapi\u00a0<\/span>porforasi<\/span><\/i>\u00a0(kertas berlubang), di mana lubang ukurang mikro tersebut dapat menyedot udara luar sehingga kadar tar dan nikotin di dalam rokok turun.<\/span>\r\n\r\nSatu lagi bahan yang ada pada sebatang rokok kretek adalah busa filter, jika rokok kreteknya adalah rokok kretek filter. Bahan busa filter pada rokok kretek berasal dari aseto, tumbuhan jenis padi-padian yang banyak tumbuh di wilayah Eropa pasca musim dingin. Filter pada rokok kretek terbagi dari empat bagian,\u00a0<\/span>tow<\/span><\/i>\u00a0(rangkaian\u00a0<\/span>selulose asetat<\/span><\/i>\u00a0sebagai badan filter),\u00a0<\/span>plasticizer<\/span><\/i>\u00a0(zat pelunak untuk mengikat filter),\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>\u00a0(kertas pembungkus fiber filter) dan pelekat (sebagai pelekat\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>).<\/span>\r\n\r\nDari uraian ini, bisa dikatakan jika bahan baku utama dan bahan-bahan tambahan untuk rokok kretek semuanya merupakan bahan-bahan alami yang berasal dari alam. Produk herbal.<\/span>\r\n

Rokok Elektrik<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: testic.net[\/caption]\r\n\r\nBerbeda dengan rokok konvensional yang menggunakan prinsip pembakaran pada proses konsumsinya, rokok elektrik menggunakan prinsip penguapan. Oleh sebab itu produk ini lazim disebut vape karena prinsip reaksi yang bekerja berupa vaporizer.<\/span>\r\n\r\nAda empat elemen utama dalam sebuah produk rokok elektrik yang dikonsumsi. Cairan utama (liquid), wadah cairan (<\/span>cartridge<\/span><\/i>), atomizer atau pemanas, dan baterai.<\/span>\r\n\r\nCairan pada rokok elektrik terdiri dari campuran propilen glikol, gliserol, air, nikotin sintetis, dan perasa sintetis. Gliserol adalah bahan baku e-liquid, perannya adalah membantu proses vaporasi dari cairan (liquid) menjadi gas (asap). Gliserol adalah bahan kimia tanpa warna, tanpa bau, yang banyak digunakan di bidang farmasi. Bahan ini berbentuk cairan agak kental dan sedikit berasa manis. Propilen Glikol adalah bahan penguat rasa berbentuk cair\/ liquid. Pada umumnya dipakai pada essence makanan dan minuman ringan sebagai penguat. Sifatnya tidak berbau dan berasa manis. Liquid premium lokal atau import juga menggunakan ini.<\/span>\r\n\r\nAda dua kunci yang bisa menjadi acuan analisis terkait rokok kretek dan rokok elektrik dalam hubungannya dengan klaim rokok elektrik yang jauh lebih sehat dari rokok kretek dan rokok konvensional, bahkan rokok elektrik dianggap sebagai produk yang baik dipilih untuk meninggalkan kebiasaan merokok. Dua kunci itu adalah, bahan alami vs bahan sintetis, dan proses pembakaran rokok konvensional vs proses penguapan rokok elektrik. Dari dua kunci utama ini saja kita bisa tahu mana yang lebih baik sebenarnya.<\/span>","post_title":"Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbandingan-bahan-baku-kretek-dan-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-31 08:59:27","post_modified_gmt":"2019-01-31 01:59:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5377","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5371,"post_author":"877","post_date":"2019-01-30 10:12:38","post_date_gmt":"2019-01-30 03:12:38","post_content":"Pada abad 20 salah satu obat yang paling populer menjadi favorit orang adalah nikotin, berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mencoba dihisap, disentuh, dikunyah, atau dioleskan (diadaptasi dari sumber berita <\/span>www.vebma.com<\/span><\/a>).<\/span><\/em>\r\n\r\nRokok elektrik terpopuler dan menjadi trend saat ini adalah \u00a0jenis vape<\/a>, atau bisa disebut E-ciggarette. Sekitar tahun 2010, rokok jenis vape masuk ke Indonesia dengan membawa label sebagai rokok alternatif menggantikan rokok konvensional (rokok sigaret). Promosinya ditonjolkan sebagai rokok yang lebih aman dari pada rokok konvensional. <\/span>\r\n\r\nMemaknai pilihan diksi lebih aman, kira- kira urutannya begini, awalnya rokok konvensional aman, kemudian keberadaan rokok elektrik jenis vape lebih aman. Rokok elektrik adalah inovasi rokok konvensioanal. <\/strong>\r\n\r\nPerlu diketahui, sistem pembakaran pada rokok elektrik memakai listrik berupa battre dengan memakai elemen pemanas <\/span>atomizer atau cartomizer<\/span><\/i>, bahan utamanya berbasis proses kimia. Rokok konvensional memakai pembakaran berupa api, bahan utamanya memakai tumbuhan asli berupa tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan keduanya. Saya beri contoh sebagai pembanding, air minum dari hasil proses memakai alat heater pemanas listrik, dengan air minum dari hasil pemanas konvensional (pakai api), kira-kira lebih aman, lebih sehat mana? Kira-kira anda pilih yang elektrik atau konvensiobal, silahkan anda memilih dan menilai sesuai pengalaman masing-masing.<\/span>\r\n\r\nKembali kepersoalan promosi rokok vape di Indonesia, saat vape mulai naik daun banyak lembaga riset melakukan studi kelayakan. Hasilnya pun terjadi perdebatan, ada lembaga yang dipimpin Profesor David Thickett dari Universitas Birmingham mengatakan, mengisap rokok elektrik atau yang lebih dikenal dengan istilah\u00a0<\/span>vaping<\/span><\/i>\u00a0bisa merusak sel-sel sistem kekebalan tubuh dan amat mungkin lebih berbahaya dari yang semula diperkirakan. Ada pula yang mengatakan merokok vape menghindarkan dari risiko penyakit jantung dan kanker. <\/span>\r\n\r\nAnehnya, Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia, juga ikut melakukan uji dengan hasilnya bahwa vape dinilai memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok yang dikonsumi dengan dibakar. Disini tidak akan membahas berlarut larut tentang perbedaan hasil uji rokok vape (elektrik), bahkan tidak akan membahas pertanyaan ada apa lembaga penguji tersebut. \u00a0.<\/span>\r\n\r\nLogika sederhana, memakan dan minum dari bahan natural proses konvensional, dibanding bahan kimia dengan proses pemanas listrik, baik mana? Air proses natural (air mineral) dengan air kemasan lain beraroma (proses kimia) sehat yang mana?. Dua pertanyaan ini sebagai pembanding dalam mengambil keputusan dan penilaian antara rokok elektrik (vape) dengan rokok konvensioanl.<\/span>\r\n
Usaha promosi rokok vape, dengan membangun cerita opini, bahwa penemu rokok elektrik\/vape (e-ciggarette) bernama Hon Lik seorang pecandu rokok konvensional berat yang menderita penyakit infeksi pernafasan, sering batuk batuk dan\u00a0bersin sehingga kesulitan untuk tidur. Kemudian pada tahun 2003 menciptakan rokok elektrik sebagai pengganti rokok konvensional. <\/span><\/blockquote>\r\nOpini yang dibangun seakan-akan akibat rokok konvensioanl, Hon Lik menderita penyakit, yang kemudian dengan hasil ciptaannya (rokok elektrik), Hon Lik tidak sakit lagi. Pertanyaan pertama, jenis rokok konvensional apa yang dikonsumsi Hon Lik? dugaan terkuat bukan rokok kretek yang saat itu dikonsumsi. Jika rokok kretek yang dikonsumsi keadaan Hon Lik jadi lain, karena rokok kretek awal mulanya diciptakan sebagai obat batuk, sesak nafas dan lain-lain. Masih ingat dahulu ada rokok kretek yang bungkusnya tertulis \u201cdapat meredekan batuk\u201d. Tidak lain adalah rokok kretek Dji Sam Soe. Tulisan tersebut, masih diyakini banyak orang, saat batuk mereka akan merokok Dji Sam Soe, saat batuk reda, mereka merokok selera semula.<\/span>\r\n\r\nPertanyaan kedua, apakah benar hanya gara-gara merokok konvensioanl Hon Lik menderita sakit? jangan-jangan ada faktor lain menjadi penyebab. Bisa jadi penyakit turunan\/genetik, akibat <\/span>kerusakan pada gen dalam tubuh. Buktinya diceritakan bahwa ayah Hon Lik <\/span>mengidap penyakit kanker paru paru. Dan mungkin bapak dari bapaknya Hon Lik dan seterusnya, juga demikian mengidap penyakit yang sama.<\/span>\r\n\r\n\"\"\r\n\r\nFakta sejarah berkata lain, teknik vaping sudah dikenal sejak Mesir kuno, kemudian tahun 1927 <\/span>Joseph Robinson menggagas \u201cmerokok tanpa rokok\u201d, hingga populer. Baru pada tahun 2003, Hon Lik membuat perusahan e-cig modern di Tionghoa (Cina). Jadi Hon Lik bukanlah orang yang pertama atau pencipta teknik vaping untuk rokok, hanya saja Hon Lik bisa membaca peluang tersebut, apa lagi ia adalah seorang apoteker. Ia pasti mengetahui mafaat nikotin untuk tubuh manusia, sehingga ia memproduksi massal rokok bernikotin yang inovatif dengan kombinasi teknik vaping.<\/span>\r\n\r\nDilansir dari www. Vebma.com, bahwa salah satu obat yang paling populer dan favorit bagi orang adalah nikotin. Dengan demikian, orang telah mencoba berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mereka mencoba mengisapnya, menyentuhnya, mengunyahnya, atau mengoleskannya di kulit mereka. Anda bisa menemukan nikotin di tembakau. Banyak perangkat telah diciptakan untuk memuaskan obsesi orang terhadap nikotin. Kita hidup dalam masyarakat teknologi, Itu sebabnya baru-baru ini, vaporizers menjadi tren keren dengan berbagai selera dan bentuknya.<\/span>\r\n
Penguapan memiliki sejarah panjang. Herodotus menjelaskan, di Mesir (abad ke 5 SM) orang memanaskan ramuan dan minyak pada batu panas untuk vape. Oleh karena itu, kita harus mempercayai tentang asal mula vaping kuno. Kemudian, lebih dari 1500 tahun yang lalu, Irfan Shiekh menemukan shisha pertama. <\/span><\/blockquote>\r\nCerita opini saat ini tentang rokok elektrik (<\/span>vape) hanya bagian dari promosi semata. Dengan menjatuhkan rokok konvensional (rokok kretek), berharap penikmat rokok beralih ke elektrik (vape). Dengan dalil yang diwacanakan, lebih aman (menyehatkan). Cerita opini yang dibangun menafikan sejarah yang sesungguhnya, bahwa nikotin adalah salah satu obat, zat nikotin ada di daun tembakau. Hanya pada rokok konvensional (rokok kretek), bahan baku daun tembakau dan cengkeh dan proses pembakaran natural, lebih aman dan menyehatkan.<\/span>","post_title":"Meluruskan Sejarah Awal Mula Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"meluruskan-sejarah-awal-mula-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-30 10:13:19","post_modified_gmt":"2019-01-30 03:13:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5371","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5254,"post_author":"883","post_date":"2018-12-28 07:16:54","post_date_gmt":"2018-12-28 00:16:54","post_content":"Produk alternatif tembakau seperti vape<\/a> menjadi tren terbaru yang digandrungi masyarakat. Vape atau rokok elektrik naik pamor setelah dihembuskan isu bahwa mengkonsumsi vape dianggap lebih aman ketimbang mengonsumsi rokok konvensional, sebutlah kretek.<\/span>\r\n\r\nIsu lebih sehat tersebut terus-menerus dihembuskan kepada masyarakat, sehingga banyak penikmat rokok konvensional yang pindah menjadi \u2018vapers\u2019 (sebutan bagi penikmat vape). Bahkan bukan hanya perokok, banyak juga dari kalangan non-perokok yang memutuskan memilih menjadi vapers ketimbang perokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKemunculan vape sebenarnya sangat lumrah di era yang penuh inovasi ini. Kami pun para penikmat kretek biasa-biasa saja dengan fenomena produk alternatif tembakau. Jauh sebelum tren vape muncul di tengah masyarakat, di Eropa dan Amerika bahkan sudah lebih dulu muncul tren produk alternatif tembakau macam koyok nikotin atau permen karet nikotin.<\/span>\r\n\r\nNamun ketika isu produk alternatif, dalam hal ini vape diisukan lebih sehat ketimbang rokok konvensional, tentu ceritanya menjadi lain. Kami kretekus merespon dan tidak tinggal diam. Sebab hal tersebut sudah sampai pada konteks menyentuh eksistensi kami.<\/span>\r\n

