Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\n
Tak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nLantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nHarga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nSetahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nSebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nSaya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nDua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nTiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nSelain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nPada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nPada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nMeskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nMereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nDi Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\n\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nLantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nHarga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nSetahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nSebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nSaya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nDua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nTiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nSelain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\nPada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
\r\nBeberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n
Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6931,"post_author":"878","post_date":"2020-07-17 11:00:47","post_date_gmt":"2020-07-17 04:00:47","post_content":"\n
Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.<\/p>\n\n\n\n
Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam. <\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, \"di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.\" Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, \"lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.\"<\/p>\n\n\n\n
\"Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.\" Begitu ia menutup keterangannya.<\/p>\n\n\n\n
Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air. <\/p>\n\n\n\n
Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.<\/h2>\n\n\n\n
Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.<\/p>\n\n\n\n
Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.<\/p>\n\n\n\n
Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.<\/p>\n\n\n\n
Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.<\/p>\n\n\n\n
Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.<\/p>\n","post_title":"Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-tembakau-dan-perubahan-iklim","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-17 11:00:48","post_modified_gmt":"2020-07-17 04:00:48","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6931","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6928,"post_author":"878","post_date":"2020-07-16 07:00:57","post_date_gmt":"2020-07-16 00:00:57","post_content":"\n
Pernah ada masanya, masyarakat di Nusantara, hidup berkelompok-kelompok dalam sebuah komunal kolektif. Mereka membangun kesepakatan bersama yang pada ujungnya menjamin kemandirian dan kesejahteraan bersama. Ragam bentuk kesepakatan dibikin, semua itu dituangkan dalam aturan-aturan yang disebut hukum adat atau sejenisnya yang dikontekstualisasikan dengan lingkungan tempat kelompok-kelompok itu tinggal.<\/p>\n\n\n\n
Mulai dari sistem ketahanan pangan, jaminan kesehatan, program pendidikan, kelestarian lingkungan, semuanya dibikin berdasar kesepakatan bersama. Semua itu dibalut selimut indah kebudayaan, budaya, buah cipta-rasa-luhur manusia. <\/h2>\n\n\n\n
Gelombang besar modernisme dalam jubah-jubah semacam globalisasi, pasar bebas, dan penyamarataan menggulung semua itu. Mereka yang kini masih mempertahankan sistem kehidupan kolektif komunal semacam itu (biasanya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, direpresentasikan oleh masyarakat adat) akan dicap primitif, terbelakang, tertinggal, dan belum maju. Nggak modern, Lu!<\/p>\n\n\n\n
Beberapa tahun belakangan, saya belajar banyak dari beberapa kelompok masyarakat adat perihal sistem pendidikan dan ketahanan pangan yang mereka jalani dalam komunitas. Kesimpulan saya, proses pendidikan yang diterapkan masyarakat adat betul-betul dirancang untuk menyiapkan anak-anak agar bisa bertahan hidup sembari terus mempertahankan adat. <\/p>\n\n\n\n
