Di tengah mudahnya orang mendapatkan rokok siap pakai, workshop melinting justru muncul. Padahal melinting tembakau sebelumnya sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Peserta tidak hanya datang untuk melihat, tetapi juga mencoba secara langsung bagaimana proses melinting itu.
Daftar Isi
ToggleFenomena ini menarik karena melinting bukan sekadar aktivitas membuat rokok secara manual. Di dalamnya terdapat persoalan yang kompleks: mulai dari persoalan budaya, pengalaman, keterampilan, hingga stigma sosial. Berdasarkan wawancara dengan dua responden, yaitu Deandra dari Humaniora Bersatu serta Agra Pratiwi dari IDN Times x Mangkunegara, terlihat bahwa workshop melinting memiliki alasan dan makna yang cukup beragam.
Workshop melinting bermula dari budaya rokok
Bagi Deandra, munculnya ide untuk membuat workshop melinting tak bisa lepas dari lingkungan tempat kegiatan tersebut. Workshop tersebut berlangsung di FISIPOL, sebuah lingkungan yang menurut pengamatannya memiliki budaya merokok yang cukup mengakar.
“Rokok tuh udah jadi budaya yang cukup mengakar di fakultas ini,” ujar Deandra.
Melihat kondisi tersebut, ia memperkirakan bahwa kegiatan yang berkaitan dengan rokok dan kretek akan memiliki peminat yang cukup besar. Namun, workshop tersebut menurutnya tidak semata-mata dibuat untuk memenuhi permintaan peserta. Ada tujuan lain yang ingin dibawa, yaitu memperkenalkan kretek sebagai bagian dari budaya dan tradisi kepada peserta, terutama karena kemungkinan besar peserta berasal dari kalangan anak muda.
Di sini, melinting kemudian tidak hanya diposisikan sebagai sebuah keterampilan teknis. Ada upaya untuk memperkenalkan sesuatu yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat melalui bentuk kegiatan yang lebih interaktif. Peserta tidak sekadar mendengar penjelasan mengenai tembakau atau kretek, tetapi mendapatkan kesempatan untuk mencobanya sendiri.
Pengalaman interktif dari workshop melinting
Hal yang sama terlihat dari pengalaman Agra Pratiwi dalam workshop melinting di rangkaian acara IDN Times x Mangkunegara. Menurut Agra, workshop melinting merupakan salah satu aktivitas tambahan dengan tujuan agar peserta mendapatkan pengalaman yang lebih interaktif.
Peserta tidak hanya menjadi penonton dalam sebuah acara. Mereka dapat terlibat secara langsung dalam proses melinting sekaligus mengenal budaya dan tradisi yang berkaitan dengan tembakau.
“Jadi mereka tidak hanya mengikuti acara sebagai penonton, tetapi juga dapat mencoba secara langsung proses melinting sekaligus mengenal budaya dan tradisi yang berkaitan dengan tembakau,” jelas Agra.
Ia memilih mengadakan workhop melinting sebab sesuai dengan karakter dan minat sebagian peserta. Selain itu, nillai kegiatan tersebut lebih menarik karena memberikan kesempatan kepada peserta untuk melakukan kegiatan melinting secara langsung. Dalam acara tersebut, peserta juga dapat memilih workshop berdasarkan minat mereka.
Menurut Agra, salah satu alasan workshop melinting cukup diminati adalah karena aktivitas semacam ini masih relatif jarang ditemukan dalam workshop pada umumnya. Peserta mendapatkan sesuatu yang berbeda dari kegiatan yang biasanya hanya berisi materi atau penjelasan.
Ada pula rasa puas ketika seseorang berhasil membuat sesuatu dengan tangannya sendiri. Dengan demikian, pengalaman dalam workshop tidak hanya terletak pada hasil akhirnya, tetapi juga pada proses mencoba, belajar, dan berhasil melakukan sesuatu yang sebelumnya belum tentu pernah dilakukan.
Peserta tidak selalu datang karena alasan yang sama
Namun, menariknya, tidak semua peserta datang dengan tujuan yang sama. Dari pengamatan kedua responden, motivasi peserta cukup beragam. Ada yang memang ingin mengetahui budaya melinting, tetapi ada pula yang sekadar ingin mencoba pengalaman baru.
Deandra melihat bahwa sebagian besar peserta kemungkinan datang karena alasan kedua. Menurutnya, jumlah orang yang merokok sudah cukup banyak, tetapi orang yang membuat rokoknya sendiri dengan cara melinting masih relatif sedikit. Karena itu, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk mencoba sesuatu yang belum pernah mereka lakukan.
Agra juga melihat hal yang serupa. Banyak peserta datang karena ingin mendapatkan pengalaman baru dan mencoba langsung proses melinting. Namun, pada saat yang sama, terdapat peserta yang memiliki ketertarikan lebih jauh terhadap budaya dan proses di balik aktivitas tersebut.
Kedua motivasi tersebut tidak harus dipisahkan. Seseorang bisa saja datang karena ingin mencoba sesuatu yang baru, tetapi setelah mencobanya justru menjadi tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai sejarah, budaya, dan proses yang ada di balik kegiatan melinting.
Dalam konteks inilah workshop dapat menjadi ruang pertemuan antara pengalaman dan pengetahuan. Orang yang awalnya hanya ingin mencoba dapat memperoleh pemahaman baru mengenai aktivitas yang selama ini mungkin hanya mereka lihat dari jauh.
Melinting membutuhkan keterampilan
Bagi Deandra, orang yang memilih melinting merupakan orang yang “effort”. Alasannya sederhana: proses melinting membutuhkan waktu dan tenaga lebih daripada membeli rokok yang sudah jadi.
