\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid 2002, PP. No.81\/1999 diamandemen dengan PP No. 38\/2000. Isi amandemen memberikan izin kembali penayangan iklan. Pada masa Abdurrahman Wahid juga mengangkat kembali harga cengkeh petani yang semasa Orde Baru terjadi anjlok luar biasa, hingga banyak pohon cengkeh dibakar dan dimusnahkan.  <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Jadi tembakau import besar-besaran masuk Indonesia by setting melalui regulasi. Tembakau yang besar besaran masuk Indonesia adalah jenis virginia. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid 2002, PP. No.81\/1999 diamandemen dengan PP No. 38\/2000. Isi amandemen memberikan izin kembali penayangan iklan. Pada masa Abdurrahman Wahid juga mengangkat kembali harga cengkeh petani yang semasa Orde Baru terjadi anjlok luar biasa, hingga banyak pohon cengkeh dibakar dan dimusnahkan.  <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Dengan aturan inilah, turunannya muncul istilah low nicotine low tar pada rokok. Yang kemudian makin merebak di Indonesia tembakau import. Karena saat itu industri ditekan regulasi agar memproduksi rokok low nikotin low tar. Sedang tembakau lokal untuk menjadi low nicotine low tar prosesnya lama dan cosnya tinggi. Kemudian industri lebih memilih tembakau import.<\/p>\n\n\n\n

Jadi tembakau import besar-besaran masuk Indonesia by setting melalui regulasi. Tembakau yang besar besaran masuk Indonesia adalah jenis virginia. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid 2002, PP. No.81\/1999 diamandemen dengan PP No. 38\/2000. Isi amandemen memberikan izin kembali penayangan iklan. Pada masa Abdurrahman Wahid juga mengangkat kembali harga cengkeh petani yang semasa Orde Baru terjadi anjlok luar biasa, hingga banyak pohon cengkeh dibakar dan dimusnahkan.  <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Masa BJ. Habibie mendirikan forum komunikasi nasional (FKN) yang diinisiasi badan obat dan makanan serta Kementerian Kesehatan. FKN menerbitkan PP No. 81 1999 mengatur iklan level tar dan nikotin hingga promosi yang sifatnya pembatasan. <\/p>\n\n\n\n

Dengan aturan inilah, turunannya muncul istilah low nicotine low tar pada rokok. Yang kemudian makin merebak di Indonesia tembakau import. Karena saat itu industri ditekan regulasi agar memproduksi rokok low nikotin low tar. Sedang tembakau lokal untuk menjadi low nicotine low tar prosesnya lama dan cosnya tinggi. Kemudian industri lebih memilih tembakau import.<\/p>\n\n\n\n

Jadi tembakau import besar-besaran masuk Indonesia by setting melalui regulasi. Tembakau yang besar besaran masuk Indonesia adalah jenis virginia. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid 2002, PP. No.81\/1999 diamandemen dengan PP No. 38\/2000. Isi amandemen memberikan izin kembali penayangan iklan. Pada masa Abdurrahman Wahid juga mengangkat kembali harga cengkeh petani yang semasa Orde Baru terjadi anjlok luar biasa, hingga banyak pohon cengkeh dibakar dan dimusnahkan.  <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Masa reformasi, Indonesia mengalami kekacauan ekonomi dan politik hingga terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke BJ. Habibie pada tahun 1998. Kekacauan ini berpengaruh terhadap aturan pertembakauan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Masa BJ. Habibie mendirikan forum komunikasi nasional (FKN) yang diinisiasi badan obat dan makanan serta Kementerian Kesehatan. FKN menerbitkan PP No. 81 1999 mengatur iklan level tar dan nikotin hingga promosi yang sifatnya pembatasan. <\/p>\n\n\n\n

Dengan aturan inilah, turunannya muncul istilah low nicotine low tar pada rokok. Yang kemudian makin merebak di Indonesia tembakau import. Karena saat itu industri ditekan regulasi agar memproduksi rokok low nikotin low tar. Sedang tembakau lokal untuk menjadi low nicotine low tar prosesnya lama dan cosnya tinggi. Kemudian industri lebih memilih tembakau import.<\/p>\n\n\n\n

Jadi tembakau import besar-besaran masuk Indonesia by setting melalui regulasi. Tembakau yang besar besaran masuk Indonesia adalah jenis virginia. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid 2002, PP. No.81\/1999 diamandemen dengan PP No. 38\/2000. Isi amandemen memberikan izin kembali penayangan iklan. Pada masa Abdurrahman Wahid juga mengangkat kembali harga cengkeh petani yang semasa Orde Baru terjadi anjlok luar biasa, hingga banyak pohon cengkeh dibakar dan dimusnahkan.  <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Masa Orde Baru (1966-1998), muncul UU No. 11 tahun 1995 tentang cukai. Aturan turunannya berupa Peraturan Pemerintah (PP), diantaranya PP No. 24\/1966 tentang pengenaan sanksi administrasi bidang cukai, PP No. 25\/1966 tentang izin pengusaha dan PP No.55\/1966 tentang penyidikan tindak pidana bidang kepabean dan cukai.<\/p>\n\n\n\n

Masa reformasi, Indonesia mengalami kekacauan ekonomi dan politik hingga terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke BJ. Habibie pada tahun 1998. Kekacauan ini berpengaruh terhadap aturan pertembakauan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Masa BJ. Habibie mendirikan forum komunikasi nasional (FKN) yang diinisiasi badan obat dan makanan serta Kementerian Kesehatan. FKN menerbitkan PP No. 81 1999 mengatur iklan level tar dan nikotin hingga promosi yang sifatnya pembatasan. <\/p>\n\n\n\n

Dengan aturan inilah, turunannya muncul istilah low nicotine low tar pada rokok. Yang kemudian makin merebak di Indonesia tembakau import. Karena saat itu industri ditekan regulasi agar memproduksi rokok low nikotin low tar. Sedang tembakau lokal untuk menjadi low nicotine low tar prosesnya lama dan cosnya tinggi. Kemudian industri lebih memilih tembakau import.<\/p>\n\n\n\n

Jadi tembakau import besar-besaran masuk Indonesia by setting melalui regulasi. Tembakau yang besar besaran masuk Indonesia adalah jenis virginia. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid 2002, PP. No.81\/1999 diamandemen dengan PP No. 38\/2000. Isi amandemen memberikan izin kembali penayangan iklan. Pada masa Abdurrahman Wahid juga mengangkat kembali harga cengkeh petani yang semasa Orde Baru terjadi anjlok luar biasa, hingga banyak pohon cengkeh dibakar dan dimusnahkan.  <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Tahun 1956, keluar UU No. 16\/1956 tentang penambahan dan pengubahan ordonansi cukai tembakau. Aturan ini menyikapi dampak perusahan-perusahan kecil skala rumahan bangkrut akibat tingginya bea cukai tembakau. Yang kemudian pemerintah memberikan subsidi pada perusahaan rokok dengan menurunkan cukai pada jumlah tertentu selama satu tahun. <\/p>\n\n\n\n

Masa Orde Baru (1966-1998), muncul UU No. 11 tahun 1995 tentang cukai. Aturan turunannya berupa Peraturan Pemerintah (PP), diantaranya PP No. 24\/1966 tentang pengenaan sanksi administrasi bidang cukai, PP No. 25\/1966 tentang izin pengusaha dan PP No.55\/1966 tentang penyidikan tindak pidana bidang kepabean dan cukai.<\/p>\n\n\n\n

Masa reformasi, Indonesia mengalami kekacauan ekonomi dan politik hingga terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke BJ. Habibie pada tahun 1998. Kekacauan ini berpengaruh terhadap aturan pertembakauan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Masa BJ. Habibie mendirikan forum komunikasi nasional (FKN) yang diinisiasi badan obat dan makanan serta Kementerian Kesehatan. FKN menerbitkan PP No. 81 1999 mengatur iklan level tar dan nikotin hingga promosi yang sifatnya pembatasan. <\/p>\n\n\n\n

Dengan aturan inilah, turunannya muncul istilah low nicotine low tar pada rokok. Yang kemudian makin merebak di Indonesia tembakau import. Karena saat itu industri ditekan regulasi agar memproduksi rokok low nikotin low tar. Sedang tembakau lokal untuk menjadi low nicotine low tar prosesnya lama dan cosnya tinggi. Kemudian industri lebih memilih tembakau import.<\/p>\n\n\n\n

Jadi tembakau import besar-besaran masuk Indonesia by setting melalui regulasi. Tembakau yang besar besaran masuk Indonesia adalah jenis virginia. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid 2002, PP. No.81\/1999 diamandemen dengan PP No. 38\/2000. Isi amandemen memberikan izin kembali penayangan iklan. Pada masa Abdurrahman Wahid juga mengangkat kembali harga cengkeh petani yang semasa Orde Baru terjadi anjlok luar biasa, hingga banyak pohon cengkeh dibakar dan dimusnahkan.  <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Turunannya, berupa Peraturan Pemerintah (PP) No. 8\/1951 mengatur besaran pungutan cukai dengan cara melekatkan pita cukai warna warni. <\/p>\n\n\n\n

Tahun 1956, keluar UU No. 16\/1956 tentang penambahan dan pengubahan ordonansi cukai tembakau. Aturan ini menyikapi dampak perusahan-perusahan kecil skala rumahan bangkrut akibat tingginya bea cukai tembakau. Yang kemudian pemerintah memberikan subsidi pada perusahaan rokok dengan menurunkan cukai pada jumlah tertentu selama satu tahun. <\/p>\n\n\n\n

Masa Orde Baru (1966-1998), muncul UU No. 11 tahun 1995 tentang cukai. Aturan turunannya berupa Peraturan Pemerintah (PP), diantaranya PP No. 24\/1966 tentang pengenaan sanksi administrasi bidang cukai, PP No. 25\/1966 tentang izin pengusaha dan PP No.55\/1966 tentang penyidikan tindak pidana bidang kepabean dan cukai.<\/p>\n\n\n\n

Masa reformasi, Indonesia mengalami kekacauan ekonomi dan politik hingga terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke BJ. Habibie pada tahun 1998. Kekacauan ini berpengaruh terhadap aturan pertembakauan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Masa BJ. Habibie mendirikan forum komunikasi nasional (FKN) yang diinisiasi badan obat dan makanan serta Kementerian Kesehatan. FKN menerbitkan PP No. 81 1999 mengatur iklan level tar dan nikotin hingga promosi yang sifatnya pembatasan. <\/p>\n\n\n\n

Dengan aturan inilah, turunannya muncul istilah low nicotine low tar pada rokok. Yang kemudian makin merebak di Indonesia tembakau import. Karena saat itu industri ditekan regulasi agar memproduksi rokok low nikotin low tar. Sedang tembakau lokal untuk menjadi low nicotine low tar prosesnya lama dan cosnya tinggi. Kemudian industri lebih memilih tembakau import.<\/p>\n\n\n\n

Jadi tembakau import besar-besaran masuk Indonesia by setting melalui regulasi. Tembakau yang besar besaran masuk Indonesia adalah jenis virginia. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid 2002, PP. No.81\/1999 diamandemen dengan PP No. 38\/2000. Isi amandemen memberikan izin kembali penayangan iklan. Pada masa Abdurrahman Wahid juga mengangkat kembali harga cengkeh petani yang semasa Orde Baru terjadi anjlok luar biasa, hingga banyak pohon cengkeh dibakar dan dimusnahkan.  <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Setelah merdeka, pemerintah baru (Indonesia) melanjutkan aturan tentang tembakau mengenai pungutan cukai. aturan tersebut tercantum dalam UU Darurat No. 22 tahun 1950. Pada aturan ini, lebih pada penurunan cukai tembakau hingga mengatur harga jual eceran hasil olahan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Turunannya, berupa Peraturan Pemerintah (PP) No. 8\/1951 mengatur besaran pungutan cukai dengan cara melekatkan pita cukai warna warni. <\/p>\n\n\n\n

Tahun 1956, keluar UU No. 16\/1956 tentang penambahan dan pengubahan ordonansi cukai tembakau. Aturan ini menyikapi dampak perusahan-perusahan kecil skala rumahan bangkrut akibat tingginya bea cukai tembakau. Yang kemudian pemerintah memberikan subsidi pada perusahaan rokok dengan menurunkan cukai pada jumlah tertentu selama satu tahun. <\/p>\n\n\n\n