Ini paling ideal tentu saja. Dan tidak ada yang terlalu ideal di bumi. Namun proses pendidikan yang sudah dilakukan mereka, mendekati ideal. Lebih dari itu, proses pendidikan dijalani dengan sangat cair dan menyenangkan. Sesuatu yang sulit didapat dari pendidikan formal. Dan mereka tidak pernah repot-repot melabeli itu sebagai pendidikan alternatif, bahkan sama sekali tidak melabeli itu pendidikan. Ya hidup. Kehidupan. Pendidikan itu berpilin berkelindan dengan nafas kehidupan komunitas.<\/p>\n\n\n\n
Begitu juga dalam sektor ketahanan pangan. Masyarakat adat membangun sistem ketahanan pangan yang pada akhirnya menjamin panganan sehat dan bebas dari ancaman kelaparan, bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun.<\/p>\n\n\n\n
Mereka yang begitu itu, meminjam paradigma modern, banyak dari kita melabeli mereka primitif. Lantas menolak dan merendahkan cara mereka bertahan hidup. Sistem pendidikan diganti dengan sistem pendidikan formal dalam ruang-ruang bernama sekolah. Kursus-kursus keterampilan hingga kuliah diselenggarakan. Semua itu berbiaya tidak murah.<\/p>\n\n\n\n
Pupuk kimia sintetis menyebar bak jamur di musim penghujan. Menggenjot produksi dengan memaksa pertanian monokultur. Hutan-hutan dibabat diganti tanaman seragam. Semua atas nama modernisme dan penumpukan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n
Kini saat beberapa dari kita menyadari bahwa banyak yang kurang, banyak yang salah, banyak yang tidak bisa diaplikasikan dalam konteks keindonesiaan dari ide-ide modernisme itu, kita berbondong-bondong memuji masyarakat adat, sembari menyesal.<\/p>\n\n\n\n
Beberapa mencoba kembali berusaha membangun proses pendidikan yang menyenangkan laiknya masyarakat adat membangun proses pendidikan mereka. Sayangnya, itu banyak dilakukan sebatas simbol-simbol dan pelabelan belaka. Membikin sekolah dengan tambahan label 'alternatif' tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar pendidikan yang dijalani. Kemudian dengan label itu, menjual sekolah dengan biaya selangit.<\/p>\n\n\n\n
Hal yang sama mirip dengan sistem ketahanan pangan. Tren produk organik dan panganan sehat mewabah di mana-mana. Berbeda dengan sistem pendidikan alternatif yang banyak berbiaya mahal karena label itu, sistem produk pertanian organik masih masuk akal jika kita mesti membayar sedikit lebih mahal dari biasanya kini. Karena kita memang sudah dikepung produk pangan yang ditimbuni pupuk kimia sintetis.<\/p>\n\n\n\n
Tak ada salahnya mengakui kesalahan kita, kemudian memperbaikinya. Bahwa pandangan primitif terhadap masyarakat adat itu betul-betul membenamkan kita dalam lumpur kenistaan. Kita salah. Dan mari perbaiki diri, paling sederhana, membuang pandangan-pandangan prihal primitif itu. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian kita bisa melanjutkan dengan menghormati cara dan pilihan mereka hidup dalam masyarakat adat. Pada akhirnya, kita bisa mengambil hal-hal baik dari tradisi dan kebudayaan yang mereka terapkan untuk pelan-pelan mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak membuang sampah di sungai misalnya.<\/p>\n","post_title":"Belajar dari Masyarakat Adat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"belajar-dari-masyarakat-adat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-16 01:47:19","post_modified_gmt":"2020-07-15 18:47:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6928","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6913,"post_author":"878","post_date":"2020-07-10 09:50:40","post_date_gmt":"2020-07-10 02:50:40","post_content":"\n
Kenaikan cukai di tahun ini yang bagi kebanyakan orang angkanya tidak masuk akal, membikin pola konsumsi rokok berubah cukup signifikan. Harga rokok pabrikan yang biasanya dikonsumsi para perokok, melambung tinggi usai kenaikan cukai berlaku pada 1 Januari di tahun ini.
\nIbarat alat timba, cukai mengerek harga rokok cukup tinggi. Imbasnya, banyak perokok yang beralih dari produk-produk rokok premium yang sebelumnya sudah berharga cukup mahal, semakin mahal usai kenaikan cukai.
\nAda tiga pola perubahan konsumsi rokok usai kenaikan cukai yang angkanya lebih dari 20 persen di tahun ini. Pola perubahan pertama, para perokok berpindah produk rokok dari yang sebelumnya mengonsumsi rokok premium ke rokok-rokok kelas dua yang harganya lebih murah.
\nPola kedua, para perokok beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan ke rokok tingwe atau linting dewe. Membeli tembakau rajangan dan kertas gulung sesuai dengan selera mereka. Ini jelas jauh lebih murah dan lebih hemat dibanding membeli rokok pabrikan, baik itu kelas premium atau kelas dua. Pola ketiga, para perokok benar-benar berhenti merokok. Pola terakhir ini, yang paling sedikit di antara ketiganya.