Di tengah kondisi ketika rokok siap pakai, masih ada orang yang memilih membuatnya sendiri. Menurut Deandra, pilihan tersebut bisa saja berdasar pada berbagai alasan. Mulai dari preferensi pribadi hingga keinginan untuk mempertahankan kebiasaan atau budaya tertentu.
Agra memiliki pandangan yang sedikit berbeda dari Deandra. Ia mengakui bahwa dirinya bukan perokok dan belum terlalu memahami aktivitas melinting secara mendalam. Namun, setelah terlibat dalam workshop tersebut, ia mulai melihat bahwa melinting membutuhkan keterampilan dan ketelitian.
Hal tersebut membuatnya melihat melinting bukan sekadar aktivitas yang sederhana. Ada proses belajar di dalamnya. Bagi Agra, pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang menarik sebagai pengetahuan, khususnya dari sisi budaya dan prosesnya.
Ia juga menolak anggapan bahwa aktivitas melinting hanya berkaitan dengan kelompok tertentu. Menurutnya, aktivitas tersebut tidak bisa begitu saja digeneralisasi berdasarkan jenis kelamin karena setiap orang dapat memiliki ketertarikan yang berbeda.
Stigma soal melinting sama dengan miskin
Di sisi lain, pembicaraan mengenai melinting tak bisa lepas dari stigma ekonomi. Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang anggapan orang yang melinting itu adalah orang yang tidak mampu membeli rokok pabrikan. Sehingga, melinting kemudian tersigma menjadi tanda kemiskinan atau kondisi ekonomi yang rendah.
Deandra mengakui bahwa anggapan tersebut memang tidak muncul tanpa alasan. Salah satu alasan seseorang memilih melinting memang bisa berkaitan dengan naiknya harga rokok konvensional. Ketika harga rokok meningkat, melinting dapat menjadi salah satu pilihan bagi sebagian orang.
Namun, menurut Deandra, alasan tersebut tidak seharusnya digunakan untuk memberikan label kepada semua orang yang melinting. Ia berharap stigma bahwa pelinting identik dengan orang miskin dapat perlahan menghilang. Salah satu alasan ia membuat workshop adalah agar masyarakat lebih mengenal aktivitas melinting dan tidak melihatnya hanya dari sisi ekonomi.
Agra juga memiliki pandangan serupa. Ia mengaku tidak terlalu sering mendengar stigma bahwa orang yang melinting pasti miskin atau tidak mampu membeli rokok konvensional. Dari orang-orang melinting yang dikenalnya, ia justru menemukan berbagai alasan lain, seperti kebiasaan, preferensi rasa, hingga kenyamanan dalam menentukan sendiri bahan yang digunakan.
Menurutnya, melinting juga tidak selalu lebih murah. Misalnya ketika membeli tembakau terbaik dari Madura—Campalok yang harganya bisa tembus 5 juta per kilonya. Belum lagi alat dan berbagai bahan. Aktivitas melinting ini bisa jadi lebih mahal dari pada membeli rokok pabrikan. Karena itu, menghubungkan aktivitas melinting secara langsung dengan kondisi ekonomi seseorang terlalu sederhana.
Kreatifitas yang tumbuh melalui workshop melinting
Dari dua pandangan tersebut, terlihat bahwa melinting memiliki makna yang lebih beragam daripada sekadar cara seseorang membuat rokok. Ada yang melihatnya sebagai kebiasaan, ada yang menganggapnya sebagai bagian dari budaya, ada yang memilihnya karena preferensi pribadi, dan ada pula yang melihatnya sebagai pengalaman baru.
Workshop melinting kemudian menjadi ruang yang mempertemukan berbagai makna tersebut. Aktivitas yang sebelumnya jadi aktivitas sehari-hari, menjadi sebuah kegiatan yang dapat diikuti oleh banyak orang. Sesuatu yang mungkin sebelumnya biasa saja kemudian menjadi sesuatu yang menarik untuk jadi pembelajaran.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana sebuah kebiasaan dapat berubah ketika masuk ke dalam ruang workshop. Peserta tidak hanya belajar melakukan suatu aktivitas, tetapi juga melihat bahwa di balik aktivitas tersebut terdapat sejarah, budaya, kebiasaan masyarakat, dan berbagai persepsi sosial.
Pada akhirnya, melinting tidak hanya soal bagaimana seseorang membuat rokok secara manual. Bagi sebagian orang, melinting merupakan kebiasaan. Bagi sebagian lainnya, melinting menjadi bentuk preferensi. Sementara bagi peserta workshop, melinting dapat menjadi pengalaman baru untuk mengenal sebuah tradisi yang mungkin selama ini hanya mereka lihat tanpa pernah mencoba sendiri.
Di tengah kemudahan mendapatkan rokok siap pakai, munculnya workshop semacam ini menjadi fenomena yang menarik. Ia memperlihatkan bahwa sesuatu yang terlihat sederhana ternyata dapat menjadi sebuah pengalaman budaya. Namun, di saat yang sama, fenomena tersebut juga mengingatkan bahwa sebuah aktivitas tidak seharusnya langsung dinilai hanya berdasarkan stigma yang melekat padanya.
Melalui workshop, melinting memperoleh ruang baru untuk dilihat, dipelajari, dan dibicarakan. Bukan hanya sebagai aktivitas membuat rokok, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman sosial dan budaya yang memiliki banyak cerita di baliknya.
Penulis: Spahing Aprianto
BACA JUGA: Tingwe Lebih Baik ketimbang Rokok Ilegal: Lebih Murah dan Lebih Hemat