Maka, mari kita bedah apakah benar produk alternatif macam vape ini lebih sehat?<\/span><\/h4>\r\nSebelum masuk kepada hasil-hasil riset kesehatan termutakhir, kami ingin menyinggung bahwa fenomena kemunculan produk alternatif tembakau, baik itu koyok nikotin, permen nikotin, hingga vape, dalam konteks global kita sebut sebagai Nicotine War atau Perang Nikotin.<\/span>\r\n
Perang Nikotin adalah peperangan memperebutkan nikotin antara \u201czat nikotin alami dalam tembakau\u201d yang diwakili oleh industri rokok versus \u201csenyawa mirip nikotin\u201d dan \u201csarana pengantar nikotin\u201d yang diwakili oleh industri farmasi.<\/span><\/blockquote>\r\nKretek dan rokok konvensional lainnya merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan secara alami melalui tembakau tanpa perantara apapun. <\/span>\r\n\r\nSementara vape, koyok nikotin atau permen nikotin merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan melalui perantara, seperti dipanaskan dulu seperti uap atau mengekstraksi tembakau dan zat-zat lainnya dengan sedemikian rupa.<\/span>\r\n

Lalu bagaimana dengan riset termutakhir mengenai produk alternatif tembakau?<\/span><\/h4>\r\nPara peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai 'popcorn lung'. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/span>\r\n\r\nAda juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/span>\r\n\r\nPenelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/span>\r\n
\"Bahkan, dalam salah satu merek rokok elektronik ditemukan 10 kali tingkat karsinogen dibandingkan satu batang rokok biasa,\" tutur seorang peneliti dari National Institute of Public Health, Jepang dr. Naoki Kunugita seperti dilansir laman Daily Mail<\/span><\/blockquote>\r\nItu baru dari hasil riset kesehatan, belum jika melihat faktor risiko berbahaya lainnya, seperti meledaknya alat vapor atau kandungan logam berbahaya yang ada di alat vapor.<\/span>\r\n\r\nAlat vapor dapat meledak. Ledakan dapat terjadi karena pemanasan berlebih dari baterai lithium ion yang digunakan untuk menggerakkan vape. Ledakan ini berbahaya dan dapat membunuh. <\/span>\r\n\r\nKejadian meledaknya vape ini pernah terjadi menimpa vapers bernama Kenneth Barbero dari Albany. Kenneth menjadi korban ledakan vape dan mengalami luka parah. Dalam sebuah wawancara, Kenneth menjelaskan bahwa ledakan itu merobek lidahnya, tangannya yang mengalami luka bakar dan beberapa giginya hilang.<\/span>\r\n\r\nLedakan seperti itu tidak akan pernah terjadi dan tidak akan pernah menghantui kretekus. Sebab mengonsumsi kretek tidak memerlukan daya listrik apapun. Mengonsumsi kretek sama dengan mengonsumsi tembakau secara alami, dan jangan lupakan komponen cengkeh dan rempah lainnya yang juga terkandung di dalam kretek.<\/span>\r\n\r\nMaka jika melihat fenomena bahayanya mengonsumsi produk alternatif tembakau macam vape dari kacamata riset kesehatan dan pengalaman korban, sungguh miris rasanya jika kampanye \u2018lebih sehat\u2019 masih dihembus-hembuskan kepada masyarakat.<\/span>\r\n\r\nWalaupun terdapat riset kesehatan yang menunjang kampanye \u2018lebih sehat\u2019 tersebut, tentu riset tersebut belum kredibel, sebab sebuah produk bisa dikatakan berbahaya atau berisiko tidak hanya dilihat dari riset pendek saja.<\/strong> Dampak kesehatan akan terlihat bukan dalam kurun waktu 1-2 tahun. Dalam kurun waktu puluhan tahun barulah dampak kesehatan bisa terlihat.<\/span>\r\n\r\nKretek sebagai produk konsumsi yang telah ada sejak berabad-abad lamanya, memiliki pembuktian bahwa produk ini terus bertahan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat. Artinya dari sisi kesehatan, masyarakat sudah mengetahui apa risiko dalam mengonsumsinya dan memberikan dampak apa saja kepada tubuh manusia.<\/span>\r\n\r\nSementara vape yang kelahirannya baru seumur jagung, belum pantas untuk meneriakkan slogan \u201cproduk alternatif tembakau lebih sehat ketimbang kretek atau rokok konvensional\u201d. Karena slogan mereka masih mitos dan belum bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.<\/span>","post_title":"Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"benarkah-produk-alternatif-tembakau-lebih-sehat-daripada-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:50:31","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:50:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5377,"post_author":"878","post_date":"2019-01-31 08:59:05","post_date_gmt":"2019-01-31 01:59:05","post_content":"Sejarah mencatat aktivitas manusia mengisap
rokok<\/a> yang mereka produksi dari daun tembakau sudah berlangsung setidaknya sejak 4000 tahun yang lalu. Atau pada 2000 Sebelum Masehi. Adalah ratusan suku-suku yang menghuni Benua Amerika lebih tepatnya Amerika Selatan yang memulai itu. Suku-suku yang oleh bangsa barat dengan mudahnya digolongkan dalam satu suku saja yaitu Suku Indian, padahal penamaan ini terjadi karena kesalahan semata, Kesalahan yang dilakukan oleh Christoper Colombus ketika melakukan petualangannya.<\/span>\r\n\r\nSuku-suku itu memanfaatkan tembakau yang diolah menjadi rokok untuk dikonsumsi dalam keseharian mereka. Selain itu tembakau digunakan sebagai media penyambutan, penerimaan dan perdamaian antar suku, juga digunakan untuk mengobati beberapa penyakit. Dukun-dukun menggunakan daun tembakau untuk mengobati pasiennya, baik dengan cara dibalurkan, atau lewat asap rokok yang mereka buat dari daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPada abad ke-15 hingga ke-16, para penjelajah Eropa mengenalkan tanaman tembakau dan aktivitas merokok ke tempat-tempat yang mereka datangi di dunia. Termasuk Indonesia. Memang ada yang bilang kebiasaan merokok di negeri ini sudah ada jauh sebelum aktivitas merokok diperkenalkan penjelajah dan penjajah Eropa, meskipun bukan dengan daun tembakau. Yang jelas, kebiasaan merokok tembakau di negeri ini begitu masif usai penjelajah dan penjajah mengenalkan kebiasaan merokok menggunakan daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPersebaran tembakau dan aktivitas merokok ke berbagai lokasi di penjuru bumi, memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan varian-varian cara dalam menikmati rokok tembakau. Pun begitu dengan di Nusantara. Aktivitas merokok tembakau memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan khas di banyak tempat, juga improvisasi-improvisasi cara dan bahan tambahan ketika menikmati rokok tembakau.<\/span>\r\n

Tak sekadar tembakau, masyarakat Nusantara menambahkan beberapa bahan lain selain tembakau dalam rokok yang mereka isap.Yang paling fenomenal adalah temuan rokok kretek yang pada akhirnya hingga saat ini berhasil menguasai lebih dari 90 persen pasar rokok Indonesia.<\/span><\/blockquote>\r\nBerawal dari ketidaksengajaan Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke rokok tembakaunya, campuran tembakau dan cengkeh yang menjadikan produk baru bernama rokok kretek, yang namanya diambil dari suaranya ketika campuran tembakau kering dan cengkeh kering dibakar, keretek-keretek, kemretek, berkembang pesat pada abad 20. Djamhari ketika itu sakit sesak napas. Sudah beberapa hari sakitnya tak kunjung sembuh. Setelah mengoleskan minyak cengkeh ke rokok yang ia isap, karena merasakan ada perubahan dari sakit yang ia rasa, kemudian Djamhari tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh, namun mencampurkan cengkeh kering dengan tembakau pada rokok yang ia isap. Penyakitnya berangsur menghilang dan ia sembuh.<\/span>\r\n\r\nVarian, improviasi dan kreativitas baru di seputar aktivitas merokok terus berkembang seiring perjalanan waktu dan perkembangan kemajuan teknologi. Persilangan antara kegemaran merokok dan perkembangan teknologi menghasilkan ragam rupa kreativitas dalam merokok dan mengonsumsi produk-produk tembakau. Kini ada rokok non-asap, nikotin tempel seperti koyo, tembakau kunyah, nikotin permen, dan ragam rupa kreasi lainnya. Inovasi ini kian menjadi saat kampanye bahaya rokok konvensional dan terutama bahaya rokok kretek terus-menerus didengungkan di penjuru bumi.<\/span>\r\n\r\nYang terbaru, setidaknya dalam empat tahun belakangan cukup berkembang di Indonesia, terutama di beberapa tempat di kota besar, adalah rokok elektrik atau yang lazim disebut <\/span>vape\/vaping<\/span><\/i>. Masuknya rokok elektrik ini bersamaan dengan serangan besar-besaran terhadap rokok kretek lewat kampanye yang menyebutkan rokok kretek sama sekali tidak baik untuk kesehatan. Rokok elektrik masuk dan digembar-gemborkan sebagai produk alternatif.<\/span>\r\n\r\nHingga sempat ada masanya, rokok elektrik ini dikampanyekan dan digunakan sebagai alat antara untuk meninggalkan produk rokok konvensional. Terapi berhenti merokok dengan berpindah dari rokok konvensional ke rokok kretek. Kampanye ini selalu menyebutkan bahwasanya rokok elektrik lebih baik dari rokok konvensional. Lebih sehat. Tetapi apakah memang benar seperti itu?<\/span>\r\n\r\nMungkin penjabaran data bahan baku rokok kretek dan rokok elektrik di bawah ini bisa membantu anda menemukan jawabannya sendiri.<\/span>\r\n

Rokok Kretek<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: Eko Susanto\/Rokok Indonesia[\/caption]\r\n\r\nDua bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh. Selain keduanya, setiap pabrikan memiliki bahan baku tambahannya sendiri yang membikin rokok kretek produksi mereka memiliki citarasa khasnya masing-masing. Para perokok yang biasa melinting sendiri rokok kreteknya lazim menyebutnya wur untuk tambahan bahan baku di luar tembakau dan cengkeh. Wur ini terdiri dari beberapa rempah-rempah sesuai dengan selera. Pabrikan-pabrikan rokok kretek meracik sendiri wur sebagai campuran tembakau dan cengkeh pada rokok kretek mereka. Wur ini kadang disebut perisa atau saus oleh pabrikan. Bahan bakunya mirip, campuran beberapa rempah-rempah.<\/span>\r\n\r\nBeberapa bahan baku lain selain cengkeh dan tembakau pada rokok kretek adalah: Kapulaga, kemenyan, daun sirih, kayu manis, kemukus, dan kelembak.<\/span>\r\n\r\nSelain bahan baku utama yang merupakan campuran tembakau, cengkeh, dan beberapa rempah lainnya yang lazim disebut saus, bahan penyusun rokok kretek lainnya adalah kertas atau yang lazim disebut sigaret. Bahan baku kertas sigaret adalah\u00a0<\/span>selulosa astetat.<\/span><\/i> Selulosa<\/span><\/i>\u00a0ini berasal dari serat tanama. Sebelum menjadi lembaran diolah menjadi\u00a0<\/span>pulp\u00a0<\/span><\/i>terlebih dulu. Unsur pelekat pada kertas dinamakan sideseam. Pelekat kertas tersebut merupakan pelekat\u00a0khusus\u00a0yang digunakan dalam jumlah yang sangat kecil.<\/span> Pada dasarnya kertas rokok atau kertas sigaret juga dilengkapi\u00a0<\/span>porforasi<\/span><\/i>\u00a0(kertas berlubang), di mana lubang ukurang mikro tersebut dapat menyedot udara luar sehingga kadar tar dan nikotin di dalam rokok turun.<\/span>\r\n\r\nSatu lagi bahan yang ada pada sebatang rokok kretek adalah busa filter, jika rokok kreteknya adalah rokok kretek filter. Bahan busa filter pada rokok kretek berasal dari aseto, tumbuhan jenis padi-padian yang banyak tumbuh di wilayah Eropa pasca musim dingin. Filter pada rokok kretek terbagi dari empat bagian,\u00a0<\/span>tow<\/span><\/i>\u00a0(rangkaian\u00a0<\/span>selulose asetat<\/span><\/i>\u00a0sebagai badan filter),\u00a0<\/span>plasticizer<\/span><\/i>\u00a0(zat pelunak untuk mengikat filter),\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>\u00a0(kertas pembungkus fiber filter) dan pelekat (sebagai pelekat\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>).<\/span>\r\n\r\nDari uraian ini, bisa dikatakan jika bahan baku utama dan bahan-bahan tambahan untuk rokok kretek semuanya merupakan bahan-bahan alami yang berasal dari alam. Produk herbal.<\/span>\r\n

