REVIEW

Konservasi Keperutan: Secuplik Perihal Desa Rahtawu

konservasi desa rahtawu
sumber foto: https://www.javatravel.net/

Salah satu tempat paling mudah untuk dijadikan patokan pada peta atau petunjuk jalan di Kudus–selain simpang tujuh Kudus–adalah Masjid Al Aqsha atau lebih dikenal dengan Masjid Menara Kudus. Sebuah masjid dengan bangunan hasil akulturasi antara tradisi-tradisi Hindu dengan tradisi-tradisi Islam di negeri ini. Masjid ini menjadi salah satu peninggalan berharga dari Sunan Kudus.

Baca artikel sebelumnya: Konservasi Keperutan: Sebuah Mukadimah

Di jalan raya di selatan Masjid Menara Kudus, jika Anda menuju ke arah barat, pada jarak yang dekat saja, Anda akan menemukan lampu lalu lintas yang mengatur laju kendaraan dari empat penjuru mata angin. Di perempatan itu, ambillah jalan ke arah utara. Lurus terus saja ke utara mengikuti jalan utama hingga jarak tempuh sekira 21 kilometer, Anda akan tiba di Desa Rahtawu. Desa paling utara di Kabupaten Kudus.

Desa tempat saya bertugas mengawal sebuah program yang oleh warga Rahtawu disebut program ‘konservasi keperutan’. Sesuai janji saya pekan lalu, pekan ini saya akan sedikit menceritakan seperti apa Desa Rahtawu ini.

Dari perempatan di barat Masjid Menara Kudus, lurus terus ke arah utara sejauh sekira 21 kilometer, tanpa perlu melihat papan petunjuk atau gapura selamat datang di Desa Rahtawu, Anda bisa merasakan sudah berada di desa bernama Rahtawu dari ciri-ciri geografis yang sangat mencolok. Setelah sebelumnya jalan betul-betul lurus dengan aspal yang cukup mulus, begitu masuk Desa Rahtawu, jalan mendadak berkelok-kelok mengikuti kontur perbukitan Pegunungan Muria dengan aspal yang rusak di banyak tempat sehingga menghambat laju kendaraan. 

Memasuki wilayah desa Rahtawu, di kanan jalan terdapat jurang curam dengan dengan dasar jurang sebuah sungai yang mengalir jauh ke bawah sana, membelah Kabupaten Kudus menjadi dua bagian, barat dan timur. Bukan hanya menjadi dua bagian secara geografis, akan tetapi dua bagian secara sosial politik dan tradisi keagamaan masyarakatnya. Sungai itu bernama Kali Gelis.

Di kiri jalan, bukit-bukit menjulang tinggi yang di beberapa bagiannya, tanaman-tanaman kayu keras tumbuh subur menahan tanah dari ancaman longsor, akan tetapi, di banyak bagian lainnya, bukit-bukit yang berjejer hingga wilayah Jepara itu, kosong melompong tanpa tanaman, tandus dan gersang. 

Tak lama setelah melalui jalan berkelok-kelok usai memasuki Desa Rahtawu, kita akan berjumpa dengan perkampungan pertama, Dukuh Tumpuk, kemudian pusat Dusun Gingsir. Usai meninggalkan perkampungan di dusun Gingsir, jalur yang dilalui kembali berkelok-kelok, menanjak di beberapa tempat, dan menurun di tempat lainnya sesuai kontur perbukitan di desa. 

Beberapa kali kita mesti menyeberangi jembatan yang melintang di atas sungai-sungai kecil yang bermuara di Kali Gelis. Sungai-sungai itu berdebit sangat kecil di musim kemarau, namun menjelma deras ketika musim penghujan tiba. Pada beberapa titik, di bukit-bukit dengan tebing curam, muncul air terjun saat musim penghujan tiba, seperti beberapa bulan belakangan ini.

merokok di rahtawu

Seorang kakek sedang menikmati rokok

Sekira dua kilometer kemudian, kita akan tiba di pusat desa, Dusun Krajan. Atau orang-orang di Rahtawu kerap menyebut wilayah dusun ini dengan sebutan Kulonkali. Sebutan Kulonkali lebih dikenal karena memang wilayah geografis pusat desa ini berada di barat Kali Gelis yang membelah desa Rahtawu menjadi dua bagian geografis, juga sosial dan terutama kekuatan-kekuatan politik desa. Kulon dan wetan, barat dan timur. Seperti juga Kali Gelis membikin Kabupaten Kudus menjadi dua bagian.

Di Krajan, karena wilayah ini merupakan pusat desa, berdiri kantor desa, balai desa, polindes, BUMDes, BPD, dan beberapa gedung-gedung pemerintahan desa lainnya. Wilayah ini juga menjadi wilayah paling padat di desa. Dari sekira 4000an penduduk desa, lebih sepertiganya berada di wilayah Krajan. 