Masa Orde Baru (1966-1998), muncul UU No. 11 tahun 1995 tentang cukai. Aturan turunannya berupa Peraturan Pemerintah (PP), diantaranya PP No. 24\/1966 tentang pengenaan sanksi administrasi bidang cukai, PP No. 25\/1966 tentang izin pengusaha dan PP No.55\/1966 tentang penyidikan tindak pidana bidang kepabean dan cukai.<\/p>\n\n\n\n

Masa reformasi, Indonesia mengalami kekacauan ekonomi dan politik hingga terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke BJ. Habibie pada tahun 1998. Kekacauan ini berpengaruh terhadap aturan pertembakauan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Masa BJ. Habibie mendirikan forum komunikasi nasional (FKN) yang diinisiasi badan obat dan makanan serta Kementerian Kesehatan. FKN menerbitkan PP No. 81 1999 mengatur iklan level tar dan nikotin hingga promosi yang sifatnya pembatasan. <\/p>\n\n\n\n

Dengan aturan inilah, turunannya muncul istilah low nicotine low tar pada rokok. Yang kemudian makin merebak di Indonesia tembakau import. Karena saat itu industri ditekan regulasi agar memproduksi rokok low nikotin low tar. Sedang tembakau lokal untuk menjadi low nicotine low tar prosesnya lama dan cosnya tinggi. Kemudian industri lebih memilih tembakau import.<\/p>\n\n\n\n

Jadi tembakau import besar-besaran masuk Indonesia by setting melalui regulasi. Tembakau yang besar besaran masuk Indonesia adalah jenis virginia. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid 2002, PP. No.81\/1999 diamandemen dengan PP No. 38\/2000. Isi amandemen memberikan izin kembali penayangan iklan. Pada masa Abdurrahman Wahid juga mengangkat kembali harga cengkeh petani yang semasa Orde Baru terjadi anjlok luar biasa, hingga banyak pohon cengkeh dibakar dan dimusnahkan.  <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

 Pada pertengahan abad 20 Belanda membuat aturan tembakau lebih sistematis dengan mengeluarkan Staatblad No. 517 tahun 1932,  Staatsblad No. 234 tahun 1949 tentang \u201cTabaksaccijins-Ordonnatie\u201d. Dua aturan tersebut mengatur tentang pita cukai, bea ekspor dan bea masuk, dan juga termasuk mengatur besaran jumlah penerimaan pemerintah Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pemerintah baru (Indonesia) melanjutkan aturan tentang tembakau mengenai pungutan cukai. aturan tersebut tercantum dalam UU Darurat No. 22 tahun 1950. Pada aturan ini, lebih pada penurunan cukai tembakau hingga mengatur harga jual eceran hasil olahan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Turunannya, berupa Peraturan Pemerintah (PP) No. 8\/1951 mengatur besaran pungutan cukai dengan cara melekatkan pita cukai warna warni. <\/p>\n\n\n\n

Tahun 1956, keluar UU No. 16\/1956 tentang penambahan dan pengubahan ordonansi cukai tembakau. Aturan ini menyikapi dampak perusahan-perusahan kecil skala rumahan bangkrut akibat tingginya bea cukai tembakau. Yang kemudian pemerintah memberikan subsidi pada perusahaan rokok dengan menurunkan cukai pada jumlah tertentu selama satu tahun. <\/p>\n\n\n\n

Masa Orde Baru (1966-1998), muncul UU No. 11 tahun 1995 tentang cukai. Aturan turunannya berupa Peraturan Pemerintah (PP), diantaranya PP No. 24\/1966 tentang pengenaan sanksi administrasi bidang cukai, PP No. 25\/1966 tentang izin pengusaha dan PP No.55\/1966 tentang penyidikan tindak pidana bidang kepabean dan cukai.<\/p>\n\n\n\n

Masa reformasi, Indonesia mengalami kekacauan ekonomi dan politik hingga terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke BJ. Habibie pada tahun 1998. Kekacauan ini berpengaruh terhadap aturan pertembakauan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Masa BJ. Habibie mendirikan forum komunikasi nasional (FKN) yang diinisiasi badan obat dan makanan serta Kementerian Kesehatan. FKN menerbitkan PP No. 81 1999 mengatur iklan level tar dan nikotin hingga promosi yang sifatnya pembatasan. <\/p>\n\n\n\n

Dengan aturan inilah, turunannya muncul istilah low nicotine low tar pada rokok. Yang kemudian makin merebak di Indonesia tembakau import. Karena saat itu industri ditekan regulasi agar memproduksi rokok low nikotin low tar. Sedang tembakau lokal untuk menjadi low nicotine low tar prosesnya lama dan cosnya tinggi. Kemudian industri lebih memilih tembakau import.<\/p>\n\n\n\n

Jadi tembakau import besar-besaran masuk Indonesia by setting melalui regulasi. Tembakau yang besar besaran masuk Indonesia adalah jenis virginia. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid 2002, PP. No.81\/1999 diamandemen dengan PP No. 38\/2000. Isi amandemen memberikan izin kembali penayangan iklan. Pada masa Abdurrahman Wahid juga mengangkat kembali harga cengkeh petani yang semasa Orde Baru terjadi anjlok luar biasa, hingga banyak pohon cengkeh dibakar dan dimusnahkan.  <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Masa Penjajah tahun 1858 tembakau menjadi tanaman eksotik dan salah satu tanaman ekspor. Disinilah aturan ekspor tembakau mulai ada, yang kemudian menjadi sumber pemasukan keuangan negara pemerintah Belanda (saat itu yang menguasai).<\/p>\n\n\n\n

 Pada pertengahan abad 20 Belanda membuat aturan tembakau lebih sistematis dengan mengeluarkan Staatblad No. 517 tahun 1932,  Staatsblad No. 234 tahun 1949 tentang \u201cTabaksaccijins-Ordonnatie\u201d. Dua aturan tersebut mengatur tentang pita cukai, bea ekspor dan bea masuk, dan juga termasuk mengatur besaran jumlah penerimaan pemerintah Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pemerintah baru (Indonesia) melanjutkan aturan tentang tembakau mengenai pungutan cukai. aturan tersebut tercantum dalam UU Darurat No. 22 tahun 1950. Pada aturan ini, lebih pada penurunan cukai tembakau hingga mengatur harga jual eceran hasil olahan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Turunannya, berupa Peraturan Pemerintah (PP) No. 8\/1951 mengatur besaran pungutan cukai dengan cara melekatkan pita cukai warna warni. <\/p>\n\n\n\n

Tahun 1956, keluar UU No. 16\/1956 tentang penambahan dan pengubahan ordonansi cukai tembakau. Aturan ini menyikapi dampak perusahan-perusahan kecil skala rumahan bangkrut akibat tingginya bea cukai tembakau. Yang kemudian pemerintah memberikan subsidi pada perusahaan rokok dengan menurunkan cukai pada jumlah tertentu selama satu tahun. <\/p>\n\n\n\n

Masa Orde Baru (1966-1998), muncul UU No. 11 tahun 1995 tentang cukai. Aturan turunannya berupa Peraturan Pemerintah (PP), diantaranya PP No. 24\/1966 tentang pengenaan sanksi administrasi bidang cukai, PP No. 25\/1966 tentang izin pengusaha dan PP No.55\/1966 tentang penyidikan tindak pidana bidang kepabean dan cukai.<\/p>\n\n\n\n

Masa reformasi, Indonesia mengalami kekacauan ekonomi dan politik hingga terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke BJ. Habibie pada tahun 1998. Kekacauan ini berpengaruh terhadap aturan pertembakauan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Masa BJ. Habibie mendirikan forum komunikasi nasional (FKN) yang diinisiasi badan obat dan makanan serta Kementerian Kesehatan. FKN menerbitkan PP No. 81 1999 mengatur iklan level tar dan nikotin hingga promosi yang sifatnya pembatasan. <\/p>\n\n\n\n

Dengan aturan inilah, turunannya muncul istilah low nicotine low tar pada rokok. Yang kemudian makin merebak di Indonesia tembakau import. Karena saat itu industri ditekan regulasi agar memproduksi rokok low nikotin low tar. Sedang tembakau lokal untuk menjadi low nicotine low tar prosesnya lama dan cosnya tinggi. Kemudian industri lebih memilih tembakau import.<\/p>\n\n\n\n

Jadi tembakau import besar-besaran masuk Indonesia by setting melalui regulasi. Tembakau yang besar besaran masuk Indonesia adalah jenis virginia. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid 2002, PP. No.81\/1999 diamandemen dengan PP No. 38\/2000. Isi amandemen memberikan izin kembali penayangan iklan. Pada masa Abdurrahman Wahid juga mengangkat kembali harga cengkeh petani yang semasa Orde Baru terjadi anjlok luar biasa, hingga banyak pohon cengkeh dibakar dan dimusnahkan.  <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\n

Setelah menelisik beberapa buku, ternyata negara Indonesia sudah banyak mengeluarkan kebijakan yang menyasar pada sektor pertembakauan. Dari hasil bacaan beberapa literasi, kebijakan sektor pertembakauan mayoritas mengarah pada pengendalian peredaran tembakau. Mari kita coba melihat apa saja kebijakan tersebut mulai dari zaman kolonial hingga masa setelah reformasi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Penjajah tahun 1858 tembakau menjadi tanaman eksotik dan salah satu tanaman ekspor. Disinilah aturan ekspor tembakau mulai ada, yang kemudian menjadi sumber pemasukan keuangan negara pemerintah Belanda (saat itu yang menguasai).<\/p>\n\n\n\n

 Pada pertengahan abad 20 Belanda membuat aturan tembakau lebih sistematis dengan mengeluarkan Staatblad No. 517 tahun 1932,  Staatsblad No. 234 tahun 1949 tentang \u201cTabaksaccijins-Ordonnatie\u201d. Dua aturan tersebut mengatur tentang pita cukai, bea ekspor dan bea masuk, dan juga termasuk mengatur besaran jumlah penerimaan pemerintah Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pemerintah baru (Indonesia) melanjutkan aturan tentang tembakau mengenai pungutan cukai. aturan tersebut tercantum dalam UU Darurat No. 22 tahun 1950. Pada aturan ini, lebih pada penurunan cukai tembakau hingga mengatur harga jual eceran hasil olahan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Turunannya, berupa Peraturan Pemerintah (PP) No. 8\/1951 mengatur besaran pungutan cukai dengan cara melekatkan pita cukai warna warni. <\/p>\n\n\n\n

Tahun 1956, keluar UU No. 16\/1956 tentang penambahan dan pengubahan ordonansi cukai tembakau. Aturan ini menyikapi dampak perusahan-perusahan kecil skala rumahan bangkrut akibat tingginya bea cukai tembakau. Yang kemudian pemerintah memberikan subsidi pada perusahaan rokok dengan menurunkan cukai pada jumlah tertentu selama satu tahun. <\/p>\n\n\n\n

Masa Orde Baru (1966-1998), muncul UU No. 11 tahun 1995 tentang cukai. Aturan turunannya berupa Peraturan Pemerintah (PP), diantaranya PP No. 24\/1966 tentang pengenaan sanksi administrasi bidang cukai, PP No. 25\/1966 tentang izin pengusaha dan PP No.55\/1966 tentang penyidikan tindak pidana bidang kepabean dan cukai.<\/p>\n\n\n\n

Masa reformasi, Indonesia mengalami kekacauan ekonomi dan politik hingga terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke BJ. Habibie pada tahun 1998. Kekacauan ini berpengaruh terhadap aturan pertembakauan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Masa BJ. Habibie mendirikan forum komunikasi nasional (FKN) yang diinisiasi badan obat dan makanan serta Kementerian Kesehatan. FKN menerbitkan PP No. 81 1999 mengatur iklan level tar dan nikotin hingga promosi yang sifatnya pembatasan. <\/p>\n\n\n\n

Dengan aturan inilah, turunannya muncul istilah low nicotine low tar pada rokok. Yang kemudian makin merebak di Indonesia tembakau import. Karena saat itu industri ditekan regulasi agar memproduksi rokok low nikotin low tar. Sedang tembakau lokal untuk menjadi low nicotine low tar prosesnya lama dan cosnya tinggi. Kemudian industri lebih memilih tembakau import.<\/p>\n\n\n\n

