Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana.
<\/p>\n\n\n\n
Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci.
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok.
<\/p>\n\n\n\n
Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana.
<\/p>\n\n\n\n
Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci.
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai.
<\/p>\n\n\n\n
Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok.
<\/p>\n\n\n\n
Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana.
<\/p>\n\n\n\n
Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci.
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual.
<\/p>\n\n\n\n
Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai.
<\/p>\n\n\n\n
Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok.
<\/p>\n\n\n\n
Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana.
<\/p>\n\n\n\n
Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci.
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka.
<\/p>\n\n\n\n
Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual.
<\/p>\n\n\n\n
Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai.
<\/p>\n\n\n\n
Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok.
<\/p>\n\n\n\n
Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana.
<\/p>\n\n\n\n
Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci.
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah.
<\/p>\n\n\n\n
Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka.
<\/p>\n\n\n\n
Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual.
<\/p>\n\n\n\n
Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai.
<\/p>\n\n\n\n
Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok.
<\/p>\n\n\n\n
Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana.
<\/p>\n\n\n\n
Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci.
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya.
<\/p>\n\n\n\n
Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah.
<\/p>\n\n\n\n
Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka.
<\/p>\n\n\n\n
Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual.
<\/p>\n\n\n\n
Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai.
<\/p>\n\n\n\n
Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok.
<\/p>\n\n\n\n
Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana.
<\/p>\n\n\n\n
Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci.
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n
Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya.
<\/p>\n\n\n\n
Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah.
<\/p>\n\n\n\n
Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka.
<\/p>\n\n\n\n
Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual.
<\/p>\n\n\n\n
Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai.
<\/p>\n\n\n\n
Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok.
<\/p>\n\n\n\n
Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana.
<\/p>\n\n\n\n
Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci.
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan.
<\/p>\n\n\n\n
Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n
Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya.
<\/p>\n\n\n\n
Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah.
<\/p>\n\n\n\n
Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka.
<\/p>\n\n\n\n
Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual.
<\/p>\n\n\n\n
Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai.
<\/p>\n\n\n\n
Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok.
<\/p>\n\n\n\n
Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana.
<\/p>\n\n\n\n
Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci.
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Saya dan mungkin juga kalian sejatinya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu Didi Kempot, mungkin sejak SD. Saat umur belum dua angka seperti saat ini, Didi Kempot mungkin hanya saya sebut sebagai musisi yang beraliran Campursari (meski memang benar seperti itu). Namun, ketika umur kian bertambah, Didi Kempot rupanya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi dia adalah representasi dari diksi patah hati itu sendiri. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Sosok yang memulai karier berseni sebagai musisi jalanan tersebut kini lagi digandrungi anak muda. Mereka menyebutnya sebagai Sadbois atau Sadgirls, mengagung-mengagungkan patah hati, merayakan kesedihan, dan Didi Kempot yang secara lelucon mereka sebut Lord, hadir memaksimalkan euforia tersebut. Satu lagu, dua lagu, tiga lagu, kalimat seperti \u2018Bajingan kowe dek!\u2019 mulai terlontar dari mulut-mulut penikmat lagu-lagu Didi Kempot. Saya dan mungkin juga kalian sejatinya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu Didi Kempot, mungkin sejak SD. Saat umur belum dua angka seperti saat ini, Didi Kempot mungkin hanya saya sebut sebagai musisi yang beraliran Campursari (meski memang benar seperti itu). Namun, ketika umur kian bertambah, Didi Kempot rupanya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi dia adalah representasi dari diksi patah hati itu sendiri. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Musik memang soal selera, ada yang ingin lagu agak ngebeat <\/em>biar adrenalinennya naik. Ada yang memutar lagi jazz supaya lebih tenang, musik dangdut biar oaoe<\/em>, hingga lagu indie biar terkesan indies (ealaahhh). Akan tetapi ada satu tren belakangan ini, patah hati dan mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Sosok yang memulai karier berseni sebagai musisi jalanan tersebut kini lagi digandrungi anak muda. Mereka menyebutnya sebagai Sadbois atau Sadgirls, mengagung-mengagungkan patah hati, merayakan kesedihan, dan Didi Kempot yang secara lelucon mereka sebut Lord, hadir memaksimalkan euforia tersebut. Satu lagu, dua lagu, tiga lagu, kalimat seperti \u2018Bajingan kowe dek!\u2019 mulai terlontar dari mulut-mulut penikmat lagu-lagu Didi Kempot. Saya dan mungkin juga kalian sejatinya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu Didi Kempot, mungkin sejak SD. Saat umur belum dua angka seperti saat ini, Didi Kempot mungkin hanya saya sebut sebagai musisi yang beraliran Campursari (meski memang benar seperti itu). Namun, ketika umur kian bertambah, Didi Kempot rupanya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi dia adalah representasi dari diksi patah hati itu sendiri. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Kalau sudah patah hati rasanya memang ribet. Rendang yang katanya dijadikan makanan terenak di dunia pun rasanya seperti daging gosong. Mau beraktifitas juga susah, karena isinya hanya meratap dan merenungi. Diajak teman main game <\/em>juga tak maksimal, apalagi kongkow-kongkow sampai subuh. Kalau sudah begini tak boleh buru-buru larut dalam kesedihan, musik bisa jadi obat ampuh untuk menenangkannya. Musik memang soal selera, ada yang ingin lagu agak ngebeat <\/em>biar adrenalinennya naik. Ada yang memutar lagi jazz supaya lebih tenang, musik dangdut biar oaoe<\/em>, hingga lagu indie biar terkesan indies (ealaahhh). Akan tetapi ada satu tren belakangan ini, patah hati dan mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Sosok yang memulai karier berseni sebagai musisi jalanan tersebut kini lagi digandrungi anak muda. Mereka menyebutnya sebagai Sadbois atau Sadgirls, mengagung-mengagungkan patah hati, merayakan kesedihan, dan Didi Kempot yang secara lelucon mereka sebut Lord, hadir memaksimalkan euforia tersebut. Satu lagu, dua lagu, tiga lagu, kalimat seperti \u2018Bajingan kowe dek!\u2019 mulai terlontar dari mulut-mulut penikmat lagu-lagu Didi Kempot. Saya dan mungkin juga kalian sejatinya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu Didi Kempot, mungkin sejak SD. Saat umur belum dua angka seperti saat ini, Didi Kempot mungkin hanya saya sebut sebagai musisi yang beraliran Campursari (meski memang benar seperti itu). Namun, ketika umur kian bertambah, Didi Kempot rupanya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi dia adalah representasi dari diksi patah hati itu sendiri. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Upaya mengejar cinta selalu menghadirkan satu masalah yaitu patah hati. Jika bicara soal peluang bakal menghadapi masalah tersebut, maka persentasinya adalah 50:50. Potensinya sudah bisa membesar sejak awal anda mencoba untuk berkenalan dengan sosok idaman. Jika salah langkah, sudah pasti si dia bakal menjauh, andai pun langkah awal sudah tepat tapi threatmennya pendekatannya salah, siap-siap kalimat \u2018maaf kita ga cocok\u2019<\/em> akan anda dapatkan.