Rokok Elektrik<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: testic.net[\/caption]\r\n\r\nBerbeda dengan rokok konvensional yang menggunakan prinsip pembakaran pada proses konsumsinya, rokok elektrik menggunakan prinsip penguapan. Oleh sebab itu produk ini lazim disebut vape karena prinsip reaksi yang bekerja berupa vaporizer.<\/span>\r\n\r\nAda empat elemen utama dalam sebuah produk rokok elektrik yang dikonsumsi. Cairan utama (liquid), wadah cairan (<\/span>cartridge<\/span><\/i>), atomizer atau pemanas, dan baterai.<\/span>\r\n\r\nCairan pada rokok elektrik terdiri dari campuran propilen glikol, gliserol, air, nikotin sintetis, dan perasa sintetis. Gliserol adalah bahan baku e-liquid, perannya adalah membantu proses vaporasi dari cairan (liquid) menjadi gas (asap). Gliserol adalah bahan kimia tanpa warna, tanpa bau, yang banyak digunakan di bidang farmasi. Bahan ini berbentuk cairan agak kental dan sedikit berasa manis. Propilen Glikol adalah bahan penguat rasa berbentuk cair\/ liquid. Pada umumnya dipakai pada essence makanan dan minuman ringan sebagai penguat. Sifatnya tidak berbau dan berasa manis. Liquid premium lokal atau import juga menggunakan ini.<\/span>\r\n\r\nAda dua kunci yang bisa menjadi acuan analisis terkait rokok kretek dan rokok elektrik dalam hubungannya dengan klaim rokok elektrik yang jauh lebih sehat dari rokok kretek dan rokok konvensional, bahkan rokok elektrik dianggap sebagai produk yang baik dipilih untuk meninggalkan kebiasaan merokok. Dua kunci itu adalah, bahan alami vs bahan sintetis, dan proses pembakaran rokok konvensional vs proses penguapan rokok elektrik. Dari dua kunci utama ini saja kita bisa tahu mana yang lebih baik sebenarnya.<\/span>","post_title":"Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbandingan-bahan-baku-kretek-dan-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-31 08:59:27","post_modified_gmt":"2019-01-31 01:59:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5377","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5371,"post_author":"877","post_date":"2019-01-30 10:12:38","post_date_gmt":"2019-01-30 03:12:38","post_content":"Pada abad 20 salah satu obat yang paling populer menjadi favorit orang adalah nikotin, berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mencoba dihisap, disentuh, dikunyah, atau dioleskan (diadaptasi dari sumber berita <\/span>www.vebma.com<\/span><\/a>).<\/span><\/em>\r\n\r\nRokok elektrik terpopuler dan menjadi trend saat ini adalah \u00a0jenis vape<\/a>, atau bisa disebut E-ciggarette. Sekitar tahun 2010, rokok jenis vape masuk ke Indonesia dengan membawa label sebagai rokok alternatif menggantikan rokok konvensional (rokok sigaret). Promosinya ditonjolkan sebagai rokok yang lebih aman dari pada rokok konvensional. <\/span>\r\n\r\nMemaknai pilihan diksi lebih aman, kira- kira urutannya begini, awalnya rokok konvensional aman, kemudian keberadaan rokok elektrik jenis vape lebih aman. Rokok elektrik adalah inovasi rokok konvensioanal. <\/strong>\r\n\r\nPerlu diketahui, sistem pembakaran pada rokok elektrik memakai listrik berupa battre dengan memakai elemen pemanas <\/span>atomizer atau cartomizer<\/span><\/i>, bahan utamanya berbasis proses kimia. Rokok konvensional memakai pembakaran berupa api, bahan utamanya memakai tumbuhan asli berupa tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan keduanya. Saya beri contoh sebagai pembanding, air minum dari hasil proses memakai alat heater pemanas listrik, dengan air minum dari hasil pemanas konvensional (pakai api), kira-kira lebih aman, lebih sehat mana? Kira-kira anda pilih yang elektrik atau konvensiobal, silahkan anda memilih dan menilai sesuai pengalaman masing-masing.<\/span>\r\n\r\nKembali kepersoalan promosi rokok vape di Indonesia, saat vape mulai naik daun banyak lembaga riset melakukan studi kelayakan. Hasilnya pun terjadi perdebatan, ada lembaga yang dipimpin Profesor David Thickett dari Universitas Birmingham mengatakan, mengisap rokok elektrik atau yang lebih dikenal dengan istilah\u00a0<\/span>vaping<\/span><\/i>\u00a0bisa merusak sel-sel sistem kekebalan tubuh dan amat mungkin lebih berbahaya dari yang semula diperkirakan. Ada pula yang mengatakan merokok vape menghindarkan dari risiko penyakit jantung dan kanker. <\/span>\r\n\r\nAnehnya, Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia, juga ikut melakukan uji dengan hasilnya bahwa vape dinilai memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok yang dikonsumi dengan dibakar. Disini tidak akan membahas berlarut larut tentang perbedaan hasil uji rokok vape (elektrik), bahkan tidak akan membahas pertanyaan ada apa lembaga penguji tersebut. \u00a0.<\/span>\r\n\r\nLogika sederhana, memakan dan minum dari bahan natural proses konvensional, dibanding bahan kimia dengan proses pemanas listrik, baik mana? Air proses natural (air mineral) dengan air kemasan lain beraroma (proses kimia) sehat yang mana?. Dua pertanyaan ini sebagai pembanding dalam mengambil keputusan dan penilaian antara rokok elektrik (vape) dengan rokok konvensioanl.<\/span>\r\n
Usaha promosi rokok vape, dengan membangun cerita opini, bahwa penemu rokok elektrik\/vape (e-ciggarette) bernama Hon Lik seorang pecandu rokok konvensional berat yang menderita penyakit infeksi pernafasan, sering batuk batuk dan\u00a0bersin sehingga kesulitan untuk tidur. Kemudian pada tahun 2003 menciptakan rokok elektrik sebagai pengganti rokok konvensional. <\/span><\/blockquote>\r\nOpini yang dibangun seakan-akan akibat rokok konvensioanl, Hon Lik menderita penyakit, yang kemudian dengan hasil ciptaannya (rokok elektrik), Hon Lik tidak sakit lagi. Pertanyaan pertama, jenis rokok konvensional apa yang dikonsumsi Hon Lik? dugaan terkuat bukan rokok kretek yang saat itu dikonsumsi. Jika rokok kretek yang dikonsumsi keadaan Hon Lik jadi lain, karena rokok kretek awal mulanya diciptakan sebagai obat batuk, sesak nafas dan lain-lain. Masih ingat dahulu ada rokok kretek yang bungkusnya tertulis \u201cdapat meredekan batuk\u201d. Tidak lain adalah rokok kretek Dji Sam Soe. Tulisan tersebut, masih diyakini banyak orang, saat batuk mereka akan merokok Dji Sam Soe, saat batuk reda, mereka merokok selera semula.<\/span>\r\n\r\nPertanyaan kedua, apakah benar hanya gara-gara merokok konvensioanl Hon Lik menderita sakit? jangan-jangan ada faktor lain menjadi penyebab. Bisa jadi penyakit turunan\/genetik, akibat <\/span>kerusakan pada gen dalam tubuh. Buktinya diceritakan bahwa ayah Hon Lik <\/span>mengidap penyakit kanker paru paru. Dan mungkin bapak dari bapaknya Hon Lik dan seterusnya, juga demikian mengidap penyakit yang sama.<\/span>\r\n\r\n\"\"\r\n\r\nFakta sejarah berkata lain, teknik vaping sudah dikenal sejak Mesir kuno, kemudian tahun 1927 <\/span>Joseph Robinson menggagas \u201cmerokok tanpa rokok\u201d, hingga populer. Baru pada tahun 2003, Hon Lik membuat perusahan e-cig modern di Tionghoa (Cina). Jadi Hon Lik bukanlah orang yang pertama atau pencipta teknik vaping untuk rokok, hanya saja Hon Lik bisa membaca peluang tersebut, apa lagi ia adalah seorang apoteker. Ia pasti mengetahui mafaat nikotin untuk tubuh manusia, sehingga ia memproduksi massal rokok bernikotin yang inovatif dengan kombinasi teknik vaping.<\/span>\r\n\r\nDilansir dari www. Vebma.com, bahwa salah satu obat yang paling populer dan favorit bagi orang adalah nikotin. Dengan demikian, orang telah mencoba berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mereka mencoba mengisapnya, menyentuhnya, mengunyahnya, atau mengoleskannya di kulit mereka. Anda bisa menemukan nikotin di tembakau. Banyak perangkat telah diciptakan untuk memuaskan obsesi orang terhadap nikotin. Kita hidup dalam masyarakat teknologi, Itu sebabnya baru-baru ini, vaporizers menjadi tren keren dengan berbagai selera dan bentuknya.<\/span>\r\n
Penguapan memiliki sejarah panjang. Herodotus menjelaskan, di Mesir (abad ke 5 SM) orang memanaskan ramuan dan minyak pada batu panas untuk vape. Oleh karena itu, kita harus mempercayai tentang asal mula vaping kuno. Kemudian, lebih dari 1500 tahun yang lalu, Irfan Shiekh menemukan shisha pertama. <\/span><\/blockquote>\r\nCerita opini saat ini tentang rokok elektrik (<\/span>vape) hanya bagian dari promosi semata. Dengan menjatuhkan rokok konvensional (rokok kretek), berharap penikmat rokok beralih ke elektrik (vape). Dengan dalil yang diwacanakan, lebih aman (menyehatkan). Cerita opini yang dibangun menafikan sejarah yang sesungguhnya, bahwa nikotin adalah salah satu obat, zat nikotin ada di daun tembakau. Hanya pada rokok konvensional (rokok kretek), bahan baku daun tembakau dan cengkeh dan proses pembakaran natural, lebih aman dan menyehatkan.<\/span>","post_title":"Meluruskan Sejarah Awal Mula Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"meluruskan-sejarah-awal-mula-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-30 10:13:19","post_modified_gmt":"2019-01-30 03:13:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5371","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5254,"post_author":"883","post_date":"2018-12-28 07:16:54","post_date_gmt":"2018-12-28 00:16:54","post_content":"Produk alternatif tembakau seperti vape<\/a> menjadi tren terbaru yang digandrungi masyarakat. Vape atau rokok elektrik naik pamor setelah dihembuskan isu bahwa mengkonsumsi vape dianggap lebih aman ketimbang mengonsumsi rokok konvensional, sebutlah kretek.<\/span>\r\n\r\nIsu lebih sehat tersebut terus-menerus dihembuskan kepada masyarakat, sehingga banyak penikmat rokok konvensional yang pindah menjadi \u2018vapers\u2019 (sebutan bagi penikmat vape). Bahkan bukan hanya perokok, banyak juga dari kalangan non-perokok yang memutuskan memilih menjadi vapers ketimbang perokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKemunculan vape sebenarnya sangat lumrah di era yang penuh inovasi ini. Kami pun para penikmat kretek biasa-biasa saja dengan fenomena produk alternatif tembakau. Jauh sebelum tren vape muncul di tengah masyarakat, di Eropa dan Amerika bahkan sudah lebih dulu muncul tren produk alternatif tembakau macam koyok nikotin atau permen karet nikotin.<\/span>\r\n\r\nNamun ketika isu produk alternatif, dalam hal ini vape diisukan lebih sehat ketimbang rokok konvensional, tentu ceritanya menjadi lain. Kami kretekus merespon dan tidak tinggal diam. Sebab hal tersebut sudah sampai pada konteks menyentuh eksistensi kami.<\/span>\r\n