Jadi tembakau import besar-besaran masuk Indonesia by setting melalui regulasi. Tembakau yang besar besaran masuk Indonesia adalah jenis virginia. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid 2002, PP. No.81\/1999 diamandemen dengan PP No. 38\/2000. Isi amandemen memberikan izin kembali penayangan iklan. Pada masa Abdurrahman Wahid juga mengangkat kembali harga cengkeh petani yang semasa Orde Baru terjadi anjlok luar biasa, hingga banyak pohon cengkeh dibakar dan dimusnahkan.  <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7042,"post_author":"877","post_date":"2020-08-26 09:36:23","post_date_gmt":"2020-08-26 02:36:23","post_content":"\n

Setelah menelisik beberapa buku, ternyata negara Indonesia sudah banyak mengeluarkan kebijakan yang menyasar pada sektor pertembakauan. Dari hasil bacaan beberapa literasi, kebijakan sektor pertembakauan mayoritas mengarah pada pengendalian peredaran tembakau. Mari kita coba melihat apa saja kebijakan tersebut mulai dari zaman kolonial hingga masa setelah reformasi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Penjajah tahun 1858 tembakau menjadi tanaman eksotik dan salah satu tanaman ekspor. Disinilah aturan ekspor tembakau mulai ada, yang kemudian menjadi sumber pemasukan keuangan negara pemerintah Belanda (saat itu yang menguasai).<\/p>\n\n\n\n

 Pada pertengahan abad 20 Belanda membuat aturan tembakau lebih sistematis dengan mengeluarkan Staatblad No. 517 tahun 1932,  Staatsblad No. 234 tahun 1949 tentang \u201cTabaksaccijins-Ordonnatie\u201d. Dua aturan tersebut mengatur tentang pita cukai, bea ekspor dan bea masuk, dan juga termasuk mengatur besaran jumlah penerimaan pemerintah Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pemerintah baru (Indonesia) melanjutkan aturan tentang tembakau mengenai pungutan cukai. aturan tersebut tercantum dalam UU Darurat No. 22 tahun 1950. Pada aturan ini, lebih pada penurunan cukai tembakau hingga mengatur harga jual eceran hasil olahan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Turunannya, berupa Peraturan Pemerintah (PP) No. 8\/1951 mengatur besaran pungutan cukai dengan cara melekatkan pita cukai warna warni. <\/p>\n\n\n\n

Tahun 1956, keluar UU No. 16\/1956 tentang penambahan dan pengubahan ordonansi cukai tembakau. Aturan ini menyikapi dampak perusahan-perusahan kecil skala rumahan bangkrut akibat tingginya bea cukai tembakau. Yang kemudian pemerintah memberikan subsidi pada perusahaan rokok dengan menurunkan cukai pada jumlah tertentu selama satu tahun. <\/p>\n\n\n\n

Masa Orde Baru (1966-1998), muncul UU No. 11 tahun 1995 tentang cukai. Aturan turunannya berupa Peraturan Pemerintah (PP), diantaranya PP No. 24\/1966 tentang pengenaan sanksi administrasi bidang cukai, PP No. 25\/1966 tentang izin pengusaha dan PP No.55\/1966 tentang penyidikan tindak pidana bidang kepabean dan cukai.<\/p>\n\n\n\n

Masa reformasi, Indonesia mengalami kekacauan ekonomi dan politik hingga terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke BJ. Habibie pada tahun 1998. Kekacauan ini berpengaruh terhadap aturan pertembakauan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Masa BJ. Habibie mendirikan forum komunikasi nasional (FKN) yang diinisiasi badan obat dan makanan serta Kementerian Kesehatan. FKN menerbitkan PP No. 81 1999 mengatur iklan level tar dan nikotin hingga promosi yang sifatnya pembatasan. <\/p>\n\n\n\n

Dengan aturan inilah, turunannya muncul istilah low nicotine low tar pada rokok. Yang kemudian makin merebak di Indonesia tembakau import. Karena saat itu industri ditekan regulasi agar memproduksi rokok low nikotin low tar. Sedang tembakau lokal untuk menjadi low nicotine low tar prosesnya lama dan cosnya tinggi. Kemudian industri lebih memilih tembakau import.<\/p>\n\n\n\n

Jadi tembakau import besar-besaran masuk Indonesia by setting melalui regulasi. Tembakau yang besar besaran masuk Indonesia adalah jenis virginia. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid 2002, PP. No.81\/1999 diamandemen dengan PP No. 38\/2000. Isi amandemen memberikan izin kembali penayangan iklan. Pada masa Abdurrahman Wahid juga mengangkat kembali harga cengkeh petani yang semasa Orde Baru terjadi anjlok luar biasa, hingga banyak pohon cengkeh dibakar dan dimusnahkan.  <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7042,"post_author":"877","post_date":"2020-08-26 09:36:23","post_date_gmt":"2020-08-26 02:36:23","post_content":"\n

Setelah menelisik beberapa buku, ternyata negara Indonesia sudah banyak mengeluarkan kebijakan yang menyasar pada sektor pertembakauan. Dari hasil bacaan beberapa literasi, kebijakan sektor pertembakauan mayoritas mengarah pada pengendalian peredaran tembakau. Mari kita coba melihat apa saja kebijakan tersebut mulai dari zaman kolonial hingga masa setelah reformasi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Penjajah tahun 1858 tembakau menjadi tanaman eksotik dan salah satu tanaman ekspor. Disinilah aturan ekspor tembakau mulai ada, yang kemudian menjadi sumber pemasukan keuangan negara pemerintah Belanda (saat itu yang menguasai).<\/p>\n\n\n\n

 Pada pertengahan abad 20 Belanda membuat aturan tembakau lebih sistematis dengan mengeluarkan Staatblad No. 517 tahun 1932,  Staatsblad No. 234 tahun 1949 tentang \u201cTabaksaccijins-Ordonnatie\u201d. Dua aturan tersebut mengatur tentang pita cukai, bea ekspor dan bea masuk, dan juga termasuk mengatur besaran jumlah penerimaan pemerintah Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pemerintah baru (Indonesia) melanjutkan aturan tentang tembakau mengenai pungutan cukai. aturan tersebut tercantum dalam UU Darurat No. 22 tahun 1950. Pada aturan ini, lebih pada penurunan cukai tembakau hingga mengatur harga jual eceran hasil olahan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Turunannya, berupa Peraturan Pemerintah (PP) No. 8\/1951 mengatur besaran pungutan cukai dengan cara melekatkan pita cukai warna warni. <\/p>\n\n\n\n

Tahun 1956, keluar UU No. 16\/1956 tentang penambahan dan pengubahan ordonansi cukai tembakau. Aturan ini menyikapi dampak perusahan-perusahan kecil skala rumahan bangkrut akibat tingginya bea cukai tembakau. Yang kemudian pemerintah memberikan subsidi pada perusahaan rokok dengan menurunkan cukai pada jumlah tertentu selama satu tahun. <\/p>\n\n\n\n

Masa Orde Baru (1966-1998), muncul UU No. 11 tahun 1995 tentang cukai. Aturan turunannya berupa Peraturan Pemerintah (PP), diantaranya PP No. 24\/1966 tentang pengenaan sanksi administrasi bidang cukai, PP No. 25\/1966 tentang izin pengusaha dan PP No.55\/1966 tentang penyidikan tindak pidana bidang kepabean dan cukai.<\/p>\n\n\n\n

Masa reformasi, Indonesia mengalami kekacauan ekonomi dan politik hingga terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke BJ. Habibie pada tahun 1998. Kekacauan ini berpengaruh terhadap aturan pertembakauan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Masa BJ. Habibie mendirikan forum komunikasi nasional (FKN) yang diinisiasi badan obat dan makanan serta Kementerian Kesehatan. FKN menerbitkan PP No. 81 1999 mengatur iklan level tar dan nikotin hingga promosi yang sifatnya pembatasan. <\/p>\n\n\n\n

Dengan aturan inilah, turunannya muncul istilah low nicotine low tar pada rokok. Yang kemudian makin merebak di Indonesia tembakau import. Karena saat itu industri ditekan regulasi agar memproduksi rokok low nikotin low tar. Sedang tembakau lokal untuk menjadi low nicotine low tar prosesnya lama dan cosnya tinggi. Kemudian industri lebih memilih tembakau import.<\/p>\n\n\n\n

Jadi tembakau import besar-besaran masuk Indonesia by setting melalui regulasi. Tembakau yang besar besaran masuk Indonesia adalah jenis virginia. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid 2002, PP. No.81\/1999 diamandemen dengan PP No. 38\/2000. Isi amandemen memberikan izin kembali penayangan iklan. Pada masa Abdurrahman Wahid juga mengangkat kembali harga cengkeh petani yang semasa Orde Baru terjadi anjlok luar biasa, hingga banyak pohon cengkeh dibakar dan dimusnahkan.  <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7042,"post_author":"877","post_date":"2020-08-26 09:36:23","post_date_gmt":"2020-08-26 02:36:23","post_content":"\n

Setelah menelisik beberapa buku, ternyata negara Indonesia sudah banyak mengeluarkan kebijakan yang menyasar pada sektor pertembakauan. Dari hasil bacaan beberapa literasi, kebijakan sektor pertembakauan mayoritas mengarah pada pengendalian peredaran tembakau. Mari kita coba melihat apa saja kebijakan tersebut mulai dari zaman kolonial hingga masa setelah reformasi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Penjajah tahun 1858 tembakau menjadi tanaman eksotik dan salah satu tanaman ekspor. Disinilah aturan ekspor tembakau mulai ada, yang kemudian menjadi sumber pemasukan keuangan negara pemerintah Belanda (saat itu yang menguasai).<\/p>\n\n\n\n

 Pada pertengahan abad 20 Belanda membuat aturan tembakau lebih sistematis dengan mengeluarkan Staatblad No. 517 tahun 1932,  Staatsblad No. 234 tahun 1949 tentang \u201cTabaksaccijins-Ordonnatie\u201d. Dua aturan tersebut mengatur tentang pita cukai, bea ekspor dan bea masuk, dan juga termasuk mengatur besaran jumlah penerimaan pemerintah Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pemerintah baru (Indonesia) melanjutkan aturan tentang tembakau mengenai pungutan cukai. aturan tersebut tercantum dalam UU Darurat No. 22 tahun 1950. Pada aturan ini, lebih pada penurunan cukai tembakau hingga mengatur harga jual eceran hasil olahan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Turunannya, berupa Peraturan Pemerintah (PP) No. 8\/1951 mengatur besaran pungutan cukai dengan cara melekatkan pita cukai warna warni. <\/p>\n\n\n\n

Tahun 1956, keluar UU No. 16\/1956 tentang penambahan dan pengubahan ordonansi cukai tembakau. Aturan ini menyikapi dampak perusahan-perusahan kecil skala rumahan bangkrut akibat tingginya bea cukai tembakau. Yang kemudian pemerintah memberikan subsidi pada perusahaan rokok dengan menurunkan cukai pada jumlah tertentu selama satu tahun. <\/p>\n\n\n\n

Masa Orde Baru (1966-1998), muncul UU No. 11 tahun 1995 tentang cukai. Aturan turunannya berupa Peraturan Pemerintah (PP), diantaranya PP No. 24\/1966 tentang pengenaan sanksi administrasi bidang cukai, PP No. 25\/1966 tentang izin pengusaha dan PP No.55\/1966 tentang penyidikan tindak pidana bidang kepabean dan cukai.<\/p>\n\n\n\n

Masa reformasi, Indonesia mengalami kekacauan ekonomi dan politik hingga terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke BJ. Habibie pada tahun 1998. Kekacauan ini berpengaruh terhadap aturan pertembakauan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Masa BJ. Habibie mendirikan forum komunikasi nasional (FKN) yang diinisiasi badan obat dan makanan serta Kementerian Kesehatan. FKN menerbitkan PP No. 81 1999 mengatur iklan level tar dan nikotin hingga promosi yang sifatnya pembatasan. <\/p>\n\n\n\n

Dengan aturan inilah, turunannya muncul istilah low nicotine low tar pada rokok. Yang kemudian makin merebak di Indonesia tembakau import. Karena saat itu industri ditekan regulasi agar memproduksi rokok low nikotin low tar. Sedang tembakau lokal untuk menjadi low nicotine low tar prosesnya lama dan cosnya tinggi. Kemudian industri lebih memilih tembakau import.<\/p>\n\n\n\n