\nPandemi korona yang berimbas terhadap krisis ekonomi di negeri ini, dengan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya, pengusaha yang ambruk usahanya, kian mempengaruhi pola konsumsi rokok masyarakat. Kondisi keuangan yang kian buruk dan kebutuhan merokok yang tetap mesti dipenuhi membikin para perokok bersiasat dengan lincah agar tetap bisa menikmati rokok.
\nMeledaknya konsumsi rokok tingwe di kalangan perokok belakangan ini, menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati pemerhati industri rokok seperti saya ini. Semasa pandemi korona ini, saya memang sebelumnya kesulitan mengamati bentuk perubahan konsumsi rokok dari rokok produk pabrikan ke rokok tingwe. Ini tentu saja karena anjuran pemerintah yang sebaiknya di rumah saja, dan larangan berkumpul dalam jumlah orang yang terlalu besar. Di rumah saja, dan tidak ada kumpulan banyak orang yang bisa saya amati, saya tidak tahu banyak pola perubahan konsumsi rokok di kalangan perokok.
\nSaya pada akhirnga bisa mulai kembali mengamati perubahan ini setelah pelonggaran-pelonggaran protokol penanganan korona. Beberapa kali saya bisa keluar rumah. Salah satu yang saya amati ketika keluar rumah, di Yogya, setidaknya selama dua pekan belakangan ini saya melihat ada tujuh kios baru yang menjual tembakau rajangan dari berbagai daerah, lengkap dengan cengkeh dan ragam rupa kertas lintingnya.
\nItu baru di sekitar Yogya bagian utara. Dan saya yakin, di wilayah timur, barat, dan selatan, ada kios-kios tembakau tingwe yang mulai menjajakan dagangannya. Dan fenomena ini tentu saja baru permulaan, belum selesai. Masih akan ada kios-kios tembakau tingwe baru yang akan memulai usahanya di seantero Yogya. Dan saya yakin di kota lain juga seperti itu.
\nSaya kira, fenomena mulai berdirinya kios-kios tembakau tingwe ini, memiliki kemiripan dengan ramainya pendirian kedai-kedai kopi setidaknya selama lima tahun belakangan di banyak kota di negeri ini. Jumlahnya tentu tidak akan sebanyak kedai-kedai kopi, tapi polanya mirip, dengan tingwe menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda yang merokok.
\nIni baru kios-kios fisik. Toko-toko online yang menjual tembakau tingwe dan segala macam perlengkapan tingwe lainnya, juga mulai bergeliat. Jumlahnya, jauh lebih banyak dibanding kios-kios fisik tingwe yang mulai berdiri. Saya coba memantau fenomena toko online yang menjual tembakau ini di pasar online lewat grup-grup facebook dan grup-grup whatsapp. Jumlahnya sulit saya hitung dan identifikasi. Yang jelas, lebih banyak dari toko fisik yang mulai berdiri.
\nPabrikan-pabrikan rokok, tentu saja tak tinggal diam melihat fenomena ini. Mereka mulai banyak mengeluarkan produk-produk rokok baru dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Tentu saja ini untuk memenuhi permintaan pasar yang berubah terkait kemampuan ekonomi mereka.
\nNegara, lewat kebijakan cukainya yang ngawur dan hanya mementingkan pemasukan mereka, lewat skema menaikkan cukai sesungguhnya juga ingin menekan konsumsi rokok di negeri ini, sesuai pernyataan menteri keuangan dan menteri kesehatan usai cukai dinaikkan. Tetapi, para perokok, tak kehilangan akal, tak kehabisan kreativitas.
\nPola perubahan ini, selain membuka pasar baru perdagangan tembakau di negeri ini, juga menguntungkan banyak pihak. Ya petani, pedagang baru, dan tentu saja para perokok yang tetap bisa merokok dengan harga yang masih cukup terjangkau, dan kualitas rasa yang masih cukup terjamin.