Maka, mari kita bedah apakah benar produk alternatif macam vape ini lebih sehat?<\/span><\/h4>\r\nSebelum masuk kepada hasil-hasil riset kesehatan termutakhir, kami ingin menyinggung bahwa fenomena kemunculan produk alternatif tembakau, baik itu koyok nikotin, permen nikotin, hingga vape, dalam konteks global kita sebut sebagai Nicotine War atau Perang Nikotin.<\/span>\r\n
Perang Nikotin adalah peperangan memperebutkan nikotin antara \u201czat nikotin alami dalam tembakau\u201d yang diwakili oleh industri rokok versus \u201csenyawa mirip nikotin\u201d dan \u201csarana pengantar nikotin\u201d yang diwakili oleh industri farmasi.<\/span><\/blockquote>\r\nKretek dan rokok konvensional lainnya merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan secara alami melalui tembakau tanpa perantara apapun. <\/span>\r\n\r\nSementara vape, koyok nikotin atau permen nikotin merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan melalui perantara, seperti dipanaskan dulu seperti uap atau mengekstraksi tembakau dan zat-zat lainnya dengan sedemikian rupa.<\/span>\r\n

Lalu bagaimana dengan riset termutakhir mengenai produk alternatif tembakau?<\/span><\/h4>\r\nPara peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai 'popcorn lung'. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/span>\r\n\r\nAda juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/span>\r\n\r\nPenelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/span>\r\n
\"Bahkan, dalam salah satu merek rokok elektronik ditemukan 10 kali tingkat karsinogen dibandingkan satu batang rokok biasa,\" tutur seorang peneliti dari National Institute of Public Health, Jepang dr. Naoki Kunugita seperti dilansir laman Daily Mail<\/span><\/blockquote>\r\nItu baru dari hasil riset kesehatan, belum jika melihat faktor risiko berbahaya lainnya, seperti meledaknya alat vapor atau kandungan logam berbahaya yang ada di alat vapor.<\/span>\r\n\r\nAlat vapor dapat meledak. Ledakan dapat terjadi karena pemanasan berlebih dari baterai lithium ion yang digunakan untuk menggerakkan vape. Ledakan ini berbahaya dan dapat membunuh. <\/span>\r\n\r\nKejadian meledaknya vape ini pernah terjadi menimpa vapers bernama Kenneth Barbero dari Albany. Kenneth menjadi korban ledakan vape dan mengalami luka parah. Dalam sebuah wawancara, Kenneth menjelaskan bahwa ledakan itu merobek lidahnya, tangannya yang mengalami luka bakar dan beberapa giginya hilang.<\/span>\r\n\r\nLedakan seperti itu tidak akan pernah terjadi dan tidak akan pernah menghantui kretekus. Sebab mengonsumsi kretek tidak memerlukan daya listrik apapun. Mengonsumsi kretek sama dengan mengonsumsi tembakau secara alami, dan jangan lupakan komponen cengkeh dan rempah lainnya yang juga terkandung di dalam kretek.<\/span>\r\n\r\nMaka jika melihat fenomena bahayanya mengonsumsi produk alternatif tembakau macam vape dari kacamata riset kesehatan dan pengalaman korban, sungguh miris rasanya jika kampanye \u2018lebih sehat\u2019 masih dihembus-hembuskan kepada masyarakat.<\/span>\r\n\r\nWalaupun terdapat riset kesehatan yang menunjang kampanye \u2018lebih sehat\u2019 tersebut, tentu riset tersebut belum kredibel, sebab sebuah produk bisa dikatakan berbahaya atau berisiko tidak hanya dilihat dari riset pendek saja.<\/strong> Dampak kesehatan akan terlihat bukan dalam kurun waktu 1-2 tahun. Dalam kurun waktu puluhan tahun barulah dampak kesehatan bisa terlihat.<\/span>\r\n\r\nKretek sebagai produk konsumsi yang telah ada sejak berabad-abad lamanya, memiliki pembuktian bahwa produk ini terus bertahan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat. Artinya dari sisi kesehatan, masyarakat sudah mengetahui apa risiko dalam mengonsumsinya dan memberikan dampak apa saja kepada tubuh manusia.<\/span>\r\n\r\nSementara vape yang kelahirannya baru seumur jagung, belum pantas untuk meneriakkan slogan \u201cproduk alternatif tembakau lebih sehat ketimbang kretek atau rokok konvensional\u201d. Karena slogan mereka masih mitos dan belum bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.<\/span>","post_title":"Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"benarkah-produk-alternatif-tembakau-lebih-sehat-daripada-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:50:31","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:50:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5377,"post_author":"878","post_date":"2019-01-31 08:59:05","post_date_gmt":"2019-01-31 01:59:05","post_content":"Sejarah mencatat aktivitas manusia mengisap
rokok<\/a> yang mereka produksi dari daun tembakau sudah berlangsung setidaknya sejak 4000 tahun yang lalu. Atau pada 2000 Sebelum Masehi. Adalah ratusan suku-suku yang menghuni Benua Amerika lebih tepatnya Amerika Selatan yang memulai itu. Suku-suku yang oleh bangsa barat dengan mudahnya digolongkan dalam satu suku saja yaitu Suku Indian, padahal penamaan ini terjadi karena kesalahan semata, Kesalahan yang dilakukan oleh Christoper Colombus ketika melakukan petualangannya.<\/span>\r\n\r\nSuku-suku itu memanfaatkan tembakau yang diolah menjadi rokok untuk dikonsumsi dalam keseharian mereka. Selain itu tembakau digunakan sebagai media penyambutan, penerimaan dan perdamaian antar suku, juga digunakan untuk mengobati beberapa penyakit. Dukun-dukun menggunakan daun tembakau untuk mengobati pasiennya, baik dengan cara dibalurkan, atau lewat asap rokok yang mereka buat dari daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPada abad ke-15 hingga ke-16, para penjelajah Eropa mengenalkan tanaman tembakau dan aktivitas merokok ke tempat-tempat yang mereka datangi di dunia. Termasuk Indonesia. Memang ada yang bilang kebiasaan merokok di negeri ini sudah ada jauh sebelum aktivitas merokok diperkenalkan penjelajah dan penjajah Eropa, meskipun bukan dengan daun tembakau. Yang jelas, kebiasaan merokok tembakau di negeri ini begitu masif usai penjelajah dan penjajah mengenalkan kebiasaan merokok menggunakan daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPersebaran tembakau dan aktivitas merokok ke berbagai lokasi di penjuru bumi, memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan varian-varian cara dalam menikmati rokok tembakau. Pun begitu dengan di Nusantara. Aktivitas merokok tembakau memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan khas di banyak tempat, juga improvisasi-improvisasi cara dan bahan tambahan ketika menikmati rokok tembakau.<\/span>\r\n

Tak sekadar tembakau, masyarakat Nusantara menambahkan beberapa bahan lain selain tembakau dalam rokok yang mereka isap.Yang paling fenomenal adalah temuan rokok kretek yang pada akhirnya hingga saat ini berhasil menguasai lebih dari 90 persen pasar rokok Indonesia.<\/span><\/blockquote>\r\nBerawal dari ketidaksengajaan Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke rokok tembakaunya, campuran tembakau dan cengkeh yang menjadikan produk baru bernama rokok kretek, yang namanya diambil dari suaranya ketika campuran tembakau kering dan cengkeh kering dibakar, keretek-keretek, kemretek, berkembang pesat pada abad 20. Djamhari ketika itu sakit sesak napas. Sudah beberapa hari sakitnya tak kunjung sembuh. Setelah mengoleskan minyak cengkeh ke rokok yang ia isap, karena merasakan ada perubahan dari sakit yang ia rasa, kemudian Djamhari tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh, namun mencampurkan cengkeh kering dengan tembakau pada rokok yang ia isap. Penyakitnya berangsur menghilang dan ia sembuh.<\/span>\r\n\r\nVarian, improviasi dan kreativitas baru di seputar aktivitas merokok terus berkembang seiring perjalanan waktu dan perkembangan kemajuan teknologi. Persilangan antara kegemaran merokok dan perkembangan teknologi menghasilkan ragam rupa kreativitas dalam merokok dan mengonsumsi produk-produk tembakau. Kini ada rokok non-asap, nikotin tempel seperti koyo, tembakau kunyah, nikotin permen, dan ragam rupa kreasi lainnya. Inovasi ini kian menjadi saat kampanye bahaya rokok konvensional dan terutama bahaya rokok kretek terus-menerus didengungkan di penjuru bumi.<\/span>\r\n\r\nYang terbaru, setidaknya dalam empat tahun belakangan cukup berkembang di Indonesia, terutama di beberapa tempat di kota besar, adalah rokok elektrik atau yang lazim disebut <\/span>vape\/vaping<\/span><\/i>. Masuknya rokok elektrik ini bersamaan dengan serangan besar-besaran terhadap rokok kretek lewat kampanye yang menyebutkan rokok kretek sama sekali tidak baik untuk kesehatan. Rokok elektrik masuk dan digembar-gemborkan sebagai produk alternatif.<\/span>\r\n\r\nHingga sempat ada masanya, rokok elektrik ini dikampanyekan dan digunakan sebagai alat antara untuk meninggalkan produk rokok konvensional. Terapi berhenti merokok dengan berpindah dari rokok konvensional ke rokok kretek. Kampanye ini selalu menyebutkan bahwasanya rokok elektrik lebih baik dari rokok konvensional. Lebih sehat. Tetapi apakah memang benar seperti itu?<\/span>\r\n\r\nMungkin penjabaran data bahan baku rokok kretek dan rokok elektrik di bawah ini bisa membantu anda menemukan jawabannya sendiri.<\/span>\r\n

Rokok Kretek<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: Eko Susanto\/Rokok Indonesia[\/caption]\r\n\r\nDua bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh. Selain keduanya, setiap pabrikan memiliki bahan baku tambahannya sendiri yang membikin rokok kretek produksi mereka memiliki citarasa khasnya masing-masing. Para perokok yang biasa melinting sendiri rokok kreteknya lazim menyebutnya wur untuk tambahan bahan baku di luar tembakau dan cengkeh. Wur ini terdiri dari beberapa rempah-rempah sesuai dengan selera. Pabrikan-pabrikan rokok kretek meracik sendiri wur sebagai campuran tembakau dan cengkeh pada rokok kretek mereka. Wur ini kadang disebut perisa atau saus oleh pabrikan. Bahan bakunya mirip, campuran beberapa rempah-rempah.<\/span>\r\n\r\nBeberapa bahan baku lain selain cengkeh dan tembakau pada rokok kretek adalah: Kapulaga, kemenyan, daun sirih, kayu manis, kemukus, dan kelembak.<\/span>\r\n\r\nSelain bahan baku utama yang merupakan campuran tembakau, cengkeh, dan beberapa rempah lainnya yang lazim disebut saus, bahan penyusun rokok kretek lainnya adalah kertas atau yang lazim disebut sigaret. Bahan baku kertas sigaret adalah\u00a0<\/span>selulosa astetat.<\/span><\/i> Selulosa<\/span><\/i>\u00a0ini berasal dari serat tanama. Sebelum menjadi lembaran diolah menjadi\u00a0<\/span>pulp\u00a0<\/span><\/i>terlebih dulu. Unsur pelekat pada kertas dinamakan sideseam. Pelekat kertas tersebut merupakan pelekat\u00a0khusus\u00a0yang digunakan dalam jumlah yang sangat kecil.<\/span> Pada dasarnya kertas rokok atau kertas sigaret juga dilengkapi\u00a0<\/span>porforasi<\/span><\/i>\u00a0(kertas berlubang), di mana lubang ukurang mikro tersebut dapat menyedot udara luar sehingga kadar tar dan nikotin di dalam rokok turun.<\/span>\r\n\r\nSatu lagi bahan yang ada pada sebatang rokok kretek adalah busa filter, jika rokok kreteknya adalah rokok kretek filter. Bahan busa filter pada rokok kretek berasal dari aseto, tumbuhan jenis padi-padian yang banyak tumbuh di wilayah Eropa pasca musim dingin. Filter pada rokok kretek terbagi dari empat bagian,\u00a0<\/span>tow<\/span><\/i>\u00a0(rangkaian\u00a0<\/span>selulose asetat<\/span><\/i>\u00a0sebagai badan filter),\u00a0<\/span>plasticizer<\/span><\/i>\u00a0(zat pelunak untuk mengikat filter),\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>\u00a0(kertas pembungkus fiber filter) dan pelekat (sebagai pelekat\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>).<\/span>\r\n\r\nDari uraian ini, bisa dikatakan jika bahan baku utama dan bahan-bahan tambahan untuk rokok kretek semuanya merupakan bahan-bahan alami yang berasal dari alam. Produk herbal.<\/span>\r\n