Jadi tembakau import besar-besaran masuk Indonesia by setting melalui regulasi. Tembakau yang besar besaran masuk Indonesia adalah jenis virginia. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid 2002, PP. No.81\/1999 diamandemen dengan PP No. 38\/2000. Isi amandemen memberikan izin kembali penayangan iklan. Pada masa Abdurrahman Wahid juga mengangkat kembali harga cengkeh petani yang semasa Orde Baru terjadi anjlok luar biasa, hingga banyak pohon cengkeh dibakar dan dimusnahkan.  <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7042,"post_author":"877","post_date":"2020-08-26 09:36:23","post_date_gmt":"2020-08-26 02:36:23","post_content":"\n

Setelah menelisik beberapa buku, ternyata negara Indonesia sudah banyak mengeluarkan kebijakan yang menyasar pada sektor pertembakauan. Dari hasil bacaan beberapa literasi, kebijakan sektor pertembakauan mayoritas mengarah pada pengendalian peredaran tembakau. Mari kita coba melihat apa saja kebijakan tersebut mulai dari zaman kolonial hingga masa setelah reformasi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Penjajah tahun 1858 tembakau menjadi tanaman eksotik dan salah satu tanaman ekspor. Disinilah aturan ekspor tembakau mulai ada, yang kemudian menjadi sumber pemasukan keuangan negara pemerintah Belanda (saat itu yang menguasai).<\/p>\n\n\n\n

 Pada pertengahan abad 20 Belanda membuat aturan tembakau lebih sistematis dengan mengeluarkan Staatblad No. 517 tahun 1932,  Staatsblad No. 234 tahun 1949 tentang \u201cTabaksaccijins-Ordonnatie\u201d. Dua aturan tersebut mengatur tentang pita cukai, bea ekspor dan bea masuk, dan juga termasuk mengatur besaran jumlah penerimaan pemerintah Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pemerintah baru (Indonesia) melanjutkan aturan tentang tembakau mengenai pungutan cukai. aturan tersebut tercantum dalam UU Darurat No. 22 tahun 1950. Pada aturan ini, lebih pada penurunan cukai tembakau hingga mengatur harga jual eceran hasil olahan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Turunannya, berupa Peraturan Pemerintah (PP) No. 8\/1951 mengatur besaran pungutan cukai dengan cara melekatkan pita cukai warna warni. <\/p>\n\n\n\n

Tahun 1956, keluar UU No. 16\/1956 tentang penambahan dan pengubahan ordonansi cukai tembakau. Aturan ini menyikapi dampak perusahan-perusahan kecil skala rumahan bangkrut akibat tingginya bea cukai tembakau. Yang kemudian pemerintah memberikan subsidi pada perusahaan rokok dengan menurunkan cukai pada jumlah tertentu selama satu tahun. <\/p>\n\n\n\n

Masa Orde Baru (1966-1998), muncul UU No. 11 tahun 1995 tentang cukai. Aturan turunannya berupa Peraturan Pemerintah (PP), diantaranya PP No. 24\/1966 tentang pengenaan sanksi administrasi bidang cukai, PP No. 25\/1966 tentang izin pengusaha dan PP No.55\/1966 tentang penyidikan tindak pidana bidang kepabean dan cukai.<\/p>\n\n\n\n

Masa reformasi, Indonesia mengalami kekacauan ekonomi dan politik hingga terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke BJ. Habibie pada tahun 1998. Kekacauan ini berpengaruh terhadap aturan pertembakauan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Masa BJ. Habibie mendirikan forum komunikasi nasional (FKN) yang diinisiasi badan obat dan makanan serta Kementerian Kesehatan. FKN menerbitkan PP No. 81 1999 mengatur iklan level tar dan nikotin hingga promosi yang sifatnya pembatasan. <\/p>\n\n\n\n

Dengan aturan inilah, turunannya muncul istilah low nicotine low tar pada rokok. Yang kemudian makin merebak di Indonesia tembakau import. Karena saat itu industri ditekan regulasi agar memproduksi rokok low nikotin low tar. Sedang tembakau lokal untuk menjadi low nicotine low tar prosesnya lama dan cosnya tinggi. Kemudian industri lebih memilih tembakau import.<\/p>\n\n\n\n

Jadi tembakau import besar-besaran masuk Indonesia by setting melalui regulasi. Tembakau yang besar besaran masuk Indonesia adalah jenis virginia. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid 2002, PP. No.81\/1999 diamandemen dengan PP No. 38\/2000. Isi amandemen memberikan izin kembali penayangan iklan. Pada masa Abdurrahman Wahid juga mengangkat kembali harga cengkeh petani yang semasa Orde Baru terjadi anjlok luar biasa, hingga banyak pohon cengkeh dibakar dan dimusnahkan.  <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7042,"post_author":"877","post_date":"2020-08-26 09:36:23","post_date_gmt":"2020-08-26 02:36:23","post_content":"\n

Setelah menelisik beberapa buku, ternyata negara Indonesia sudah banyak mengeluarkan kebijakan yang menyasar pada sektor pertembakauan. Dari hasil bacaan beberapa literasi, kebijakan sektor pertembakauan mayoritas mengarah pada pengendalian peredaran tembakau. Mari kita coba melihat apa saja kebijakan tersebut mulai dari zaman kolonial hingga masa setelah reformasi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Penjajah tahun 1858 tembakau menjadi tanaman eksotik dan salah satu tanaman ekspor. Disinilah aturan ekspor tembakau mulai ada, yang kemudian menjadi sumber pemasukan keuangan negara pemerintah Belanda (saat itu yang menguasai).<\/p>\n\n\n\n

 Pada pertengahan abad 20 Belanda membuat aturan tembakau lebih sistematis dengan mengeluarkan Staatblad No. 517 tahun 1932,  Staatsblad No. 234 tahun 1949 tentang \u201cTabaksaccijins-Ordonnatie\u201d. Dua aturan tersebut mengatur tentang pita cukai, bea ekspor dan bea masuk, dan juga termasuk mengatur besaran jumlah penerimaan pemerintah Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pemerintah baru (Indonesia) melanjutkan aturan tentang tembakau mengenai pungutan cukai. aturan tersebut tercantum dalam UU Darurat No. 22 tahun 1950. Pada aturan ini, lebih pada penurunan cukai tembakau hingga mengatur harga jual eceran hasil olahan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Turunannya, berupa Peraturan Pemerintah (PP) No. 8\/1951 mengatur besaran pungutan cukai dengan cara melekatkan pita cukai warna warni. <\/p>\n\n\n\n

Tahun 1956, keluar UU No. 16\/1956 tentang penambahan dan pengubahan ordonansi cukai tembakau. Aturan ini menyikapi dampak perusahan-perusahan kecil skala rumahan bangkrut akibat tingginya bea cukai tembakau. Yang kemudian pemerintah memberikan subsidi pada perusahaan rokok dengan menurunkan cukai pada jumlah tertentu selama satu tahun. <\/p>\n\n\n\n

Masa Orde Baru (1966-1998), muncul UU No. 11 tahun 1995 tentang cukai. Aturan turunannya berupa Peraturan Pemerintah (PP), diantaranya PP No. 24\/1966 tentang pengenaan sanksi administrasi bidang cukai, PP No. 25\/1966 tentang izin pengusaha dan PP No.55\/1966 tentang penyidikan tindak pidana bidang kepabean dan cukai.<\/p>\n\n\n\n

Masa reformasi, Indonesia mengalami kekacauan ekonomi dan politik hingga terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke BJ. Habibie pada tahun 1998. Kekacauan ini berpengaruh terhadap aturan pertembakauan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Masa BJ. Habibie mendirikan forum komunikasi nasional (FKN) yang diinisiasi badan obat dan makanan serta Kementerian Kesehatan. FKN menerbitkan PP No. 81 1999 mengatur iklan level tar dan nikotin hingga promosi yang sifatnya pembatasan. <\/p>\n\n\n\n

Dengan aturan inilah, turunannya muncul istilah low nicotine low tar pada rokok. Yang kemudian makin merebak di Indonesia tembakau import. Karena saat itu industri ditekan regulasi agar memproduksi rokok low nikotin low tar. Sedang tembakau lokal untuk menjadi low nicotine low tar prosesnya lama dan cosnya tinggi. Kemudian industri lebih memilih tembakau import.<\/p>\n\n\n\n

Jadi tembakau import besar-besaran masuk Indonesia by setting melalui regulasi. Tembakau yang besar besaran masuk Indonesia adalah jenis virginia. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid 2002, PP. No.81\/1999 diamandemen dengan PP No. 38\/2000. Isi amandemen memberikan izin kembali penayangan iklan. Pada masa Abdurrahman Wahid juga mengangkat kembali harga cengkeh petani yang semasa Orde Baru terjadi anjlok luar biasa, hingga banyak pohon cengkeh dibakar dan dimusnahkan.  <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7042,"post_author":"877","post_date":"2020-08-26 09:36:23","post_date_gmt":"2020-08-26 02:36:23","post_content":"\n

Setelah menelisik beberapa buku, ternyata negara Indonesia sudah banyak mengeluarkan kebijakan yang menyasar pada sektor pertembakauan. Dari hasil bacaan beberapa literasi, kebijakan sektor pertembakauan mayoritas mengarah pada pengendalian peredaran tembakau. Mari kita coba melihat apa saja kebijakan tersebut mulai dari zaman kolonial hingga masa setelah reformasi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Penjajah tahun 1858 tembakau menjadi tanaman eksotik dan salah satu tanaman ekspor. Disinilah aturan ekspor tembakau mulai ada, yang kemudian menjadi sumber pemasukan keuangan negara pemerintah Belanda (saat itu yang menguasai).<\/p>\n\n\n\n

 Pada pertengahan abad 20 Belanda membuat aturan tembakau lebih sistematis dengan mengeluarkan Staatblad No. 517 tahun 1932,  Staatsblad No. 234 tahun 1949 tentang \u201cTabaksaccijins-Ordonnatie\u201d. Dua aturan tersebut mengatur tentang pita cukai, bea ekspor dan bea masuk, dan juga termasuk mengatur besaran jumlah penerimaan pemerintah Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pemerintah baru (Indonesia) melanjutkan aturan tentang tembakau mengenai pungutan cukai. aturan tersebut tercantum dalam UU Darurat No. 22 tahun 1950. Pada aturan ini, lebih pada penurunan cukai tembakau hingga mengatur harga jual eceran hasil olahan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Turunannya, berupa Peraturan Pemerintah (PP) No. 8\/1951 mengatur besaran pungutan cukai dengan cara melekatkan pita cukai warna warni. <\/p>\n\n\n\n

Tahun 1956, keluar UU No. 16\/1956 tentang penambahan dan pengubahan ordonansi cukai tembakau. Aturan ini menyikapi dampak perusahan-perusahan kecil skala rumahan bangkrut akibat tingginya bea cukai tembakau. Yang kemudian pemerintah memberikan subsidi pada perusahaan rokok dengan menurunkan cukai pada jumlah tertentu selama satu tahun. <\/p>\n\n\n\n

Masa Orde Baru (1966-1998), muncul UU No. 11 tahun 1995 tentang cukai. Aturan turunannya berupa Peraturan Pemerintah (PP), diantaranya PP No. 24\/1966 tentang pengenaan sanksi administrasi bidang cukai, PP No. 25\/1966 tentang izin pengusaha dan PP No.55\/1966 tentang penyidikan tindak pidana bidang kepabean dan cukai.<\/p>\n\n\n\n

Masa reformasi, Indonesia mengalami kekacauan ekonomi dan politik hingga terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke BJ. Habibie pada tahun 1998. Kekacauan ini berpengaruh terhadap aturan pertembakauan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Masa BJ. Habibie mendirikan forum komunikasi nasional (FKN) yang diinisiasi badan obat dan makanan serta Kementerian Kesehatan. FKN menerbitkan PP No. 81 1999 mengatur iklan level tar dan nikotin hingga promosi yang sifatnya pembatasan. <\/p>\n\n\n\n

Dengan aturan inilah, turunannya muncul istilah low nicotine low tar pada rokok. Yang kemudian makin merebak di Indonesia tembakau import. Karena saat itu industri ditekan regulasi agar memproduksi rokok low nikotin low tar. Sedang tembakau lokal untuk menjadi low nicotine low tar prosesnya lama dan cosnya tinggi. Kemudian industri lebih memilih tembakau import.<\/p>\n\n\n\n