\u00a0 Kalau sudah patah hati rasanya memang ribet. Rendang yang katanya dijadikan makanan terenak di dunia pun rasanya seperti daging gosong. Mau beraktifitas juga susah, karena isinya hanya meratap dan merenungi. Diajak teman main game <\/em>juga tak maksimal, apalagi kongkow-kongkow sampai subuh. Kalau sudah begini tak boleh buru-buru larut dalam kesedihan, musik bisa jadi obat ampuh untuk menenangkannya. Musik memang soal selera, ada yang ingin lagu agak ngebeat <\/em>biar adrenalinennya naik. Ada yang memutar lagi jazz supaya lebih tenang, musik dangdut biar oaoe<\/em>, hingga lagu indie biar terkesan indies (ealaahhh). Akan tetapi ada satu tren belakangan ini, patah hati dan mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Sosok yang memulai karier berseni sebagai musisi jalanan tersebut kini lagi digandrungi anak muda. Mereka menyebutnya sebagai Sadbois atau Sadgirls, mengagung-mengagungkan patah hati, merayakan kesedihan, dan Didi Kempot yang secara lelucon mereka sebut Lord, hadir memaksimalkan euforia tersebut. Satu lagu, dua lagu, tiga lagu, kalimat seperti \u2018Bajingan kowe dek!\u2019 mulai terlontar dari mulut-mulut penikmat lagu-lagu Didi Kempot. Saya dan mungkin juga kalian sejatinya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu Didi Kempot, mungkin sejak SD. Saat umur belum dua angka seperti saat ini, Didi Kempot mungkin hanya saya sebut sebagai musisi yang beraliran Campursari (meski memang benar seperti itu). Namun, ketika umur kian bertambah, Didi Kempot rupanya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi dia adalah representasi dari diksi patah hati itu sendiri. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5889,"post_author":"919","post_date":"2019-07-29 16:13:48","post_date_gmt":"2019-07-29 09:13:48","post_content":"\n Upaya mengejar cinta selalu menghadirkan satu masalah yaitu patah hati. Jika bicara soal peluang bakal menghadapi masalah tersebut, maka persentasinya adalah 50:50. Potensinya sudah bisa membesar sejak awal anda mencoba untuk berkenalan dengan sosok idaman. Jika salah langkah, sudah pasti si dia bakal menjauh, andai pun langkah awal sudah tepat tapi threatmennya pendekatannya salah, siap-siap kalimat \u2018maaf kita ga cocok\u2019<\/em> akan anda dapatkan.\u00a0 Kalau sudah patah hati rasanya memang ribet. Rendang yang katanya dijadikan makanan terenak di dunia pun rasanya seperti daging gosong. Mau beraktifitas juga susah, karena isinya hanya meratap dan merenungi. Diajak teman main game <\/em>juga tak maksimal, apalagi kongkow-kongkow sampai subuh. Kalau sudah begini tak boleh buru-buru larut dalam kesedihan, musik bisa jadi obat ampuh untuk menenangkannya. Musik memang soal selera, ada yang ingin lagu agak ngebeat <\/em>biar adrenalinennya naik. Ada yang memutar lagi jazz supaya lebih tenang, musik dangdut biar oaoe<\/em>, hingga lagu indie biar terkesan indies (ealaahhh). Akan tetapi ada satu tren belakangan ini, patah hati dan mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Sosok yang memulai karier berseni sebagai musisi jalanan tersebut kini lagi digandrungi anak muda. Mereka menyebutnya sebagai Sadbois atau Sadgirls, mengagung-mengagungkan patah hati, merayakan kesedihan, dan Didi Kempot yang secara lelucon mereka sebut Lord, hadir memaksimalkan euforia tersebut. Satu lagu, dua lagu, tiga lagu, kalimat seperti \u2018Bajingan kowe dek!\u2019 mulai terlontar dari mulut-mulut penikmat lagu-lagu Didi Kempot. Saya dan mungkin juga kalian sejatinya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu Didi Kempot, mungkin sejak SD. Saat umur belum dua angka seperti saat ini, Didi Kempot mungkin hanya saya sebut sebagai musisi yang beraliran Campursari (meski memang benar seperti itu). Namun, ketika umur kian bertambah, Didi Kempot rupanya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi dia adalah representasi dari diksi patah hati itu sendiri. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5889,"post_author":"919","post_date":"2019-07-29 16:13:48","post_date_gmt":"2019-07-29 09:13:48","post_content":"\n Upaya mengejar cinta selalu menghadirkan satu masalah yaitu patah hati. Jika bicara soal peluang bakal menghadapi masalah tersebut, maka persentasinya adalah 50:50. Potensinya sudah bisa membesar sejak awal anda mencoba untuk berkenalan dengan sosok idaman. Jika salah langkah, sudah pasti si dia bakal menjauh, andai pun langkah awal sudah tepat tapi threatmennya pendekatannya salah, siap-siap kalimat \u2018maaf kita ga cocok\u2019<\/em> akan anda dapatkan.\u00a0 Kalau sudah patah hati rasanya memang ribet. Rendang yang katanya dijadikan makanan terenak di dunia pun rasanya seperti daging gosong. Mau beraktifitas juga susah, karena isinya hanya meratap dan merenungi. Diajak teman main game <\/em>juga tak maksimal, apalagi kongkow-kongkow sampai subuh. Kalau sudah begini tak boleh buru-buru larut dalam kesedihan, musik bisa jadi obat ampuh untuk menenangkannya. Musik memang soal selera, ada yang ingin lagu agak ngebeat <\/em>biar adrenalinennya naik. Ada yang memutar lagi jazz supaya lebih tenang, musik dangdut biar oaoe<\/em>, hingga lagu indie biar terkesan indies (ealaahhh). Akan tetapi ada satu tren belakangan ini, patah hati dan mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Sosok yang memulai karier berseni sebagai musisi jalanan tersebut kini lagi digandrungi anak muda. Mereka menyebutnya sebagai Sadbois atau Sadgirls, mengagung-mengagungkan patah hati, merayakan kesedihan, dan Didi Kempot yang secara lelucon mereka sebut Lord, hadir memaksimalkan euforia tersebut. Satu lagu, dua lagu, tiga lagu, kalimat seperti \u2018Bajingan kowe dek!\u2019 mulai terlontar dari mulut-mulut penikmat lagu-lagu Didi Kempot. Saya dan mungkin juga kalian sejatinya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu Didi Kempot, mungkin sejak SD. Saat umur belum dua angka seperti saat ini, Didi Kempot mungkin hanya saya sebut sebagai musisi yang beraliran Campursari (meski memang benar seperti itu). Namun, ketika umur kian bertambah, Didi Kempot rupanya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi dia adalah representasi dari diksi patah hati itu sendiri. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya. Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5889,"post_author":"919","post_date":"2019-07-29 16:13:48","post_date_gmt":"2019-07-29 09:13:48","post_content":"\n Upaya mengejar cinta selalu menghadirkan satu masalah yaitu patah hati. Jika bicara soal peluang bakal menghadapi masalah tersebut, maka persentasinya adalah 50:50. Potensinya sudah bisa membesar sejak awal anda mencoba untuk berkenalan dengan sosok idaman. Jika salah langkah, sudah pasti si dia bakal menjauh, andai pun langkah awal sudah tepat tapi threatmennya pendekatannya salah, siap-siap kalimat \u2018maaf kita ga cocok\u2019<\/em> akan anda dapatkan.\u00a0 Kalau sudah patah hati rasanya memang ribet. Rendang yang katanya dijadikan makanan terenak di dunia pun rasanya seperti daging gosong. Mau beraktifitas juga susah, karena isinya hanya meratap dan merenungi. Diajak teman main game <\/em>juga tak maksimal, apalagi kongkow-kongkow sampai subuh. Kalau sudah begini tak boleh buru-buru larut dalam kesedihan, musik bisa jadi obat ampuh untuk menenangkannya. Musik memang soal selera, ada yang ingin lagu agak ngebeat <\/em>biar adrenalinennya naik. Ada yang memutar lagi jazz supaya lebih tenang, musik dangdut biar oaoe<\/em>, hingga lagu indie biar terkesan indies (ealaahhh). Akan tetapi ada satu tren belakangan ini, patah hati dan mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Sosok yang memulai karier berseni sebagai musisi jalanan tersebut kini lagi digandrungi anak muda. Mereka menyebutnya sebagai Sadbois atau Sadgirls, mengagung-mengagungkan patah hati, merayakan kesedihan, dan Didi Kempot yang secara lelucon mereka sebut Lord, hadir memaksimalkan euforia tersebut. Satu lagu, dua lagu, tiga lagu, kalimat seperti \u2018Bajingan kowe dek!\u2019 mulai terlontar dari mulut-mulut penikmat lagu-lagu Didi Kempot. Saya dan mungkin juga kalian sejatinya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu Didi Kempot, mungkin sejak SD. Saat umur belum dua angka seperti saat ini, Didi Kempot mungkin hanya saya sebut sebagai musisi yang beraliran Campursari (meski memang benar seperti itu). Namun, ketika umur kian bertambah, Didi Kempot rupanya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi dia adalah representasi dari diksi patah hati itu sendiri. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya. Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5889,"post_author":"919","post_date":"2019-07-29 16:13:48","post_date_gmt":"2019-07-29 09:13:48","post_content":"\n Upaya mengejar cinta selalu menghadirkan satu masalah yaitu patah hati. Jika bicara soal peluang bakal menghadapi masalah tersebut, maka persentasinya adalah 50:50. Potensinya sudah bisa membesar sejak awal anda mencoba untuk berkenalan dengan sosok idaman. Jika salah langkah, sudah pasti si dia bakal menjauh, andai pun langkah awal sudah tepat tapi threatmennya pendekatannya salah, siap-siap kalimat \u2018maaf kita ga cocok\u2019<\/em> akan anda dapatkan.\u00a0 Kalau sudah patah hati rasanya memang ribet. Rendang yang katanya dijadikan makanan terenak di dunia pun rasanya seperti daging gosong. Mau beraktifitas juga susah, karena isinya hanya meratap dan merenungi. Diajak teman main game <\/em>juga tak maksimal, apalagi kongkow-kongkow sampai subuh. Kalau sudah begini tak boleh buru-buru larut dalam kesedihan, musik bisa jadi obat ampuh untuk menenangkannya. Musik memang soal selera, ada yang ingin lagu agak ngebeat <\/em>biar adrenalinennya naik. Ada yang memutar lagi jazz supaya lebih tenang, musik dangdut biar oaoe<\/em>, hingga lagu indie biar terkesan indies (ealaahhh). Akan tetapi ada satu tren belakangan ini, patah hati dan mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Sosok yang memulai karier berseni sebagai musisi jalanan tersebut kini lagi digandrungi anak muda. Mereka menyebutnya sebagai Sadbois atau Sadgirls, mengagung-mengagungkan patah hati, merayakan kesedihan, dan Didi Kempot yang secara lelucon mereka sebut Lord, hadir memaksimalkan euforia tersebut. Satu lagu, dua lagu, tiga lagu, kalimat seperti \u2018Bajingan kowe dek!\u2019 mulai terlontar dari mulut-mulut penikmat lagu-lagu Didi Kempot. Saya dan mungkin juga kalian sejatinya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu Didi Kempot, mungkin sejak SD. Saat umur belum dua angka seperti saat ini, Didi Kempot mungkin hanya saya sebut sebagai musisi yang beraliran Campursari (meski memang benar seperti itu). Namun, ketika umur kian bertambah, Didi Kempot rupanya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi dia adalah representasi dari diksi patah hati itu sendiri. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri. Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya. Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5889,"post_author":"919","post_date":"2019-07-29 16:13:48","post_date_gmt":"2019-07-29 09:13:48","post_content":"\n Upaya mengejar cinta selalu menghadirkan satu masalah yaitu patah hati. Jika bicara soal peluang bakal menghadapi masalah tersebut, maka persentasinya adalah 50:50. Potensinya sudah bisa membesar sejak awal anda mencoba untuk berkenalan dengan sosok idaman. Jika salah langkah, sudah pasti si dia bakal menjauh, andai pun langkah awal sudah tepat tapi threatmennya pendekatannya salah, siap-siap kalimat \u2018maaf kita ga cocok\u2019<\/em> akan anda dapatkan.\u00a0 Kalau sudah patah hati rasanya memang ribet. Rendang yang katanya dijadikan makanan terenak di dunia pun rasanya seperti daging gosong. Mau beraktifitas juga susah, karena isinya hanya meratap dan merenungi. Diajak teman main game <\/em>juga tak maksimal, apalagi kongkow-kongkow sampai subuh. Kalau sudah begini tak boleh buru-buru larut dalam kesedihan, musik bisa jadi obat ampuh untuk menenangkannya. Musik memang soal selera, ada yang ingin lagu agak ngebeat <\/em>biar adrenalinennya naik. Ada yang memutar lagi jazz supaya lebih tenang, musik dangdut biar oaoe<\/em>, hingga lagu indie biar terkesan indies (ealaahhh). Akan tetapi ada satu tren belakangan ini, patah hati dan mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Sosok yang memulai karier berseni sebagai musisi jalanan tersebut kini lagi digandrungi anak muda. Mereka menyebutnya sebagai Sadbois atau Sadgirls, mengagung-mengagungkan patah hati, merayakan kesedihan, dan Didi Kempot yang secara lelucon mereka sebut Lord, hadir memaksimalkan euforia tersebut. Satu lagu, dua lagu, tiga lagu, kalimat seperti \u2018Bajingan kowe dek!\u2019 mulai terlontar dari mulut-mulut penikmat lagu-lagu Didi Kempot. Saya dan mungkin juga kalian sejatinya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu Didi Kempot, mungkin sejak SD. Saat umur belum dua angka seperti saat ini, Didi Kempot mungkin hanya saya sebut sebagai musisi yang beraliran Campursari (meski memang benar seperti itu). Namun, ketika umur kian bertambah, Didi Kempot rupanya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi dia adalah representasi dari diksi patah hati itu sendiri. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri. Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya. Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5889,"post_author":"919","post_date":"2019-07-29 16:13:48","post_date_gmt":"2019-07-29 09:13:48","post_content":"\n Upaya mengejar cinta selalu menghadirkan satu masalah yaitu patah hati. Jika bicara soal peluang bakal menghadapi masalah tersebut, maka persentasinya adalah 50:50. Potensinya sudah bisa membesar sejak awal anda mencoba untuk berkenalan dengan sosok idaman. Jika salah langkah, sudah pasti si dia bakal menjauh, andai pun langkah awal sudah tepat tapi threatmennya pendekatannya salah, siap-siap kalimat \u2018maaf kita ga cocok\u2019<\/em> akan anda dapatkan.\u00a0 Kalau sudah patah hati rasanya memang ribet. Rendang yang katanya dijadikan makanan terenak di dunia pun rasanya seperti daging gosong. Mau beraktifitas juga susah, karena isinya hanya meratap dan merenungi. Diajak teman main game <\/em>juga tak maksimal, apalagi kongkow-kongkow sampai subuh. Kalau sudah begini tak boleh buru-buru larut dalam kesedihan, musik bisa jadi obat ampuh untuk menenangkannya. Musik memang soal selera, ada yang ingin lagu agak ngebeat <\/em>biar adrenalinennya naik. Ada yang memutar lagi jazz supaya lebih tenang, musik dangdut biar oaoe<\/em>, hingga lagu indie biar terkesan indies (ealaahhh). Akan tetapi ada satu tren belakangan ini, patah hati dan mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Sosok yang memulai karier berseni sebagai musisi jalanan tersebut kini lagi digandrungi anak muda. Mereka menyebutnya sebagai Sadbois atau Sadgirls, mengagung-mengagungkan patah hati, merayakan kesedihan, dan Didi Kempot yang secara lelucon mereka sebut Lord, hadir memaksimalkan euforia tersebut. Satu lagu, dua lagu, tiga lagu, kalimat seperti \u2018Bajingan kowe dek!\u2019 mulai terlontar dari mulut-mulut penikmat lagu-lagu Didi Kempot. Saya dan mungkin juga kalian sejatinya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu Didi Kempot, mungkin sejak SD. Saat umur belum dua angka seperti saat ini, Didi Kempot mungkin hanya saya sebut sebagai musisi yang beraliran Campursari (meski memang benar seperti itu). Namun, ketika umur kian bertambah, Didi Kempot rupanya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi dia adalah representasi dari diksi patah hati itu sendiri. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas! Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri. Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya. Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5889,"post_author":"919","post_date":"2019-07-29 16:13:48","post_date_gmt":"2019-07-29 09:13:48","post_content":"\n Upaya mengejar cinta selalu menghadirkan satu masalah yaitu patah hati. Jika bicara soal peluang bakal menghadapi masalah tersebut, maka persentasinya adalah 50:50. Potensinya sudah bisa membesar sejak awal anda mencoba untuk berkenalan dengan sosok idaman. Jika salah langkah, sudah pasti si dia bakal menjauh, andai pun langkah awal sudah tepat tapi threatmennya pendekatannya salah, siap-siap kalimat \u2018maaf kita ga cocok\u2019<\/em> akan anda dapatkan.\u00a0 Kalau sudah patah hati rasanya memang ribet. Rendang yang katanya dijadikan makanan terenak di dunia pun rasanya seperti daging gosong. Mau beraktifitas juga susah, karena isinya hanya meratap dan merenungi. Diajak teman main game <\/em>juga tak maksimal, apalagi kongkow-kongkow sampai subuh. Kalau sudah begini tak boleh buru-buru larut dalam kesedihan, musik bisa jadi obat ampuh untuk menenangkannya. Musik memang soal selera, ada yang ingin lagu agak ngebeat <\/em>biar adrenalinennya naik. Ada yang memutar lagi jazz supaya lebih tenang, musik dangdut biar oaoe<\/em>, hingga lagu indie biar terkesan indies (ealaahhh). Akan tetapi ada satu tren belakangan ini, patah hati dan mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Sosok yang memulai karier berseni sebagai musisi jalanan tersebut kini lagi digandrungi anak muda. Mereka menyebutnya sebagai Sadbois atau Sadgirls, mengagung-mengagungkan patah hati, merayakan kesedihan, dan Didi Kempot yang secara lelucon mereka sebut Lord, hadir memaksimalkan euforia tersebut. Satu lagu, dua lagu, tiga lagu, kalimat seperti \u2018Bajingan kowe dek!