Rokok Elektrik<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: testic.net[\/caption]\r\n\r\nBerbeda dengan rokok konvensional yang menggunakan prinsip pembakaran pada proses konsumsinya, rokok elektrik menggunakan prinsip penguapan. Oleh sebab itu produk ini lazim disebut vape karena prinsip reaksi yang bekerja berupa vaporizer.<\/span>\r\n\r\nAda empat elemen utama dalam sebuah produk rokok elektrik yang dikonsumsi. Cairan utama (liquid), wadah cairan (<\/span>cartridge<\/span><\/i>), atomizer atau pemanas, dan baterai.<\/span>\r\n\r\nCairan pada rokok elektrik terdiri dari campuran propilen glikol, gliserol, air, nikotin sintetis, dan perasa sintetis. Gliserol adalah bahan baku e-liquid, perannya adalah membantu proses vaporasi dari cairan (liquid) menjadi gas (asap). Gliserol adalah bahan kimia tanpa warna, tanpa bau, yang banyak digunakan di bidang farmasi. Bahan ini berbentuk cairan agak kental dan sedikit berasa manis. Propilen Glikol adalah bahan penguat rasa berbentuk cair\/ liquid. Pada umumnya dipakai pada essence makanan dan minuman ringan sebagai penguat. Sifatnya tidak berbau dan berasa manis. Liquid premium lokal atau import juga menggunakan ini.<\/span>\r\n\r\nAda dua kunci yang bisa menjadi acuan analisis terkait rokok kretek dan rokok elektrik dalam hubungannya dengan klaim rokok elektrik yang jauh lebih sehat dari rokok kretek dan rokok konvensional, bahkan rokok elektrik dianggap sebagai produk yang baik dipilih untuk meninggalkan kebiasaan merokok. Dua kunci itu adalah, bahan alami vs bahan sintetis, dan proses pembakaran rokok konvensional vs proses penguapan rokok elektrik. Dari dua kunci utama ini saja kita bisa tahu mana yang lebih baik sebenarnya.<\/span>","post_title":"Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbandingan-bahan-baku-kretek-dan-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-31 08:59:27","post_modified_gmt":"2019-01-31 01:59:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5377","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5371,"post_author":"877","post_date":"2019-01-30 10:12:38","post_date_gmt":"2019-01-30 03:12:38","post_content":"Pada abad 20 salah satu obat yang paling populer menjadi favorit orang adalah nikotin, berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mencoba dihisap, disentuh, dikunyah, atau dioleskan (diadaptasi dari sumber berita <\/span>www.vebma.com<\/span><\/a>).<\/span><\/em>\r\n\r\nRokok elektrik terpopuler dan menjadi trend saat ini adalah \u00a0jenis vape<\/a>, atau bisa disebut E-ciggarette. Sekitar tahun 2010, rokok jenis vape masuk ke Indonesia dengan membawa label sebagai rokok alternatif menggantikan rokok konvensional (rokok sigaret). Promosinya ditonjolkan sebagai rokok yang lebih aman dari pada rokok konvensional. <\/span>\r\n\r\nMemaknai pilihan diksi lebih aman, kira- kira urutannya begini, awalnya rokok konvensional aman, kemudian keberadaan rokok elektrik jenis vape lebih aman. Rokok elektrik adalah inovasi rokok konvensioanal. <\/strong>\r\n\r\nPerlu diketahui, sistem pembakaran pada rokok elektrik memakai listrik berupa battre dengan memakai elemen pemanas <\/span>atomizer atau cartomizer<\/span><\/i>, bahan utamanya berbasis proses kimia. Rokok konvensional memakai pembakaran berupa api, bahan utamanya memakai tumbuhan asli berupa tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan keduanya. Saya beri contoh sebagai pembanding, air minum dari hasil proses memakai alat heater pemanas listrik, dengan air minum dari hasil pemanas konvensional (pakai api), kira-kira lebih aman, lebih sehat mana? Kira-kira anda pilih yang elektrik atau konvensiobal, silahkan anda memilih dan menilai sesuai pengalaman masing-masing.<\/span>\r\n\r\nKembali kepersoalan promosi rokok vape di Indonesia, saat vape mulai naik daun banyak lembaga riset melakukan studi kelayakan. Hasilnya pun terjadi perdebatan, ada lembaga yang dipimpin Profesor David Thickett dari Universitas Birmingham mengatakan, mengisap rokok elektrik atau yang lebih dikenal dengan istilah\u00a0<\/span>vaping<\/span><\/i>\u00a0bisa merusak sel-sel sistem kekebalan tubuh dan amat mungkin lebih berbahaya dari yang semula diperkirakan. Ada pula yang mengatakan merokok vape menghindarkan dari risiko penyakit jantung dan kanker. <\/span>\r\n\r\nAnehnya, Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia, juga ikut melakukan uji dengan hasilnya bahwa vape dinilai memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok yang dikonsumi dengan dibakar. Disini tidak akan membahas berlarut larut tentang perbedaan hasil uji rokok vape (elektrik), bahkan tidak akan membahas pertanyaan ada apa lembaga penguji tersebut. \u00a0.<\/span>\r\n\r\nLogika sederhana, memakan dan minum dari bahan natural proses konvensional, dibanding bahan kimia dengan proses pemanas listrik, baik mana? Air proses natural (air mineral) dengan air kemasan lain beraroma (proses kimia) sehat yang mana?. Dua pertanyaan ini sebagai pembanding dalam mengambil keputusan dan penilaian antara rokok elektrik (vape) dengan rokok konvensioanl.<\/span>\r\n
Usaha promosi rokok vape, dengan membangun cerita opini, bahwa penemu rokok elektrik\/vape (e-ciggarette) bernama Hon Lik seorang pecandu rokok konvensional berat yang menderita penyakit infeksi pernafasan, sering batuk batuk dan\u00a0bersin sehingga kesulitan untuk tidur. Kemudian pada tahun 2003 menciptakan rokok elektrik sebagai pengganti rokok konvensional. <\/span><\/blockquote>\r\nOpini yang dibangun seakan-akan akibat rokok konvensioanl, Hon Lik menderita penyakit, yang kemudian dengan hasil ciptaannya (rokok elektrik), Hon Lik tidak sakit lagi. Pertanyaan pertama, jenis rokok konvensional apa yang dikonsumsi Hon Lik? dugaan terkuat bukan rokok kretek yang saat itu dikonsumsi. Jika rokok kretek yang dikonsumsi keadaan Hon Lik jadi lain, karena rokok kretek awal mulanya diciptakan sebagai obat batuk, sesak nafas dan lain-lain. Masih ingat dahulu ada rokok kretek yang bungkusnya tertulis \u201cdapat meredekan batuk\u201d. Tidak lain adalah rokok kretek Dji Sam Soe. Tulisan tersebut, masih diyakini banyak orang, saat batuk mereka akan merokok Dji Sam Soe, saat batuk reda, mereka merokok selera semula.<\/span>\r\n\r\nPertanyaan kedua, apakah benar hanya gara-gara merokok konvensioanl Hon Lik menderita sakit? jangan-jangan ada faktor lain menjadi penyebab. Bisa jadi penyakit turunan\/genetik, akibat <\/span>kerusakan pada gen dalam tubuh. Buktinya diceritakan bahwa ayah Hon Lik <\/span>mengidap penyakit kanker paru paru. Dan mungkin bapak dari bapaknya Hon Lik dan seterusnya, juga demikian mengidap penyakit yang sama.<\/span>\r\n\r\n\"\"\r\n\r\nFakta sejarah berkata lain, teknik vaping sudah dikenal sejak Mesir kuno, kemudian tahun 1927 <\/span>Joseph Robinson menggagas \u201cmerokok tanpa rokok\u201d, hingga populer. Baru pada tahun 2003, Hon Lik membuat perusahan e-cig modern di Tionghoa (Cina). Jadi Hon Lik bukanlah orang yang pertama atau pencipta teknik vaping untuk rokok, hanya saja Hon Lik bisa membaca peluang tersebut, apa lagi ia adalah seorang apoteker. Ia pasti mengetahui mafaat nikotin untuk tubuh manusia, sehingga ia memproduksi massal rokok bernikotin yang inovatif dengan kombinasi teknik vaping.<\/span>\r\n\r\nDilansir dari www. Vebma.com, bahwa salah satu obat yang paling populer dan favorit bagi orang adalah nikotin. Dengan demikian, orang telah mencoba berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mereka mencoba mengisapnya, menyentuhnya, mengunyahnya, atau mengoleskannya di kulit mereka. Anda bisa menemukan nikotin di tembakau. Banyak perangkat telah diciptakan untuk memuaskan obsesi orang terhadap nikotin. Kita hidup dalam masyarakat teknologi, Itu sebabnya baru-baru ini, vaporizers menjadi tren keren dengan berbagai selera dan bentuknya.<\/span>\r\n
Penguapan memiliki sejarah panjang. Herodotus menjelaskan, di Mesir (abad ke 5 SM) orang memanaskan ramuan dan minyak pada batu panas untuk vape. Oleh karena itu, kita harus mempercayai tentang asal mula vaping kuno. Kemudian, lebih dari 1500 tahun yang lalu, Irfan Shiekh menemukan shisha pertama. <\/span><\/blockquote>\r\nCerita opini saat ini tentang rokok elektrik (<\/span>vape) hanya bagian dari promosi semata. Dengan menjatuhkan rokok konvensional (rokok kretek), berharap penikmat rokok beralih ke elektrik (vape). Dengan dalil yang diwacanakan, lebih aman (menyehatkan). Cerita opini yang dibangun menafikan sejarah yang sesungguhnya, bahwa nikotin adalah salah satu obat, zat nikotin ada di daun tembakau. Hanya pada rokok konvensional (rokok kretek), bahan baku daun tembakau dan cengkeh dan proses pembakaran natural, lebih aman dan menyehatkan.<\/span>","post_title":"Meluruskan Sejarah Awal Mula Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"meluruskan-sejarah-awal-mula-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-30 10:13:19","post_modified_gmt":"2019-01-30 03:13:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5371","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5254,"post_author":"883","post_date":"2018-12-28 07:16:54","post_date_gmt":"2018-12-28 00:16:54","post_content":"Produk alternatif tembakau seperti vape<\/a> menjadi tren terbaru yang digandrungi masyarakat. Vape atau rokok elektrik naik pamor setelah dihembuskan isu bahwa mengkonsumsi vape dianggap lebih aman ketimbang mengonsumsi rokok konvensional, sebutlah kretek.<\/span>\r\n\r\nIsu lebih sehat tersebut terus-menerus dihembuskan kepada masyarakat, sehingga banyak penikmat rokok konvensional yang pindah menjadi \u2018vapers\u2019 (sebutan bagi penikmat vape). Bahkan bukan hanya perokok, banyak juga dari kalangan non-perokok yang memutuskan memilih menjadi vapers ketimbang perokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKemunculan vape sebenarnya sangat lumrah di era yang penuh inovasi ini. Kami pun para penikmat kretek biasa-biasa saja dengan fenomena produk alternatif tembakau. Jauh sebelum tren vape muncul di tengah masyarakat, di Eropa dan Amerika bahkan sudah lebih dulu muncul tren produk alternatif tembakau macam koyok nikotin atau permen karet nikotin.<\/span>\r\n\r\nNamun ketika isu produk alternatif, dalam hal ini vape diisukan lebih sehat ketimbang rokok konvensional, tentu ceritanya menjadi lain. Kami kretekus merespon dan tidak tinggal diam. Sebab hal tersebut sudah sampai pada konteks menyentuh eksistensi kami.<\/span>\r\n