Jadi tembakau import besar-besaran masuk Indonesia by setting melalui regulasi. Tembakau yang besar besaran masuk Indonesia adalah jenis virginia. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid 2002, PP. No.81\/1999 diamandemen dengan PP No. 38\/2000. Isi amandemen memberikan izin kembali penayangan iklan. Pada masa Abdurrahman Wahid juga mengangkat kembali harga cengkeh petani yang semasa Orde Baru terjadi anjlok luar biasa, hingga banyak pohon cengkeh dibakar dan dimusnahkan.  <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7042,"post_author":"877","post_date":"2020-08-26 09:36:23","post_date_gmt":"2020-08-26 02:36:23","post_content":"\n

Setelah menelisik beberapa buku, ternyata negara Indonesia sudah banyak mengeluarkan kebijakan yang menyasar pada sektor pertembakauan. Dari hasil bacaan beberapa literasi, kebijakan sektor pertembakauan mayoritas mengarah pada pengendalian peredaran tembakau. Mari kita coba melihat apa saja kebijakan tersebut mulai dari zaman kolonial hingga masa setelah reformasi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Penjajah tahun 1858 tembakau menjadi tanaman eksotik dan salah satu tanaman ekspor. Disinilah aturan ekspor tembakau mulai ada, yang kemudian menjadi sumber pemasukan keuangan negara pemerintah Belanda (saat itu yang menguasai).<\/p>\n\n\n\n

 Pada pertengahan abad 20 Belanda membuat aturan tembakau lebih sistematis dengan mengeluarkan Staatblad No. 517 tahun 1932,  Staatsblad No. 234 tahun 1949 tentang \u201cTabaksaccijins-Ordonnatie\u201d. Dua aturan tersebut mengatur tentang pita cukai, bea ekspor dan bea masuk, dan juga termasuk mengatur besaran jumlah penerimaan pemerintah Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pemerintah baru (Indonesia) melanjutkan aturan tentang tembakau mengenai pungutan cukai. aturan tersebut tercantum dalam UU Darurat No. 22 tahun 1950. Pada aturan ini, lebih pada penurunan cukai tembakau hingga mengatur harga jual eceran hasil olahan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Turunannya, berupa Peraturan Pemerintah (PP) No. 8\/1951 mengatur besaran pungutan cukai dengan cara melekatkan pita cukai warna warni. <\/p>\n\n\n\n

Tahun 1956, keluar UU No. 16\/1956 tentang penambahan dan pengubahan ordonansi cukai tembakau. Aturan ini menyikapi dampak perusahan-perusahan kecil skala rumahan bangkrut akibat tingginya bea cukai tembakau. Yang kemudian pemerintah memberikan subsidi pada perusahaan rokok dengan menurunkan cukai pada jumlah tertentu selama satu tahun. <\/p>\n\n\n\n

Masa Orde Baru (1966-1998), muncul UU No. 11 tahun 1995 tentang cukai. Aturan turunannya berupa Peraturan Pemerintah (PP), diantaranya PP No. 24\/1966 tentang pengenaan sanksi administrasi bidang cukai, PP No. 25\/1966 tentang izin pengusaha dan PP No.55\/1966 tentang penyidikan tindak pidana bidang kepabean dan cukai.<\/p>\n\n\n\n

Masa reformasi, Indonesia mengalami kekacauan ekonomi dan politik hingga terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke BJ. Habibie pada tahun 1998. Kekacauan ini berpengaruh terhadap aturan pertembakauan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Masa BJ. Habibie mendirikan forum komunikasi nasional (FKN) yang diinisiasi badan obat dan makanan serta Kementerian Kesehatan. FKN menerbitkan PP No. 81 1999 mengatur iklan level tar dan nikotin hingga promosi yang sifatnya pembatasan. <\/p>\n\n\n\n

Dengan aturan inilah, turunannya muncul istilah low nicotine low tar pada rokok. Yang kemudian makin merebak di Indonesia tembakau import. Karena saat itu industri ditekan regulasi agar memproduksi rokok low nikotin low tar. Sedang tembakau lokal untuk menjadi low nicotine low tar prosesnya lama dan cosnya tinggi. Kemudian industri lebih memilih tembakau import.<\/p>\n\n\n\n

Jadi tembakau import besar-besaran masuk Indonesia by setting melalui regulasi. Tembakau yang besar besaran masuk Indonesia adalah jenis virginia. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid 2002, PP. No.81\/1999 diamandemen dengan PP No. 38\/2000. Isi amandemen memberikan izin kembali penayangan iklan. Pada masa Abdurrahman Wahid juga mengangkat kembali harga cengkeh petani yang semasa Orde Baru terjadi anjlok luar biasa, hingga banyak pohon cengkeh dibakar dan dimusnahkan.  <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7042,"post_author":"877","post_date":"2020-08-26 09:36:23","post_date_gmt":"2020-08-26 02:36:23","post_content":"\n

Setelah menelisik beberapa buku, ternyata negara Indonesia sudah banyak mengeluarkan kebijakan yang menyasar pada sektor pertembakauan. Dari hasil bacaan beberapa literasi, kebijakan sektor pertembakauan mayoritas mengarah pada pengendalian peredaran tembakau. Mari kita coba melihat apa saja kebijakan tersebut mulai dari zaman kolonial hingga masa setelah reformasi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Penjajah tahun 1858 tembakau menjadi tanaman eksotik dan salah satu tanaman ekspor. Disinilah aturan ekspor tembakau mulai ada, yang kemudian menjadi sumber pemasukan keuangan negara pemerintah Belanda (saat itu yang menguasai).<\/p>\n\n\n\n

 Pada pertengahan abad 20 Belanda membuat aturan tembakau lebih sistematis dengan mengeluarkan Staatblad No. 517 tahun 1932,  Staatsblad No. 234 tahun 1949 tentang \u201cTabaksaccijins-Ordonnatie\u201d. Dua aturan tersebut mengatur tentang pita cukai, bea ekspor dan bea masuk, dan juga termasuk mengatur besaran jumlah penerimaan pemerintah Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pemerintah baru (Indonesia) melanjutkan aturan tentang tembakau mengenai pungutan cukai. aturan tersebut tercantum dalam UU Darurat No. 22 tahun 1950. Pada aturan ini, lebih pada penurunan cukai tembakau hingga mengatur harga jual eceran hasil olahan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Turunannya, berupa Peraturan Pemerintah (PP) No. 8\/1951 mengatur besaran pungutan cukai dengan cara melekatkan pita cukai warna warni. <\/p>\n\n\n\n

Tahun 1956, keluar UU No. 16\/1956 tentang penambahan dan pengubahan ordonansi cukai tembakau. Aturan ini menyikapi dampak perusahan-perusahan kecil skala rumahan bangkrut akibat tingginya bea cukai tembakau. Yang kemudian pemerintah memberikan subsidi pada perusahaan rokok dengan menurunkan cukai pada jumlah tertentu selama satu tahun. <\/p>\n\n\n\n

Masa Orde Baru (1966-1998), muncul UU No. 11 tahun 1995 tentang cukai. Aturan turunannya berupa Peraturan Pemerintah (PP), diantaranya PP No. 24\/1966 tentang pengenaan sanksi administrasi bidang cukai, PP No. 25\/1966 tentang izin pengusaha dan PP No.55\/1966 tentang penyidikan tindak pidana bidang kepabean dan cukai.<\/p>\n\n\n\n

Masa reformasi, Indonesia mengalami kekacauan ekonomi dan politik hingga terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke BJ. Habibie pada tahun 1998. Kekacauan ini berpengaruh terhadap aturan pertembakauan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Masa BJ. Habibie mendirikan forum komunikasi nasional (FKN) yang diinisiasi badan obat dan makanan serta Kementerian Kesehatan. FKN menerbitkan PP No. 81 1999 mengatur iklan level tar dan nikotin hingga promosi yang sifatnya pembatasan. <\/p>\n\n\n\n

Dengan aturan inilah, turunannya muncul istilah low nicotine low tar pada rokok. Yang kemudian makin merebak di Indonesia tembakau import. Karena saat itu industri ditekan regulasi agar memproduksi rokok low nikotin low tar. Sedang tembakau lokal untuk menjadi low nicotine low tar prosesnya lama dan cosnya tinggi. Kemudian industri lebih memilih tembakau import.<\/p>\n\n\n\n

Jadi tembakau import besar-besaran masuk Indonesia by setting melalui regulasi. Tembakau yang besar besaran masuk Indonesia adalah jenis virginia. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid 2002, PP. No.81\/1999 diamandemen dengan PP No. 38\/2000. Isi amandemen memberikan izin kembali penayangan iklan. Pada masa Abdurrahman Wahid juga mengangkat kembali harga cengkeh petani yang semasa Orde Baru terjadi anjlok luar biasa, hingga banyak pohon cengkeh dibakar dan dimusnahkan.  <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7042,"post_author":"877","post_date":"2020-08-26 09:36:23","post_date_gmt":"2020-08-26 02:36:23","post_content":"\n

Setelah menelisik beberapa buku, ternyata negara Indonesia sudah banyak mengeluarkan kebijakan yang menyasar pada sektor pertembakauan. Dari hasil bacaan beberapa literasi, kebijakan sektor pertembakauan mayoritas mengarah pada pengendalian peredaran tembakau. Mari kita coba melihat apa saja kebijakan tersebut mulai dari zaman kolonial hingga masa setelah reformasi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Penjajah tahun 1858 tembakau menjadi tanaman eksotik dan salah satu tanaman ekspor. Disinilah aturan ekspor tembakau mulai ada, yang kemudian menjadi sumber pemasukan keuangan negara pemerintah Belanda (saat itu yang menguasai).<\/p>\n\n\n\n

 Pada pertengahan abad 20 Belanda membuat aturan tembakau lebih sistematis dengan mengeluarkan Staatblad No. 517 tahun 1932,  Staatsblad No. 234 tahun 1949 tentang \u201cTabaksaccijins-Ordonnatie\u201d. Dua aturan tersebut mengatur tentang pita cukai, bea ekspor dan bea masuk, dan juga termasuk mengatur besaran jumlah penerimaan pemerintah Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pemerintah baru (Indonesia) melanjutkan aturan tentang tembakau mengenai pungutan cukai. aturan tersebut tercantum dalam UU Darurat No. 22 tahun 1950. Pada aturan ini, lebih pada penurunan cukai tembakau hingga mengatur harga jual eceran hasil olahan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Turunannya, berupa Peraturan Pemerintah (PP) No. 8\/1951 mengatur besaran pungutan cukai dengan cara melekatkan pita cukai warna warni. <\/p>\n\n\n\n

Tahun 1956, keluar UU No. 16\/1956 tentang penambahan dan pengubahan ordonansi cukai tembakau. Aturan ini menyikapi dampak perusahan-perusahan kecil skala rumahan bangkrut akibat tingginya bea cukai tembakau. Yang kemudian pemerintah memberikan subsidi pada perusahaan rokok dengan menurunkan cukai pada jumlah tertentu selama satu tahun. <\/p>\n\n\n\n

Masa Orde Baru (1966-1998), muncul UU No. 11 tahun 1995 tentang cukai. Aturan turunannya berupa Peraturan Pemerintah (PP), diantaranya PP No. 24\/1966 tentang pengenaan sanksi administrasi bidang cukai, PP No. 25\/1966 tentang izin pengusaha dan PP No.55\/1966 tentang penyidikan tindak pidana bidang kepabean dan cukai.<\/p>\n\n\n\n

Masa reformasi, Indonesia mengalami kekacauan ekonomi dan politik hingga terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke BJ. Habibie pada tahun 1998. Kekacauan ini berpengaruh terhadap aturan pertembakauan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Masa BJ. Habibie mendirikan forum komunikasi nasional (FKN) yang diinisiasi badan obat dan makanan serta Kementerian Kesehatan. FKN menerbitkan PP No. 81 1999 mengatur iklan level tar dan nikotin hingga promosi yang sifatnya pembatasan. <\/p>\n\n\n\n

Dengan aturan inilah, turunannya muncul istilah low nicotine low tar pada rokok. Yang kemudian makin merebak di Indonesia tembakau import. Karena saat itu industri ditekan regulasi agar memproduksi rokok low nikotin low tar. Sedang tembakau lokal untuk menjadi low nicotine low tar prosesnya lama dan cosnya tinggi. Kemudian industri lebih memilih tembakau import.<\/p>\n\n\n\n

