Festival Lembutan Bansari: Upaya Petani Tembakau Temanggung Tetap Berdaulat di Tengah Senjakala IHT

Festival Lembutan Bansari: upaya petani tembakau Temanggung berdaulat Boleh Merokok

Sabtu (2/8/2025) lalu saya pulang ke Temanggung setelah beberapa minggu menjalani agenda padat di Jogja. Kepulangan saya itu tidak hanya sekedar penawar rasa rindu bertemu keluarga, terutama ibu. Tapi juga ada acara yang perlu saya datangi. Namanya Festival Lembutan Bansari.

Festival Lembutan Bansari adalah gelaran tahunan di Temanggung. Tahun ini adalah gelaran yang ke-6 . Berlangsung 1-3 Agustus 2025 di Desa Purborejo, acara ini menyuguhkan stand-stand UMKM–khususnya hasil panen tembakau  lereng Sindoro (Paksi), pementasan kesenian setempat, dan hiburan lainnya.

Berasal dari keresahan petani tembakau Temanggung

Merujuk keterangan sejumlah panitia, acara ini bermula ketika tahun 2016 silam para petani merasa resah atas situasi Industri Hasil Tembakau (IHT). Kala itu kualitas tembakau kurang begitu baik dan pabrikan pun tidak membelinya.

Kemudian di tahun 2017, mereka membuat langkah konkret untuk membuat Festival Lembutan Bansari.

Melalui Festival Lembutan Bansari inilah para petani tembakau di Temanggung terus mencoba bertahan dan berdaulat di tengah kondisi Industri Hasil Tembakau yang terus memprihatinkan.

Setidaknya dari tembakau yang diolah dengan cara lembutan, petani di Temanggung bisa memiliki opsi lain selain disetor ke pabrikan. Mereka juga bisa memiliki daya tawar untuk menjual tembakau yang mereka tanam.

Tantangan petani tembakau di Temanggung

Sebagai informasi, ada dua opsi bagi petani Temanggung untuk menjual tembakaunya. Pertama, menjual hasil panennya ke pabrikan dengan cara rajangan kasar.

Untuk sistem ini biasanya petani menghadapi tantangan berupa tata niaga yang masih menjadi persoalan. Karena ada permainan harga dari tengkulak, kemudian oknum-oknum yang kerap mengoplos tembakau sehingga menurunkan kualitas. Sehingga dari situ para petani mengeluh kalau harga tembakau yang didapat tidak maksimal.

Kedua, memakai metode rajangan halus. Inilah tembakau yang dijual ke toko-toko tingwe atau bisa juga langsung ke konsumen. Harga tembakau dari metode ini memang cenderung stabil.

Hanya saja, petani seperti berjudi karena belum tentu tembakau laku semua. Uang yang mereka dapat pun bertahap, tidak langsung banyak seperti ketika mereka menjual ke pabrik.

Festival Lembutan Bansari: upaya bertahan di senjakala IHT

Saya kagum betul dengan Festival Lembutan Bansari. Acara ini lahir bukan dari pemangku kebijakan, tapi dari akar rumput sendiri.

Ini adalah bukti bahwa para petani tembakau di Temanggung masih berusaha keras untuk bisa bertahan di tengah Industri Hasil Tembakau yang berada di masa senjakala.

Selain melihat geliat acara di sini, saya ikut membeli tembakau,  berbincang dengan pelaku dunia tembakau di Temanggung. Di tahun ini, mereka masih terus menaruh harapan agar ekosistem tembakau terus membaik. Karena tembakau adalah sumber penghidupan dan kehidupan bagi masyarakat Temanggung.

Setelah berbincang dengan beberapa orang, saya ikut membeli tembakau di salah satu stand yang ada di sana. Tanpa saya sangka ternyata harga tembakaunya jauh lebih murah ketimbang yang saya beli di kios-kios tembakau.

Biasanya saya membeli tembakau di kios seharga Rp30 ribu-Rp40 ribu  per 1 ons. Tapi untuk di Festival Lembutan Bansari, saya membeli tembakau 2 ons mendapat harga Rp35.000 saja. Untuk 1 kilogramnya cuma Rp170 ribu. Sangat terjangkau sekali.

Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK), Khoirul Atfifudin

BACA JUGA: Rumah-Rumah di Legoksari Temanggung Tak Cuma untuk Berteduh

Artikel Lain