\u2019 mulai terlontar dari mulut-mulut penikmat lagu-lagu Didi Kempot. Saya dan mungkin juga kalian sejatinya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu Didi Kempot, mungkin sejak SD. Saat umur belum dua angka seperti saat ini, Didi Kempot mungkin hanya saya sebut sebagai musisi yang beraliran Campursari (meski memang benar seperti itu). Namun, ketika umur kian bertambah, Didi Kempot rupanya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi dia adalah representasi dari diksi patah hati itu sendiri. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas! Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri. Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya. Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5889,"post_author":"919","post_date":"2019-07-29 16:13:48","post_date_gmt":"2019-07-29 09:13:48","post_content":"\n Upaya mengejar cinta selalu menghadirkan satu masalah yaitu patah hati. Jika bicara soal peluang bakal menghadapi masalah tersebut, maka persentasinya adalah 50:50. Potensinya sudah bisa membesar sejak awal anda mencoba untuk berkenalan dengan sosok idaman. Jika salah langkah, sudah pasti si dia bakal menjauh, andai pun langkah awal sudah tepat tapi threatmennya pendekatannya salah, siap-siap kalimat \u2018maaf kita ga cocok\u2019<\/em> akan anda dapatkan.\u00a0 Kalau sudah patah hati rasanya memang ribet. Rendang yang katanya dijadikan makanan terenak di dunia pun rasanya seperti daging gosong. Mau beraktifitas juga susah, karena isinya hanya meratap dan merenungi. Diajak teman main game <\/em>juga tak maksimal, apalagi kongkow-kongkow sampai subuh. Kalau sudah begini tak boleh buru-buru larut dalam kesedihan, musik bisa jadi obat ampuh untuk menenangkannya. Musik memang soal selera, ada yang ingin lagu agak ngebeat <\/em>biar adrenalinennya naik. Ada yang memutar lagi jazz supaya lebih tenang, musik dangdut biar oaoe<\/em>, hingga lagu indie biar terkesan indies (ealaahhh). Akan tetapi ada satu tren belakangan ini, patah hati dan mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Sosok yang memulai karier berseni sebagai musisi jalanan tersebut kini lagi digandrungi anak muda. Mereka menyebutnya sebagai Sadbois atau Sadgirls, mengagung-mengagungkan patah hati, merayakan kesedihan, dan Didi Kempot yang secara lelucon mereka sebut Lord, hadir memaksimalkan euforia tersebut. Satu lagu, dua lagu, tiga lagu, kalimat seperti \u2018Bajingan kowe dek!\u2019 mulai terlontar dari mulut-mulut penikmat lagu-lagu Didi Kempot. Saya dan mungkin juga kalian sejatinya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu Didi Kempot, mungkin sejak SD. Saat umur belum dua angka seperti saat ini, Didi Kempot mungkin hanya saya sebut sebagai musisi yang beraliran Campursari (meski memang benar seperti itu). Namun, ketika umur kian bertambah, Didi Kempot rupanya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi dia adalah representasi dari diksi patah hati itu sendiri. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan. Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas! Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri. Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya. Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5889,"post_author":"919","post_date":"2019-07-29 16:13:48","post_date_gmt":"2019-07-29 09:13:48","post_content":"\n Upaya mengejar cinta selalu menghadirkan satu masalah yaitu patah hati. Jika bicara soal peluang bakal menghadapi masalah tersebut, maka persentasinya adalah 50:50. Potensinya sudah bisa membesar sejak awal anda mencoba untuk berkenalan dengan sosok idaman. Jika salah langkah, sudah pasti si dia bakal menjauh, andai pun langkah awal sudah tepat tapi threatmennya pendekatannya salah, siap-siap kalimat \u2018maaf kita ga cocok\u2019<\/em> akan anda dapatkan.\u00a0 Kalau sudah patah hati rasanya memang ribet. Rendang yang katanya dijadikan makanan terenak di dunia pun rasanya seperti daging gosong. Mau beraktifitas juga susah, karena isinya hanya meratap dan merenungi. Diajak teman main game <\/em>juga tak maksimal, apalagi kongkow-kongkow sampai subuh. Kalau sudah begini tak boleh buru-buru larut dalam kesedihan, musik bisa jadi obat ampuh untuk menenangkannya. Musik memang soal selera, ada yang ingin lagu agak ngebeat <\/em>biar adrenalinennya naik. Ada yang memutar lagi jazz supaya lebih tenang, musik dangdut biar oaoe<\/em>, hingga lagu indie biar terkesan indies (ealaahhh). Akan tetapi ada satu tren belakangan ini, patah hati dan mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Sosok yang memulai karier berseni sebagai musisi jalanan tersebut kini lagi digandrungi anak muda. Mereka menyebutnya sebagai Sadbois atau Sadgirls, mengagung-mengagungkan patah hati, merayakan kesedihan, dan Didi Kempot yang secara lelucon mereka sebut Lord, hadir memaksimalkan euforia tersebut. Satu lagu, dua lagu, tiga lagu, kalimat seperti \u2018Bajingan kowe dek!\u2019 mulai terlontar dari mulut-mulut penikmat lagu-lagu Didi Kempot. Saya dan mungkin juga kalian sejatinya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu Didi Kempot, mungkin sejak SD. Saat umur belum dua angka seperti saat ini, Didi Kempot mungkin hanya saya sebut sebagai musisi yang beraliran Campursari (meski memang benar seperti itu). Namun, ketika umur kian bertambah, Didi Kempot rupanya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi dia adalah representasi dari diksi patah hati itu sendiri. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan. Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas! Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri. Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya. Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5889,"post_author":"919","post_date":"2019-07-29 16:13:48","post_date_gmt":"2019-07-29 09:13:48","post_content":"\n Upaya mengejar cinta selalu menghadirkan satu masalah yaitu patah hati. Jika bicara soal peluang bakal menghadapi masalah tersebut, maka persentasinya adalah 50:50. Potensinya sudah bisa membesar sejak awal anda mencoba untuk berkenalan dengan sosok idaman. Jika salah langkah, sudah pasti si dia bakal menjauh, andai pun langkah awal sudah tepat tapi threatmennya pendekatannya salah, siap-siap kalimat \u2018maaf kita ga cocok\u2019<\/em> akan anda dapatkan.\u00a0 Kalau sudah patah hati rasanya memang ribet. Rendang yang katanya dijadikan makanan terenak di dunia pun rasanya seperti daging gosong. Mau beraktifitas juga susah, karena isinya hanya meratap dan merenungi. Diajak teman main game <\/em>juga tak maksimal, apalagi kongkow-kongkow sampai subuh. Kalau sudah begini tak boleh buru-buru larut dalam kesedihan, musik bisa jadi obat ampuh untuk menenangkannya. Musik memang soal selera, ada yang ingin lagu agak ngebeat <\/em>biar adrenalinennya naik. Ada yang memutar lagi jazz supaya lebih tenang, musik dangdut biar oaoe<\/em>, hingga lagu indie biar terkesan indies (ealaahhh). Akan tetapi ada satu tren belakangan ini, patah hati dan mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Sosok yang memulai karier berseni sebagai musisi jalanan tersebut kini lagi digandrungi anak muda. Mereka menyebutnya sebagai Sadbois atau Sadgirls, mengagung-mengagungkan patah hati, merayakan kesedihan, dan Didi Kempot yang secara lelucon mereka sebut Lord, hadir memaksimalkan euforia tersebut. Satu lagu, dua lagu, tiga lagu, kalimat seperti \u2018Bajingan kowe dek!\u2019 mulai terlontar dari mulut-mulut penikmat lagu-lagu Didi Kempot. Saya dan mungkin juga kalian sejatinya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu Didi Kempot, mungkin sejak SD. Saat umur belum dua angka seperti saat ini, Didi Kempot mungkin hanya saya sebut sebagai musisi yang beraliran Campursari (meski memang benar seperti itu). Namun, ketika umur kian bertambah, Didi Kempot rupanya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi dia adalah representasi dari diksi patah hati itu sendiri. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut. Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan. Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas! Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri. Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya. Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5889,"post_author":"919","post_date":"2019-07-29 16:13:48","post_date_gmt":"2019-07-29 09:13:48","post_content":"\n Upaya mengejar cinta selalu menghadirkan satu masalah yaitu patah hati. Jika bicara soal peluang bakal menghadapi masalah tersebut, maka persentasinya adalah 50:50. Potensinya sudah bisa membesar sejak awal anda mencoba untuk berkenalan dengan sosok idaman. Jika salah langkah, sudah pasti si dia bakal menjauh, andai pun langkah awal sudah tepat tapi threatmennya pendekatannya salah, siap-siap kalimat \u2018maaf kita ga cocok\u2019<\/em> akan anda dapatkan.