Maka, mari kita bedah apakah benar produk alternatif macam vape ini lebih sehat?<\/span><\/h4>\r\nSebelum masuk kepada hasil-hasil riset kesehatan termutakhir, kami ingin menyinggung bahwa fenomena kemunculan produk alternatif tembakau, baik itu koyok nikotin, permen nikotin, hingga vape, dalam konteks global kita sebut sebagai Nicotine War atau Perang Nikotin.<\/span>\r\n
Perang Nikotin adalah peperangan memperebutkan nikotin antara \u201czat nikotin alami dalam tembakau\u201d yang diwakili oleh industri rokok versus \u201csenyawa mirip nikotin\u201d dan \u201csarana pengantar nikotin\u201d yang diwakili oleh industri farmasi.<\/span><\/blockquote>\r\nKretek dan rokok konvensional lainnya merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan secara alami melalui tembakau tanpa perantara apapun. <\/span>\r\n\r\nSementara vape, koyok nikotin atau permen nikotin merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan melalui perantara, seperti dipanaskan dulu seperti uap atau mengekstraksi tembakau dan zat-zat lainnya dengan sedemikian rupa.<\/span>\r\n

Lalu bagaimana dengan riset termutakhir mengenai produk alternatif tembakau?<\/span><\/h4>\r\nPara peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai 'popcorn lung'. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/span>\r\n\r\nAda juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/span>\r\n\r\nPenelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/span>\r\n
\"Bahkan, dalam salah satu merek rokok elektronik ditemukan 10 kali tingkat karsinogen dibandingkan satu batang rokok biasa,\" tutur seorang peneliti dari National Institute of Public Health, Jepang dr. Naoki Kunugita seperti dilansir laman Daily Mail<\/span><\/blockquote>\r\nItu baru dari hasil riset kesehatan, belum jika melihat faktor risiko berbahaya lainnya, seperti meledaknya alat vapor atau kandungan logam berbahaya yang ada di alat vapor.<\/span>\r\n\r\nAlat vapor dapat meledak. Ledakan dapat terjadi karena pemanasan berlebih dari baterai lithium ion yang digunakan untuk menggerakkan vape. Ledakan ini berbahaya dan dapat membunuh. <\/span>\r\n\r\nKejadian meledaknya vape ini pernah terjadi menimpa vapers bernama Kenneth Barbero dari Albany. Kenneth menjadi korban ledakan vape dan mengalami luka parah. Dalam sebuah wawancara, Kenneth menjelaskan bahwa ledakan itu merobek lidahnya, tangannya yang mengalami luka bakar dan beberapa giginya hilang.<\/span>\r\n\r\nLedakan seperti itu tidak akan pernah terjadi dan tidak akan pernah menghantui kretekus. Sebab mengonsumsi kretek tidak memerlukan daya listrik apapun. Mengonsumsi kretek sama dengan mengonsumsi tembakau secara alami, dan jangan lupakan komponen cengkeh dan rempah lainnya yang juga terkandung di dalam kretek.<\/span>\r\n\r\nMaka jika melihat fenomena bahayanya mengonsumsi produk alternatif tembakau macam vape dari kacamata riset kesehatan dan pengalaman korban, sungguh miris rasanya jika kampanye \u2018lebih sehat\u2019 masih dihembus-hembuskan kepada masyarakat.<\/span>\r\n\r\nWalaupun terdapat riset kesehatan yang menunjang kampanye \u2018lebih sehat\u2019 tersebut, tentu riset tersebut belum kredibel, sebab sebuah produk bisa dikatakan berbahaya atau berisiko tidak hanya dilihat dari riset pendek saja.<\/strong> Dampak kesehatan akan terlihat bukan dalam kurun waktu 1-2 tahun. Dalam kurun waktu puluhan tahun barulah dampak kesehatan bisa terlihat.<\/span>\r\n\r\nKretek sebagai produk konsumsi yang telah ada sejak berabad-abad lamanya, memiliki pembuktian bahwa produk ini terus bertahan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat. Artinya dari sisi kesehatan, masyarakat sudah mengetahui apa risiko dalam mengonsumsinya dan memberikan dampak apa saja kepada tubuh manusia.<\/span>\r\n\r\nSementara vape yang kelahirannya baru seumur jagung, belum pantas untuk meneriakkan slogan \u201cproduk alternatif tembakau lebih sehat ketimbang kretek atau rokok konvensional\u201d. Karena slogan mereka masih mitos dan belum bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.<\/span>","post_title":"Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"benarkah-produk-alternatif-tembakau-lebih-sehat-daripada-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:50:31","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:50:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \n

Seringkali saya menyaksikan berbagai film baik itu Eropa atau Asia yang menggambarkan tentang masa depan. Pemandangan soal masa depan tersebut dihadirkan dengan gambaran kecanggihan teknologi seperti robot yang akan membantu kehidupan manusia, gedung-gedung yang tingginya sudah amat tak bisa ditandingi,  hingga mobil-mobil yang bisa terbang. <\/p>\n\n\n\n

Pernah dalam masa kecil saya menyaksikan sebuah film animasi buatan jepang yang mempertanyakan tentang makanan di masa depan. Dengan santai salah satu tokoh yang berasal dari masa depan itu menjawab bahwa suatu saat nanti manusia akan mengonsumsi makanan berupa pasta gigi namun dengan rasa yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, aneh!<\/p>\n\n\n\n

Seiring waktu berjalan saya kian tumbuh dewasa dan punya kesadaran untuk memilih menjadi seorang perokok<\/a>. Saya juga melihat ada sebuah inovasi dan gambaran tentang masa depan yang hadir dalam kehidupan sekarang. Banyak memang, namun yang menyita perhatian saya adalah rokok elektrik atau yang populer disebut Vape. Konon katanya ia adalah produk inovasi untuk menjembatani kebutuhan menghisap asap dan kecanggihan masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Di awal kehadirannya Vape memang mengundang decak kekaguman saya. Bagaimana bisa sebuah mesin kecil mengeluarkan asap yang katanya lebih menyehatkan daripada rokok.<\/strong> Meski pada akhirnya teori tersebut juga bisa dibantah oleh beberapa ilmuan dunia. Tapi ada satu yang saya amati selain soal kesehatan, rokok elektrik rupanya menghadirkan kultur dan budaya baru dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Baca Juga: LAGI-LAGI IKLAN ROKOK, KAPAN KPAI TIDAK TEBANG PILIH? <\/a><\/h4>\n\n\n\n

Kehadiran teknologi memang kerap sedikit atau benyak mengubah gaya atau kultur suatu masyarakat. Begitu pula yang saya perhatikan dengan rokok elektrik. Satu hal yang mudah diamati adalah menjamurnya toko-toko kecil yang menjual vape serta liquid di berbagai tempat. Sebagai sebuah warna baru dalam masyarakat, penggunanya ramai-ramai mengunjungi tempat tersebut berinteraksi dengan penikmat lainnya dan membangun sebuah rumah komunitas yang fleksibel.<\/p>\n\n\n\n

Meski belum bisa dikatakan memiliki jumlah penikmat yang setara dengan para perokok, pengguna Vape mulai menunjukkan eksistensinya. Selain toko yang tersebar, ragam acara juga mereka buat di beberapa daerah. Dalam lingkungan saya, beberapa teman yang dulunya merupakan perokok aktif tertarik mengikuti event tersebut dan beralih mengisap rokok elektrik. <\/p>\n\n\n\n

Nun jauh di sana, di Amerika Serikat tepatnya, budaya Vape juga sudah mulai berkembang lama ketimbang di Tanah Air. Penikmatnya terbagi menjadi dua, ada yang dulunya bekas perokok dan ada yang memang menikmatinya sebagai gaya hidup. Wajar saja mengingat facebook tak memperbolehkan iklan tembakau di platform mereka, sebaliknya iklan tentang vape justru bertebaran. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi budaya baru yang berkembang di berbagai belahan dunia bahkan di Indonesia, Vape konon menjadi alternatif yang lebih bermanfaat daripada rokok. Dalih yang diusung selalu sama kepada para perokok tradisonal yaitu soal kesehatan dan lebih irit. Soal kesehatan tentu ada beberapa pendapat para ilmuan yang membantahnya, namun soal irit, saya rasa tidak. Memang satu liquid bisa digunakan untuk beberapa Minggu, akan tetapi yang saya lihat di lapangan justru sebaliknya. <\/p>\n\n\n\n

Beberapa penikmat rokok elektrik kerap berbelanja liquid yang mereka idamkan. Terkadang, hal tersebut yang membuat mereka boros karena terus mengeksplor rasa mana yang mereka idam-idamkan. Tak jarang juga liquid dengan harga mahal hingga ratus ribuan akan mereka beli. Sebaliknya, para perokok konvensional justru kerap bertahan dengan satu rasa atau merek saja.<\/p>\n\n\n\n

Sedikit berbeda dengan penikmat rokok konvensional atau kretek. Mengingat rokok kretek sudah menjadi kebudayan lokal yang terus dipertahankan selama bertahun-tahun, kehadirannya sudah mewarnai khasanah keindonesiaan. Perokok kretek juga sudah punya soliditas luar biasa yang terbentuk sejak lama dan terus terbangun mengiringi peradaban di Indonesia atau dunia.<\/p>\n\n\n\n

Kini, perokok elektrik mulai merasakan kegelisahan. Beberapa negara mulai menerapkan peraturan ketat terhadap Vape, sedangkan di Indonesia biaya cukai pun kini mulai diberlakukan terhadap perdagangan rokok elektrik. Keberadaannya di mata negara pun mulai dianggap sama seperti rokok, meski pada awalnya rokok elektrik hadir dengan slogan-slogan produk alternatif yang lebih menyehatkan (katanya).<\/p>\n\n\n\n


Tapi jika kemudian di masa depan memang rokok elektrik yang kemudian menjadi sesuatu yang populer dan dinikmati banyak orang. Rasanya saya tetap ingin hidup di jaman ini, dengan sebatang kretek di tangan dan menikmati segala khasanah kebudayaan yang patut terus dipertahankan. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"masa-depan-rokok-elektrik-dan-semangat-alternatif-yang-sia-sia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-03 09:05:56","post_modified_gmt":"2019-02-03 02:05:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5403","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5377,"post_author":"878","post_date":"2019-01-31 08:59:05","post_date_gmt":"2019-01-31 01:59:05","post_content":"Sejarah mencatat aktivitas manusia mengisap
rokok<\/a> yang mereka produksi dari daun tembakau sudah berlangsung setidaknya sejak 4000 tahun yang lalu. Atau pada 2000 Sebelum Masehi. Adalah ratusan suku-suku yang menghuni Benua Amerika lebih tepatnya Amerika Selatan yang memulai itu. Suku-suku yang oleh bangsa barat dengan mudahnya digolongkan dalam satu suku saja yaitu Suku Indian, padahal penamaan ini terjadi karena kesalahan semata, Kesalahan yang dilakukan oleh Christoper Colombus ketika melakukan petualangannya.<\/span>\r\n\r\nSuku-suku itu memanfaatkan tembakau yang diolah menjadi rokok untuk dikonsumsi dalam keseharian mereka. Selain itu tembakau digunakan sebagai media penyambutan, penerimaan dan perdamaian antar suku, juga digunakan untuk mengobati beberapa penyakit. Dukun-dukun menggunakan daun tembakau untuk mengobati pasiennya, baik dengan cara dibalurkan, atau lewat asap rokok yang mereka buat dari daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPada abad ke-15 hingga ke-16, para penjelajah Eropa mengenalkan tanaman tembakau dan aktivitas merokok ke tempat-tempat yang mereka datangi di dunia. Termasuk Indonesia. Memang ada yang bilang kebiasaan merokok di negeri ini sudah ada jauh sebelum aktivitas merokok diperkenalkan penjelajah dan penjajah Eropa, meskipun bukan dengan daun tembakau. Yang jelas, kebiasaan merokok tembakau di negeri ini begitu masif usai penjelajah dan penjajah mengenalkan kebiasaan merokok menggunakan daun tembakau.<\/span>\r\n\r\nPersebaran tembakau dan aktivitas merokok ke berbagai lokasi di penjuru bumi, memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan varian-varian cara dalam menikmati rokok tembakau. Pun begitu dengan di Nusantara. Aktivitas merokok tembakau memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru dan khas di banyak tempat, juga improvisasi-improvisasi cara dan bahan tambahan ketika menikmati rokok tembakau.<\/span>\r\n