Persis di timur Krajan, di seberang Kali Gelis, Dusun Wetankali berada. Dusun ini bisa dibilang oposisi langsung terhadap Krajan. Baik secara geografis, juga secara politis. Dusun Wetankali merupakan dusun dengan penduduk terpadat nomor dua di desa. Wilayah ini sejak lama dikenal sebagai wilayah dengan ciri khas pertanian semusim dengan tanaman-tanaman yang ditanam adalah tanaman-tanaman sumber panganan pokok semisal jagung, beras, singkong, dan ubi.

Ketika wilayah-wilayah dusun lain sudah beralih menanam kopi sejak maklumat presiden Gus Dur perihal hutan negara hutan rakyat dan rakyat boleh memanfaatkan semampu mereka, juga setelah mereka melihat keberhasilan petani-petani kopi dan pertanian kopi di desa tetangga, warga Wetankali tetap bertahan dengan tanaman pangan semusim mereka.

Tanaman pangan yang ditanam di wilayah-wilayah dengan kondisi geografis yang sangat sulit, yang saat pertama saya mengetahuinya, membikin saya heran, “Luar biasa, di tebing-tebing, dan bukit-bukit dengan kemiringan bisa mencapai 75 derajat, para petani masih menanami wilayah semacam itu dengan jagung dan singkong.” Gumam saya sekali waktu.

Pertanian semusim ini menjadi bumerang bagi wilayah Wetankali ketika musim hujan 2014 longsor terjadi di wilayah Wetankali, menimbun 12 rumah dan menelan korban jiwa sebanyak 1 orang. Tanah-tanah di perbukitan yang sangat terbuka, tanpa penahan dari akar-akar kayu keras, memang menbikin bukit-bukit itu rawan longsor. Namun begitu, pasca kejadian longsor 2014, pertanian semusim di wilayah Wetankali belum benar-benar ditinggalkan. Alasannya sangat masuk akal, “longsor memang mengancam daerah kami, mengancam nyawa kami, tapi kelaparan juga mengancam kami kalau kami tidak bertani.” Ujar salah seorang tokoh masyarakat di Wetankali. Ia kemudian melanjutkan, “Jika hendak ditanami tanaman-tanaman kayu keras di Wetankali, tanaman-tanaman konservasi, dengan alasan agar longsor tidak terjadi, lalu kami makan dari mana? Lagipula ini tanah milik kami, kami berhak menanam apa saja semau kami agar kami bisa terus menyambung hidup.”

membakar rokok

Rokok tingwe ketika dibakar

Jika kamu pernah mendengar sebuah wilayah di perbatasan Kabupaten Magelang dan Temanggung, di Kaki Gunung Sumbing yang baru-baru ini viral dengan istilah Nepal van Java, atau Kathmandu van Java, seperti itu jugalah bentuk pemukiman-pemukiman di wilayah Wetankali, juga di sebagian wilayah Dusun Krajan, dan di Dusun Semliro, dusun ke empat dari empat dusun di Rahtawu. Dusun dengan wilayah paling utara di desa, jiga paling utara di Kabupaten Kudus.

Dusun Semliro, terletak sekira empat kilometer di utara Krajan. Menuju Semliro, jalan kian berkelok-kelok, kian menanjak, dan di beberapa tempat jurang-jurang dan tebing-tebing terjal memberikan pemandangan yang semakin indah. Namun di waktu lain merupakan potensi bahaya. Ya, potensi bahaya mengintai dari tebing-tebing dan jurang-jurang di seluruh desa Rahtawu, selain potensi keindahan wisatanya. 

Di musim penghujan, desa yang indah menjelma desa rawan bencana. Hampir setiap hari terjadi longsor yang menutup jalan utama desa. Satu-satunya jalan desa yang ada. Misal, jika satu titik jalan di dusun Gingsir tertimbun longsor, satu desa akan terisolasi hingga timbunan itu berhasil disingkirkan, karena jalan yang saya ceritakan di atas itu hingga hari ini memang hanya satu-satunya jalan untuk bisa mencapai desa Rahtawu.

Kembali ke Dusun Semliro. Penduduk dusun ini, menjadi pioner perubahan skema pertanian di Rahtawu. Mereka mencoba berubah dari menanam tanaman-tanaman pertanian semusim semisal jagung dan singkong, menjadi tanaman-tanaman pertanian kayu keras berupa buah-buahan, dengan tanaman kopi menjadi ujung tombak. 

Dari sinilah, dari dusun ini, ketika mendengar permasalahan yang seakan-akan mempertentangkan konservasi dengan pertanian komunal masyarakat, muncul istilah ‘konservasi keperutan’. Konservasi boleh berjalan, dan memang harus dilakukan agar bencana tidak semakin mengintai, dan alam kembali lestari, tetapi ekonomi warga, kebutuhan wilayah perut warga, tidak bisa dikalahkan atas nama konservasi. Maka daripada melulu dipertentangkan, kenapa tidak mengkolaborasikan saja, konservasi jalan, tetapi perut warga bisa tetap terjamin. Maka lahirlah istilah ‘konservasi keperutan’ dengan menjalani program konservasi berbasis tanaman-tanaman produktif untuk menjamin perekonomian warga. Konservasi jalan, tetapi warga juga bisa terus mendapat penghasilan.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)

You may also like

Comments are closed.

More in:REVIEW