\u00a0 Kalau sudah patah hati rasanya memang ribet. Rendang yang katanya dijadikan makanan terenak di dunia pun rasanya seperti daging gosong. Mau beraktifitas juga susah, karena isinya hanya meratap dan merenungi. Diajak teman main game <\/em>juga tak maksimal, apalagi kongkow-kongkow sampai subuh. Kalau sudah begini tak boleh buru-buru larut dalam kesedihan, musik bisa jadi obat ampuh untuk menenangkannya. Musik memang soal selera, ada yang ingin lagu agak ngebeat <\/em>biar adrenalinennya naik. Ada yang memutar lagi jazz supaya lebih tenang, musik dangdut biar oaoe<\/em>, hingga lagu indie biar terkesan indies (ealaahhh). Akan tetapi ada satu tren belakangan ini, patah hati dan mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Sosok yang memulai karier berseni sebagai musisi jalanan tersebut kini lagi digandrungi anak muda. Mereka menyebutnya sebagai Sadbois atau Sadgirls, mengagung-mengagungkan patah hati, merayakan kesedihan, dan Didi Kempot yang secara lelucon mereka sebut Lord, hadir memaksimalkan euforia tersebut. Satu lagu, dua lagu, tiga lagu, kalimat seperti \u2018Bajingan kowe dek!\u2019 mulai terlontar dari mulut-mulut penikmat lagu-lagu Didi Kempot. Saya dan mungkin juga kalian sejatinya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu Didi Kempot, mungkin sejak SD. Saat umur belum dua angka seperti saat ini, Didi Kempot mungkin hanya saya sebut sebagai musisi yang beraliran Campursari (meski memang benar seperti itu). Namun, ketika umur kian bertambah, Didi Kempot rupanya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi dia adalah representasi dari diksi patah hati itu sendiri. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu. Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut. Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan. Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas! Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri. Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya. Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5889,"post_author":"919","post_date":"2019-07-29 16:13:48","post_date_gmt":"2019-07-29 09:13:48","post_content":"\n Upaya mengejar cinta selalu menghadirkan satu masalah yaitu patah hati. Jika bicara soal peluang bakal menghadapi masalah tersebut, maka persentasinya adalah 50:50. Potensinya sudah bisa membesar sejak awal anda mencoba untuk berkenalan dengan sosok idaman. Jika salah langkah, sudah pasti si dia bakal menjauh, andai pun langkah awal sudah tepat tapi threatmennya pendekatannya salah, siap-siap kalimat \u2018maaf kita ga cocok\u2019<\/em> akan anda dapatkan.\u00a0 Kalau sudah patah hati rasanya memang ribet. Rendang yang katanya dijadikan makanan terenak di dunia pun rasanya seperti daging gosong. Mau beraktifitas juga susah, karena isinya hanya meratap dan merenungi. Diajak teman main game <\/em>juga tak maksimal, apalagi kongkow-kongkow sampai subuh. Kalau sudah begini tak boleh buru-buru larut dalam kesedihan, musik bisa jadi obat ampuh untuk menenangkannya. Musik memang soal selera, ada yang ingin lagu agak ngebeat <\/em>biar adrenalinennya naik. Ada yang memutar lagi jazz supaya lebih tenang, musik dangdut biar oaoe<\/em>, hingga lagu indie biar terkesan indies (ealaahhh). Akan tetapi ada satu tren belakangan ini, patah hati dan mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Sosok yang memulai karier berseni sebagai musisi jalanan tersebut kini lagi digandrungi anak muda. Mereka menyebutnya sebagai Sadbois atau Sadgirls, mengagung-mengagungkan patah hati, merayakan kesedihan, dan Didi Kempot yang secara lelucon mereka sebut Lord, hadir memaksimalkan euforia tersebut. Satu lagu, dua lagu, tiga lagu, kalimat seperti \u2018Bajingan kowe dek!\u2019 mulai terlontar dari mulut-mulut penikmat lagu-lagu Didi Kempot. Saya dan mungkin juga kalian sejatinya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu Didi Kempot, mungkin sejak SD. Saat umur belum dua angka seperti saat ini, Didi Kempot mungkin hanya saya sebut sebagai musisi yang beraliran Campursari (meski memang benar seperti itu). Namun, ketika umur kian bertambah, Didi Kempot rupanya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi dia adalah representasi dari diksi patah hati itu sendiri. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu. Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut. Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan. Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas! Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri. Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya. Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5889,"post_author":"919","post_date":"2019-07-29 16:13:48","post_date_gmt":"2019-07-29 09:13:48","post_content":"\n Upaya mengejar cinta selalu menghadirkan satu masalah yaitu patah hati. Jika bicara soal peluang bakal menghadapi masalah tersebut, maka persentasinya adalah 50:50. Potensinya sudah bisa membesar sejak awal anda mencoba untuk berkenalan dengan sosok idaman. Jika salah langkah, sudah pasti si dia bakal menjauh, andai pun langkah awal sudah tepat tapi threatmennya pendekatannya salah, siap-siap kalimat \u2018maaf kita ga cocok\u2019<\/em> akan anda dapatkan.\u00a0 Kalau sudah patah hati rasanya memang ribet. Rendang yang katanya dijadikan makanan terenak di dunia pun rasanya seperti daging gosong. Mau beraktifitas juga susah, karena isinya hanya meratap dan merenungi. Diajak teman main game <\/em>juga tak maksimal, apalagi kongkow-kongkow sampai subuh. Kalau sudah begini tak boleh buru-buru larut dalam kesedihan, musik bisa jadi obat ampuh untuk menenangkannya. Musik memang soal selera, ada yang ingin lagu agak ngebeat <\/em>biar adrenalinennya naik. Ada yang memutar lagi jazz supaya lebih tenang, musik dangdut biar oaoe<\/em>, hingga lagu indie biar terkesan indies (ealaahhh). Akan tetapi ada satu tren belakangan ini, patah hati dan mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Sosok yang memulai karier berseni sebagai musisi jalanan tersebut kini lagi digandrungi anak muda. Mereka menyebutnya sebagai Sadbois atau Sadgirls, mengagung-mengagungkan patah hati, merayakan kesedihan, dan Didi Kempot yang secara lelucon mereka sebut Lord, hadir memaksimalkan euforia tersebut. Satu lagu, dua lagu, tiga lagu, kalimat seperti \u2018Bajingan kowe dek!\u2019 mulai terlontar dari mulut-mulut penikmat lagu-lagu Didi Kempot. Saya dan mungkin juga kalian sejatinya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu Didi Kempot, mungkin sejak SD. Saat umur belum dua angka seperti saat ini, Didi Kempot mungkin hanya saya sebut sebagai musisi yang beraliran Campursari (meski memang benar seperti itu). Namun, ketika umur kian bertambah, Didi Kempot rupanya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi dia adalah representasi dari diksi patah hati itu sendiri. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan. Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu. Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut. Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan. Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas! Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri. Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya. Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5889,"post_author":"919","post_date":"2019-07-29 16:13:48","post_date_gmt":"2019-07-29 09:13:48","post_content":"\n Upaya mengejar cinta selalu menghadirkan satu masalah yaitu patah hati. Jika bicara soal peluang bakal menghadapi masalah tersebut, maka persentasinya adalah 50:50. Potensinya sudah bisa membesar sejak awal anda mencoba untuk berkenalan dengan sosok idaman. Jika salah langkah, sudah pasti si dia bakal menjauh, andai pun langkah awal sudah tepat tapi threatmennya pendekatannya salah, siap-siap kalimat \u2018maaf kita ga cocok\u2019<\/em> akan anda dapatkan.\u00a0 Kalau sudah patah hati rasanya memang ribet. Rendang yang katanya dijadikan makanan terenak di dunia pun rasanya seperti daging gosong. Mau beraktifitas juga susah, karena isinya hanya meratap dan merenungi. Diajak teman main game <\/em>juga tak maksimal, apalagi kongkow-kongkow sampai subuh. Kalau sudah begini tak boleh buru-buru larut dalam kesedihan, musik bisa jadi obat ampuh untuk menenangkannya. Musik memang soal selera, ada yang ingin lagu agak ngebeat <\/em>biar adrenalinennya naik. Ada yang memutar lagi jazz supaya lebih tenang, musik dangdut biar oaoe<\/em>, hingga lagu indie biar terkesan indies (ealaahhh). Akan tetapi ada satu tren belakangan ini, patah hati dan mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Sosok yang memulai karier berseni sebagai musisi jalanan tersebut kini lagi digandrungi anak muda. Mereka menyebutnya sebagai Sadbois atau Sadgirls, mengagung-mengagungkan patah hati, merayakan kesedihan, dan Didi Kempot yang secara lelucon mereka sebut Lord, hadir memaksimalkan euforia tersebut. Satu lagu, dua lagu, tiga lagu, kalimat seperti \u2018Bajingan kowe dek!