\nNegara boleh jumawa lewat kuasa yang mereka punya dengan menaikkan cukai rokok seenak perutnya, tapi perokok, tak akan kehabisan akal untuk bisa menikmati aktivitas merokok yang rekreatif dan relaktatif dengan harga yang terjangkau. Perokok kok dilawan!<\/p>\n","post_title":"Perubahan Pola Konsumsi Rokok Usai Kenaikan Cukai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perubahan-pola-konsumsi-rokok-usai-kenaikan-cukai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-10 09:50:44","post_modified_gmt":"2020-07-10 02:50:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6913","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6909,"post_author":"878","post_date":"2020-07-09 10:20:57","post_date_gmt":"2020-07-09 03:20:57","post_content":"\nTak hanya lewat pajak dan cukai, sumbangsih perusahaan rokok terhadap lingkungan sekitar juga dilakukan lewat skema CSR yang ketentuan-ketentuannya diatur dengan tegas dalam hukum positif negara ini. <\/p>\n\n\n\n
Corporate Social Responsibility (CSR) secara harfiah berarti tanggung jawab sosial perusahaan. Ini merupakan sebuah mekanisme yang dijalankan perusahaan yang secara sadar mengintegrasikan aktivitasnya dengan lingkungan dan stakeholder di sekitar perusahaan itu beroperasi. Pada praktiknya, lingkungan dan stakeholder sekitar itu didefinisikan dengan begitu cair, dalam artian wilayah jelajah CSR pada praktiknya tidak hanya di sekitar perusahaan beroperasi.<\/p>\n\n\n\n
Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan tersebut adalah kegiatan apa saja yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, baik itu dalam bentuk pembangunan fisik, berbagai macam pelatihan peningkatan skill, kegiatan peduli lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan ragam bentuk kegiatan lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Berdasarkan pandangan para ahli ekonomi, skema CSR memiliki 3 definisi utama:<\/p>\n\n\n\n
- Melakukan tindakan sosial, termasuk di dalamnya adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lebih dari batas-batas yang dituntut atau diharuskan dalam peraturan perundang-undangan.<\/li>
- Komitmen usaha yang dilakukan secara etis, beroperasi secara legal, serta berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan kualitas hidup karyawan termasuk keluarganya, komunitas lokal, serta masyarakat banyak.<\/li>
- Komitmen bisnis untuk turut serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga pekerja, komunitas wilayah tertentu, serta masyarakat umum secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup mereka yang disebut di atas.<\/li><\/ol>\n\n\n\n
Dengan kata lain, skema CSR dimaksudkan agar sebuah perusahaan tidak sekadar menghitung pertimbangan bisnis dan keuntungan semata dalam menjalankan perusahaannya. Ada beban pembangunan berkelanjutan di sini. Dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin ditimbulkan dari jalannya sebuah perusahaan juga mesti menjadi pertimbangan perusahaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Oleh karena itu, hukum positif negeri ini mengatur perusahaan agar menjalani skema ini hingga pada akhirnya program CSR pada sebuah perusahaan wajib adanya. Tak terkecuali perusahaan rokok di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Sesungguhnya, jika dilihat dari skema yang berlaku di perusahaan rokok, keberadaan cukai adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Ia diadakan untuk menanggulangi efek-efek buruk yang sekiranya bisa ditimbulkan dari keberadaan rokok dan perusahaan rokok. Akan tetapi, perusahaan rokok tetap harus menjalani skema CSR demi memenuhi tuntutan undang-undang negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Jika perusahaan lain kebanyakan hanya terkena skema pertanggung jawaban kepada negara berupa pajak dan CSR, perusahaan rokok mesti bertanggung jawab lewat pajak, cukai, dan CSR sekaligus. Yang cukup membanggakan, perusahaan-perusahaan rokok menjalankan fungsi CSR-CSR di perusahaan mereka dengan begitu baik.<\/p>\n\n\n\n