Jadi tembakau import besar-besaran masuk Indonesia by setting melalui regulasi. Tembakau yang besar besaran masuk Indonesia adalah jenis virginia. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid 2002, PP. No.81\/1999 diamandemen dengan PP No. 38\/2000. Isi amandemen memberikan izin kembali penayangan iklan. Pada masa Abdurrahman Wahid juga mengangkat kembali harga cengkeh petani yang semasa Orde Baru terjadi anjlok luar biasa, hingga banyak pohon cengkeh dibakar dan dimusnahkan.  <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7042,"post_author":"877","post_date":"2020-08-26 09:36:23","post_date_gmt":"2020-08-26 02:36:23","post_content":"\n

Setelah menelisik beberapa buku, ternyata negara Indonesia sudah banyak mengeluarkan kebijakan yang menyasar pada sektor pertembakauan. Dari hasil bacaan beberapa literasi, kebijakan sektor pertembakauan mayoritas mengarah pada pengendalian peredaran tembakau. Mari kita coba melihat apa saja kebijakan tersebut mulai dari zaman kolonial hingga masa setelah reformasi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Penjajah tahun 1858 tembakau menjadi tanaman eksotik dan salah satu tanaman ekspor. Disinilah aturan ekspor tembakau mulai ada, yang kemudian menjadi sumber pemasukan keuangan negara pemerintah Belanda (saat itu yang menguasai).<\/p>\n\n\n\n

 Pada pertengahan abad 20 Belanda membuat aturan tembakau lebih sistematis dengan mengeluarkan Staatblad No. 517 tahun 1932,  Staatsblad No. 234 tahun 1949 tentang \u201cTabaksaccijins-Ordonnatie\u201d. Dua aturan tersebut mengatur tentang pita cukai, bea ekspor dan bea masuk, dan juga termasuk mengatur besaran jumlah penerimaan pemerintah Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pemerintah baru (Indonesia) melanjutkan aturan tentang tembakau mengenai pungutan cukai. aturan tersebut tercantum dalam UU Darurat No. 22 tahun 1950. Pada aturan ini, lebih pada penurunan cukai tembakau hingga mengatur harga jual eceran hasil olahan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Turunannya, berupa Peraturan Pemerintah (PP) No. 8\/1951 mengatur besaran pungutan cukai dengan cara melekatkan pita cukai warna warni. <\/p>\n\n\n\n

Tahun 1956, keluar UU No. 16\/1956 tentang penambahan dan pengubahan ordonansi cukai tembakau. Aturan ini menyikapi dampak perusahan-perusahan kecil skala rumahan bangkrut akibat tingginya bea cukai tembakau. Yang kemudian pemerintah memberikan subsidi pada perusahaan rokok dengan menurunkan cukai pada jumlah tertentu selama satu tahun. <\/p>\n\n\n\n

Masa Orde Baru (1966-1998), muncul UU No. 11 tahun 1995 tentang cukai. Aturan turunannya berupa Peraturan Pemerintah (PP), diantaranya PP No. 24\/1966 tentang pengenaan sanksi administrasi bidang cukai, PP No. 25\/1966 tentang izin pengusaha dan PP No.55\/1966 tentang penyidikan tindak pidana bidang kepabean dan cukai.<\/p>\n\n\n\n

Masa reformasi, Indonesia mengalami kekacauan ekonomi dan politik hingga terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke BJ. Habibie pada tahun 1998. Kekacauan ini berpengaruh terhadap aturan pertembakauan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Masa BJ. Habibie mendirikan forum komunikasi nasional (FKN) yang diinisiasi badan obat dan makanan serta Kementerian Kesehatan. FKN menerbitkan PP No. 81 1999 mengatur iklan level tar dan nikotin hingga promosi yang sifatnya pembatasan. <\/p>\n\n\n\n

Dengan aturan inilah, turunannya muncul istilah low nicotine low tar pada rokok. Yang kemudian makin merebak di Indonesia tembakau import. Karena saat itu industri ditekan regulasi agar memproduksi rokok low nikotin low tar. Sedang tembakau lokal untuk menjadi low nicotine low tar prosesnya lama dan cosnya tinggi. Kemudian industri lebih memilih tembakau import.<\/p>\n\n\n\n

Jadi tembakau import besar-besaran masuk Indonesia by setting melalui regulasi. Tembakau yang besar besaran masuk Indonesia adalah jenis virginia. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid 2002, PP. No.81\/1999 diamandemen dengan PP No. 38\/2000. Isi amandemen memberikan izin kembali penayangan iklan. Pada masa Abdurrahman Wahid juga mengangkat kembali harga cengkeh petani yang semasa Orde Baru terjadi anjlok luar biasa, hingga banyak pohon cengkeh dibakar dan dimusnahkan.  <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};

\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7042,"post_author":"877","post_date":"2020-08-26 09:36:23","post_date_gmt":"2020-08-26 02:36:23","post_content":"\n

Setelah menelisik beberapa buku, ternyata negara Indonesia sudah banyak mengeluarkan kebijakan yang menyasar pada sektor pertembakauan. Dari hasil bacaan beberapa literasi, kebijakan sektor pertembakauan mayoritas mengarah pada pengendalian peredaran tembakau. Mari kita coba melihat apa saja kebijakan tersebut mulai dari zaman kolonial hingga masa setelah reformasi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Penjajah tahun 1858 tembakau menjadi tanaman eksotik dan salah satu tanaman ekspor. Disinilah aturan ekspor tembakau mulai ada, yang kemudian menjadi sumber pemasukan keuangan negara pemerintah Belanda (saat itu yang menguasai).<\/p>\n\n\n\n

 Pada pertengahan abad 20 Belanda membuat aturan tembakau lebih sistematis dengan mengeluarkan Staatblad No. 517 tahun 1932,  Staatsblad No. 234 tahun 1949 tentang \u201cTabaksaccijins-Ordonnatie\u201d. Dua aturan tersebut mengatur tentang pita cukai, bea ekspor dan bea masuk, dan juga termasuk mengatur besaran jumlah penerimaan pemerintah Belanda. <\/p>\n\n\n\n

Setelah merdeka, pemerintah baru (Indonesia) melanjutkan aturan tentang tembakau mengenai pungutan cukai. aturan tersebut tercantum dalam UU Darurat No. 22 tahun 1950. Pada aturan ini, lebih pada penurunan cukai tembakau hingga mengatur harga jual eceran hasil olahan tembakau. <\/p>\n\n\n\n

Turunannya, berupa Peraturan Pemerintah (PP) No. 8\/1951 mengatur besaran pungutan cukai dengan cara melekatkan pita cukai warna warni. <\/p>\n\n\n\n

Tahun 1956, keluar UU No. 16\/1956 tentang penambahan dan pengubahan ordonansi cukai tembakau. Aturan ini menyikapi dampak perusahan-perusahan kecil skala rumahan bangkrut akibat tingginya bea cukai tembakau. Yang kemudian pemerintah memberikan subsidi pada perusahaan rokok dengan menurunkan cukai pada jumlah tertentu selama satu tahun. <\/p>\n\n\n\n

Masa Orde Baru (1966-1998), muncul UU No. 11 tahun 1995 tentang cukai. Aturan turunannya berupa Peraturan Pemerintah (PP), diantaranya PP No. 24\/1966 tentang pengenaan sanksi administrasi bidang cukai, PP No. 25\/1966 tentang izin pengusaha dan PP No.55\/1966 tentang penyidikan tindak pidana bidang kepabean dan cukai.<\/p>\n\n\n\n

Masa reformasi, Indonesia mengalami kekacauan ekonomi dan politik hingga terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke BJ. Habibie pada tahun 1998. Kekacauan ini berpengaruh terhadap aturan pertembakauan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Masa BJ. Habibie mendirikan forum komunikasi nasional (FKN) yang diinisiasi badan obat dan makanan serta Kementerian Kesehatan. FKN menerbitkan PP No. 81 1999 mengatur iklan level tar dan nikotin hingga promosi yang sifatnya pembatasan. <\/p>\n\n\n\n

Dengan aturan inilah, turunannya muncul istilah low nicotine low tar pada rokok. Yang kemudian makin merebak di Indonesia tembakau import. Karena saat itu industri ditekan regulasi agar memproduksi rokok low nikotin low tar. Sedang tembakau lokal untuk menjadi low nicotine low tar prosesnya lama dan cosnya tinggi. Kemudian industri lebih memilih tembakau import.<\/p>\n\n\n\n

Jadi tembakau import besar-besaran masuk Indonesia by setting melalui regulasi. Tembakau yang besar besaran masuk Indonesia adalah jenis virginia. <\/p>\n\n\n\n

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid 2002, PP. No.81\/1999 diamandemen dengan PP No. 38\/2000. Isi amandemen memberikan izin kembali penayangan iklan. Pada masa Abdurrahman Wahid juga mengangkat kembali harga cengkeh petani yang semasa Orde Baru terjadi anjlok luar biasa, hingga banyak pohon cengkeh dibakar dan dimusnahkan.  <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 terjadi peralihan komando pemerintahan dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada pemerintahan Megawati mengamandemen PP No. 38\/2000 menjadi PP. No 19\/2003 dengan menghilangkan pasal tentang kandungan tar dan nikotin, pencantuman kandungan tar dan nikotin pada setiap iklan dan kemasan, dan ukuran peringatan kesehatan harus 15% dari kemasan. <\/p>\n\n\n\n

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2007, muncul UU No. 39\/2007 perubahan dari UU No. 11\/1995 tentang cukai. Pada intinya aturan ini memuat peningkatan tarif cukai hasil tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Dari UU di atas, kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No. 200\/PMK.04\/2008. Aturan ini memberlakukan ketentuan terkait lokasi, bangunan atau usaha. Akibat aturan ini, banyak industri rokok skala rumahan gulung tikar. Tahun ini pula aturan penggunaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari amanat UU. No. 39\/2007 mulai diberlakukan. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2009, masih masa SBY, terbit UU No. 36\/2009 tentang kesehatan. UU ini memberikan peluang besar kesehatan untuk andil dalam pengendalian sektor pertembakauan di Indonesia. Hingga muncul juga istilah pajak daerah sebesar 10 persen, diatur dalam UU. No. 28\/2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Aturan ini mengamanatkan pemberlakuannya di mulai tahun 2014. <\/p>\n\n\n\n

Masih masa SBY, tahun 2010 dan 2011 terbit PERMENKEU No. 191\/PMK.04\/2010 mengatur hubungan industri hasil tembakau. Dilanjutkan menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188\/Menkes\/PB\/I\/2011-No.7 tahun 2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok.<\/p>\n\n\n\n

Ekstrimnya lagi masa SBY, muncul PP No. 109\/2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. PP ini lebih lanjut mengatur tata niaga pertembakauan bukan mengatur tentang kesehatan. PP inilah embrio dari aturan-aturan tentang  pengendalian pertembakauan menjadi kemana-mana dan liar hingga sekarang. Anehnya, saat penandatanganan PP No. 109\/2012 ini pada jam dan waktu libur kerja nasional sekitar tanggal 26 Desember. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2013 masih masa SBY, terbit Peraturan Menteri Kesehatan No.28\/2013 tentang pencantuman peringatan kesehatan pada kemasan produk tembakau yang diadopsi dari FCTC. <\/p>\n\n\n\n

Pada tahun yang sama, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 2013 tentang peta jalan pengendalian dampak konsumsi rokok bagi kesehatan. Kemudian juga terbit PERMENKEU No.78\/PMK.011\/2013 yang memuat regulasi penetapan golongan dan tarif cukai beserta pengusaha hasil tembakau yang memiliki hubungan keterikatan atau keluarga dikenakan tarif tinggi.<\/p>\n\n\n\n

Masa Presiden sekarang masih banyak menjalankan aturan aturan warisan sebelumnya, hanya saja cukai naik terus bertujuan untuk pengendalian tembakau dan pemasukan kas negara.<\/p>\n\n\n\n

Terlihat, presiden yang banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada sektor pertembakauan adalah semasa SBY, pada presiden lainnya kebijakan mengarah pengendalian tembakau sangat minim dan pada presiden setelah SBY lebih cenderung menjalankan kebijakan SBY tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Hikayat Regulasi Sektor Industri Hasil Tembakau di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hikayat-regulasi-sektor-industri-hasil-tembakau-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-26 09:36:26","post_modified_gmt":"2020-08-26 02:36:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7042","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7013,"post_author":"878","post_date":"2020-08-13 10:10:13","post_date_gmt":"2020-08-13 03:10:13","post_content":"\n

Hari ini, hari ke lima saya berada di Kota Kretek, Kudus. Lima hari lalu, saya berangkat ke Kudus dari Yogya. Selepas ashar saya meninggalkan rumah menuju Kudus. Pandemi kovid cukup membikin saya khawatir melakukan perjalanan, pergi meninggalkan keluarga di rumah untuk belajar beberapa waktu di Kota Kretek ini. <\/p>\n\n\n\n