Tak sekadar tembakau, masyarakat Nusantara menambahkan beberapa bahan lain selain tembakau dalam rokok yang mereka isap.Yang paling fenomenal adalah temuan rokok kretek yang pada akhirnya hingga saat ini berhasil menguasai lebih dari 90 persen pasar rokok Indonesia.<\/span><\/blockquote>\r\nBerawal dari ketidaksengajaan Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke rokok tembakaunya, campuran tembakau dan cengkeh yang menjadikan produk baru bernama rokok kretek, yang namanya diambil dari suaranya ketika campuran tembakau kering dan cengkeh kering dibakar, keretek-keretek, kemretek, berkembang pesat pada abad 20. Djamhari ketika itu sakit sesak napas. Sudah beberapa hari sakitnya tak kunjung sembuh. Setelah mengoleskan minyak cengkeh ke rokok yang ia isap, karena merasakan ada perubahan dari sakit yang ia rasa, kemudian Djamhari tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh, namun mencampurkan cengkeh kering dengan tembakau pada rokok yang ia isap. Penyakitnya berangsur menghilang dan ia sembuh.<\/span>\r\n\r\nVarian, improviasi dan kreativitas baru di seputar aktivitas merokok terus berkembang seiring perjalanan waktu dan perkembangan kemajuan teknologi. Persilangan antara kegemaran merokok dan perkembangan teknologi menghasilkan ragam rupa kreativitas dalam merokok dan mengonsumsi produk-produk tembakau. Kini ada rokok non-asap, nikotin tempel seperti koyo, tembakau kunyah, nikotin permen, dan ragam rupa kreasi lainnya. Inovasi ini kian menjadi saat kampanye bahaya rokok konvensional dan terutama bahaya rokok kretek terus-menerus didengungkan di penjuru bumi.<\/span>\r\n\r\nYang terbaru, setidaknya dalam empat tahun belakangan cukup berkembang di Indonesia, terutama di beberapa tempat di kota besar, adalah rokok elektrik atau yang lazim disebut <\/span>vape\/vaping<\/span><\/i>. Masuknya rokok elektrik ini bersamaan dengan serangan besar-besaran terhadap rokok kretek lewat kampanye yang menyebutkan rokok kretek sama sekali tidak baik untuk kesehatan. Rokok elektrik masuk dan digembar-gemborkan sebagai produk alternatif.<\/span>\r\n\r\nHingga sempat ada masanya, rokok elektrik ini dikampanyekan dan digunakan sebagai alat antara untuk meninggalkan produk rokok konvensional. Terapi berhenti merokok dengan berpindah dari rokok konvensional ke rokok kretek. Kampanye ini selalu menyebutkan bahwasanya rokok elektrik lebih baik dari rokok konvensional. Lebih sehat. Tetapi apakah memang benar seperti itu?<\/span>\r\n\r\nMungkin penjabaran data bahan baku rokok kretek dan rokok elektrik di bawah ini bisa membantu anda menemukan jawabannya sendiri.<\/span>\r\n

Rokok Kretek<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: Eko Susanto\/Rokok Indonesia[\/caption]\r\n\r\nDua bahan baku utama rokok kretek adalah tembakau dan cengkeh. Selain keduanya, setiap pabrikan memiliki bahan baku tambahannya sendiri yang membikin rokok kretek produksi mereka memiliki citarasa khasnya masing-masing. Para perokok yang biasa melinting sendiri rokok kreteknya lazim menyebutnya wur untuk tambahan bahan baku di luar tembakau dan cengkeh. Wur ini terdiri dari beberapa rempah-rempah sesuai dengan selera. Pabrikan-pabrikan rokok kretek meracik sendiri wur sebagai campuran tembakau dan cengkeh pada rokok kretek mereka. Wur ini kadang disebut perisa atau saus oleh pabrikan. Bahan bakunya mirip, campuran beberapa rempah-rempah.<\/span>\r\n\r\nBeberapa bahan baku lain selain cengkeh dan tembakau pada rokok kretek adalah: Kapulaga, kemenyan, daun sirih, kayu manis, kemukus, dan kelembak.<\/span>\r\n\r\nSelain bahan baku utama yang merupakan campuran tembakau, cengkeh, dan beberapa rempah lainnya yang lazim disebut saus, bahan penyusun rokok kretek lainnya adalah kertas atau yang lazim disebut sigaret. Bahan baku kertas sigaret adalah\u00a0<\/span>selulosa astetat.<\/span><\/i> Selulosa<\/span><\/i>\u00a0ini berasal dari serat tanama. Sebelum menjadi lembaran diolah menjadi\u00a0<\/span>pulp\u00a0<\/span><\/i>terlebih dulu. Unsur pelekat pada kertas dinamakan sideseam. Pelekat kertas tersebut merupakan pelekat\u00a0khusus\u00a0yang digunakan dalam jumlah yang sangat kecil.<\/span> Pada dasarnya kertas rokok atau kertas sigaret juga dilengkapi\u00a0<\/span>porforasi<\/span><\/i>\u00a0(kertas berlubang), di mana lubang ukurang mikro tersebut dapat menyedot udara luar sehingga kadar tar dan nikotin di dalam rokok turun.<\/span>\r\n\r\nSatu lagi bahan yang ada pada sebatang rokok kretek adalah busa filter, jika rokok kreteknya adalah rokok kretek filter. Bahan busa filter pada rokok kretek berasal dari aseto, tumbuhan jenis padi-padian yang banyak tumbuh di wilayah Eropa pasca musim dingin. Filter pada rokok kretek terbagi dari empat bagian,\u00a0<\/span>tow<\/span><\/i>\u00a0(rangkaian\u00a0<\/span>selulose asetat<\/span><\/i>\u00a0sebagai badan filter),\u00a0<\/span>plasticizer<\/span><\/i>\u00a0(zat pelunak untuk mengikat filter),\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>\u00a0(kertas pembungkus fiber filter) dan pelekat (sebagai pelekat\u00a0<\/span>plug wrap<\/span><\/i>).<\/span>\r\n\r\nDari uraian ini, bisa dikatakan jika bahan baku utama dan bahan-bahan tambahan untuk rokok kretek semuanya merupakan bahan-bahan alami yang berasal dari alam. Produk herbal.<\/span>\r\n