Hampir semua perusahaan rokok besar di negeri ini mempunyai program beasiswa sebagai salah satu bentuk CSR mereka. Di luar itu, ragam bentuk kegiatan CSR mereka lakukan dengan sungguh-sungguh.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu perusahaan rokok besar yang berbasis di Kudus, memiliki ragam bentuk CSR, ada yang bergerak di bidang pendidikan, olahraga, budaya, dan lingkungan. Di bidang pendidikan, selain menggelontorkan keuntungan mereka untuk membikin program beasiswa, mereka juga membikin program kerjasama dengan salah satu sekolah menengah atas di Kudus. Sekolahan itu, memiliki jurusan terbaik di bidang multimedia.<\/p>\n\n\n\n
Di bidang olahraga, sponsor-sponsor beberapa perhelatan olahraga tingkat regional, nasional hingga internasional menjadi agenda rutin. Di bidang budaya, kegiatan-kegiatan bertema kebudayaan juga menjadi agenda rutin yang terus digelar.<\/p>\n\n\n\n
Untuk bidang lingkungan, kegiatan penghijauan terus menerus dilakukan bahkan mencakup hampir seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n
Ada pula perusahaan rokok besar berbasis di Kediri. Salah satu program CSR unggulan mereka adalah membantu usaha-usaha rumah tangga hingga berkembang pesat kini. <\/p>\n\n\n\n
Ini baru sedikit dari sekian banyak program CSR yang dilakukan perusahaan rokok di negeri ini. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana, dan bersungguh-sungguh dalan menjalankan program CSR mereka sebagai bentuk kepedulian terhadap ranah sosial dan lingkungan sekitar perusahaan rokok beroperasi.<\/p>\n","post_title":"Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Rokok di Negeri Ini","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tanggung-jawab-sosial-perusahaan-rokok-di-negeri-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-09 10:20:59","post_modified_gmt":"2020-07-09 03:20:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6909","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6882,"post_author":"878","post_date":"2020-07-02 00:08:45","post_date_gmt":"2020-07-01 17:08:45","post_content":"\n
Ungkapan 'apa pun masalahnya, rokoklah penyebabnya' kian relevan usai saya membaca berita tentang saling pinjam korek api menjadi sebab tertularnya virus korona. Berita itu memang tidak menyebut langsung kata 'rokok' dalam judulnya, tetapi saling pinjam korak api tentu saja terkait langsung dengan aktivitas merokok.<\/p>\n\n\n\n
Berita yang tayang di situsweb tempo.co itu dibuka dengan paragraf: \"Suka meminjam korek api atau pemantik rokok berpotensi meningkatkan penyebaran wabah virus corona bagi perokok. Penyebaram virus corona melaluo pemantik rokok terjadi di Australia.\"<\/p>\n\n\n\n
Kabar yang baru sekadar dugaan ini diolah oleh tempo pada paragraf pertama seakan ia adalah sebuah fakta yang sudah bisa dipastikan kebenarannya. Mengapa baru sekadar dugaan, di paragraf-paragraf selanjutnya dalam berita itu memang tertulis begitu.<\/p>\n\n\n\n
Dugaan penyebaran virus korona via saling pinjam korek api bermula dari kasus yang terjadi di hotel Stamford Plaza Melbourne. Hotel yang selama masa pandemi korona difungsikan sebagai lokasi karantina bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri ini, mencatat kasus baru adanya staf hotel yang tertular virus korona.<\/p>\n\n\n\n
Menurut Menteri Negara Bagian Victoria, Daniel Andrews, penyebaran virus korona di kalangan pekerja hotel Stamford Plaza Melbourne mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok. Masih menurutnya lagi, karena sejauh ini tidak ada kasus baru dari mereka yang baru kembali dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n
Sampai di sini, mari kita perhatikan baik-baik pernyataan Daniel Andrews pada bagian ini: \"penyebaran virus korona di kalangan staf hotel mungkin berasal dari staf yang berbagi dan saling meminjami korek api untuk merokok.\" Ada lema 'mungkin' dalam pernyataannya, sekali lagi, 'mungkin'. <\/p>\n\n\n\n