Jalanan penuh ketidakpastian. Segala macam hal tumpah ruah di jalanan. Ragam bentuk risiko hilir mudik di jalanan mengintai manusia-manusia yang lalu lalang di sana. Meskipun manusia yang turun ke jalan sudah menyiapkan diri dengan sistem keamanan sebaik mungkin sebelum mereka meninggalkan rumah, itu tidak menjamin penuh keselamatan seseorang. Kelalaian orang lain bisa saja mencelakakan mereka yang sudah menyiapkan sistem keamanan diri sebaik mungkin.<\/p>\n\n\n\n

Risiko itu semakin bertambah pasca kovid mewabah di muka bumi. Sistem keamanan mesti ditingkatkan dengan tambahan risiko ini. Protokol kesehatan khusus diperlukan. Masker, jaga jarak, cuci tangan, menjadi standar kini. Meskipun ini perjalanan darat, saya tetap melengkapi protokol kesehatan sebelum melakukan perjalanan ini dengan rapid test sehari sebelum melakukan perjalanan.<\/p>\n\n\n\n

Dari beberapa pilihan transportasi umum yang tersedia, saya memilih menggunakan travel ke Kudus. Jumlah penumpang dikurangi, kewajiban memakai masker dan protokol lain yang diterapkan pengelola travel membikin saya lebih tenang dalam memilih pilihan ini. <\/p>\n\n\n\n

Sejujurnya, pandemi kovid ini cukup membikin saya ketakutan. Alasan utama ketakutan saya ini muncul dari keberadaan anak pertama saya yang kini berusia tujuh bulan. Jika ia bisa sampai tertular kovid, orang yang pertama mesti disalahkan atas itu adalah saya. Karena sepanjang pandemi ini, saya yang tetap keluar rumah untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan dan proses belajar yang mesti saya lakukan. Sedang anak dan istri saya hampir sepanjang waktu berada di rumah. <\/p>\n\n\n\n

Jika saya belum punya anak, atau belum menikah, saya yakin saya tidak akan setakut ini. Saya akan lebih santai. Atau malah abai dengan pandemi ini karena memang hanya memikirkan diri sendiri. Pada titik ini, keberadaan anak membikin saya kian bersyukur. Kehadirannya membikin saya lebih waspada, hati-hati, dan tertib dalam menjaga diri karena mengingat tanggung jawab saya kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Selepas isya lima hari lalu, kendaraan yang saya tumpangi masuk kota Kudus. Gerbang bertuliskan Selamat Datang Di Kudus, dan tugu bertuliskan Kudus Kota Kretek menjadi informasi awal bahwa saya sudah tiba di Kudus. Mas Udin, rekan baik saya, yang juga rutin menulis di situsweb ini menjemput saya di titik jemput yang sudah kami sepakati. Sembari menyantap makan malam, kami berbincang-bincang.<\/p>\n\n\n\n

Obrolan kami, tak jauh dari tema-tema perjuangan advokasi kretek yang sudah lima tahun belakangan kami lakukan bersama dalam wadah lembaga Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK). Kami juga membincangkan program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung yang sudah empat tahun belakangan dikelola KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saya lelah, dan butuh istirahat. Mas Udin mengantar saya ke Jalan Jepara, tempat tinggal sementara selama selama saya belajar di Kudus ini.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Keesokan harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga pagi tadi, setiap pagi saya melihat pemandangan yang menarik dari Kudus. Perempuan-perempuan dengan seragam batik, penutup kepala, dan dengan tambahan masker yang menutup separuh wajahnya, hilir mudik di tepi jalan di halaman bangunan-bangunan besar yang fungsinya sebagai pabrik pelintingan tembakau. Perempuan-perempuan itu, adalah pekerja pelinting tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Sudah lebih dari sekali saya melihat langsung perempuan-perempuan itu bekerja melinting tembakau di dalam pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Sebuah kursi, dan sebuah meja dengan alat linting tradisional menjadi fasilitas kerja yang mereka butuhkan. Tembakau-tembakau bercampur cengkeh dan saus yang siap dilinting, diantarkan kepada mereka, lengkap dengan kertas linting dan lem untuk merekatkan kertas linting. <\/p>\n\n\n\n

Di tempat lain, tak jauh dari tempat pelintingan, sekelompok perempuan lain bekerja untuk proses produksi selanjutnya, yaitu pengepakan rokok-rokok yang sudah dilinting. Usai proses pengepakan, rokok-rokok itu kemudian dimasukkan ke gudang untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah-wilayah yang telah tentukan.<\/p>\n\n\n\n

Perempuan-perempuan yang terlibat dalam proses produksi itulah yang setiap pagi, selama beberapa hari belakangan ini, saya lihat di tepi-tepi jalan saat saya menempuh perjalanan menuju salah satu titik tempat saya belajar di Kudus kini. Beberapa dari mereka asyik berbincang sembari berjalan menuju lokasi kerja, beberapa lainnya masuk duduk-duduk sembari menikmati sarapan mereka, lainnya baru turun dari motor yang dikendarai suaminya yanh baru saja mengantar mereka ke lokasi mereka kerja.<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan pagi hari dengan temuan-temuan yang saya narasikan di atas, berujung pada satu titik tempat saya bertemu dengan tiga orang yang ke depan akan menjadi guru saya, guru untuk mempelajari sistem konservasi berbasis partisipasi masyarakat yang sedang mereka kerjakan. Ketiga orang itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Seorang asal Rembang, seorang asal Semarang, dan seorang lagi asal Salatiga. <\/p>\n\n\n\n

Nanti, pada catatan-catatan selanjutnya, saya akan menceritakan kiprah mereka, semoga catatan-catatan selanjutnya itu masih tetap bisa tayang di situsweb yang terus memberi kesempatan kepada saya untuk menulis apa saja yang saya suka, terutama perihal petani-petani tembakau, petani-petani cengkeh, dan catatan-catatan perjalanan saya menemui mereka semua di berbagai tempat di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Catatan dari Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"catatan-dari-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-13 10:10:20","post_modified_gmt":"2020-08-13 03:10:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7013","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7011,"post_author":"877","post_date":"2020-08-12 09:57:29","post_date_gmt":"2020-08-12 02:57:29","post_content":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_title":"Pembeda Antara Rokok Kretek Filter dan Non Filter","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-kretek-filter","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-11-13 15:19:03","post_modified_gmt":"2024-11-13 08:19:03","post_content_filtered":"\r\n

Rokok kretek filter maupun tidak berfilter sama baiknya, selama bahan bakunya terdiri dari olahan tembakau dan cengkeh. Memang keduanya ada plus minusnya sendiri-sendiri. Dan rerata industri besar memproduksi dua-duanya, sedangkan industri kecil jarang yang memproduksi pakai filter.<\/p>\r\n

Rokok kretek filter dan non filter dilihat fisiknya berbeda. Pembedanya banyak sekali. Sekiranya dalam tulisan ini akan mengulas tiga perbedaan rokok kretek filter dan non filter fersi buatan industri. Pembeda yang lain akan di ulas pada tulisan berikutnya.<\/p>\r\n

Akan tetapi pada intinya rokok kretek filter dan non filter<\/a> sama-sama produk asli Indonesia, diciptakan anak bangsa, dan memakai bahan baku dari petani nusantara. Kali pertama kemunculannya untuk obat sakit \u201cbengek\u201d.<\/p>\r\n

3 Penjelasan tentang Rokok Kretek Filter dan Non Filter<\/h2>\r\n

Berikut, tiga penjelasan singkat pembeda antara rokok kretek filter dan non filter:<\/p>\r\n

a. Filter di Ujung Hisap<\/h3>\r\n

Pertama; keberadaan filter diujung hisap. Namanya \u201cfilter\u201d banyak orang mengartikan sama dengan penyaringan. Kali pertama muncul filter berfungsi sebagai penyaring terhadap asap yang dihisap. Filter terbuat dari serabut kayu atau bisa disebut selulosa asetat. Setiap satu filter memiliki 12.000 serabut.<\/p>\r\n

Hal ini sekaligus menjawab isu yang tidak benar dan sering muncul di masyarakat. Salah satu isunya bahwa filter yang dipakai dalam rokok terbuat dari bahan yang mengandung babi atau bahan yang sangat menjijikkan dan sengaja dibuat diluar negeri. Isu ini sangat tidak benar, berdasarkan fakta di lapangan filter terbuat dari serat kayu yang sekarang di Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri.<\/p>\r\n

Memang kali pertama dulu, konon filter belum bisa diproduksi sendiri. Selain bahan baku, keberadaan mesin untuk membuat filter di Indonesia dulu belum ada. Kekinian filter sudah dapat di produksi di dalam negeri.<\/p>\r\n

Beda dengan kretek non filter, ujung hisapnya tanpa ada filter<\/a> atau banyak orang mengatakan \u201cbusa atau gabus\u201d.<\/p>\r\n

b. Bentuknya Sangat Berbeda<\/h3>\r\n

Kedua; bentuk kretek filter dan non filter sangat berbeda. Rokok kretek filter berbentuk silinder. Artinya diameter ujung hisap dan ujung bakar ukurannya sama. Ukuran diameter lingkarannya pun banyak varian tergantung dari hasi uji masing-masing industri. Biasanya diameter terkecil digunakan untuk produk rokok kretek jenis mild.<\/p>\r\n

Setiap ukuran diameter perlu uji sebelumnya, kalau asal maka tidak akan didapatkan rasa yang sesuai ukuran rajikan atau perbandingan komposisi antara temabaku dan cengkeh. Artinya tanpa ukuran yang cermat dan baik tidak menghasilkan kretek filter nikmat.<\/p>\r\n

Penjelasan Sederhananya, komposisi racikan bahan baku sekian lebih cocok dengan diameter sekian, kira kira begitu. Jadi tiap industri kretek filter punya patokan dan ukuran diameter sendiri-sendiri.<\/p>\r\n

Kretek non filter berbentuk konus, dimana ujung hisap lebih kecil dari pada ujung bakar. Ruang pembakarannya dibuat agak besar, fungsinya biar dalam proses pembakaran dua senyawa tembakau dan cengkeh menjadi sempurna. Jadi kesempurnaan pembakaran dua senyawa sangat ditentukan lubang hisp lebih kecil dari pada lubang pembakaran.<\/p>\r\n

Semakin kecil lubang hisap, suhu pembakaran semakin naik, karena saat dihisap maka semakin fokus udaranya. Tentunya, semakin kecil lubang hisap semakin berat menghisapnya. Disinilah kenikmatan rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Bentuk konus rokok kretek non filter menjadi ukuran standart rokok Indonesia (SNI), yang telah disepakati para pelaku industri rokok kretek dan para pemerhati pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n

Konten Tembakau Kretek Filter dan Non Filter Berbeda<\/h3>\r\n

Ketiga; konten tembakau antara kretek filter dan non filter beda jika dilihat dari jumlahnya. Rokok kretek filter jumlah berat tembakau yang diisikan dalam satu batang rokok lebih sedikit dari pada rokok kretek non filter.<\/p>\r\n

Selain filternya yang sudah memakan tempat dalam satu batang rokok, juga diameter lingkaran lebih kecil. Dengan lingkaran kecil, isian tembakau dan cengkehnyapun hanya sedikit. Kenapa lingkarannya dibuat lebih kecil dari pada rokok kretek non filter?. Tentunya agar ringan saat dihisap. Jika rokok filter diameternya dibuat besar seperti non filter, konten tembakau dan cengkeh (isian batang rokok) makin banyak. Di sini akan timbul masalah, menghisapnya akan lebih tambah berat. Keberadaan filternya sudah menghambat penghisapan, apalagi ditambah dengan isian tembakau dan cengkeh banyak, jadi akan makin berat dan mempengaruhi cita rasa dan nikmatnya rokok filter.<\/p>\r\n

Beda dengan rokok non filter, dari ujung hingga batang semuanya terisi semua olahan tembakau dan cengkeh, kebalikan dengan rokok filter. Begitu juga besaran diameter rokok non filter hasil industri, pasti akan lebih besar dari pada rokok filter. Hal ini bukan tanpa alasan.<\/p>\r\n

Andai saja rokok kretek non filter diameternya disamakan rokok kretek filter, sudah pasti kenikmatan merokok tidak dapet. Karena saat dihisap akan terasa hambar dan terlalu ringan.<\/p>\r\n