Rokok Elektrik<\/span><\/h4>\r\n\"\" Foto: testic.net[\/caption]\r\n\r\nBerbeda dengan rokok konvensional yang menggunakan prinsip pembakaran pada proses konsumsinya, rokok elektrik menggunakan prinsip penguapan. Oleh sebab itu produk ini lazim disebut vape karena prinsip reaksi yang bekerja berupa vaporizer.<\/span>\r\n\r\nAda empat elemen utama dalam sebuah produk rokok elektrik yang dikonsumsi. Cairan utama (liquid), wadah cairan (<\/span>cartridge<\/span><\/i>), atomizer atau pemanas, dan baterai.<\/span>\r\n\r\nCairan pada rokok elektrik terdiri dari campuran propilen glikol, gliserol, air, nikotin sintetis, dan perasa sintetis. Gliserol adalah bahan baku e-liquid, perannya adalah membantu proses vaporasi dari cairan (liquid) menjadi gas (asap). Gliserol adalah bahan kimia tanpa warna, tanpa bau, yang banyak digunakan di bidang farmasi. Bahan ini berbentuk cairan agak kental dan sedikit berasa manis. Propilen Glikol adalah bahan penguat rasa berbentuk cair\/ liquid. Pada umumnya dipakai pada essence makanan dan minuman ringan sebagai penguat. Sifatnya tidak berbau dan berasa manis. Liquid premium lokal atau import juga menggunakan ini.<\/span>\r\n\r\nAda dua kunci yang bisa menjadi acuan analisis terkait rokok kretek dan rokok elektrik dalam hubungannya dengan klaim rokok elektrik yang jauh lebih sehat dari rokok kretek dan rokok konvensional, bahkan rokok elektrik dianggap sebagai produk yang baik dipilih untuk meninggalkan kebiasaan merokok. Dua kunci itu adalah, bahan alami vs bahan sintetis, dan proses pembakaran rokok konvensional vs proses penguapan rokok elektrik. Dari dua kunci utama ini saja kita bisa tahu mana yang lebih baik sebenarnya.<\/span>","post_title":"Perbandingan Bahan Baku Kretek dan Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perbandingan-bahan-baku-kretek-dan-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-31 08:59:27","post_modified_gmt":"2019-01-31 01:59:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5377","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5371,"post_author":"877","post_date":"2019-01-30 10:12:38","post_date_gmt":"2019-01-30 03:12:38","post_content":"Pada abad 20 salah satu obat yang paling populer menjadi favorit orang adalah nikotin, berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mencoba dihisap, disentuh, dikunyah, atau dioleskan (diadaptasi dari sumber berita <\/span>www.vebma.com<\/span><\/a>).<\/span><\/em>\r\n\r\nRokok elektrik terpopuler dan menjadi trend saat ini adalah \u00a0jenis vape<\/a>, atau bisa disebut E-ciggarette. Sekitar tahun 2010, rokok jenis vape masuk ke Indonesia dengan membawa label sebagai rokok alternatif menggantikan rokok konvensional (rokok sigaret). Promosinya ditonjolkan sebagai rokok yang lebih aman dari pada rokok konvensional. <\/span>\r\n\r\nMemaknai pilihan diksi lebih aman, kira- kira urutannya begini, awalnya rokok konvensional aman, kemudian keberadaan rokok elektrik jenis vape lebih aman. Rokok elektrik adalah inovasi rokok konvensioanal. <\/strong>\r\n\r\nPerlu diketahui, sistem pembakaran pada rokok elektrik memakai listrik berupa battre dengan memakai elemen pemanas <\/span>atomizer atau cartomizer<\/span><\/i>, bahan utamanya berbasis proses kimia. Rokok konvensional memakai pembakaran berupa api, bahan utamanya memakai tumbuhan asli berupa tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan keduanya. Saya beri contoh sebagai pembanding, air minum dari hasil proses memakai alat heater pemanas listrik, dengan air minum dari hasil pemanas konvensional (pakai api), kira-kira lebih aman, lebih sehat mana? Kira-kira anda pilih yang elektrik atau konvensiobal, silahkan anda memilih dan menilai sesuai pengalaman masing-masing.<\/span>\r\n\r\nKembali kepersoalan promosi rokok vape di Indonesia, saat vape mulai naik daun banyak lembaga riset melakukan studi kelayakan. Hasilnya pun terjadi perdebatan, ada lembaga yang dipimpin Profesor David Thickett dari Universitas Birmingham mengatakan, mengisap rokok elektrik atau yang lebih dikenal dengan istilah\u00a0<\/span>vaping<\/span><\/i>\u00a0bisa merusak sel-sel sistem kekebalan tubuh dan amat mungkin lebih berbahaya dari yang semula diperkirakan. Ada pula yang mengatakan merokok vape menghindarkan dari risiko penyakit jantung dan kanker. <\/span>\r\n\r\nAnehnya, Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia, juga ikut melakukan uji dengan hasilnya bahwa vape dinilai memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok yang dikonsumi dengan dibakar. Disini tidak akan membahas berlarut larut tentang perbedaan hasil uji rokok vape (elektrik), bahkan tidak akan membahas pertanyaan ada apa lembaga penguji tersebut. \u00a0.<\/span>\r\n\r\nLogika sederhana, memakan dan minum dari bahan natural proses konvensional, dibanding bahan kimia dengan proses pemanas listrik, baik mana? Air proses natural (air mineral) dengan air kemasan lain beraroma (proses kimia) sehat yang mana?. Dua pertanyaan ini sebagai pembanding dalam mengambil keputusan dan penilaian antara rokok elektrik (vape) dengan rokok konvensioanl.<\/span>\r\n
Usaha promosi rokok vape, dengan membangun cerita opini, bahwa penemu rokok elektrik\/vape (e-ciggarette) bernama Hon Lik seorang pecandu rokok konvensional berat yang menderita penyakit infeksi pernafasan, sering batuk batuk dan\u00a0bersin sehingga kesulitan untuk tidur. Kemudian pada tahun 2003 menciptakan rokok elektrik sebagai pengganti rokok konvensional. <\/span><\/blockquote>\r\nOpini yang dibangun seakan-akan akibat rokok konvensioanl, Hon Lik menderita penyakit, yang kemudian dengan hasil ciptaannya (rokok elektrik), Hon Lik tidak sakit lagi. Pertanyaan pertama, jenis rokok konvensional apa yang dikonsumsi Hon Lik? dugaan terkuat bukan rokok kretek yang saat itu dikonsumsi. Jika rokok kretek yang dikonsumsi keadaan Hon Lik jadi lain, karena rokok kretek awal mulanya diciptakan sebagai obat batuk, sesak nafas dan lain-lain. Masih ingat dahulu ada rokok kretek yang bungkusnya tertulis \u201cdapat meredekan batuk\u201d. Tidak lain adalah rokok kretek Dji Sam Soe. Tulisan tersebut, masih diyakini banyak orang, saat batuk mereka akan merokok Dji Sam Soe, saat batuk reda, mereka merokok selera semula.<\/span>\r\n\r\nPertanyaan kedua, apakah benar hanya gara-gara merokok konvensioanl Hon Lik menderita sakit? jangan-jangan ada faktor lain menjadi penyebab. Bisa jadi penyakit turunan\/genetik, akibat <\/span>kerusakan pada gen dalam tubuh. Buktinya diceritakan bahwa ayah Hon Lik <\/span>mengidap penyakit kanker paru paru. Dan mungkin bapak dari bapaknya Hon Lik dan seterusnya, juga demikian mengidap penyakit yang sama.<\/span>\r\n\r\n\"\"\r\n\r\nFakta sejarah berkata lain, teknik vaping sudah dikenal sejak Mesir kuno, kemudian tahun 1927 <\/span>Joseph Robinson menggagas \u201cmerokok tanpa rokok\u201d, hingga populer. Baru pada tahun 2003, Hon Lik membuat perusahan e-cig modern di Tionghoa (Cina). Jadi Hon Lik bukanlah orang yang pertama atau pencipta teknik vaping untuk rokok, hanya saja Hon Lik bisa membaca peluang tersebut, apa lagi ia adalah seorang apoteker. Ia pasti mengetahui mafaat nikotin untuk tubuh manusia, sehingga ia memproduksi massal rokok bernikotin yang inovatif dengan kombinasi teknik vaping.<\/span>\r\n\r\nDilansir dari www. Vebma.com, bahwa salah satu obat yang paling populer dan favorit bagi orang adalah nikotin. Dengan demikian, orang telah mencoba berbagai cara untuk mengkonsumsinya. Mereka mencoba mengisapnya, menyentuhnya, mengunyahnya, atau mengoleskannya di kulit mereka. Anda bisa menemukan nikotin di tembakau. Banyak perangkat telah diciptakan untuk memuaskan obsesi orang terhadap nikotin. Kita hidup dalam masyarakat teknologi, Itu sebabnya baru-baru ini, vaporizers menjadi tren keren dengan berbagai selera dan bentuknya.<\/span>\r\n
Penguapan memiliki sejarah panjang. Herodotus menjelaskan, di Mesir (abad ke 5 SM) orang memanaskan ramuan dan minyak pada batu panas untuk vape. Oleh karena itu, kita harus mempercayai tentang asal mula vaping kuno. Kemudian, lebih dari 1500 tahun yang lalu, Irfan Shiekh menemukan shisha pertama. <\/span><\/blockquote>\r\nCerita opini saat ini tentang rokok elektrik (<\/span>vape) hanya bagian dari promosi semata. Dengan menjatuhkan rokok konvensional (rokok kretek), berharap penikmat rokok beralih ke elektrik (vape). Dengan dalil yang diwacanakan, lebih aman (menyehatkan). Cerita opini yang dibangun menafikan sejarah yang sesungguhnya, bahwa nikotin adalah salah satu obat, zat nikotin ada di daun tembakau. Hanya pada rokok konvensional (rokok kretek), bahan baku daun tembakau dan cengkeh dan proses pembakaran natural, lebih aman dan menyehatkan.<\/span>","post_title":"Meluruskan Sejarah Awal Mula Rokok Elektrik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"meluruskan-sejarah-awal-mula-rokok-elektrik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-30 10:13:19","post_modified_gmt":"2019-01-30 03:13:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5371","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5254,"post_author":"883","post_date":"2018-12-28 07:16:54","post_date_gmt":"2018-12-28 00:16:54","post_content":"Produk alternatif tembakau seperti vape<\/a> menjadi tren terbaru yang digandrungi masyarakat. Vape atau rokok elektrik naik pamor setelah dihembuskan isu bahwa mengkonsumsi vape dianggap lebih aman ketimbang mengonsumsi rokok konvensional, sebutlah kretek.<\/span>\r\n\r\nIsu lebih sehat tersebut terus-menerus dihembuskan kepada masyarakat, sehingga banyak penikmat rokok konvensional yang pindah menjadi \u2018vapers\u2019 (sebutan bagi penikmat vape). Bahkan bukan hanya perokok, banyak juga dari kalangan non-perokok yang memutuskan memilih menjadi vapers ketimbang perokok<\/a>.<\/span>\r\n\r\nKemunculan vape sebenarnya sangat lumrah di era yang penuh inovasi ini. Kami pun para penikmat kretek biasa-biasa saja dengan fenomena produk alternatif tembakau. Jauh sebelum tren vape muncul di tengah masyarakat, di Eropa dan Amerika bahkan sudah lebih dulu muncul tren produk alternatif tembakau macam koyok nikotin atau permen karet nikotin.<\/span>\r\n\r\nNamun ketika isu produk alternatif, dalam hal ini vape diisukan lebih sehat ketimbang rokok konvensional, tentu ceritanya menjadi lain. Kami kretekus merespon dan tidak tinggal diam. Sebab hal tersebut sudah sampai pada konteks menyentuh eksistensi kami.<\/span>\r\n

Maka, mari kita bedah apakah benar produk alternatif macam vape ini lebih sehat?<\/span><\/h4>\r\nSebelum masuk kepada hasil-hasil riset kesehatan termutakhir, kami ingin menyinggung bahwa fenomena kemunculan produk alternatif tembakau, baik itu koyok nikotin, permen nikotin, hingga vape, dalam konteks global kita sebut sebagai Nicotine War atau Perang Nikotin.<\/span>\r\n
Perang Nikotin adalah peperangan memperebutkan nikotin antara \u201czat nikotin alami dalam tembakau\u201d yang diwakili oleh industri rokok versus \u201csenyawa mirip nikotin\u201d dan \u201csarana pengantar nikotin\u201d yang diwakili oleh industri farmasi.<\/span><\/blockquote>\r\nKretek dan rokok konvensional lainnya merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan secara alami melalui tembakau tanpa perantara apapun. <\/span>\r\n\r\nSementara vape, koyok nikotin atau permen nikotin merupakan produk konsumsi yang mengandung nikotin yang dihantarkan melalui perantara, seperti dipanaskan dulu seperti uap atau mengekstraksi tembakau dan zat-zat lainnya dengan sedemikian rupa.<\/span>\r\n

Lalu bagaimana dengan riset termutakhir mengenai produk alternatif tembakau?<\/span><\/h4>\r\nPara peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai 'popcorn lung'. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.<\/span>\r\n\r\nAda juga hasil temuan terbaru dari para ahli kesehatan di Jepang yang menemukan bahwa kandungan formalin dan asetaldehida dalam uap yang dihasilkan beberapa cairan rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa.<\/span>\r\n\r\nPenelitian yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Jepang ini menemukan karsinogen dalam uap yang dihembuskan usai menghisap rokok yang disebut vape ini. Misalnya kandungan formaldehyde, sebuah zat yang biasa ditemukan dalam bahan bangunan dan pembalseman cairan, tingkat karsinogen lebih tinggi dibandingkan dalam asap rokok biasa. Lalu, asetaldehida juga ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan rokok tembakau.<\/span>\r\n
\"Bahkan, dalam salah satu merek rokok elektronik ditemukan 10 kali tingkat karsinogen dibandingkan satu batang rokok biasa,\" tutur seorang peneliti dari National Institute of Public Health, Jepang dr. Naoki Kunugita seperti dilansir laman Daily Mail<\/span><\/blockquote>\r\nItu baru dari hasil riset kesehatan, belum jika melihat faktor risiko berbahaya lainnya, seperti meledaknya alat vapor atau kandungan logam berbahaya yang ada di alat vapor.<\/span>\r\n\r\nAlat vapor dapat meledak. Ledakan dapat terjadi karena pemanasan berlebih dari baterai lithium ion yang digunakan untuk menggerakkan vape. Ledakan ini berbahaya dan dapat membunuh. <\/span>\r\n\r\nKejadian meledaknya vape ini pernah terjadi menimpa vapers bernama Kenneth Barbero dari Albany. Kenneth menjadi korban ledakan vape dan mengalami luka parah. Dalam sebuah wawancara, Kenneth menjelaskan bahwa ledakan itu merobek lidahnya, tangannya yang mengalami luka bakar dan beberapa giginya hilang.<\/span>\r\n\r\nLedakan seperti itu tidak akan pernah terjadi dan tidak akan pernah menghantui kretekus. Sebab mengonsumsi kretek tidak memerlukan daya listrik apapun. Mengonsumsi kretek sama dengan mengonsumsi tembakau secara alami, dan jangan lupakan komponen cengkeh dan rempah lainnya yang juga terkandung di dalam kretek.<\/span>\r\n\r\nMaka jika melihat fenomena bahayanya mengonsumsi produk alternatif tembakau macam vape dari kacamata riset kesehatan dan pengalaman korban, sungguh miris rasanya jika kampanye \u2018lebih sehat\u2019 masih dihembus-hembuskan kepada masyarakat.<\/span>\r\n\r\nWalaupun terdapat riset kesehatan yang menunjang kampanye \u2018lebih sehat\u2019 tersebut, tentu riset tersebut belum kredibel, sebab sebuah produk bisa dikatakan berbahaya atau berisiko tidak hanya dilihat dari riset pendek saja.<\/strong> Dampak kesehatan akan terlihat bukan dalam kurun waktu 1-2 tahun. Dalam kurun waktu puluhan tahun barulah dampak kesehatan bisa terlihat.<\/span>\r\n\r\nKretek sebagai produk konsumsi yang telah ada sejak berabad-abad lamanya, memiliki pembuktian bahwa produk ini terus bertahan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat. Artinya dari sisi kesehatan, masyarakat sudah mengetahui apa risiko dalam mengonsumsinya dan memberikan dampak apa saja kepada tubuh manusia.<\/span>\r\n\r\nSementara vape yang kelahirannya baru seumur jagung, belum pantas untuk meneriakkan slogan \u201cproduk alternatif tembakau lebih sehat ketimbang kretek atau rokok konvensional\u201d. Karena slogan mereka masih mitos dan belum bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.<\/span>","post_title":"Benarkah Produk Alternatif Tembakau Lebih Sehat daripada Kretek?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"benarkah-produk-alternatif-tembakau-lebih-sehat-daripada-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-01-20 06:50:31","post_modified_gmt":"2019-01-19 23:50:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5254","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":false,"total_page":1},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};