\u2019 mulai terlontar dari mulut-mulut penikmat lagu-lagu Didi Kempot. Saya dan mungkin juga kalian sejatinya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu Didi Kempot, mungkin sejak SD. Saat umur belum dua angka seperti saat ini, Didi Kempot mungkin hanya saya sebut sebagai musisi yang beraliran Campursari (meski memang benar seperti itu). Namun, ketika umur kian bertambah, Didi Kempot rupanya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi dia adalah representasi dari diksi patah hati itu sendiri. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Dari plastik hitam itu aku mengingat masa kecilku, dan dari ingatan masa kecil aku mengingat diriku yang ternyata kini kian jauh dari Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Ingatan Masa Kecil dalam Seonggok Daging Iduladha","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ingatan-masa-kecil-dalam-seonggok-daging-iduladha","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-11 12:28:07","post_modified_gmt":"2019-08-11 05:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5946","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan. Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu. Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut. Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan. Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas! Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri. Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya. Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5889,"post_author":"919","post_date":"2019-07-29 16:13:48","post_date_gmt":"2019-07-29 09:13:48","post_content":"\n Upaya mengejar cinta selalu menghadirkan satu masalah yaitu patah hati. Jika bicara soal peluang bakal menghadapi masalah tersebut, maka persentasinya adalah 50:50. Potensinya sudah bisa membesar sejak awal anda mencoba untuk berkenalan dengan sosok idaman. Jika salah langkah, sudah pasti si dia bakal menjauh, andai pun langkah awal sudah tepat tapi threatmennya pendekatannya salah, siap-siap kalimat \u2018maaf kita ga cocok\u2019<\/em> akan anda dapatkan.\u00a0 Kalau sudah patah hati rasanya memang ribet. Rendang yang katanya dijadikan makanan terenak di dunia pun rasanya seperti daging gosong. Mau beraktifitas juga susah, karena isinya hanya meratap dan merenungi. Diajak teman main game <\/em>juga tak maksimal, apalagi kongkow-kongkow sampai subuh. Kalau sudah begini tak boleh buru-buru larut dalam kesedihan, musik bisa jadi obat ampuh untuk menenangkannya. Musik memang soal selera, ada yang ingin lagu agak ngebeat <\/em>biar adrenalinennya naik. Ada yang memutar lagi jazz supaya lebih tenang, musik dangdut biar oaoe<\/em>, hingga lagu indie biar terkesan indies (ealaahhh). Akan tetapi ada satu tren belakangan ini, patah hati dan mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Sosok yang memulai karier berseni sebagai musisi jalanan tersebut kini lagi digandrungi anak muda. Mereka menyebutnya sebagai Sadbois atau Sadgirls, mengagung-mengagungkan patah hati, merayakan kesedihan, dan Didi Kempot yang secara lelucon mereka sebut Lord, hadir memaksimalkan euforia tersebut. Satu lagu, dua lagu, tiga lagu, kalimat seperti \u2018Bajingan kowe dek!\u2019 mulai terlontar dari mulut-mulut penikmat lagu-lagu Didi Kempot. Saya dan mungkin juga kalian sejatinya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu Didi Kempot, mungkin sejak SD. Saat umur belum dua angka seperti saat ini, Didi Kempot mungkin hanya saya sebut sebagai musisi yang beraliran Campursari (meski memang benar seperti itu). Namun, ketika umur kian bertambah, Didi Kempot rupanya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi dia adalah representasi dari diksi patah hati itu sendiri. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Maka memori anak-anak (dari mereka yang orangtuanya adalah perantauan) adalah soal bermain dengan tetangga komplek serta sekitarnya. Tak sedikit juga yang berkumpul di sekolah untuk merayakan bakar sate dan memakannya bersama-sama. Pada akhirnya memori tentang kisah kecil kita adalah suatu landasan, agar apabila suatu saat mulai jauh dari ajaran agama, kita diingatkan lagi tentang indahnya masa kecil yang kerap selalu mewah dengan momen perayaan ajaran tuhan. Dari plastik hitam itu aku mengingat masa kecilku, dan dari ingatan masa kecil aku mengingat diriku yang ternyata kini kian jauh dari Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Ingatan Masa Kecil dalam Seonggok Daging Iduladha","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ingatan-masa-kecil-dalam-seonggok-daging-iduladha","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-11 12:28:07","post_modified_gmt":"2019-08-11 05:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5946","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan. Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu. Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut. Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan. Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas! Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri. Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya. Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5889,"post_author":"919","post_date":"2019-07-29 16:13:48","post_date_gmt":"2019-07-29 09:13:48","post_content":"\n Upaya mengejar cinta selalu menghadirkan satu masalah yaitu patah hati. Jika bicara soal peluang bakal menghadapi masalah tersebut, maka persentasinya adalah 50:50. Potensinya sudah bisa membesar sejak awal anda mencoba untuk berkenalan dengan sosok idaman. Jika salah langkah, sudah pasti si dia bakal menjauh, andai pun langkah awal sudah tepat tapi threatmennya pendekatannya salah, siap-siap kalimat \u2018maaf kita ga cocok\u2019<\/em> akan anda dapatkan.\u00a0 Kalau sudah patah hati rasanya memang ribet. Rendang yang katanya dijadikan makanan terenak di dunia pun rasanya seperti daging gosong. Mau beraktifitas juga susah, karena isinya hanya meratap dan merenungi. Diajak teman main game <\/em>juga tak maksimal, apalagi kongkow-kongkow sampai subuh. Kalau sudah begini tak boleh buru-buru larut dalam kesedihan, musik bisa jadi obat ampuh untuk menenangkannya. Musik memang soal selera, ada yang ingin lagu agak ngebeat <\/em>biar adrenalinennya naik. Ada yang memutar lagi jazz supaya lebih tenang, musik dangdut biar oaoe<\/em>, hingga lagu indie biar terkesan indies (ealaahhh). Akan tetapi ada satu tren belakangan ini, patah hati dan mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Sosok yang memulai karier berseni sebagai musisi jalanan tersebut kini lagi digandrungi anak muda. Mereka menyebutnya sebagai Sadbois atau Sadgirls, mengagung-mengagungkan patah hati, merayakan kesedihan, dan Didi Kempot yang secara lelucon mereka sebut Lord, hadir memaksimalkan euforia tersebut. Satu lagu, dua lagu, tiga lagu, kalimat seperti \u2018Bajingan kowe dek!\u2019 mulai terlontar dari mulut-mulut penikmat lagu-lagu Didi Kempot. Saya dan mungkin juga kalian sejatinya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu Didi Kempot, mungkin sejak SD. Saat umur belum dua angka seperti saat ini, Didi Kempot mungkin hanya saya sebut sebagai musisi yang beraliran Campursari (meski memang benar seperti itu). Namun, ketika umur kian bertambah, Didi Kempot rupanya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi dia adalah representasi dari diksi patah hati itu sendiri. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Bicara Iduladha adalah soal lebaran di daerah perantauan. Bagi mereka yang merantau, momen lebaran idul adha biasanya dihabiskan bukan di kampung halaman. Tentu banyak faktor, mulai dari materi dan efisiensi waktu mengingat hari liburnya yang tak sebanyak Idulfitri. Tapi rupanya diciptakan dua hari raya bagi umat muslim rasanya memang lengkap (bagi anak rantau), satu untuk dirayakan bersama sanak famili di kampung, satunya lagi bersama tetangga dan rekan kerja di perantauan. Maka memori anak-anak (dari mereka yang orangtuanya adalah perantauan) adalah soal bermain dengan tetangga komplek serta sekitarnya. Tak sedikit juga yang berkumpul di sekolah untuk merayakan bakar sate dan memakannya bersama-sama. Pada akhirnya memori tentang kisah kecil kita adalah suatu landasan, agar apabila suatu saat mulai jauh dari ajaran agama, kita diingatkan lagi tentang indahnya masa kecil yang kerap selalu mewah dengan momen perayaan ajaran tuhan. Dari plastik hitam itu aku mengingat masa kecilku, dan dari ingatan masa kecil aku mengingat diriku yang ternyata kini kian jauh dari Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Ingatan Masa Kecil dalam Seonggok Daging Iduladha","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ingatan-masa-kecil-dalam-seonggok-daging-iduladha","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-11 12:28:07","post_modified_gmt":"2019-08-11 05:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5946","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan. Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu. Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut. Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan. Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas! Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri. Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya. Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5889,"post_author":"919","post_date":"2019-07-29 16:13:48","post_date_gmt":"2019-07-29 09:13:48","post_content":"\n Upaya mengejar cinta selalu menghadirkan satu masalah yaitu patah hati. Jika bicara soal peluang bakal menghadapi masalah tersebut, maka persentasinya adalah 50:50. Potensinya sudah bisa membesar sejak awal anda mencoba untuk berkenalan dengan sosok idaman. Jika salah langkah, sudah pasti si dia bakal menjauh, andai pun langkah awal sudah tepat tapi threatmennya pendekatannya salah, siap-siap kalimat \u2018maaf kita ga cocok\u2019<\/em> akan anda dapatkan.\u00a0 Kalau sudah patah hati rasanya memang ribet. Rendang yang katanya dijadikan makanan terenak di dunia pun rasanya seperti daging gosong. Mau beraktifitas juga susah, karena isinya hanya meratap dan merenungi. Diajak teman main game <\/em>juga tak maksimal, apalagi kongkow-kongkow sampai subuh. Kalau sudah begini tak boleh buru-buru larut dalam kesedihan, musik bisa jadi obat ampuh untuk menenangkannya. Musik memang soal selera, ada yang ingin lagu agak ngebeat <\/em>biar adrenalinennya naik. Ada yang memutar lagi jazz supaya lebih tenang, musik dangdut biar oaoe<\/em>, hingga lagu indie biar terkesan indies (ealaahhh). Akan tetapi ada satu tren belakangan ini, patah hati dan mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Sosok yang memulai karier berseni sebagai musisi jalanan tersebut kini lagi digandrungi anak muda. Mereka menyebutnya sebagai Sadbois atau Sadgirls, mengagung-mengagungkan patah hati, merayakan kesedihan, dan Didi Kempot yang secara lelucon mereka sebut Lord, hadir memaksimalkan euforia tersebut. Satu lagu, dua lagu, tiga lagu, kalimat seperti \u2018Bajingan kowe dek!\u2019 mulai terlontar dari mulut-mulut penikmat lagu-lagu Didi Kempot. Saya dan mungkin juga kalian sejatinya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu Didi Kempot, mungkin sejak SD. Saat umur belum dua angka seperti saat ini, Didi Kempot mungkin hanya saya sebut sebagai musisi yang beraliran Campursari (meski memang benar seperti itu). Namun, ketika umur kian bertambah, Didi Kempot rupanya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi dia adalah representasi dari diksi patah hati itu sendiri. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci. Bermain-main dengan kepala kambing memang satu hal yang lucu saat kecil dahulu. Terkadang kami mengibaratkan tanduknya sebagai setang sepeda lalu membawanya sambil berlarian. Kadang juga kami merasa kebauan akibat bermain terlalu dekat dengan lubang tempat darah dan isi perut hewan yang sudah disembelih. Tapi ada satu yang unik, waktu kecil kami juga berebut mengambil torpedo hewan kurban. Rupanya rasanya nikmat dan memang tak ada gejala apa-apa setelah memakan itu, namun katanya kalau dimakan saat umur sudah dewasa maka reaksinya akan berbeda, entahlah. Bicara Iduladha adalah soal lebaran di daerah perantauan. Bagi mereka yang merantau, momen lebaran idul adha biasanya dihabiskan bukan di kampung halaman. Tentu banyak faktor, mulai dari materi dan efisiensi waktu mengingat hari liburnya yang tak sebanyak Idulfitri. Tapi rupanya diciptakan dua hari raya bagi umat muslim rasanya memang lengkap (bagi anak rantau), satu untuk dirayakan bersama sanak famili di kampung, satunya lagi bersama tetangga dan rekan kerja di perantauan. Maka memori anak-anak (dari mereka yang orangtuanya adalah perantauan) adalah soal bermain dengan tetangga komplek serta sekitarnya. Tak sedikit juga yang berkumpul di sekolah untuk merayakan bakar sate dan memakannya bersama-sama. Pada akhirnya memori tentang kisah kecil kita adalah suatu landasan, agar apabila suatu saat mulai jauh dari ajaran agama, kita diingatkan lagi tentang indahnya masa kecil yang kerap selalu mewah dengan momen perayaan ajaran tuhan. Dari plastik hitam itu aku mengingat masa kecilku, dan dari ingatan masa kecil aku mengingat diriku yang ternyata kini kian jauh dari Tuhan.<\/p>\n","post_title":"Ingatan Masa Kecil dalam Seonggok Daging Iduladha","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ingatan-masa-kecil-dalam-seonggok-daging-iduladha","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-11 12:28:07","post_modified_gmt":"2019-08-11 05:28:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5946","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan. Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu. Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut. Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan. Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas! Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri. Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya. Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5889,"post_author":"919","post_date":"2019-07-29 16:13:48","post_date_gmt":"2019-07-29 09:13:48","post_content":"\n Upaya mengejar cinta selalu menghadirkan satu masalah yaitu patah hati. Jika bicara soal peluang bakal menghadapi masalah tersebut, maka persentasinya adalah 50:50. Potensinya sudah bisa membesar sejak awal anda mencoba untuk berkenalan dengan sosok idaman. Jika salah langkah, sudah pasti si dia bakal menjauh, andai pun langkah awal sudah tepat tapi threatmennya pendekatannya salah, siap-siap kalimat \u2018maaf kita ga cocok\u2019<\/em> akan anda dapatkan.\u00a0 Kalau sudah patah hati rasanya memang ribet. Rendang yang katanya dijadikan makanan terenak di dunia pun rasanya seperti daging gosong. Mau beraktifitas juga susah, karena isinya hanya meratap dan merenungi. Diajak teman main game <\/em>juga tak maksimal, apalagi kongkow-kongkow sampai subuh. Kalau sudah begini tak boleh buru-buru larut dalam kesedihan, musik bisa jadi obat ampuh untuk menenangkannya. Musik memang soal selera, ada yang ingin lagu agak ngebeat <\/em>biar adrenalinennya naik. Ada yang memutar lagi jazz supaya lebih tenang, musik dangdut biar oaoe<\/em>, hingga lagu indie biar terkesan indies (ealaahhh). Akan tetapi ada satu tren belakangan ini, patah hati dan mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Sosok yang memulai karier berseni sebagai musisi jalanan tersebut kini lagi digandrungi anak muda. Mereka menyebutnya sebagai Sadbois atau Sadgirls, mengagung-mengagungkan patah hati, merayakan kesedihan, dan Didi Kempot yang secara lelucon mereka sebut Lord, hadir memaksimalkan euforia tersebut. Satu lagu, dua lagu, tiga lagu, kalimat seperti \u2018Bajingan kowe dek!\u2019 mulai terlontar dari mulut-mulut penikmat lagu-lagu Didi Kempot. Saya dan mungkin juga kalian sejatinya sudah cukup lama mendengar lagu-lagu Didi Kempot, mungkin sejak SD. Saat umur belum dua angka seperti saat ini, Didi Kempot mungkin hanya saya sebut sebagai musisi yang beraliran Campursari (meski memang benar seperti itu). Namun, ketika umur kian bertambah, Didi Kempot rupanya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi dia adalah representasi dari diksi patah hati itu sendiri. Lagu Sewu Kutho misalnya, saya anggap sebagai lagu patah hati terhebat yang pernah ia buat. Bagaimana rasa rindu, sakit, dan keikhlasan menyatu menjadi satu dalam sebuah lagu. Bahkan doa juga ia sematkan kepada orang yang disayang, agar hidup dia yang dicinta hidup lebih bahagia daripada dirinya. Meski sebenarnya dalam lagu tersebut ada pertentangan lain dalam dirinya yang masih tak bisa ia atasi, ia masih ingin bertemu dengan yang dicinta dengan cara apapun. Pamer Bojo adalah selanjutnya, ia hadir tepat di saat anak muda sedang mengalami tren nikah dini. Saat usia muda memang perasaan dan cinta sedang berkecamuknya, lalu dihadapkan dengan permasalahan yang cukup pelik dalam asmara yaitu ditinggal nikah. Lagu Pamer Bojo adalah solusinya, meski dalam liriknya ada pesan bahwa kita memang tidak pernah siap melihat yang dicinta menikah dengan orang lain. \u201cNeng opo seneng aku yen mung gawe laraku<\/em><\/p>\n\n\n\n