Penjelasan di atas, selain menjelaskan bedanya rokok kretek filter dan non filter juga sebagai edukasi terhadap seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali. Karena selam ini banyak yang belum faham dan tidak bisa membedakan yang dinamakan rokok kretek itu apa.<\/p>\r\n

Kebanyakan masyarakat menganggap rokok kretek itu sama dengan rokok non filter, dan rokok non filter dianggap tidak termasuk kretek. Asumsi ini jelas salah. Yang benar, selama memakai olahan tembakau dan cengkeh dinamai rokok kretek, asli produk Indonesia. Sebaliknya, jika olahannya hanya tembakau saja bukan rokok kretek dan bukan produk asli Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7011","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7005,"post_author":"877","post_date":"2020-08-10 09:34:13","post_date_gmt":"2020-08-10 02:34:13","post_content":"\n

Sektor pertembakauan di Indonesia bisa dibilang sangat strategis. Selain padat karya, juga menguntungkan. Pendapatan negara tiap tahunnya tergolong selalu meningkat beriringan dengan naiknya pita cukai. Pada sektor pertembakauan ini terdapat faktor yang saling ketergantungan satu sama lain. Antara petani, industri kretek kecil dan industri kretek besar saling membutuhkan.
Di Indonesia petani tembakau terdapat di 15 provinsi, sedangkan petani cengkeh tersebar di 30 provinsi. Jika dihitung penyerapan tenaga kerja dari hasil perkebunan tembakau dan cengkeh dari hulu hingga hilir totalnya sekitar 6.1 juta jiwa.<\/p>\n\n\n\n


Memang tanaman tembakau dan cengkeh tergolong eksotik, ia berdua menjadi perbicangan dan perdebatan negara-negara di dunia. Aslinya tidak begitu, sebetulnya bukan perdebatan, lebih tepatnya itu diperebutkan negara-negara digdaya agar perdagangannya bisa dikuasai. Bahasa sederhananya mau dimonopoli, dengan kemasan seakan terjadi perdebatan penolakan terhadap barang jadinya berupa rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n


Selama ini, satu satunya pengolah tembakau dan cengkeh yang berani harga tinggi hanya industri kretek. Tak ada lain. Jadi industri kretek menguasai pangsa pasar tembakau dan cengkeh sekitar 93%. Artinya selama ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama membuat rokok kretek, baik dengan proses mesin maupun tangan. <\/p>\n\n\n\n


Ya mungkin ada tanaman tembakau atau cengkeh untuk produk lain, dan prosentasenya hingga sekarang masih sangat kecil dibawah 10%. Itupun sifatnya belum bisa kontinyu atau terus menerus. Mutakhir banyak berita yang mengabarkan kandungan dalam tanaman tembakau yang bernama nicotin dapat menanggulangi bahkan menyembuhkan virus covid-19.
Sampai detik ini petani tembakau dan cengkeh ada relasi kebutuhan dengan pabrikan rokok kretek kecil maupun besar. Biasanya tembakau dan cengkeh kuawlitas biasa biasa saja sangat di butuhkan industri rokok kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n

Sedangkan tembakau dan cengkeh kuwalitas super dibutuhkan pabrikan besar. Kecuali pabrikan rokok putihan, ia tak memutuhkan tembakau Indonesia dan tidak membutuhkan cengkeh dalam olahan rokoknya.
Untuk menekan biaya produksi, pabrikan kecil memakai bahan baku yang biasa. Beda dengan industri besar, pastinya pakai bahan baku super. Pastinya dalam panen raya tembakau atau cengkeh ada barang yang kurang baik (biasa) ada barang istimewa (super). Nah, barang biasa ini di tampung dan dibeli pabrikan kretek kecil. <\/p>\n\n\n\n


Pabrikan rokok kretek kecil membutuhkan keberadaan petani tembakau dan cengkeh yang memproduksi hasil panen kurang bagus, diolah menjadi rokok kretek dengan harga murah. Jadi industri rokok kretek kecil butuh barang dari petani tembakau dan cengkeh yang murah. Dan petani tembakau atau cengkeh butuh industri yang menampung hasil taninya yang kurang baik. Tentu, untuk hasil tembakau dan cengkeh baik atau super dibutuhkan industri besar yang memproduksi rokok kretek merek-merek terkenal dan disukai konsumen. <\/p>\n\n\n\n


Sekurang bagusnya hasil pertanian tembakau dan cengkeh saat diolah menjadi rokok kretek tetap nikmat saat dikonsumsi, apalagi dengan bahan yang bagus dan berkuwalitas, pastinya akan lebih nikmat.
Disini terlihat hasil pertanian tembakau dan cengkeh keterserapannya sangat tinggi. Yang bagus dan yang kurang bagus tetap dibutuhkan industri rokok kretek. Biasanya masalah yang sering muncul jika bahan baku tembakau dan cengkeh tersisa atau belum laku hanya soal harga yang belum cocok. <\/p>\n\n\n\n


Umpamanya begini, masa panen tahun ini ternyata ada bahan baku tembakau atau cengkeh belum laku bukan masalah tidak terserap, akan tetapi lebih pada harganya yang belum ada sepakat. Karena prinsip penjualan petani perpatokan dari ongkos penanaman, sedangkan industri pertimbangannya dari ongkos produksi, daya jual ditambah pengaruh regulasi pemerintah. <\/p>\n\n\n\n


Jika saja regulasi pemerintah mendukung penuh sektor pertembakauan, pasti dalam satu masa panen minim tembakau dan cengkeh tersisa (tidak terjual). Buktinya banyak toko-toko jual eceran tembakau tetap laku dipasaran.
Selain itu, industri rokok kretek besar dan kecil sesungguhnya saling membutuhkan satu sama lain. Industri besar butuh keberadaan industri kecil, sebaliknya industri kecil butuh keberadaan industri besar. <\/p>\n\n\n\n


Penyebab adanya cluster\/kategori pada industri yang terbagi industri besar dan kecil adalah kebijakan pemerintah tentang pita cukai. Industri yang mampu memproduksi jumlah gede perhari dan daya jualnya tinggi maka dikenakan pungutan melalui pita cukai dengan membayar pajak lebih tinggi dibanding industri yang jumlah produksi kecil perhari dan daya belinya masih relatif kecil. <\/p>\n\n\n\n


Uniknya, jika industri yang sudah masuk cluter\/kategori industri besar, tidak bisa serta merta turun ke cluster industri kecil berdasarkan ketentuan aturan pemerintah, walaupun kenyataannya pasar rokoknya melesu sehingga produksinya menjadi sedikit\/kecil perhari. Artinya, industri rokok kretek yang mengalami hal demikian tetap harus membeli pita cukai sesuai cluster dengan harga tinggi. <\/p>\n\n\n\n


Sehingga muncul istilah bagi industri \u201chidup segan mati tak mau\u201d. Pasaran hasil produksinya lesu, kalau mau produksi banyak meruginya tambah banyak, kalau mau produksi sedikit keuntungannya berkurang, kalau mau ditutup (tidak berproduksi) masih tidak rela (eman-eman).<\/p>\n\n\n\n


Melihat kondisi sektor pertembakauan di atas, antara petani tembakau, cengkeh dan industri besar atau kecil saling ketergantungan dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kalau hubungan antara petani dan industri relatif tanpa masalah, yang sering timbul masalah dan kecurigaan antara industri kecil dan industri besar. Asumsi jika industri besar ingin mematikan industri kecil dalam dunia rokok kretek tidak bisa dibuktikan. Karena industri kretek besar, justru menginginkan adanya industri kecil. <\/p>\n\n\n\n


Beda kalau industri rokok besar milik asing (non cengkeh\/putihan), pasti akan menggencet dan ingin industri lokal (berupa kretek) semuanya mati (tutup) terlebih industri kretek kecil. Buktinya, industri rokok milik asing mendorong kuat agar pemerintah mengesahkan simplifikasi layer atau penyederhanaan cluster, sederhanya penyatuan cluster rokok. Yang pertama terkena dampaknya tidak lain industri lokal berupa rokok kretek skala kecil akan banyak yang tutup. Karena jika disamakan, industri kecil ini tidak akan mampu bersaing di pasaran. <\/p>\n","post_title":"Petani dan Industri Pada Sektor Pertembakauan Saling Membutuhkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"petani-dan-industri-pada-sektor-pertembakauan-saling-membutuhkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-10 09:34:26","post_modified_gmt":"2020-08-10 02:34:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7005","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6982,"post_author":"1","post_date":"2020-08-02 11:17:04","post_date_gmt":"2020-08-02 04:17:04","post_content":"\n

Selama menjadi seorang perokok, menurut saya ada dua bungkus rokok paling keren di Indonesia. Pertama adalah Djarum 76 Filter Gold, dan yang kedua adalah Xplore Cacao. Nama pertama sudah barang tentu familiar bagi kita semua tapi yang kedua? Saya yakin tak semua orang mengenal merek ini.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya merupakan rokok sigaret kretek mesin keluaran PT Trisakti Purwosari Makmur. Pabrikan yang bertempat di Pasuruan, Jawa Timur ini sebenarnya merupakan milik dari industri asing yaitu Korea Tobacco & Ginseng Corporation.\u00a0
<\/p>\n\n\n\n

Produk KT&G sebenarnya sudah banyak menjamur di Indonesia. Mulai dari Bohem Cigar Mojito, Eqos, lalu yang familiar adalah Esse dengan varian rasa buahnya. Akan tetapi yang menarik dari Xplore ini adalah nampaknya produk ini hanya muncul di Indonesia, sedangkan tiga nama sebelumnya justru ada dijual di Korea Selatan.
<\/p>\n\n\n\n

Rokok Xplore Cacao sejatinya baru diluncurkan pada 2 Juni 2020 lalu. Tergolong rokok baru, muda, dan berani bersaing di pasar SKM full flavour. Seperti kita ketahui segmen ini merupakan pasar dengan persaingan yang ketat dan hampir dikuasai oleh Djarum dan Gudang Garam.
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi Xplore Cacao menghadirkan kesegaran baru dalam bentuk kemasan bungkus dan batang rokoknya. Bungkus Xplore Cacao sangat modern sekali dan berbeda dari kebanyakan. Cocok memang jika rokok ini hadir di Tahun 2020. 
<\/p>\n\n\n\n

Bungkus Rokok Xplore Cacao dibalut dengan warna biru gelap, kemudian ada tulisan dan gambar yang diberi warna putih dan emas, wah macam-macam sekali motifnya sampai bingung untuk menjelaskan. Intinya dari bungkusnya saya beri nilai 9\/10!
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan rasanya, apakah sekeren bungkusnya? Saya tidak bisa bilang keren, tapi rasanya cukup unik. Sensasi manis yang hadir tak seperti kebanyakan SKM full flavour. Citarasa cacao atau yang lebih kita kenal dengan nama coklatnya hadir mengisi di tiap tarikan. Lalu rasa pedas tetap ada tapi tak kuat.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi tarikan rokok ini justru sangat halus. Tidak memberikan efek ketidaknyamanan pada tenggorokan anda. Jadi memang smoothnesnya diatur sedemikian rupa yang membuat mungkin ini adalah rokok SKM full flavour yang punya tarikan yang sangat halus. 
<\/p>\n\n\n\n

Satu bungkus berisi 12 batang dari rokok ini seharga 18.000 rupiah. Sebenarnya harga ini sangat mahal bagi sebuah merek yang baru diluncurkan. Akan tetapi dugaan saya harganya akan naik, mengingat masih ada diskon dari pabrikan sebagai promo. Kurang lebih bisa di kisaran 20 sampai 21 ribu rupiah lah.
<\/p>\n\n\n\n

Kemungkinan besar rokok ini juga akan mudah ditemui di mana-mana. Bisa ditemukan di banyak minimarket juga akan tetapi belum tentu dengan toko kelontong. Saya yakin, jika kalian yang memang menyukai rokok dengan desain unik, pasti akan tertarik untuk membeli rokok Xplore Cacao ini. Tapi soal rasa? Kembali ke lidah dan selera anda semua. 
<\/p>\n","post_title":"Rokok Xplore Cacao, Rasanya Sekeren Bungkusnya?\ufeff","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rokok-xplore-cacao-rasanya-sekeren-bungkusnya%ef%bb%bf","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-02 11:17:08","post_modified_gmt":"2020-08-02 04:17:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6982","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_25"};