Semua kita yang sehari-hari berbahasa Indonesia, tentu paham maksud dari lema 'mungkin' pada kalimat yang dikeluarkan Andrews. Lema 'mungkin' digunakan untuk menyatakan keraguan, untuk menyatakan sesuatu yang belum ada kepastian di sana, belum bisa dipastikan. <\/p>\n\n\n\n
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online seri V, kata 'mungkin' didefinisikan sebagai: tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil. Karena masih belum tentu, masih boleh jadi dan masih barangkali, lema 'mungkin' jelas bukan sebuah kepastian yang ajek, sebuah ketetapan yang tidak bisa berubah.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya, apa yang 'mungkin' itu sudah diolah sedemikian rupa sehingga judul berita yang dinaikkan tempo.co yang berbunyi 'Suka Saling Meminjam Korek Api, Awas Tertular Virus Korona' seakan sudah memberi kepastian bahwa saling meminjam korek api bisa menyebabkan penularan virus korona. Penekanan kata 'Awas' dalam judul semakin membikin menakut-nakuti pembaca, sekali lagi, padahal ia baru sekadar kemungkinan, seperti kemungkinan-kemungkinan lainnya yang itu berbeda dari sebuah kepastian.<\/p>\n\n\n\n
Iya, memang ada kemungkinan virus korona bisa menempel di korek api dan tertular ke orang yang memegang korek api itu lantas memegang bagian-bagian tertentu di wajahnya seperti hidung, mulut, dan mata, tetapi sekali lagi itu hanya kemungkinan, dan kemungkinan itu kecil sekali jika kita mau sedikit mencari tahu dengan membaca informasi-informasi ilmiah dari pakar virologi, ahli biologi, ahli epidemi, yang banyak beredar di internet. Terlalu panjang tulisan ini jika saya menyertakan data-data ilmiah itu di sini, silakan cari sendiri.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang, sebagai penutup, saya ingin kembali ke paragraf awal tulisan ini, bahwa upaya menyerang rokok, dan menyeret-nyeret rokok menjadi sebab bermacam hal yang mencelakakan, sudah lumrah, lazim dilakukan banyak pihak yang berkepentingan untuk menggembosi rokok. Sejak wabah virus korona menjadi pandemi di muka bumi, ini bukan kali pertama terjadi, rokok dan aktivitas di sekitarnya ikut dikaitkan secara langsung dalam pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n
Tenti Anda masih ingat hipotesis yang menyebutkan bahwa perokok lebih rentan terserang virus korona. Hipotesis ini terus digaungkan dan disebarluaskan seakan ia sudah berubah menjadi tesis, bukan lagi hipotesis yang perlu dibuktikan kebenarannya. Padahal, fakta yang tersaji di lapangan, dan sudah dilakukan proses penelitian setidaknya di enam negara di bumi, bahwa perokok lebih tahan terhadap serangan virus korona, diabaikan dan dianggap angin lalu saja.<\/p>\n\n\n\n
Di Indonesia, ketika beberapa pekerja di salah satu pabrikan rokok terserang virus korona, kabar yang disiarkan diperbuas dan dibesar-besarkan hingga jauh dari esensi awal. Salah satu kabar yang diperbuas itu menyebut bahwa produk rokok dari pabrikan itu mengandung virus korona. Semakin tidak masuk akal saja serangan terhadap rokok ini.<\/p>\n\n\n\n
Bagi banyak orang awam, fenomena ini membikin panik dan membawa ketakutan berlebihan. Sedang bagi sebagian kecil orang yang sudah paham bagaimana para anti-rokok membingkai sebuah rumor dan kemungkinan-kemungkinan seakan sebagai fakta yang sudah pasti kebenarannya, ini tak lebih dari guyonan yang sama sekali tidak lucu.<\/p>\n","post_title":"Ketika Membicarakan Rokok Para Antirokok Mengubah Kemungkinan Menjadi Fakta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-membicarakan-rokok-para-antirokok-mengubah-kemungkinan-menjadi-fakta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-07-01 12:19:43","post_modified_gmt":"2020-07-01 05:19:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6882","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":2},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\r\n