Pamer bojo anyar neng ngarepku\u201d<\/em> Bagi saya musik memiliki kekuatan hebat walau memiliki tembok bernama bahasa. Hanya musisi hebat yang mampu menembus dinding-dinding itu. Didi Kempot adalah salah satunya, ia mampu membuat orang yang bukan bersuku Jawa bisa menikmati lagunya. Ini sebuah kemajuan dalam berkebudayaan, bahwa suku dan bangsa lain bisa saling menerima karya dari golongan lain. Sesuatu yang saat kini benar-benar kita butuhkan bukan setelah kontestasi politik yang melibatkan sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan. Didi Kempot memang sedang naik daun dan kini namanya lagi disebut-sebut di banyak penjuru di ibu kota. Ketakutan saya adalah akan seberapa lama tren ini berlanjut, mengingat tak banyak yang bisa bertahan lama di Jakarta. Akan tetapi pikiran tersebut saya rasa salah, Didi Kempot boleh saja naik daun dan tiba-tiba hilang di Jakarta, akan tetapi karya dan dirinya tetap abadi di Indonesia. Karena yang membuat Didi Kempot agung adalah kita yang selalu kekanak-kanakan menghadapi masalah patah hati. <\/p>\n","post_title":"Memuja-muja Didi Kempot, Mengagung-agungkan Patah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memuja-muja-didi-kempot-mengagung-agungkan-patah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-29 16:13:56","post_modified_gmt":"2019-07-29 09:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5889","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5862,"post_author":"919","post_date":"2019-07-14 12:50:58","post_date_gmt":"2019-07-14 05:50:58","post_content":"\n Musim haji kini telah tiba. Diperkirakan jutaan orang kini telah memadati Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi untuk memenuhi salah satu rukun Islam tiap tahunnya. Ritual suci ini menjadi salah satu impian bagi tiap umat muslim di seluruh dunia dan tak seluruhnya bisa melaksanakannya. Walau demikian musim haji di Indonesia tak pernah sepi peminat. Menko Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan jumlah jamaah haji Indonesia akan mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019. Per hari ini (14\/7\/2019) jumlah jemaah diperkirakan sudah mencapai 47.983 orang yang sudah berdatangan ke Madinah. Ada-ada saja memang kelakuan masyarakat Indonesia ketika berkunjung ke luar negeri terutama untuk ibadah haji yang memakan waktu hingga satu bulan. Ada kisah para peserta membawa makanan khas daerah masing-masing karena takut tak bisa menyesuaikan dengan kudapan di sana. Ada yang membawa sambal, jengkol, ikan teri, padahal pihak penyelenggara sudah menyediakan makanan yang sesuai dengan lidah mereka. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah merokok dan tradisi tersebut sudah mengakar sejak lama. Cita rasa kretek yang kuat dengan campuran cengkeh membuat masyarakat kita sulit menikmati produk rokok asing. Maka dengan demikian ketika bepergian ke luar negeri membawa rokok dari Indonesia adalah hal yang nampaknya sudah jadi kebiasaan. Sejatinya hal tersebut tak bisa dikatakan sebagai aktivitas ilegal, karena mereka membawa rokok lokal untuk dikonsumsi pribadi dan bukan untuk dijual. Pemerintah sejatinya sudah mengakomodasi kebutuhan para perokok yang sedang menjadi peserta haji. Kemudahan itu adalah dengan memperbolehkan jamaah haji membawa rokok maksimal 200 batang untuk dibawa ke tanah suci. Jika berlebih, maka siap-siap untuk diamankan dan disita. Akibat informasi yang kadang tak menyeluruh, kadang masih ada saja rokok yang disita. Tribun Jabar misalnya memberitakan bahwa sehari ada sekitar 200 batang rokok yang disita oleh pihak bea dan cukai. Peraturan memang ada untuk dipatuhi dan diikuti, sebagai perokok tentu hal tersebut tak boleh dihiraukan. Ada baiknya untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan agar ibadah haji semakin nyaman. Tentu ijin boleh membawa rokok sebanyak 200 batang sudah cukup mengakomodir kebutuhan para perokok. Jika dihitung dalam 40 hari maka dalam satu hari satu jamaah haji bisa mengisap lima batang tentu pas jika kita anggap setiap sehabis sholat menghisap satu batang rokok. Tentu paduan yang sempurna antara ibadah dan kebiasaan merokok. Ada cara lain untuk mengakali peraturan tersebut, salah satunya adalah dengan menitip kepada anggota keluarga lain. Tentu cara ini sebenarnya tidak bermasalah karena setiap orang punya hak untuk membawa 200 batang rokok. Cara ini nampaknya cukup ampuh dan sudah dilakukan oleh beberapa jamaah haji. Asalkan rokok yang dibawa tentu hanya untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk dijual kembali di sana. Pada akhirnya ibadah harus menjadi petimbangan utama saat ke tanah suci. Mengenai barang bawaan yang sudah diatur harus betul-betul diperhatikan. Toh rokok bukan barang yang bercandu sehingga kebiasaan merokok pun masih bisa diatasi ketika di tanah suci.
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\nRotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nRotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\nThis Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nRotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nThis Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nRotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\nSulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nThis Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nRotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nSulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nThis Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nRotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\nWong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nSulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nThis Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nRotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nWong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nSulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nThis Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nRotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\nSelamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nWong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nSulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nThis Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nRotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nSelamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nWong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nSulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nThis Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nRotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nSelamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nWong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nSulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nThis Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nRotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nSelamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nWong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nSulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nThis Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nRotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nSelamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nWong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nSulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nThis Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nRotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nSelamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nWong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nSulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nThis Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nRotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nSelamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nWong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nSulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nThis Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nRotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nSelamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nWong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nSulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nThis Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nRotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Hal yang Perlu Diperhatikan Perokok Saat Berangkat Haji","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hal-yang-perlu-diperhatikan-perokok-saat-berangkat-haji","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-07-14 12:51:04","post_modified_gmt":"2019-07-14 05:51:04","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5862","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};